My Two Face

My Two Face
Eps 22


__ADS_3

Dia menyaksikan semuanya, raka berada di dalam mobil sportnya dan menatap tajam adegan yang baru saja berlangsung.


Semburat merah di wajahnya terlihat jelas, Erin berlari-lari kemudian berhenti, dia memegang pipinya yang masih hangat karena kecupan dari Gavin.


"Oh my God." teriak erin berlari dan tak sadar menabrak Raka yang berjalan di hadapannya.


"Aduh sakit." ucap erin sambil memegang keningnya dan menatap pria yang di tabraknya.


"kalau jalan pakai mata." ucapnya, dia lalu berjalan tanpa menatap erin yang menganga melihat sikap ketus Raka.


"Emang dia lagi pms ya, ngapain juga dia marah-marah." ucap erin heran lalu kembali berjalan menuju kelasnya.


Suasana gaduh menjelang ujian membuat mereka bertiga uring-uringan belajar, Erin yang di kepalanya sudah dipenuhi dengan wajah Gavin, meskipun ujian sudah di depan mata, wajah cerianya masih membingkai di wajah mungilnya.


"Santai benar Lo Rin, udah belajar ya."


"Gak." ucapnya.


"Trus ngapain senyam senyum sendiri, bentar pak Agus pikir Lo kesurupan." ucap jeni.


"ihh, ngapain sih bawa-bawa nama pak Agus, gue lagi happy jadi jangan ganggu ya jeni sayang, konsentrasi aja Ama belajarnya yaa." ucap erin sambil senyum-senyum sendiri.


"Habis makan apaan sih tuh anak."


Raka yang melihatnya hanya menatapnya dari kejauhan, wajah murungnya nampak lebih murung dari biasanya, dia lalu bangkit dari bangkunya dan meninggalkan kelas.


~


Istirahat kedua membuat jeni dan fari keluar dari kelas mencari minuman dingin, Karena panas yang begitu menyengat, hanya Erin yang nitip minuman dingin kepada dua sohibnya, dia lagi malas jalan ke kantin, maunya duduk di bangku sambil dengerin musik dan mengingat semua kata-kata Gavin.


langkah kaki mendekati Erin dan langsung duduk di hadapannya.


Erin sontak membuka mata dan headset yang dipakainya.


Mata mereka bertemu, tetapi Raka masih diam dan tidak mengatakan apapun kepada Erin.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya erin dengan bingung melihat Raka yang duduk dan hanya diam menatapnya.


"Kau bukan merina, tentu saja semua tahu itu, tetapi.... Sepertinya aku harus memastikannya" ucap raka.


"Hah? apa sih maksud Lo, ya jelas dong aku bukan merina, Lo kan tau itu." ucap erin masih menatap heran melihat tingkah Raka.


"yang aku mau pastikan adalah ini !" Kecupan kilat dari raka melekat di bibir erin yang langsung terdiam membeku dengan kecupan singkat itu.


"Raka masih menatapnya, "Sekarang aku sudah memastikannya." ucapnya, dia lalu pergi meninggalkan Erin yang membeku di tempatnya dan tidak mengerti dengan situasi yang telah terjadi.


Fari dan jenny sudah kembali dari kantin dan menatap heran dengan tingkah Erin yang terlihat membeku layaknya bongkahan batu. "Woi, ada apa Rin?" ucap jeni.


Erin tiba-tiba tersadar, wajahnya memerah bukan karena suka Karena marah dengan apa yang dilakukan Raka padanya. Enak aja main nyosor untuk memastikan sesuatu, awas saja kalau ketemu, pikir erin.


~


Hari ini Erina suntuk berat, moodnya yang tadinya oke sekarang hancur karena kecupan Raka kepadanya, Erin dengan ogah-ogahan berjalan lalu berhenti sambil menunggu bis yang belum lewat, jeni dan fari lagi ikut kegiatan eskulnya jadi hari ini Erina pulang sendirian.


Mobil berwarna biru berhenti tepat di hadapan Erina.


Erina dongkol lihat wajah Raka, dia seperti tidak mendengarkan kata-kata Raka.


"Rin, ayo naik." ucapnya.


"Gak mau, aku menunggu jemputan." ucap erin ketus.


Raka tiba-tiba keluar dari mobilnya lalu menarik tangan Erina.


"Eh, ngapain sih ! aku sudah bilang mau tunggu jemputan." bentak Erina kepada Raka.


Bis yang di tunggu sudah datang, sontak Erina ingin naik ke bis tapi tertahan dengan tangan Raka. Wajah erina terlihat marah, dia menendang kaki Raka lalu segera naik ke atas bis.


