My Two Face

My Two Face
Vol 26


__ADS_3

Mobil itu terparkir di depan rumah Erin, sudah begitu larut tetapi mobil itu masih betah di sana memandang jendela erin yang sudah gelap, penghuni di rumah itu sudah terlelap, apalagi Erin sudah terbuai ke alam mimpi. Mata tajamnya seakan terluka, ia memandang rumah itu sebentar lalu tidak lama kemudian dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menantang malam yang dingin.


Gavin masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, menekan ponselnya lalu menghubungi ayahnya yang sekarang ini berada di luar negeri.


"Aku tidak akan menikah dad, batalkan pertunangan itu, aku akan kembali ke Boston untuk melanjutkan kuliah di sana, iya aku serius dad." Dia menekan kembali ponselnya lalu melajukan mobilnya dan kembali ke rumahnya dengan perasaan marah dan terluka.


~


Pagi itu Erin di bangunkan ibunya dengan menggoyangkan tubuhnya agar Erin bangun.


"Rin, Erin bangun ada kabar yang mesti kamu dengar, bangun Rin." Ucap sang ibu dengan wajah serius lalu memukul pelan paha Erin agar dia bangun, hari ini adalah hari Minggu, jadi Erin rencananya mau Ngorok habis-habisan, tetapi terbangun dengan goncangan dan cubitan ibunya yang sudah gemes karena Erin belum bangun juga.


sambil mengucek matanya, Erin menguap lalu meregangkan tubuhnya.


"ada apa ma pagi-pagi udah ribut, Erin masih ngantuk ma." ucap erin sambil mengucek-ucek kedua matanya.


"Rin, ada kabar buruk, tadi lara menelepon ibu katanya... pertunangan kamu dan Gavin batal Rin, entah apa sebabnya tetapi kata Gavin tiba-tiba mau balik ke Boston mau melanjutkan kuliahnya di sana." ucap mama erin dengan wajah sedih.


Erin melotot, dia terkejut dengan berita yang tidak di sangkanya itu. Erin terduduk di tempat tidurnya, dia kembali membeku menjadi bongkahan es.


"Rin, kamu dengar gak sih omongan mama." ucap sang ibu.


Erin hanya ngangguk tanpa berbicara sedikitpun. Dengan wajah sedih ibu erin lalu keluar dari kamar Erin, membiarkan Erin sendiri.


Erin mengambil ponselnya dan ingin menekan nomor telepon Gavin, tetapi kembali dia urungkan dia memeluk ponselnya, lalu kembali menatap nomor Gavin.


"Jadi, kak gavin sudah memutuskan untuk bersama wanita itu?" ucap erin dengan sedih, dia kembali menatap layar ponselnya, dia memberanikan diri untuk menelepon ponselnya.


"Tidak di angkat?" ucap erin.


Beberapa kali Erin menekan ponselnya tetapi Gavin tidak menerima panggilan telepon Erin.


"Semoga kak gavin bahagia, hanya itu yang bisa aku ucapkan, karena hatiku belum bisa menerima pengakuan kak gavin yang menyukai wanita itu dan menyukaiku di waktu yang sama, itu terlalu egois." bisik Erin.


Akhirnya Erin menyerah, dia hanya mengirimkan pesan singkat kepada Gavin.

__ADS_1


"Aku dengar kak gavin akan ke Boston, aku cuma mau ngucapin semoga kak gavin bahagia dengan siapapun pilihan kakak, aku turut bahagia." Erin


Erin menyimpan kembali ponselnya, dia menatap pemandangan dari luar jendelanya. Setetes air matanya mengalir di pipinya. "Selamat tinggal kak gavin." ucap erin.


~


Pesawat itu sedang mengudara, tepatnya menuju ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Gavin mencari-cari ponselnya dan seketika menyadari jika dia menaruh ponselnya di laci di dekat tempat tidurnya semalam.


"ugh, kenapa aku betul-betul lupa?" gumamnya. Dia menghembuskan napasnya, dan mengingat wajah erin tiba-tiba saja dia merasa menyesal karena pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun kepada Erin.


"Biarkan seperti ini Rin, aku memang bersalah dari sejak awal." gumam Gavin menatap foto gadis yang tersenyum manis yang ada di tangannya.


~


Erin berjalan gontai, wajahnya terlihat muram padahal sebentar lagi dia mau ujian, dia kemudian menguap, tapi tiba-tiba dia berhenti berjalan karena melihat senyuman tampan dari pria indo di depan rumahnya membuat Erin melotot.


