
Pagi itu udara begitu segar, erin yang biasa bangunnya kesiangan kini lebih dari pada kesiangan, karena terlalu banyak mikir semalaman akhirnya dia terlambat bangun. Setelah sang mama banguninnya dengan cubit pipi Erin kanan dan kiri akhirnya dia baru bangun dari molornya.
"Koq gak bangunin dari tadi Ma...Erin telat banget nih, mana pak Agus jam pertama lagi." ucap erin gedebak gedebuk sehingga barang-barangnya pada berjatuhan di lantai.
"Ma..Erin berangkat yaaaa, sarapannya ntar jam istirahat aja udah telah nih ma." ucap erin berlari-lari di depan lorong rumahnya, tetapi tiba-tiba dia berhenti dengan melihat sosok yang selalu mengisi kepalanya.
"Kak gavin?" ucap erin.
Gavin keluar dari mobilnya dan menjemput erin yang sudah tersenyum sumringah ketika menatap cowok tampan satu ini.
"Buruan ntar telat nih Rin." ucap Gavin sambil menatap jam di tangannya. Erin merapikan rambutnya yang di sisir asal aja, matanya masih tertuju pada Gavin.
"Koq telat." tanyanya ketika mobil sudah melaju di jalan raya.
"Telat bangunnya kak." ucap erin yang masih mencoba memperbaiki penampilannya agar terlihat manis dan menarik di mata Gavin.
Tiba-tiba seseorang menelepon gavin, dia lalu mengangkatnya.
"Lagi di mobil, kenapa?" tanyanya.
"Sakit? kenapa gak minta Aldo aja yang nganterin kamu syintia, ngapain main ngambek-ngambekan segala, kan bentar lagi kamu nikah ma Aldo, suruh dia aja, aku lagi ngantar Erin ke sekolah." ucapnya melalui ponselnya.
'Ih, ngapain sih cewek genderuwo itu nelpon kak gavin, kalau sakit ya kerumah sakit, ngapain dia susahin Gavin segala.' gumam erin dengan mood yang tiba-tiba jelek.
Erin tidak mau bertanya ada apa, tetapi Gavin sendiri aja yang menjelaskan hubungannya dengan Syntia.
"Kamu koq dari tadi gak bicara rin." tanyanya.
"Gak, malas aja." jawabnya asal.
"Tadi itu Syntia minta tolong ke aku karena katanya dia lagi sakit." ucap Gavin
"Udah denger koq." ucap erin.
"Kamu marah ya?"
__ADS_1
"Gak!" balas Erin yang moodnya betul-betul menjadi begitu bad karena telepon dari Syntia.
Gavin hanya tersenyum dan mengelus kepala erin dengan sayang, "jangan ngambek ya, kan bentar lagi kita nikah." ucap gavin mencoba membujuk Erin.
"Jangan ngomongnya gitu kak gavin, lihat nih bulu kuduk erin pada merinding." ucap erin sambil menunjuk lengannya pada Gavin yang terkekeh.
"Jangan marah ya, cup cup cup." kekeh Gavin sambil mengelus kembali rambut erin.
"Aku lompat nih, kalau ngomongnya seperti itu." ancam Erin, membuat Gavin tertawa.
"Aku serius Rin, aku mau kasi tahu kalau aku Aldo dan Syntia itu udah lama temenan, mulai jaman SMA sampai sekarang, kadang Syntia seperti itu Rin, karena kami udah seperti keluarga." ucap Gavin menjelaskan.
"Iyaaaaa, iya deh, emank siapa sih yang ngambek." kettus Erin. Mereka akhirnya tiba di SMU 45 Raya, Erin lekas-lekas berlari menuju kelasnya karena erin telatnya udah sangat keterlaluan.
"Masuk gak ya, nanti dapet Omelan pak Agus lagi, tapi dapet Omelan pak Agus manfaatnya banyak juga koq, bisa ngebersiin kuping juga sih, membantu pendengaran menjadi lebih jelas, terus....." gumam Erin sambil mengintip dari jendela kelas.
"Koq gak ada."
Erin membuka pintu kelasnya dan mendapati teman-temannya lagi asyik ngobrol. Erin yang melihat fari dan jeni lagi gosip membuat kedongkolan Erin bertambah menjadi-jadi.
"Tega ya lu pada, mestinya text aku donk kalau pak Agusnya gak ada, aku kan dari tadi ngintip aja dari jendela kayak orang bloon." ucap erin donkol.
