My Two Face

My Two Face
Vol 31


__ADS_3

"Serius Lo Rin?" teriak Jeni sambil membelalakkan matanya, dia menatap erin menuntut penjelasan terperinci tentang apa yang terjadi.


"Jadi, dia kiss kamu begitu aja, terus?? teruss?" desak fari.


"Cepetan ceritanya dong Rin lemot banget sih." Ucap fari bersemangat.


"Erm, hari itu kan, aku ke apartemennya kak Gavin, aku di ajak ke sana katanya mau dinner gitu, terus dia....


"Terus dia????" Ucap Jeni dan fari bersamaan.


"Ngelamar aku, katanya dia mau melanjutkan pertunangan kami yang tertunda dulu, dan anehnya kak Gavin bilang gini, Kamu Suka atau enggak kita tetap akan nikahan." ucap Erin, "Aneh kan ya, dia seperti bukan kak Gavin yang aku kenal dulu." ucapnya.


"Nyata donk kalau dia berubah, kan udah lewat beberapa tahun, Lo juga udah berubah Non gak ngejar-ngejar Irgi lagi hihi, terus Raka yang ngilang entah kemana." ucap fari.


"Bukan berubah seperti itu Far, maksud aku berubahnya kak gavin erm... susah deh jelasinnya." ucap Erin sambil menggelengkan kepalanya, dia masih mengingat kejadian kemarin malam ketika Erin masih berada di apartemen kak Gavin.


~


Flashback


"Sudah saya bilang kan Rin, aku serius mau menikah dengan kamu, pertunangan kita yang lalu terputus begitu saja, jadi aku ingin mengambil semua yang memang menjadi milikku meskipun kau bilang tidak, kita tetap akan menikah."


Gavin menatap tajam Erin dan melangkah ke tempat Erin, dia menghapus jarak dia antara mereka hingga pergerakan Erin terkunci oleh himpitan Gavin, dia mengangkat dagu Erin agar menatapnya tanpa mengalihkan pandangannya.


Wajah tampan Gavin terlihat jelas di depan wajah Erin yang hanya beberapa inci saja, hingga tanpa sadar bibir erin menatap bibir tersenyum Gavin yang mulai menyatukan bibirnya kepada Erin dan akhirnya Gavin pun menciumnya dengan intensitas yang membuat Erin panas dingin.


Dia menarik wajahnya dari Erin. Napasnya sedikit memburu, sedangkan Erin membuka matanya melihat tatapan tajam menginginkan dari wajah Gavin.


"Aku..aku mau pulang, sekarang." Ucap Erin berusaha menjauhkan tubuhnya dari himpitan Gavin. Tetapi anehnya Gavin tidak menyingkir darinya.

__ADS_1


"Besok aku jemput." ucap Gavin kepada Erin yang masih mencari udara segar dari wangi Gavin yang memenuhi indera penciumannya.


Dia menarik tangan erin keluar dari apartemen dan segera mengantarnya kembali ke depan rumahnya.


~


Pagi itu Erin seperti biasanya sudah rapi dan akan segera berangkat kerja, kali ini dia bela-belain bangun cepat, dia mengingat ucapan Gavin yang mau menjemputnya. Erin menunggu di depan pintu tetapi Gavin belum datang juga.


Erin menatap gelisah jam yang ada di pergelangan tangannya. Pukul 07.15, "Niat datang nggak sih." keluh Erin, tanpa menunggu lagi, erin segera berangkat ke kantornya dengan mengendarai taksi karena mobilnya lagi ada di bengkel.


"Nelpon kek, kirim pesan kek, kalau batal jemput aku nggak perlu repot-repot tungguin." ucap Erin dongkol, pak supir menatapnya dari kaca spion, Erin yang ngomel-ngomel sendiri. Akhirnya dia sampai di depan kantornya, untung saja dia tidak telat, Erin segera menekan tombol lift ke lantai 3, setelah lift membuka di sana sudah ada Viona dan Rere yang sudah duduk di meja kerjanya.


"Morning," ucap Erin menyapa mereka berdua.


"Tumben gak telat Rin, bela-belain datang karena CEO baru kita ya??" Ucap Viona sambil merapikan make up-nya.


