My Two Face

My Two Face
Ep 17


__ADS_3

Raka jangan pernah deketin erin, lo tau pasti kalau erin bukan merina”. Apa gue mesti jelasin kalau merinamu udah wafat”. Irgi yang menatap raka dengan tatapan jijik padanya, lalu berbalik dan menggandeng erin yang masih shock.


”Yuk ren gue antar”.


Raka memandang irgi dengan tangan mengepal.


“Thanks kak irgi, gue kira bentar lagi nyawa aku ilang satu", irgi tersenyum tipis dan merasa erin tak akan aman coz dia sekelas ama raka.


“Gue antar ya bentar”. Kata irgi yang mengantar erin di depan kelasnya, mata-mata cewek yang jelas-jelas iri dan sinis dongkol melihat si erin yang dekat ama ketua osis tercinta mereka.


“Emank kakak gak rapat? katanya ada rapat osiskan”? kata erin yang sok tahu kegiatan osis irgi.


Irgi tersenyum dan memegang kepala erin lembut.


”Gue tunggu bentar ya, jangan pulang sendirian ren”.


Erin ngangguk tuing aja coz si raka takutnya punya pikiran nyulik dia, kan nyeremin.


Siang itu panas banget, anak-anak sekolah 45 raya udah pada keluar dari gerbang sekolahnya, tinggal erin yang berdiri di gerbang sekolah nungguin irgi yang tadi janjian, but dia masih belum keluar dari kelasnya.


“Kak irgi ngapain sih katanya mau ngantar pulang”, kata erin dongkol, fari dan jeni mana udah pulang duluan lagi.


Mercedes pink yang sedari tadi mengamati erin di bagian parkiran langsung cabut di depan erin, dan beberapa orang dari dalam mobil memaksanya masuk ke dalam. Erin yang mau neriak gak bisa karena mulutnya dibekap ama sapu tangan.


Erin dibawa di sebuah taman kosong dekat sekolahan, erin melihat siapa pelaku yang menculiknya. Sinting amat nih tiga ikan teri, nekat amat ngelakuin hal rendah kayak gini. Mereka itu tari viona dan yeyen yang naksir berat ama kak irgi dan gak terima gue deket-deket ama kak irgi.


“Kalian kenapa sih, Sinting ya! erin teriak pada mereka bertiga. ”Ini udah tindakan criminal tau! erin yang mencoba terdengar tidak takut pada ketiga cewek nekat ini.


Tari memandang erin tajam. ”Guys liat nih anak, napa ya gue pengen teriak ke semua orang kalau nih cewek its nothing, and nothing, apa kak irgi buta ya”.


Erin yang ternganga takjub karena mendengar alasan si tiga ikan teri ini menculiknya karena ini semua menyangkut kak irgi yang diidolakannya.


”kalian gak ada otak ya! Lo lo culik gue karena masalah sepele gini”!?

__ADS_1


“DIAM GAK LO”. tari teriak keras pada erin. ”Sepele lo bilang, perasaan gue lo bilang sepele”?Tari mengeluarkah pisau kecil dari dalam tasnya, yeyen dan vio kontan membelalakkan mata menatap tari yang gak nyangka bawa barang bahaya kayak gitu.


“Tar..lo koq bawa barang kayak gitu sih”? tanya yeyen yang mulai gak suka dengan cara tari.


”kita Cuma mau kasih ni anak sedikit pelajaran. Bukan mau ngebunuh ni anak”.


“siapa yang mau bunuh juga! Gue tuh udah saklek banget ama nih anak, kasih pelajaran gak cukup buat dia, gue mau tau kalau wajahnya tergores dikiiiiit aja, gimana reaksi kak irgi ya”? apa dia masih suka ama elo”?


Erin yang menatap ngeri ama tari yang sepertinya udah kerasukan roh jahat membelalakkan matanya ke vio dan yeyen yang mulai was-was dengan tindakan tari yang kesetanan.


“Udah deh tar, lo jangan bawa-bawa pisau segala kan ngeri”, kata yeyen membujuk.


“DIAM”, ketiganya kaget dengan teriakan tari yang betul-betul seperti orang kesurupan. yeyen dan vio saling melirik, mereka ketakutan dengan tindakan tari yang udah mendekati kata ’kriminal’.


Tari mulai berjalan kearah erin yang tangannya terikat ke belakang, erin cuman geleng-geleng dan coba berontak tapi ikatan mereka terlalu kuat, tangan erin mulai memerah akibat gesekan tali yang mengikatnya.


“elo akan rasain rasa sakit yang sebenarnya”, kata tari yang tangannya udah mendekati wajah erin. Vio dan yeyen hanya panik di tempat gak tau mau ngapain.


“berpikir dulu deh sebelum lo lakuin itu”, terdengar suara seseorang dibelakang mereka, mereka semua menatap sosok dibelakangnya yang ternyata raka.Tari menatap sinis padanya.


