
Bel istirahat pertama berbunyi erin dan dua sohibnya maunya lekas-lekas ke kantin mau makan gado-gado so udah lapar berat, tiba-tiba ada siswi yang manggil erina.
"Hei kamu erina?" kata tu cewek yang mukanya kelihatan gak senang.
"Iya, ada apa??"
"Kamu di cari tu ma ketua osis, katanya di tungguin di ruang osis," lalu cewek itu pergi
kontan jeni dan fari membelakakkan matanya menatap erin.
"Jangan nanya, aku aja gak tau." kata erin terkesima . Badan erin kaku total jalannya kayak robot seumur-umur dia gak nyangka akan di panggil cowok yang bikin ati cewek ngejrat ngejrit.
DUUUUHHH mesti bilang apaan.... ni masalah juga aku gak bisa ngebahas sama jeni ma fari.
Mantapin hati tenang-tenang kata Erin dalam ati, terdengar ketukan pintu. "Masuk." Suaranya terdengar jelas berat dan serak.
Mati kutu gue suaranya aja bikin jantungku denyut-denyut melebihi skala.
Tanpa memandang erin yang masih mematung di dekat pintu dan masih sibuk dengan kertas-kertas di depannya. "Duduk." bentaknya, koq kesannya aku seperti kriminal ya.
Beberapa menit berlalu kak irgi belon juga ngomong, erin yang udah siap-siapin jantungnya tambah jumpalitan. menaikkan alisnya mengerutkan dahinya begitu terus terulang.Tiba-tiba...Dia menatap tajam erina. "Kamu sadar dengan kehadiran kamu itu! atau aku mesti jelasin, Kamu itu seharusnya menghilang saja apa lagi rencana busuk yang kau siapkan." Erin terkejut terkesima menatap wajah yang selalu ramah kepada siapa saja kini berubah seperti hendak menerkam.
Erin hanya menatap kak irgi dengan tatapan heran tak percaya. Erin tak bicara sedikitpun gak tau mesti ngomong apa dengan sikap permusuhan dari kak irgi cowok yang selama ini diidolakanya.
__ADS_1
"kenapa gak ngomong!" bentak kak irgi, erin terkejut.
I...ini.. kak irgi? batin erin nyeremin banget...erin tak bersuara sedikitpun takutnya salah ngomong ntar dicekek.
"Apa kau tidak berpikir!!" Mestinya kamu Mikir kalo mau pindah ke sekolah ini!! pake ganti-ganti nama lagi, Erina." kontan Erin terbelalak. sambil menatap kak irgi yang melipat tangannya di depan dada...dengan senyum sinis memandang oknum yang seratus persen gak bersalah sama sekali.
Erina kini berjalan lunglai, cahaya mentari dari wajahnya yang biasanya nampak kalo ngeliat kak irgi kini seperti awan mendung kelabu, sikap kak irgi yang jelas-jelas memandangnya jijik dan benci berkecamuk dalam pikiran Erin, kini yang ada dalam kepala erin hanya nama Gavin....
"B E N C IIIIIII", teriak erin tiba-tiba sontak orang-orang pada kaget, ikhhh ni semua salah si gavin.. aku kan gak salah sama sekali napa aku yang jadi sasaran siiiih.
Erin ngeluarin hp dari sakunya mencari nama gavin. "Aku mau ngomong"..oky aku tunggu di dekat halte". Kukupas tuntas tu si gavin, Awas aja.
Erin yang dari tadi nunggu di halte dengan muka cemberut bibir doer, alis mengkerut nungguin gavin yang baru tiba sepuluh menit kemudian.
Gavin hanya memandang heran Erin yang dari tadi di tanya gak ngejawab. "kita cari tempat ngobrol yuk."
"Terserah", jawab erin kettus.
Tanpa sadar wajah cemberut erina yang gak pernah di dapatnya dari tunangannya merin membuat Gavin tersenyum tipis.
"Kamu kenapa??" dari tadi ditanya koq diam aja katanya mau ngomong", masih tersenyum memandang erin.
"Bentar dulu aku atur napas dulu bentar ada gelas ato piring yang melayang urusanya kan bisa ampe rumah sakit." katanya sewot.
__ADS_1
Gavin terkekeh menatap erin.
Erin melotot menatap gavin. Ni cowok bener-bener ya, orang lagi marah dianya ngakak doang.
Mereka berhenti di cafe dan mengambil tempat duduk di luar cafe. "Mau makan apa?" katanya santai melihat menu. Erin nggak ngejawab masih menatap gavin dongkol dan melipat tangannya di depan dada.
Gavin menghela napasnya. "Oky kamu bisa marah-marah bentar tapi kalo kita udah makan, gimana?" bujuk gavin.
Erin masih gak ngejawab akhirnya gavin pesen aja ayam goreng dua.
"Sebenarnya ada apa sih antara kak irgi dan merina koq merin di benci gitu." tanya Erina pada gavin yang masih melahap makanan di depannya lalu meminun seteguk es jeruk. "kamu lihat gak situasi waktu di rumahnya merina?" tanyanya.
Erina ngangguk, "Mm...iya sih, emangnya kenapa dengan merina koq di benci gitu???"
Gavin tersenyum tapi senyumnya tampak sinis."Dia itu dilahirkan sebagai devil!" sambil menghembuskan napasnya. "Merina tak ayalnya hanya sebuah duri di keluarga itu dan orang-orang yang mengenalnya."Erin ternganga takjub.
Erin mengerutkan alisnya, "Mm...kalau merina gak di inginin napa kak Gavin nyuruh aku nyamar jadi merina?" mendingan keluarganya tau yang sebenarnya."
Aku nih yang bakal jadi sasaran empuk para
pembenci merina pikir Erin ngeri.
Gavin terdiam sesaat lalu menarik napas, "Aku gak bisa jawab pertanyaan kamu sekarang, sorry..!!"
__ADS_1