
Erin yang baru saja keluar dari rumahnya dengan berseragam sekolah, rambutnya yang mulai memanjang diikatnya tinggi, kemudian dia menatap seorang cowok yang berada di atas motornya, "Lho koq ada kak irgi di sana, ngapain dia ada di sekitar sini pagi-pagi gini."
"Kak irgi??" kata erin yang menghampiri irgi yang sedang berada di atas motornya. "Kak irgi, lho..kak irgi koq ada di sini? rumahnya deket sini ya?" irgi yang melepas helm motornya dan merapikan rambutnya dan kacamatanya.
"Hai ren,..ke sekolah bareng yuk, aku gak tinggal di sekitar sini koq, gue sengaja jemput kamu koq." Erin baru ingat kalau kak irgi adalah sepupunya juga, dan itu amazing banget.
"Ngapain kak? emang ada yang perlu dibicarain ya?" irgi mengambil helm di motornya dan memberikannya ke rena. "Boleh donk jemput sepupu gue yang baru aja dikenal, ya kan." sambil menaikkan alisnya dan tersenyum.
Erin mencibir dan memasang helm dikepalanya, tiba-tiba terdengar klakson mobil dari arah belakang mereka. Gavin keluar dari mobilnya, mereka berdua berbalik. Erin membelalakkan matanya, Apa?? kak gavin?
"Hai…koq kamu di sini irgi?" kata gavin acuh.
Irgi yang juga acuh menstarter motornya, dan menjawab dengan nada sedikit menantang pada gavin. "Aku mau menjemput erin ke sekolah." Erin yang kikuk memandang mereka berdua, ngapain tatapan mata mereka, mereka mau berantem gara-gara gue?? atau karena merina?
"Gue ke sini mau antar erin ke sekolah juga." kata gavin yang memandang erin dengan helm terpasang dikepalanya.
Irgi lalu tersenyum sinis, Tanpa perduli gavin dia menyuruh erin naik ke atas motornya, "naik ren nanti telat." Erin yang bingung memandang irgi lalu memandang gavin yang rahangnya mulai kaku. Duuhhh, momen kayak gini sebenarnya dambaan cewek-cewek tapi...koq gue ngerasa perdebatan mereka bukan karena gue ya, pikir erin. Erin yang bergerak menuju motor irgi ditarik ama gavin lalu mengambil tasnya dan menariknya ke seberang jalan, irgi lalu turun dari motornya dengan wajah marah.
Dia lalu memegang tangan gavin, dan seketika itu gavin berbalik dan mendorong irgi.
"jangan deket-deket ama erin, gue yang ngantar dia ke sekolah." Irgi yang semula marah kini tersenyum sinis padanya.
"kau tahu gavin…yang disamping elo itu erin bukan merina, asal kau tahu saja."
irgi lalu pergi dengan motornya dan sempat memandang erin yang berada di genggaman Gavin.
__ADS_1
Gavin sempat terdiam dan mulai melepaskan tangannya pada erin, "Yuk, bentar lagi kamu telat." Erin yang mulai males and dongkol berat dengan permusuhan-permusuhan antara gavin irgi dan raka, ngapain juga dia dibawa-bawa di tarik kesana kemari, apa mereka gak nyadar gue itu erin bukan merina. Erin gak menuruti perkataan gavin, dia memandangnya marah, "kak gavin perlu tau...Aku bukan merina meskipun wajah kami sangat mirip, aku erin…Erina !" Kemudian erin berlari dan cepat-cepat naik bus sekolah tanpa memandang gavin yang terdiam di samping mobilnya.
Sekolah 45 raya lagi rame-ramenya ama anak-anak yang dating telat, gitu juga ama erin yang lari pontang panting karena pak mamat bentar lagi mau kunci tuh gerbang sekolah.
"Ukhhhhh, kessel deh," teriak erin sambil ngebanting tas sekolahnya di meja, jeni dan fari yang ngeliat erin teriak-teriak pada ke bangkunya mau tahu kenapa erin ngamuk.
