
Erin berada dihalte mau nungguin bus yang akan mengantarnya pulang..tiba-tiba deru mobil berwarna silver di jalan membuat mata setiap orang memandangnya.
Mobil yang melaju kencang tiba-tiba berdecit diam di tengah jalan lalu tak lama kemudian mobil silver mewah itu kembali melaju dengan cepat.
"Ck ck ck pada gak ada kerjaan amat sih main mainin mobil kayak gitu." sambil geleng-geleng sok tahu.
Ia menangkap sosok yang tengah berdiri di halte dan yakin dia adalah orang yang buat dia mengalami penyesalan dan kesedihan teramat dalam.
Cowok yang matanya kosong itu memalingkan wajahnya menatap pemandangan dijalan lalu ia menangkap sosok itu, matanya melebar lalu tak salah lagi, itu...MERINA matanya melebar ia ternganga keheranan bagaimana mungkin??
Ia teriak -teriak dan mobil silver itu berhenti pas banget di depan Erin, ia sepenuhnya yakin..ia berontak habis-habisan.
Sosok di dalam mobil silver yang tadinya diam kaku di tempat matanya yang sarat kepedihan mendalam yang tak lagi perduli dengan sekelilingnya kini berontak habis-habisan.
"MERIN...MERIN..." Dia teriak sekencang kencangnya.
"Suntik dia, cepat." kata salah seorang di dekat pengemudi, suntikan itu akhirnya bereaksi, matanya terpejam dan hanya samar-samar menatap sosok itu yang sudah menghilang.
Di sebuah pusat rehabilitasi di jakarta selatan, di dalam kamar yang tertutup terbaring seorang cowok, samar ia menatap ruangan itu, matanya masih berat untuk di buka dengan lebar hanya bayang-bayang cahaya yang menandakan hari belum malam.
Dengan sekejap kesadaran menamparnya dia akhirnya teringat kejadian kemarin yang membuat dia berontak habis-habisan.
Matanya terbuka lebar kesadaranya akhirnya kembali dia mengingat kejadian kemarin siang dan dia tidak salah lihat, dia memang merin bagaimana mungkin!!! dia menggelengkan kepalanya yang berat ingin betul-betul pulih dari suntikan bius itu.
"MERIN...merin masih hidup!!?" dia masih hidup, kini wajah yang terlihat pucat di balik wajah tampanya menitikkan air mata luka mendalam yang menikam hatinya yang menyesakkan dadanya kini pecah berkeping-keping...
sambil memeluk lututnya dan sedikit kelegaan meresap ke hati dan jiwanya rasa bersalah yang harus di tanggungnya sedikit terangkat.Tapi itu tidak mungkin, dengan mata kepalanya dia melihat merin terbujur kaku dihadapanya, dia juga menyaksikan sewaktu merin di makamkan. Cowok itu berpikir keras siapakah cewek itu yang sangat mirip dengan Merina??
__ADS_1
~
Erin masih khusyuk dengan tidurnya tidak denger jam weker mashanya yang dari tadi bunyi di tambah teriakan ibunya yang memanggil-manggil.
"ERIN...udah jam enam lewat loh." ibu erin udah gak sabar lagi, anak semata wayangnya ini emang kebo kalau bangunin susahnya minta ampun.
Setelah menaroh jam weker di depan hidungnya kini erin gedebak gedebuk menyambar buku-bukunya di atas meja.
"Ihhhh Mama.....kenapa baru bangunin sekarang."Setelah mandi kilat dan sedikit merapikan rambut panjangnya yang di urai gitu aja, dia akhirnya lari ke halte.
Dengan cemberut erin berlari ke halte nungguin bus yang gak kunjung datang sambil menggigit jari erin melirik jam.
"****** deh, jam pertama kan pak agus guru matematika yang sering marah-marah gak jelas."
Tiba-tiba mercedess hitam berhenti di depan erin, cowok itu turun dari mobilnya. Erin hanya ternganga menatapnya.
Erin gak ngomong saking terpananya, nih cowok gak punya udel ya alias gak punya malu, erin masih ingat kejadian sewaktu di cafe.
"Sepertinya terlambat, aku anter ke sekolah, gimana??" sambil memandang erin. Tawaran itu boleh juga masih sempat sebelum bunyi bel masuk pikir erin.
Tapi erin masih dongkol dengan kejadian di cafe apalagi kakinya masih cenat cennut. "Gak deh, makasih." Jawab erin dengan ketus. biarin aja di omelin pak agus pikir erin dongkol.
Gavin menatap erin dan mengerti penyebab cemberutnya erin. "Aku minta maaf karena gak ngantar kamu pulang. Mm..sekarang udah jam tujuh loh."
"JAM TUJUH?? Mati gue." Teriak erin. "cepet-cepet kalau gitu nyalain mobilnya katanya mau ngantar??"
Gavin tersenyum menatap erin yang lari-lari masuk ke mobil.
__ADS_1
Erin menggigit bibirnya dan menatap jamnya...tanpa tau cowok di sampingnya lagi memperhatikannya dari tadi.
"Boleh gak aku jemput bentar?? ada yang mau aku omongin."
"Apa??" Erin lagi nggak konsen alhasil dia menjawab asal saja.
"Ok deh."Akhirnya sampai juga di SMU 45 Raya tanpa mengucapkan satu katapun erin lari terbirit-birit nyaris gerbang sekolah udah mau di tutup.
Syukur-syukur pak agus belum datang sambil ngusapin dadanya. Erin terpaku, ya ampuuun saking terburu-burunya aku lupa ma cowok tadi...
"Tumben Lo terlambat." kata fari yang duduk di depan erin.
"Mestinya lo kirim pesan dong kalau pak agus lagi rapat , aku pontang panting lari-lari tau."
"Ke kantin yuk aku gak sempet sarapan dari rumah." kata Erin menatap fari dan jeni.
"Lo juga sih, tidur sih tidur tapi jangan pake kebo kali."
"Gak usah ke kantin deh, aku bawa nih dari rumah hasil uji coba, lo liat ya."
"TADAAA...cake buah dengan hiasan ceri, kiwi dan jeruk, mau dooong." Jeni menaikkan alisnya.
"Sebenarnya nih kue buat kak reno , BUUUT...kalian mendapat kehormatan pertama untuk makan cake aku."
Bilang aje kite-kite jadi kelinci percobaan." jeni cengengesan.
"Enak gaaak baru kasi komentar okay!!!"
__ADS_1