"Rapat apa? Koq aku gak tau."
"yeeee, Mana kita tahulah Rin, namanya aja rapat guru, ya yang dibahasnya so pasti mengenai sekolah dan siswa-siswinya." ucap fari panjang lebar.
"Jadi berita terkininya apa nih?" tanya erin yang langsung aja duduk di bangkunya sambil mengedarkan pandangannya ke bangku di belakangnya, tetapi di sana tempat duduk itu kosong, penghuninya entah kemana.
"Kalau lu cari Raka, noh biasa lagi merokok di belakang kelas." ucap jeni yang menatap arah pandangan Erin.
"Siapa juga yang nyari raka." ucap erin sambil mendenguskan hidungnya.
"Jadi beritanya apa non?" tanya erin.
"Eh, eh kamu tahu gak, kak Irgi diskorsing loh coz dia kedapatan ke klub, apalagi foto-foto yang beredar dia lagi bermesraan sama cewek, hot banget lagi." ucap jeni.
__ADS_1
Mata Erin membelalak, "What ! gak mungkin itu kak Irgi." teriak erin.
"Apanya yang gak mungkin non, foto-fotonya aja udah beredar luas di sosmed dan akun pribadinya, sepertinya dia sendiri deh yang mengapload fotonya ama ceweknya.
Erin lalu merasa bersalah, entah sudah dua minggu dia tidak bertemu dengan kak Irgi dan tidak pernah menghubunginya lagi, apalagi waktu pesta perjodohan, dia sama sekali gak muncul.
"Emank kak Irgi di club mana sih." tanya erin.
"Emank kenapa Rin, mau ke sana, mau melihat sendiri foto yang beredar itu kak Irgi atau kagak?" ucap fari sambil menaikkan satu alisnya.
"Aku sih gak pernah ketempat seperti itu, gak ada modal, duit aja pas-pasan buat ongkos ke sekolah doank." ucap erin.
"Lo serius Rin." ucap fari dengan pandangan tidak percaya.
"Mama aku tuh sengaja kasi uangnya pas-pasan kayak gini, katanya dia takut aku kemana-mana atau ketempat yang gak bener." ucap erin sambil menghembuskan napas.
"Kalian harus bersyukur kalau gitu, duit ada di sini nih, gimana? mau ke club itu gak?? lagian kita kesana bukan untuk bersenang-senang, kita cuman mau lihat kalau itu benar-benar kak Irgi atau bukan?" ucap jeni bersemangat.
"Deal, aku setuju-setuju aja." ucap fari menaikkan tangannya.
"Lu gimana Rin, mau gak?" tanyanya.
Erin berpikir sejenak, "Oke deh, tapi setelah kita memastikan itu kak Irgi atau bukan, udah itu langsung cabut ya, aku atut ketahuan ma mama aku." ucap erin.
"Oke deh, tenang aja." Akhirnya mereka bertiga berencana untuk ke klub malam ini, Erin sangat penasaran dengan kabar yang santer terdengar di sekolah, kalau pria itu betul-betul kak Irgi."
Mereka tidak menyadari Raka dari tadi sudah duduk di bangkunya sambil mendengarkan rencana ketiga cewek itu.
~
"Jen, jangan terlalu tebal lipstiknya deh, entar aku dikirain emak-emak." ucap jeni.
Mereka bertiga bersiap-siap di rumah fari, mereka di dandani oleh dari yang jago make up. "Oke selesai." ucapnya, dia merasa bangga melihat hasil eksperimennya kepada dua sohibnya.
"Lihat deh di cermin Sono, kalian berdua terlihat dewasa kan, siapa dulu dong yang mendandanin." ucap fari bangga.
__ADS_1
"Iyaaa, lu emank jago kalau urusan kayak gini. Kita berangkat guys." ucap jeni.
Mobil biru itu sudah terparkir tidak jauh dari rumah fari, sudah lama raka mengamati ketiga cewek cantik yang baru saja keluar dari rumah besar diujung jalan itu. Matanya menatap tajam Erin yang betul-betul berubah, wajahnya yang dipoles make up terlihat cantik dan dewasa, Dress mini berwarna hitam melekat ketat di tubuhnya, rambutnya yang bergelombang dibiarkan tergerai indah, dia betul-betul berubah seperti bukan Erin yang biasanya.