"Ada apa ren, lu koq teriak-teriak gitu kayak pak agus gitu," kata fari santai sambil nyeruput teh botolnya.
Erin yang mau ceritain semua ama fari dan jeni akhirnya gak jadi, ngelihat raka yang melipat tangannya sambil memperhatikan erin yang teriak-teriak sejak tadi.
Erin memandang jeni dan fari sambil menggeleng dan nyebut kata bentar deh sambil menyipitkan matanya pada mereka berdua.
Istirahat pertama di awali serbuan jeni dan fari yang duduk disamping kanan dan kiri erin, "Lo liat gak ren si raka tadi pagi?" erin yang reflek berbalik cuman menatap bangku kosong yang udah di tinggal penghuninya,
huff syukur deh.
Jeni menahan napas dan memberitahu mereka, "Menurut gossip yang gue denger dari kuping ke kuping nih dia tuh anak konglomerat di UK lho, tau gak sih kalu bokap and nyokapnya punya perusahaan di sana and bukan hanya di sono aja di Indonesia juga ada, gila gak sih." Kata fari berapi-api.
"tyus, emank kenapa raka tadi pagi," erin manyun dengan info dari fari yang berapi-api.
"Gini ya…tadi pagi gue denger nih kalau raka tuh yang punya sekolahan kita ini," mata erin dan jeni kontan melebar dan melotot.
"What?? Beneran lo..sumpah lo." teriak jeni, Wow baru kali ini gue lihat konglomerat dari jarak deket gini." kata jeni kagum.
Erin yang melihat sohibnya kaget sejadi-jadinya geleng-geleng aja, erin gak mau ambil pusing ama si raka, cukup dia capek, marah plus dongkol berat ama gavin dan irgi pagi ini gara-gara mereka gue telat, lari kayak kambing mana keringat di pagi gini lagi. Sebel banget deh, asli gue pengen maki mereka !
__ADS_1
"Ke kantin yuk, laper nih bentar makanan di kantin pada ludes nih." fari dan jeni menarik tangan erin yang ogah-ogahan pergi.
"Gue malas nih, kalian aja yang makan gue temenin doank."
Mereka bertiga duduk di kantin depan gerobak penjual siomay, fari dan jeni lagi sibuk mesan siomay dua and es jeruknya tiga. erin yang menunggu sohibnya di bangku kantin tiba-tiba kaget karena seseorang menarik tangannya paksa dan memegang tangannya erat.
Mata Erin membelalak ditarik-tarik gitu ama si raka. "Lepasin gak, Lo ngapain sih." Erin yang berusaha menarik genggaman tangannya yang di pegang erat ama raka.
"Lepasin tangan gue tau !" erin mulai dongkol karena tangannya sakit plus malu diliatin ama seabrek anak-anak kelas yang pada istirahat jam pertama.
Raka melepaskan tangan erin, dia membawa erin di belakang leb biologi yang jarang banget orang-orang lewat situ.
Dia hanya menatap erin, lama ditatapnya. Erin yang asli marah and dongkol berat ama cowok indo di depannya ini.
"Mirip sih..kalau dari fisik gak ada yang beda." kata raka yang memandang erin.
Erin merasa raka ini udah gak sopan banget coz cara melihatnya ke erin seperti menscanning rena gitu. "Mau lo apaan sih!" tantang erin menatap raka marah.
"Lo udah taukan gue bukan merina."
raka tertegun dan menatap tajam kearah erin.
Rahang raka mengatup dan matanya tajam memandang erin, kedua tangannya seketika memblokir erin yang tersudut di tembok.
"Lo ngomong gak pake otak ya, apa lo gak merasa sedih sedikitpun karena merin udah gak ada?" Raka menekankan suaranya dan mengecilkan suaranya pada eri yang mulai ketakutan.
__ADS_1
Tanpa erin sadari, seseorang menyambar bahu raka dan mendorongnya menjauh dari erin dan tepat meninju rahangnya hingga raka terjerembab di tanah.