Orang-orang yang lihat mereka pada menggelengkan kepalanya. Bodo' amat yang penting Erin pergi dari hadapan Raka, entah mengapa dia tiba-tiba berubah, biasanya kerjanya marahin Erina, tapi tiba-tiba main nyosor aja.


Erina tidak mau melihat wajah Raka yang masih memandangnya dari kejauhan. "Kenapa sih dia seperti itu, dia kerasukan apa sih."

__ADS_1


Malam itu Raka sedang melaju kencang dengan motornya di jalanan membelah malam, angin dingin menerpa wajah pucat tampan itu, dia lalu berhenti di depan sebuah rumah besar dengan tulisan besar 'Bonjour Merina', matanya masih terpaku dengan nama yang tertulis di sana, kesedihan selama beberapa tahun masih begitu berat terpaku di dadanya, tetapi sesuatu merubahnya, kali ini dia merasa hatinya teralihkan dengan sosok yang mirip dengan merina, meskipun dia sudah mencoba menghalau perasaan itu, tetapi perasaan itu tumbuh setiap harinya.


Akhirnya setelah memperhatikan sosoknya yang begitu berbeda dengan Merina membuat Raka teralihkan dengan sosok Erina yang ceria, lucu dan menggemaskan.


"Aku menyukainya merin, aku hanya ingin bilang ini ke kamu." bisik Raka, wajah dinginnya sedikit tertarik hingga senyuman tipis terpampang di wajahnya.


'Selamat tinggal merina'


Bisikan itu tertuju pada kata yang tertulis besar di depan gerbang rumah Merina.


~


"Ugh, nyebelin bangeeeeet." teriak erin lalu melemparkan bantalnya ke dinding hingga jatuh dan tergeletak di lantai, dia tidak begitu bersusah payah mengambilnya, kali ini bantal yang kedua dilemparkannya lagi hingga seseorang mengaduh ketika bantal itu menyambar wajahnya.


"Aduh, ngapain Rin lempar-lemparan bantal, kamu lagi bosan ya?" ucap suara parau itu.


Mata Erin sontak berbalik ke asal suara.


"Eh, kak Rio." ucap erin begitu terkejut dengan kedatangannya yang tidak di sangkanya. Meskipun dia kakak kandung Erin tetapi baru kali ini Erin mengenalnya jadi rasa kaku dan sopan masih melekat di tingkah laku Erin.


"Kak..kak Rio koq nggak bilang-bilang mau mampir kemari??" ucap erin mengambil barang-barang yang bergeletakan di lantai dan mengambil baju-bajunya yang nangkring dengan acak di berbagai tempat.


"Emang gak boleh jenguk adik sendiri." ucap Rio lalu duduk di tepi tempat tidur Erin, dia memperhatikan seisi kamar Erin yang tidak begitu luas tetapi kental dengan warna feminim dan kekinian, poster-poster BTS dan Astro melekat di beberapa tempat di dindingnya.


Erin dengan Kikuk duduk di kursi belajarnya sesekali melirik kakaknya yang baru-baru ini dikenalnya tetapi tidak begitu akrab dengan erin, sosok Rio lebih serius dan tegas, dan umurnya terpaut 5 tahun dari Erin dan merin.


"Rin, kakak mau bicara, emm..kamu gak niat tinggal bareng mama di rumah?" tanyanya.


"Niat? tentu niat kak, kan udah tinggal Ama mama." ucap erin tidak ngeh dengan pembicaraan yang berlangsung.


"Maksud kakak tinggal bareng mama dan aku di rumah yang sebenarnya, di rumah kita..aku tahu kamu sudah menganggap tante lara seperti ibu kandungmu sendiri tetapi kenyataannya kamu tuh anaknya mama." ucap Rio masih menjelaskan dengan sabar.


Rona di wajah erin seperti terkuras, memikirkan meninggalkan ibunya saja seorang diri membuat Erin begitu sedih apalagi jika dia betul-betul meninggalkan mamanya, Erin mungkin gak bisa senyum lagi, ceria lagi, dia tidak bisa pisah dengan ibunya meskipun dia bukan mama kandungnya.


"Aku ingin Erin mengerti dan memikirkan permintaan kak Rio, hem." ucap Rio lalu berdiri, Erin hanya mengangguk sekali selebihnya dia kembali menjadi bongkahan batu, tidak bergeming hanya duduk memikirkan semua yang telah terjadi dalam sehari ini. "Koq beruntun gini sih, kalau banyak mikir kepala aku nanti jadi botak." ucap erin sambil mengusap-ngusap kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2