"Ngapain dia ada di sini?" ucap erin.


"Pagi rin, koq masih ngantuk sih?" ucap raka.


"iya deh kamu belajar, yuk bentar lagi kita terlambat." ucap Raka.


Mata tajam itu menatap mereka berdua yang sudah masuk ke dalam mobil Raka. Sorot mata Rio menatap benci kepada Raka yang menjemput erin.


"Berani sekali tuh bocah, Sepertinya harus aku kasih pelajaran, supaya dia mengingat kelakuannya terhadap merin." ucap Rio dengan pandangan benci.


Jangan kira Raka tidak menyadari tatapan itu, matanya sudah menangkap wajah Rio, dia mengerlingnya tetapi tidak menghiraukan, dia tahu sebentar lagi dia pasti akan menemuinya.


~


Sebuah pukulan melayang ke wajah Raka, bibirnya robek dan berdarah, wajah sangar dan benci di hadapannya berjalan dengan angkuh lalu kembali menendang Raka hingga dia terhempas ke belakang.


"Berani sekali kau deketin Erin? apa kamu gak puas dengan kematian Merina." Teriak Rio.


Dia kemudian berjongkok di hadapan Raka, dia menarik keras kerah Raka dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


"Jauhi Erin, pergi dari hidup Erin, kalau kau tidak mendengarkan aku, lihat saja akibat yang akan kau tanggung raka." Rio menghempaskan tubuh Raka, lalu beranjak pergi meninggalkannya dalam keadaan babak belur.


Raka terduduk, kata-kata rio masih terngiang-ngiang di telinganya. Dia kemudian berdiri dan menghapus bercak darah yang ada di sudut bibirnya. Raka kemudian naik ke dalam mobilnya menuju ke tempat orang yang di sayanginya tetapi telah pergi untuk selamanya.


~


Sudah beberapa hari ini Erin betul-betul suntuk, sebentar lagi ujianya selesai, dia lagi baring di atas tempat tidurnya. ingatannya jatuh kepada Raka yang sudah tidak pernah datang lagi ke sekolah, hampir sebulan dia menghilang entah dia pergi kemana.


Bunyi ponselnya membuat Erin berbalik dan segera mengangkatnya. Nomor itu Erin tidak kenal, suara berat itu membuat Erin sadar kalau yang menelpon adalah Raka.


"Rin...ini aku Raka."


"Kamu kemana Raka? ujian sekolah Sebentar lagi selesai kalau kamu tidak datang....


"Aku sekarang tidak berada di Indonesia Rin, maafin aku Rin." ucap Raka.


"jadi kamu sekarang ada dimana?" sebelum mendengar Jawaban Raka ponselnya sudah tidak tersambung lagi.


"Halo? Raka? halooo?"


"Dia pergi??" bisik Erin. Dua pria egois itu pergi dengan seenaknya, membuat hati Erin kesal tetapi kesedihan terpancar di wajahnya, dia menghapus air matanya yang entah mengalir membasahi pipinya...Kalian berdua jangan pernah lagi muncul di hadapanku." ucap erin sambil menghapus air matanya dengan kasar


~


~


🌺Lima tahun kemudian🌺


Kemejanya melekat pas di tubuhnya, wajah cantik dan imut terpancar dari pantulan wajahnya di cermin, Erin gedebuk ke sana kemari karena sudah terlambat berangkat ke kantornya.


"Ugh, terlambat gara-gara fari nih, nangisnya pake begadang, tiap hari bertengkar sama suaminya, eh belom sejam mereka udah baikan, trus yang jadi sasaran curhatnya itu aku, kalau aku bilang udah ngantuk dia jadi sensi katanya udah tidak perduli dengan persahabatan mereka, begini nih kalau dia lagi ngidam bawaannya sensi melulu...." gumam Erin selama di dalam mobil yang dikendarainya.


Ponselnya berdering, Erin melotot karena yang menelepon itu pak Udin, dia itu yang bertanggung jawab kepada seluruh staf di kantor termasuk keterlambatan para stafnya.


"Sial!" keluh Erin, dia melajukan mobilnya dengan kencang dan akhirnya tiba juga di kantornya. Erin bekerja sebagai salah satu staf di perusahaan besar yang ada di Jakarta dia bekerja sebagai salah satu staf administrasi di kantor besar bernama PT Development Pratama.

__ADS_1


__ADS_2