
"Aku bisa minta tolong??" dia memandang dengan wajah yang serius pada erina. Erina menaikkan alisnya.
"minta tolong...apa?" dia terdiam sebentar lalu kembali memandang erin.
"Kamu...pura-pura jadi Merina."
Mata erin terbelalak. Saking terkejutnya erina ternganga gak nyangka minta tolongnya gila gitu. Erin terdiam hanya dengerin dia bicara.
"Merina...dia itu tunanganku." lagi-lagi dia diam terdiam sejenak rahangnya mengatup keras.
"Dia...telah meninggal." Sontak Erin kaget nggak nyangka kagetnya beruntun gini.
"Dia meninggal karena over dosis bersama pacarnya." Tambah melongo deh muka erin.
Erin lagi dikamarnya duduk di meja belajarnya lagi mikirin minta tolong gavin yang gak disangka itu, tadi siang sewaktu pulang sekolah mobil hitam itu udah terparkir di pinggir jalan dekat halte. Erin yang lupa kalau udah bilang ok mau ketemuan rada kaget aja.
Gavin keluar dari mobilnya dan tersenyum memandang erina lalu membukakan pintu mobilnya, Erina yang terlanjur bilang okay ya celingak celinguk aja and ngikut ke si punya mobil, dia berhenti di pinggir jalan dan mengutarakan minta tolongnya.
"TAU AH aku pusing, nanti aja deh mikirnya aku pantang mikir yang susah-susah." ucap Erin.
Hari ini hari minggu, Total erin mau ngorok habis-habisan. Terdengar dering brave dari sara bareelles..tanpa melihat siapa yang nelpon erina langsung ngangkat aja.
"Iya, haloo...." dengan suara serak.
"Masih tidur? Aku ada didepan rumah kamu."
Beberapa detik...erin membuka matanya. "Ini kan suara kak Gavin!!!"
Erin geragapan rambutnya awut-awutan tiba-tiba dia matiin tuh ponsel.
"Gimana dia tau nomer aku??" Bunyi hp erin terdengar lagi.
"ih bete' dia lagi. "ha..halo, kamu kenapa tau rumah aku??"
"itu sih gampang carinya, keluar dulu deh, aku tunggu ya." Klik.
Erin ngintip dari jendela kamarnya nampak mobil hitam terparkir jelas di sisi jalan.
__ADS_1
"Sableng nih cowok nekat amat."
Dengan mandi super kilat make up dan ngikat rambut ala kadarnya, erin keluar, gavin turun dari mobilnya lalu tersenyum.
"Kalau...kak Gavin minta jawabanya sekarang untuk bantuin, aku gak bisa, belon juga sehari buat mikirnya."
Gavin menatapnya tapi ekspresinya kali ini terlihat sangat sedih. Wajahnya jangan gitu dong aku kan gampang kasian kata erin dalam hati.
"Aku butuh bantuan kamu erin sekarang, Please....."
'Nih orang yah minta di tolong di bantu tapi harus.'
Erina berada dalam mobil Gavin, dia menghela napas dan mulai berbicara.
"Aku pernah cerita kalau merina wafat karena overdosis kan?" Erin hanya ngangguk aja .
"keluarganya hanya tau dia sekarat dan ada di pusat rehab." Aku udah tahu sambungannya ni cerita...batin erin yang suka baca novel.
"Gak ada yang tau kalau dia tuh udah wafat dua minggu yang lalu." Erin membelalakkan matanya.
"Hanya aku dan ayahku saja yang tahu."Ucap Gavin.
"Tante dewi sakit keras dn dia nggak tau anaknya udah nggak ada." Erina sepertinya paham maksud gavin.
"Aku minta tolong sama kamu untuk ketemu tante dewi dia sangat rindu sama anaknya,
Gimana rin?"
Erina mengerutkan alisnya. "Itukan membohongi mamanya merina kalau dia tahu anaknya gak ada bisa-bisa...." Ucap erin dengan ragu.
