
Bentar siang aku jemput ya?"
Erin menatap gavin heran "Jemput lagi?"
"Kamu gak suka"!!
"Apa? oh oky deh aku tungguin," kata erin. gavin tersenyum lalu ia pun berlalu. Tapi kalau di pikir-pikir ada yang aneh deh erin cemberut, koq di sekeliling merina handsome boys semua ya, pan muka aku dengan dia gak ada bedanya, lah gue satu doang gak ada... mmm..ada sih si kutu loncat gogon tiba-tiba erin menggeleng ya ampuuun si kutu loncat gila kali gue. Erin lalu berdecak ya Ampuuuun gue mikirin apa sih **** sambil memukul buku di kepalanya.
Dia menatap erin yang berjalan sambil ngedumel sendiri, lalu dia memperhatikan wajah erin sekali lagi dia betul-betul mirip mungkin hanya rambut, Merina selalu berambut pendek dan rambutnya pirang merah. Sedangkan cewek ini rambutnya lurus panjang dan berwarna hitam.
"Ren...jahat lo," tiba-tiba jeni samperin erin di kelas sebelum bel masuk dengan muka kecewa. "Apaaaan?" tanya erin heran. "Lo belum cerita soal kak irgi yang manggil kamu ke ruanganya AND!!!"
"Lo juga gak cerita ma kita-kita kalo lo udah punya cowok."
"Cowok?" Lo mimpi ya cowok dari mana."
"jujur aja deh." kata fari melipat kedua tangannya
"Lah kenapa gue mesti boong siiiih."
Jadi tadi pagi yang ngantar lo ke sekolah tu siapa neng??" tanya fari penasaran.
"Lo liat ya." kata erin kaget.
"Iyaaaaa noooon Jadi tu cowooook siapaaaaa??" Teriak jeni kontan teman-temen sekelas pada balik ke erin.
"Ihh lo koq teriak sih gini ya." Tanpa di sadarinya pak agus sudah ada di depan pintu.
"Kenapa ribut- ribut, memangnya lagi ada rapat apa?"
Sontak siswa-siswi pada balik ke bangku masing-masing. "Semuanya tenang," lalu pak agus berbalik ke pintu kelas "Ayo masuk." Dia berjalan ke depan kelas sesuatu yang erin tidak pernah bayangkan. Wajahnya yang indo serta kulitnya yang putih pucat tinggi menjulang mencari-cari seseorang lalu dia menatap langsung ke manik mata cewek yang ingin sekali di temuinya, Dia tersenyum erin membelalakkan matanya.
"****** gue."
Hari-hariku habis sudah, pikir erin merana. Ketika bel istirahat berbunyi erin langsung kabur ke toilet cewek, untungnya si Raka di samperin ma cewek-cewek di segala penjuru kelas jadi aman deh gue.
"Bete banget sih, kenapa gue yang jadi sasaran amuk orang-orang yang kenal ma merina," dia sendiri udah pergi dengan peace.
__ADS_1
Terdengar ketukan di pintu toilet, erin mengernyit, "Tungguuu!! orang juga belon kellar," erin membuka pintu toilet lalu tiba-tiba mematung, sepasang mata coklat menatapnya.
"K...koq lo...inikan toilet cewek !!!". katanya pada raka yang sandar ke pintu toilet. "Memang kenapa?" Raka hanya terus menatap erin minta penjelasan.
Erin melotot . "Elo mau apa!!" tanya erin judes.
"Gue mau ngomong sama kamu." Raka lalu narik tangan erin. Seluruh penghuni kelas 1 dan 2 melihat adegan tarik menarik antara raka dan erin dampaknya sampai ke kuping kelas 3 . Erin sadar banyak mata memandang mereka so erin akhirnya ikut aja kemana raka membawa dia.
Irgi berada di kantin dan memandang erin dan raka yang duduk berdua agak jauh dari siswa-siswi yang pengen tau.
"Loh katanya mau ngomong." tanya erin kasar sambil melotot, "Kok diam," bentak erin. Siapa sih dia main tarik-tarik aja emang gue sapi.
"Jangan kelewatan, Lo nanti kenapa-kenapa." kata raka menatapnya tajam. erin menelan ludah diingatnya lagi kalau ni cowok ngedrugs. "kamu ngancem." sembur erin, Dia hanya tetap menatap erin lama tanpa memalingkan sedikitpun pandangannya seperti mencari-cari sesuatu...sama seperti pandanganya gavin pada erin.
"Lo bukan merina, itu jelas." katanya menyakinkan dirinya. Erin gugup.
"Kalau kamu tau ya sudah gak ada lagi yang harus di omongin," kata erin yang siap-siap pergi.
"Lo...kenapa ke rumahnya merina?" Erin balik menatap ke raka, ugh mati aku. gak mungkinlah aku ceritain kalau aku nyamar jadi merina.