“satu goresan yang elo lakuin,… sepuluh goresan yang gue kasih, asal tau aja, gue gak bedain cewek atau cowok". kata raka acuh sambil terus berjalan kearah tari yang masih berdiri menantangnya. Wajahnya yang tampan membingkai wajahnya yang memperlihatkan wajah sadis di matanya.


Raka tepat berdiri di depan tari, ia mengecilkan suaranya tapi dengan nada mengancam dan hanya tari yang mendengarnya.


”Lo gak usah datang lagi ke sekolah, Paham kan maksud gue”.


Tari sontak menjatuhkan pisau kecil di tangannya kemudian dengan wajah pucat dia berlari meninggalkan taman itu diikuti ama sohibnya yeyen dan vio.


Erin masih terikat dekat pohon, Raka yang menatap kondisi erin, sepertinya menikmati apa yang terjadi ama erin ini.


”gak nyangka kalau kembarannya merin lemah kayak gini”. Dia duduk disamping erin tanpa berusaha mau membuka ikatan rena.


”Kalau merin, ketiga kutu loncat itu udah kelar deh dari tadi”!

__ADS_1


“Elo mau ngebantu gue gak sih”, kata erin dongkol meskipun raka adalah sang penolong tapi dia masih musuh bebuyutan.


“gak sopan, gitu ya cara kamu minta tolong ama orang”? Erin menutup matanya mencoba menahan amarahnya yang bentar lagi mau meledak. ”To..tolong dong dilepas ikatan gue”.


Raka kini tersenyum, dan mendekatkan wajahnya kearah erin, deket banget sampai-sampai erin mesti menarik kepalanya ke belakang.


”Hemm, merin punya tai lalat deket bibirnya tapi kamu enggak”, sambil menatap bibir erin.


Erin yang udah mencoba menjauh sebisa mungkin masih bisa merasakan napas dari wajah si raka. Sialan ni orang gue udah baik-baikin juga, kalau gue udah dilepasin gue injak deh kakinya terus kabur aja.


Akhirnya dia lepasin ikatan erin. dia berdiri di samping erin, tapi sebelum erin merencanakan pengen nginjak kaki raka, irgi keburu datang dengan tergopoh-gopoh, lalu menarik erin ke arahnya.


"lo gak apa-apakan ren”? Sori banget gue telat keluarnya.


“aku gak apa-apa koq kak,er….emm..raka ngebantu gue tadi koq”.


Irgi menatap raka, yang meskipun telah menolong erin masih tetap benci melihatnya. raka berjalan menjauhi mereka, kemudian dia berbalik ke irgi.


”Dia bukan merin, jadi lo jagain dia”. kemudian dia berbalik pergi meninggalkan mereka. Erin berpikir tentang raka yang nolongin dia, hemm kalau dipikir-pikir si raka baik juga sih,,,,


^^


Hari ini mama dan aku akan ke rumah tante dewi, meskipun dia mama yang lahirin aku but aku gak bisa gitu aja terima kalau dia adalah ibu biologisku, ”Erin kamu gak apa-apakan kalau kita berangkat ke sana”? Erin yang masih menyisir rambutnya menggeleng aja sama mamanya, ”Gak masalah koq ma”, dia lalu mengedikkan bahunya.


Suasana di rumah tante dewi sangatlah rame, keluarga merina yang juga menjadi keluargaku gak satupun yang ku kenal. kecuali kak irgi sih dia ketua osis dan idola para cewek di sekolah gue sekaligus sepupu gue.


Erin berjalan bersama ibunya dan di sambut tante dewi yang sangat senang melihatnya, dia langsung memeluk erin, orang-orang yang ada di situ mereka semua tahu kalau aku bukan merina melainkan adiknya, itu membuatku sedikit lega sih.


“Hai ren”, seseorang memanggil erin dari arah pintu masuk dan dia kak gavin yang batang idungnya akhir-akhir ini gak kelihatan semenjak masalah kemarin itu. Erin terdiam di tempat tampak keterkejutan di matanya melihat seseorang berdiri di samping kak gavin, saking surprisenya erin seperti patung gak menyambut panggilan Gavin. Siapa cewek cantik itu?


Sebelum erin menyapa gavin, irgi sudah ada di samping erin, ”Hai ren”…erin yang masih bengong mendapati irgi udah menyodorkan minuman di depan hidung erin.


“Elo nggak apa-apa ren”? tanya irgi padanya

__ADS_1


“Gak…gak apa-apa koq”, kata erin dengan senyum yang dipaksakan Irgi menatap gavin dan cewek yang digandeng bersamanya.


”Wah, itu cewek Gavin ya, boleh juga tuh, hemm lo taukan kalau gavin adalah tunangan merina dulu”, erin yang merasa lempengan bumi telah bergeser padanya hanya bengong and ngangguk tuing kearah irgi.


__ADS_2