"Nggak lah, hanya beruntung aja aku bangun cepet, nanti di panggil pak Ghafur kalau aku sering terlambat." Ucap Erin menuju ke pantry di ruang belakang untuk membuat segelas teh untuknya.


"Pagi ini aku melihat mereka berdua nampak mesra deh." ucapnya.


"Mungkin istrinya kali, dia kan baru saja datang dari Amerika, siapa yang tahu hubungan mereka di sana."


"Istri? Lo bercanda ya, pak Gavin masih lajang tau ! lihat aja di jemarinya nggak ada cincin tuh."


"Trus, siapa donk tuh cewek?" tanyanya.


"Entah, lagi pula tuh cewek yang antar pak Gavin langsung di depan kantor, terus dia pergi deh, mereka tampak akrab, pacar kali ya." Mereka masih bergosip sampai keluar dari ruang pantry.


Erin bersandar ke meja pantry, dia menatap hampa gelas yang ada di hadapannya. Koq perasaannya tiba-tiba jauh lebih sakit di bandingkan apapun juga, padahal ketemunya baru seminggu sejak dia memilih cabang kantor ini sebagai tempat kerjanya.

__ADS_1


"Terus, ciuman semalam, apa maksudnya?? Kenapa dia menciumku jika dia sudah punya kekasih dan mau nikah segala denganku." ucap Erin jengkel.


Setelah kembali ke tempat duduknya, Erin segera mengerjakan tugas-tugasnya, setelah selesai, bunyi ponsel membuatnya kaget, dia membukanya dan ternyata Gavin mengirimkan pesan kepadanya.


"Sorry Rin, tadi aku gak jemput kamu, kita bisa ketemu saat makan siang saja."


Erin langsung menjawabnya dengan dongkol.


"Sorry kak, aku udah ada janjian makan siang Dengan temen." Erin kirim pesannya, tidak lama Gavin kembali mengirimkan pesannya.


"Kamu marah ya, aku gak jadi jemput tadi pagi."


"Nggak marah koq, lagian aku sudah janji sama teman aku sejak kemarin." Ucap Erin bohong.


"Rin kita makan siang sebentar ya." Ucap Rere mengetuk meja kerjanya. Erin spontan mengangguk, kebetulan sekali kebohongannya menjadi beneran. Erin dan Rere serta viona lagi makan siang di salah satu restaurant di dekat kantor. Mereka lagi ngobrol tiba-tiba Viona menyenggol Rere yang ada di sebelahnya dan Erin.


"Eh, bukannya itu pak Gavin ya, dia datang mau makan siang juga ya, terus siapa tuh cewek yang ada di sampingnya?" tanyanya.


Erin melirik dan menatap mereka berdua memilih meja yang cukup jauh dari tempat mereka berdua.


"Itu ceweknya pak Gavin? lihat, mereka nampak mesra deh, terus tuh cewek tidak berhenti tersenyum di depannya." Erin menatap sekilas, mereka berdua mengobrol tampak akrab.


Erin tidak mau menatapnya, dia merasa di permainkan, enak aja main nyium segala terus dia sudah punya cewek lain. Mereka bertiga sudah selesai makan, ketika mereka ingin membayar, pelayan menolak uang mereka.


"Sudah di bayar mba, sama bapak yang ada di ujung meja di sana." Pelayan itu menunjuk ke tempat Gavin duduk, sontak mereka bertiga berbalik dan mata mereka bersibobrok dengan Gavin, Rere dan yang lainnya tersenyum kepada Gavin tetapi Erin hanya cuek saja setelah itu mereka keluar dari restaurant.


"Asyik kita ditraktir." Ucap Rere.


"Jadi sejak tadi dia sadar donk, sejak tadi kita makan di sana." Ucap Viona.

__ADS_1


Erin tidak berkata apa-apa, perasaannya menjadi kacau, hanya dalam seminggu saja sejak kedatangannya membuat Erin begitu penasaran mengenai segala ucapan dan tingkah laku Gavin kepadanya, apakah semuanya hanya permainan saja bagi Gavin kepada Erin?


__ADS_2