"Maksud kamu!" sambil mendelik tidak meyakinkan, erin berdiri tapi raka juga ikut berdiri, "Gue belom selesai ngomong." erin gak peduli dia lalu berjalan tapi raka lalu berdiri dihadapanya menghalangi jalannya. ngapain ni orang pikir erin berang.
"Gue cuma mau tau alasan lo sampai ke rumahnya merina, karena kamu jelas-jelas bukan merina"
Erin dongkol abis, sial gak ada ide...rena diam sejenak matanya menatap tajam ke raka tapi jantungnya kocar kacir mau kabur. Lalu ide itupun muncul gak tau dari mana datangnya, otak kadang-kadang bekerja kalau lagi mepet terdesak. Dengan mengangkat dagunya tinggi-tinggi erin lalu menjawab pertanyaan raka.
"Sebenarnya aku gak mau ngomongin ma lo, emang kenapa kalau gue pulang ke rumah sendiri gue nih adik merina, Gak pernah liat orang kembar ya?"
Jawaban erin sontak membuat raka terkejut. Surprisekan...!!! berasil di kibulin, erin tersenyum Puas. "udah cape-cape nyimpen rahasia kebongkar deh."
Erin hendak pergi tapi....MY GOOOOD...KAK IRGI BERDIRI DI BELAKANG GUE !!! sumpah kali ini gue mau lari aja. Dia menatap erin dengan super tajam menuntut penjelasan...irgi maju selangkah dan Thanks God!!! Bel berbunyi nyaring...tanpa menunggu erin lari terbirit-birit.
"Ngapain ren koq nyong lari-lari gitu, low lo jatuh gimana mang gue donk."
komplit sudah penderitaan gue ketemu si kutu busuk ini si gogon, asli ni kutu setiap ketemu sok tebar pesona nyatain cinta dimana mana.
"Minggir Lo gue lagi ngumpet," erin berlari di kelas 2 ngumpetnya di belakang budianto pemain basket yang badannya kelewat lebar, di sampingnya duduk si gogon dia nih naksir berat ma erin .
__ADS_1
"Bel udah bunyi ren," kata budianto lalu matanya seketika balik ke pintu kelas dan paham.
"Percuma lo ngumpet ren udah ketahua." Kak irgi celingak celinguk mencari erin. Dan menemukanya lagi jongkok di sudut belakang kelas.
^^
Di sebuah taman di rumah sakit....
"Kau yakin gavin? kau tahu suatu hari anak itu akan terluka."
Dia menghela napasnya dan memandang orang yang berlalu lalang di taman rumah sakit.
"Aku tak punya pilihan, beginilah satu-satunya cara untuk mengenalnya meskipun suatu hari hal ini akan menyakitinya." lalu menutup matanya tampak lelah jelas di wajahnya.
~
"Ikut gue." Suaranya kecil tapi nadanya jelas memerintah. Erin yang otaknya lagi sibuk bekerja tetap diam mematung. Irgi sudah mengira erin gak akan nurutin, tanpa ragu dia langsung narik tangan erin.
Dalam waktu beberapa jam erin menjadi selebritis lokal , seantero sekolah tuh pada tau kalau ketua osis tercinta kita ini yang super cool sama cewek gak pernah ngegandeng cewek manapun kini menarik erat tangan cewek.
Kini bisik-bisik tetangga terdengar di mana-mana pandangan dingin yang dirasakan erin oleh cewek-cewek pecinta ketua osis kita ini santer dirasakanya.
"Ka..kalau mau ngomong bentar aja pulang sekolah, sekarang aku ada ulangan." Kata erin sok cuek. irgi menyeringai.
"Ok gue tunggu..awas kalau lo lari." lalu dia anterin erin sampai di depan kelasnya.
Di kelas pada heboh asli takjub apalagi dua lutung gak ketulungan jeni dan fari menarik-narik erin dan menjerit, "koooooq biiiiiiiiiisaaaaa ceritain duuuunk." jeni duduk disamping kanan rena dan fari memblokir duduk di samping kirinya.
dimana-mana yang terdengar, koq bisa seeeh!!!!, kak irgi buta kaliiii....lo pake santet ya ren kasi tau dunk gue juga pengen, terdengar jerit-jerit histeris, tentu saja hanya kaum hawa yang kesurupan kayak gini.
"Gak tauuuuuuu, pusiiiiiing." Teriak erin lalu melirik raka yang memandangnya dua bangku di sebelahnya.
"Bentar deh gue ceritain far, jen disini kagak aman bisik rena." Fari yang tadi bingung kenapa nih anak koq bisik-bisik.
"Ren lo koq bisik-bisik, kagak ada deh yang nguping." kata fari sok. "gue gampar kalau ada yang deket-deket, Minggir lo." melotot ma mamat yang jelas acu bebek .
Sebelum dipaksain cerita, pak agus udah ada di pintu kelas, ya...jelas rena gak jadi gosip, Syukur-syukur pak agus datang, repot kali ceritainnya, erin sambil ngelus-ngelus dada.
__ADS_1