My Two Face

My Two Face
Eps 21


__ADS_3

Malam itu entah mengapa mama erina menyuruh agar dirinya berdandan cantik, kata mamanya mereka akan berangkat makan malam dengan tante Dewi meskipun dia ibu kandung Erin, dia masih memanggil dengan sebutan Tante, kadang mama erin menegur Erin agar memanggilnya dengan sebutan ibu atau bunda.


"Untuk apa sih ma malam-malam gini kita ke sana?" tanyanya.


"Namanya juga makan malam Rin, ya tentu saja kita datangnya jam segini." ucapnya sambil tertawa.


"Sepertinya ada udang di balik batu nih, mama rahasiain sesuatu ya?" tuduh Erin.


"Koq kali ini kamu pinter rin, kamu lihat aja ya bentar." ucap mamanya sambil melajukan mobilnya menuju tempat Tante Dewi.


Sesampainya di sana, Erin menatap beberapa mobil yang terparkir di sana, dan mobil itu begitu familiar di mata Erin.


"Bukannya itu mobilnya kak gavin deh." ucapnya sambil terus melangkah mengikuti ibunya yang jalan duluan.


Mereka telah sampai diruangan yang di penuhi banyak orang, wajah tante dewi tersenyum senang melihat kedatangan Erina dengan sahabat dekatnya ini.


"Ayo duduk, Sebentar lagi kita akan makan malam." dia menghampiri Erin lalu mengecup pipinya dan mengelus rambutnya putrinya.


Mereka semua duduk di sana, wajah-wajah yang asing bagi erin meskipun mereka semua keluarganya. Apalagi baru dua kali ini dia berhadapan langsung dengan kakak kandungnya Rio yang juga menatapnya dengan canggung.


Mata Erin tertuju kepada pria yang duduk di hadapannya, kak gavin menatapnya dengan tersenyum.


Erin begitu curiga dengan pembicaraan yang akan berlangsung.


Erin menyenggol lengan ibunya, 'Koq suasananya gak enak gini sih ma.' bisiknya.


'Sst, jangan berisik dengerin aja rin.'


Tiba-tiba suara seseorang di samping gavin membuat seluruh mata tertuju menatapnya.


"Terima kasih kepada keluarga Wicaksono yang turut mengundang kami di pertemuan dua keluarga malam ini." ucap pria itu, Erin memandangnya Sepertinya pria ini ayah kak gavin deh. Pikir erin menatapnya mencoba menyimak setiap ucapannya.


"kami keluarga besar Mahendra ingin menjalin ikatan kekeluargaan bersama keluarga Wicaksono Secara resmi, dan saya sebagai ayah Gavin Mahendra ingin membuat ikatan kepada Erina Wicaksono."


Erina yang namanya di sebut-sebut terbatuk-batuk dan menumpahkan jus dari mulutnya ketika sedang meminum jusnya.


What? kupingku gak salah denger nih, apa yang tadi siang di katakan kak gavin betul-betul terjadi, nah ! koq kak gavin gak bicara sama ayahnya kalau dia sudah punya cewek, apa sih yang di rencanakan gavin.' pikir Erina mata tajamnya menatap gavin yang tidak mau membalas tatapannya.


~


Mereka akhirnya makan malam setelah bla bla bla yang di kemukakan oleh ayah Gavin hampir setengah jam.


Gavin telah selesai makan dan segera berdiri dan keluar dari ruangan itu, Erin yang melihatnya tentu saja juga ikut berdiri dan mengikuti langkah Gavin menuju ke sebuah taman.


"Kak gavin." panggil Erin.


"Kak !"


Napa sih gak denger jaraknya kan cukup dekat, telinganya gak dikorek kali ya.

__ADS_1


Erina menarik baju Gavin dan akhirnya dia berbalik.


"Kak gavin sengaja ya pura-pura tidak dengar." ucap Erina ngos-ngosan.


Gavin menyilangkan kedua tangannya menatap Erina.


"Aku memutuskan untuk menikah denganmu erin."


"What ! kenapa? apa yang terjadi? what happen?" ucap erin sambil melotot.


"Tidak apa-apa, emangnya kamu gak suka ya sama aku Rin." tanya gavin sambil mendekati erina.


"Hah, apa? kan yang bilang punya cewek itu kak gavin, bukannya aku bilang gak suka." ucap erin terbata.


"Emang kakak gak bicara ya sama ayahnya kak gavin." tanya Erina menatap wajah Gavin yang tersenyum.


"nggak."


"Kenapa? kan kakak punya shyntia, emank kak gavin udah putus?" ucap erin blak-blakan.


