My Two Face

My Two Face
Vol 24


__ADS_3

Erin tidak menyangka akan masuk ke tempat hingar bingar ini, lampu yang berwarna-warni menghiasi klub itu dan musik yang keras memekakkan telinga.


"Ngapain Lo berhenti Rin ayo masuk." tarik jeni ke tangan erin yang berhenti di depan pintu masuk klub itu. Bau yang menguar dari dalam membuat Erin segera menutup hidungnya, bau parfum serta minuman yang menyeruak di udara begitu menusuk hidung.


"aku gak bisa kalau lama-lama berada di tempat ini." merinding Erin menatap cahaya lampu yang meremang dengan berkedip kedip menyilaukan.


"yuk, kita mencari tempat yang lebih privat, biasanya nih model kayak kak Irgi ada di tempat seperti itu." ucap fari menunjuk ruangan yang lebih tertutup. Erin dan jeni berteriak keras kepada fari karena tidak mendengarkan apa yang sedang dikatakannya.


"Kamu bilang apa sih gak dengar aku." teriak jeni sambil menyodorkan kupingnya.


fari sontak menarik kedua tangan sohibnya ini menuju tempat yang dimaksud "Eh, bukannya tempat seperti ini ada penjaganya deh, koq gak ada." ucap jeni.


"Harusnya kita bersyukur kalau penjaganya gak ada, eh lu malah mencari-cari penjaganya." Jeni kemudian cengengesan, di satu sisi fari dan jeni tidak nyadar dengan apa yang baru saja Erin lihat, mereka sudah ada di ujung mengintip satu persatu pintu tertutup itu.


Pintu itu tidak terkunci rapat, entah karena mereka lupa atau penghuninya malah sengaja untuk membukanya, sesuatu menarik pendengaran Erin ketika suara seorang wanita menyebut-nyebut nama Gavin dan Aldo.


Tatkala mendengarnya Erin lalu berhenti dan membuka sedikit pintu yang tidak terkunci itu dan mendengarkan segala pembicaraan mereka.


"Aku tahu sebentar lagi aku akan menikah gav, tapi....selama pertemanan kita bersama kau sudah pasti tahu bagaimana perasaanku kepadamu, sewaktu aku mendengar kau akan dinikahkan dengan cewek yang masih SMU itu membuatku betul-betul marah." ucap syntia yang lagi menangis di hadapan seorang pria yang sangat familiar bagi erin.


"Kau tidak bisa berkata seperti itu ta' sebentar lagi kamu akan menikah dengan Aldo, ngapain kamu menyatakan perasaanmu sekarang." ucap Gavin marah.


Mata Erin terbelalak melihat mereka, dia menutup mulutnya agar suara napasnya gak kedengaran oleh mereka.


"Aku mencintaimu Vin, udah lama aku memendam perasaan ini, aku merasa seperti robot yang harus berpura-pura menjadi sahabat bahkan terlihat seperti keluargamu dan berpura-pura berbahagia dengan Edo." ucapnya, Syntia mulai terisak dan menutup wajahnya yang menangis.


Langkah Gavin didepan Syntia membuat Erin membelalakkan matanya, dia mengelus rambut Syntia mencoba menenangkannya. 'Apakah kak gavin menyukai cewek itu juga?' pikir erin.


"Gav, aku akan bicara Ama aldo, Sepertinya dia juga akan mengerti, karena Aldo memiliki wanita lain yang dicintainya." ucap syntia sambil berlinang air mata di depan gavin.

__ADS_1


Gavin mengangkat dagu Syntia dan memandangnya lekat-lekat wajahnya. "Berhenti menangis ta', aku tidak mau melihat kamu menangis." bisik Gavin.


Seketika Erin menatap pemandangan yang betul-betul membuat hatinya seakan teriris, dia melihat gavin mencium Syntia, dan di balas pula oleh Syntia dengan ciuman mesranya.


"Aku juga menyukaimu ta' tapi hubungan kita tidak akan mungkin, karena sebentar lagi aku akan menikah dengan Erin." ucap Gavin menghapus air mata Syntia.


Erin mencoba menahan air matanya, tetapi lolos juga akhirnya buliran air bening itu membasahi pipi Erin.