"Itulah mengapa aku minta tolong, please..." kata Gavin memohon.
"Kalau ketahuan gimana? aku kagak bisa akting." ucap Erin.
"Tenang saja, selama merin di pusat rehab dia udah tinggalin keluarganya hampir beberapa tahun, mungkin saja kan dia berubah."
Gampang aja ni cowok bicara aku nih yang meraninnya, pikir erin dongkol.
__ADS_1
"Kamu mau kan???" Dengan wajah memohon. Akhirnya erina ngangguk aja dia nggak tahu satu anggukan itu akan membuat hidupnya berubah drastis dan harus memainkan peran yang lebih dari itu.
Mereka berangkat ke rumah Merina, rumahnya ada di jalan Erland, di kompleks itu rumah-rumah rada gede-gede gila, erin nggak nyangka, di jakarta ternyata ada tempat seperti ini, Erin nganga-nganga takjub ngeliat rumah-rumah yang di lewati.
Akhirnya mereka sampai dan super gila ni rumah suer keeereeeen abisss gedenya minta ampun, kayaknya ini rumah yang paling gede diantara yang lainnya. Di depan rumahnya aja ada gerbang besar bertuliskan
'Bonjour Merina'.
WOW, nama rumahnya aja diambil dari nama anaknya pikir erina.
"Yuk masuk." kata gavin, erina ngikut aja masih sambil terkesima melihat rumah itu. Halamanya saja luas banget dimana-mana di tumbuhi bunga-bunga yang cantik di ujung ada paviliun di tengah halaman ada patung besar wanita memegang bunga di sekitarnya ada pancuran gede banget.
ini nih namanya rumah? bukan kali ya ini nih istana pikir erin takjub. Mereka masuk di ruang tamu tapi tak ada orang, erina ngikutin aja gavin naik ke tingkat tiga di rumah itu, busyet alhasil capek nih kaki.
Di tingkat tiga ada ruangan besar di sanalah berkumpul seluruh keluarga merina saat mereka membuka pintu semua orang menatap mereka.
'Mati aku ini bukan penipuankan??' pikir erina ngeri.
Kontan mereka semua terlihat terkejut.
"MERINA????"
Seorang lelaki tua rambutnya pada putih semua datang menghampirinya.
"Merina...kau Merina." Ucap pria tua itu. Erin yang bengong karena nggak nyangka banyak orang disana ngangguk-ngangguk aja.
"Merina, kau baik-baik saja? Untung kau datang ibumu sakit keras dia sangat merindukanmu." Dia melepas merina dari pelukannya, ini pasti kakeknya pikir erin. dia mendorong erin menuju pintu kamar yang besar tapi sebelum dia berjalan dia berbalik ke arah gavin.
Gavin ngangguk-ngangguk aja menyemangati. 'Sialan si Gavin aku di masukin ke kandang macan, dia sih tinggal manggut-manggut aja.' pikir Erin kesal.
Ketika erina menuju kamar besar itu di tatapnya orang-orang yang ada disana. Ada apa nih dengan tatapan-tatapan aneh padanya, dan satu yang membuat erina terkejut habis sampai langkahnya terhenti...Kak irgi ada di tengah-tengah mereka dengan pandangan mencekam di matanya.
Kak...kak irgi...kenapa ada disini? ketika erina hendak membuka kamar ibunya Merina, terdengar suara seseorang.
"Stop di situmerin!!!" Ada apa lagi nih...pikir erina.
Cowok itu sepertinya tujuh tahun lebih tua darinya. "Sudahlah Rio, biarkan merina melihat ibunya." kata seorang perempuan di sebelahnya.
__ADS_1
"Kupikir kau sudah lupa dimana rumahmu dan siapa ibumu, kenapa kau kembali ???HAH!!!"
Erina bengong **** aja, nggak nyangka dia yang kena marah diakan seratus persen nggak ambil andil soal kaburnya merina.