Gavin mengangguk, "Ya, kami sudah putus dia lagi jalan Ama cowok lain, jadi kami putus begitu saja." ucap Gavin santai tanpa beban apapun.


"Owh, terus karena putus kak gavin terima pertunangan ini gitu aja." ucap Erina yang tidak menyukai keputusan Gavin.


"Kak gavin kan punya pilihan dan saya juga." ucap Erina dongkol, dia merasa Gavin menjadikan dia tempat pelarian semata.


"Kalau kak gavin ogah bicara, biar aku aja yang bicara deh sama orang tua, kita berdua gak perlu terpaksa bertunangan dan mengikuti kemauan orang tua."


"Saya yang sarankan ke ayah untuk mempercepat pertunangan dan pernikahan kita nanti."


Erina melotot, "Kenapa? Why?" ucap Erina.


Gavin mau tertawa setiap Erin ngomong.


"Kamu serius gak sih Rin, bicaramu itu terdengar seperti bercanda." ucap Gavin tersenyum.


"Koq bercanda? aku serius nih."


"Sebenarnya....shyntia bukan tunangan kak gavin koq cuma temen doank." ucapnya.


"What?"


"Aku gak lanjutin deh, kalau kamu menjawab seperti itu Rin, pembicaraan kita jadi gak serius."


"Oke..sorry." ucap Erin sambil cengengesan.


"Dia temen aku doank."


"Tapi kenapa kak gavin bilang dia cewek kak gavin?" ucapnya.

__ADS_1


"Iseng aja."


"Kak gavin sebenarnya serius gak sih ngomongnya, kan tadi bilangnya dia jalan sama cowok lain jadi akhirnya kak gavin putus terus bilangnya cuman teman doank, yang mana sih yang bener??"


Gavin mengambil napas panjang, "Okey aku jujur ya, dia temen kak gavin, cuma temen doank, alasannya aku bilang dia cewek aku, cuma mau lihat respon seseorang aja, dia cemburu atau tidak." ucapnya sambil melirik Erina.


"Koq kata-kata kak gavin kedengaran gak masuk akal ya." gumam Erina.


"Yang mananya yang gak masuk akal Rin." ucap Gavin.


"hemm, siapa lagi cewek yang kak gavin mau dicemburuin sih." ucap erin dongkol.


'Perasaan, di tempat itu cuma Tante dewi, mama, nenek dan beberapa kerabat pria yang lain, siapa cewek yang mau dibuat cemburu oleh kak gavin?' gumam Erin memegang dagunya sambil berpikir.


Gavin tertawa, nih cewek lambat banget sih mikirnya. pikir gavin.


"Kamu pikir sendiri deh siapa orangnya, yuk kita masuk." ucap Gavin yang kembali masuk ke dalam rumah.


~


Erin berjalan sambil termenung memikirkan kata-kata kak gavin semalam.


"Siapa sih cewek itu? Di tempat itu hanya ada aku, mama Tante Dewi dan..... jangan-jangan dia menyukai Tante Dewi??" pekik Erin di jalanan dengan ekspresi kaget sambil melotot.


sebuah tarikan lembut di hidungnya membuat Erin terkejut.


"Kak gavin? koq kak gavin ada di sini?" tanyanya.


"Jangan berpikir aneh-aneh, tante Dewi itu seperti mama kedua bagi aku Rin." ucapnya.


"Jadi mama aku donk." ucap erin.


Gavin hanya geleng-geleng mendengar perkataan Erin di dalam mobil, pagi ini Gavin menjemput erin di depan rumahnya.


Seketika pemahaman muncul di wajah Erina, rona merah merayap di wajah erin, dia kini merasa canggung berada di samping gavin.


"Aku...itu...."


Gavin tersenyum menatap Erina yang salah tingkah di sampingnya.


"Syukur deh kalau erin udah tau."


"Kak gavin becanda kan?" ucap erin dengan suaranya yang tiba-tiba menjadi kecil.


Gavin menepikan mobilnya, lalu menatap erin dengan wajah serius tidak ada senyum di wajahnya.


"Aku bukan tipe pria seperti itu Rin yang main-main untuk urusan pernikahan, aku serius sama kamu." ucapnya.


Erin gelagapan, dia duduk dengan salah tingkah dengan wajah benar-benar merah.

__ADS_1


Gavin tiba-tiba saja menarik erin dan mengecup pipinya. "Aku serius Rin." Mata Erina melotot menatap gavin.


"Kak gavin, aku...aku udah terlambat nih." ucap erin dengan suara terbata-bata. Dia lalu keluar dari mobil gavin dan ngacir lalu masuk ke gerbang sekolahnya.


__ADS_2