"Kenapa gav, aku akan berbicara kepada aldo dan kau akan bicara ke Erin." ucap syntia memandang Gavin dengan heran.


"Sudah lama aku memang menyukaimu ta' tapi perasaanku sedikit demi sedikit berpindah kepada Erin, aku juga menyukai erina, bukan karena keinginan ayahku saja yang ingin agar aku menikahinya tetapi karena aku pun menyukai adik merin itu." ucap Gavin.


Syntia menatap heran dengan apa yang dikatakan Gavin, dengan terus terang dia menyatakan sukanya kepadanya juga kepada Erina.


"Dasar kutu loncat nih Gavin, aku samperin aja Rin biar aku gampar." ucap fari yang ternyata sudah ada di belakang Erin. wajah erin seketika pucat pasi, dia kemudian menarik tangan jeni dan fari dan berlari keluar dari klub itu.


Erin menghapus air matanya dengan kasar, lalu tanpa berbicara dia berjalan meninggalkan dua sohibnya yang ada di belakang.


"Rin tungguin dong kita....


Mereka bertiga berhenti berjalan melihat sosok Raka sudah berdiri di hadapan Erin. "Lo kok di sini ka?" ucap fari.


Jeni lalu berbisik ke fari. "Emank kamu udah segitu akrabnya ya, cuma panggil Ka' doank, liat aja mukanya lu panggil gitu pengen muntah dia." bisik jeni.


"Eh kebenaran nih, biar Erin sama Raka aja yang antar pulang gimana?" ucap fari.


Mata Erin yang basah menatap fari dengan pandangan membunuh. "Enggak, aku gak bisa pulang dengan pakaian seperti ini far, bisa-bisa mama jatuh pingsan liat dandanan aku kayak gini." ucap erin.


"Bukan gitu, maksudku dia yang antar kamu pulang ke rumah aku, Sepertinya Raka mau bicara deh ke kamu Rin."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Erin, Raka menarik tangan erin hingga dia masuk ke dalam mobil Raka. "Sialan tuh fari awas aja dia." gumam Erin melihat keduanya melambaikan tangannya sambil tersenyum sumringah.


"Ngapain sih kamu ada di sini." tanya erin.


"jemput kamu." jawabnya.


"maksud aku kenapa kamu tahu kalau aku ada di sini??" Erin memutar kedua bola matanya.


"jadi, kamu menangis karena Gavin suka juga sama cewek itu ya." ucapnya.


"Lho, lho koq kamu tahu Gavin menyukai Syntia, emank kamu dengar dari mana?" tanyanya.


"Keadaan kamu sama persis seperti yang di alami Merina." jawabnya.


"What ! beneran?? aku pikir kak merin pacaran Ama kamu, terus dia emank gak setuju dengan pertunangan itu."


Raka mengambil napas, "Awalnya merin belum mengenal aku, dia itu di tunangkan sama Gavin sebelum berkenalan denganku, merin tidak begitu suka melihat pertemanan mereka bertiga, yang katanya sudah seperti keluargalah, sahabatanlah, membuat merin nyesek juga bersama Gavin, dimana-mana Syntia selalu ngekor kemana Gavin pergi."


"Apa? yang bener?" ucap erin.


"Akhirnya merin menyerah, Gavin pun tidak begitu antusias dengan pertunangan mereka, dan akhirnya merin ketemu aku dan......" Raka tidak melanjutkan ceritanya karena dialah yang membuat merin mengenal drugs hingga dia overdosis dan akhirnya meninggal, sementara Raka waktu itu masih bisa di selamatkan sedangkan merin tidak bisa tertolong lagi.


"Emank ya kamu satu selera sama merin, koq bisa sukanya sama orang yang sama, dan ketemu dengan aku orang yang sama pula." ucap Raka.


"Tau deh, sukanya aku belom dalam juga koq, sampai mau menangis bombai, paling cinta monyet doank." ucap erin.


Raka tersenyum mendengarnya, "Kamu yakin? koq wajah kamu belepotan warna hitam sampai di bawah mata kamu tuh." ucap raka, dia tahu kalau tadi Erin habis nangis.


"Kalau kamu gak mau sama Gavin, gimana kalau sama aku aja." ucap raka, dia menghentikan mobilnya di sisi jalan dekat rumah fari dan memandang wajah erin dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2