
Hari sudah menjelang sore, Erin dan teman-temannya sudah keluar dari kantor, mereka lagi menunggu bis karena memiliki arah pulang yang sama.
Bunyi klakson mobil membuat mereka terkejut, ternyata Gavin menepikan mobilnya.
"Mau pulang? biar kami antar, kebetulan arah pulangnya sama kan." Ucap Gavin, wanita yang ada di sampingnya Tersenyum ramah kepada mereka bertiga.
"Kebenaran yuk kita....
"Kami mau ke tempat lain pak, jadi duluan saja pak." Ucap Rere, dia menarik tangan viona dan mencubitnya. Mata Gavin mengarah kepada Erin yang cuek memperhatikan mobil-mobil yang lewat. Sejak tadi Gavin ingin memberikan isyarat kepada Erin supaya masuk ke mobilnya tetapi Erin tidak mau menatap ke arahnya.
Mobilnya kini melaju, mereka kemudian naik bis yang kebetulan juga sudah datang, "Koq di cubit sih re?" Ucap Viona melihat hasil bekas cubitan di lengan viona yang menjadi mereh
"Habisnya, masak kita mau naik mobil bareng mereka, kan gak enak Vi." Ucap Rere.
"Benarkan Rin."
"Ha, apa..? iya, aku ogah naik ke mobilnya." Ucap Erin dengan wajah gak suka.
Ponsel erin berdering sekali, Erin menatap pesan yang masuk.
"Kita makan malam yuk Rin."
Erin memutar kedua matanya dia begitu jengkel dengan sikap Gavin kepadanya. "Aku nggak bisa, aku udah janjian sama teman." dengan cepat dia mengirim pesanya.
"Kamu kenapa erin."
"Nggak kenapa-kenapa koq, aku udah mau turun dari bis sama teman."
Erin menekan kirim, setelah itu tidak ada lagi balasan dari gavin. Entah mengapa Erin tidak bisa menghilangkan senyum Gavin kepada wanita itu, siapa dia? mengapa mereka tampak akrab, apa benar dia ceweknya kak Gavin? tapi, tapi kalau dia ceweknya ngapain dia melamar aku."Ugh sebel banget deh."
~
__ADS_1
Erin baru saja menyelesaikan pekerjaannya, dia menengok kiri dan kanan. "Pada kemana viona dan Rere." Erin menatap jam di pergelangan tangannya. "Owh sudah jam 6 sore, mereka sudah pulang." Erin membereskan semua peralatan kantornya dan terburu-buru mengambil barang-barangnya dan segera memasukkan ke dalam tasnya.
Bunyi lift yang berdentang membuat Erin menatap lift yang membuka, seorang wanita yang kemarin bersama Gavin ada di dalam lift, mereka saling menatap. Wanita itu bergeser menyamping dan segera mengambil ponselnya.
"Vin aku sebentar lagi sampai di kantormu." ucapnya.
Erin berdiri tegak, dia tidak mau tahu lagi, masa bodoh siapa cewek ini, lift membuka dan di sana Gavin berdiri tersenyum kepada wanita itu, matanya tiba-tiba menatap kepada Erin.
"Baru pulang Rin," tanyanya.
"Iya pak." ucap Erin sopan. Gavin menaikkan satu alisnya, Seakan-akan dia tidak begitu kenal dengan Gavin.
"Oh ya, kenalin Rin, dia Erika temanku selama di boston." Erin menyapa wanita dengan wajah blasteran yang kental, dia wanita yang cantik dan bermata coklat. Dia tersenyum sambil menyalami erin.
"Hai, aku Erika, kamu Erin kan, Gavin sering lho cerita tentang kamu." Ucapnya.
Erin hanya mengangguk dan tersenyum kepadanya, "Bagaimana kalau kita makan bersama?" Ucap Gavin kepada Erin.
"Sorry kak gav, aku tidak bisa, hari ini aku ada janji sama ibu di rumah." Ucap Erin menolak, wajah Gavin terlihat jelas kecewa dan dapat di tangkap oleh wanita bernama Erika.
"Yah, padahal kita bisa ngobrol bareng, kamu betul gak bisa ya erin." ucapnya, erin hanya mengangguk dan tersenyum sopan, dan tidak memperdulikan tatapan dari gavin.
"Kalau begitu biar kami antar," Ucap Gavin lagi.
"Apa? aku bawa mobil koq kak gav." jawab erin cepat-cepat memalingkan wajahnya. Bunyi lift berdentang dan membuka, Erin buru-buru ke tempat parkiran. Di tempat itu sudah sangat sepi, tinggal dua mobil saja yang ada di sana.
Erin membuka pintu mobilnya, tiba-tiba satu tangan besar menahannya, Erin terkejut kemudian menatap Gavin yang terlihat marah kepadanya.
"Kamu kenapa erin?" tanyanya.
"Aku nggak apa-apa, kenapa kak?" tanyanya.
__ADS_1
"Setiap aku mengajakmu, kau pasti menolak, apa kamu marah, karena aku bersama Erika? dia hanyalah temanku." ucapnya.
"Bukan menolak, karena aku memang punya janji koq." ketus Erin, dia mencoba melepaskan genggaman Gavin yang cukup keras di tangannya.
"Lepaskan tangan aku, sakit !" teriak erin. Tetapi Gavin masih memegang erat tangannya, Tiba-tiba saja dia menarik Erin ke pelukannya dan mencoba untuk menciumnya, Erin mendorong tubuh Gavin kebelakang, tetapi Gavin belum menyerah, dia masih mencoba menciumnya, erin tiba-tiba menamparnya.
"Kak Gavin kenapa sih," teriak erin mencoba menahan air matanya.
Tangan dan Tengkuknya terasa sakit karena genggaman Gavin cukup kuat tadi, Erin cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya, dan menguncinya rapat, sedangkan Gavin berusaha untuk masuk ke dalam mobil Erin.
"Buka mobilnya Rin," Ucapnya.
Dia memukul pintu mobil Erin, membuatnya terkejut, tanpa memperdulikan Gavin yang berteriak-teriak memanggil-manggilnya dia menancapkan gas mobilnya secepat mungkin.
Jantung Erin berdegup kencang. Dia menahan tangisnya dan tubuhnya yang gemetaran.
~
"Vin, Gavin kau tidak apa-apa?" Erika berlari mendekati Gavin yang tertunduk di tempat parkiran sambil memegang kepalanya yang sakit.
"Di mana Erin?" Erika mencari-cari sosok Erin, tetapi Erin sudah tidak ada di sana. "Yuk gav, kau harus konsultasi lagi dan minum obat penenangmu, Zain sudah menunggu kita di klinik," Dia memapah Gavin dan segera membawanya ke mobilnya.
"Aku masih tidak bisa menahan emosiku, aku hampir menyakiti Erin, tubuhku bergerak dengan sendirinya manakala aku melihat erin, dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak memegangnya." Ucap Gavin ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Jangan khawatir gav, kau harus merilekskan tubuhmu, kau harus tenang sampai kita bertemu Dengan Zain." Gavin mengangguk dan menutup kedua matanya, mencoba menahan gejolak yang di alaminya ketika bertemu dengan Erin.
Selama kepergiannya ke boston, ketika kedua sahabatnya mengkhianatinya, Erin meninggalkannya dan tidak lama kemudian ayahnya berpulang, meninggal karena sakit jantung, Gavin seorang diri, tidak ada yang menemaninya, dia mengurung dirinya selama beberapa Minggu di apartemennya di Boston, dengan semua peristiwa itu, tiba-tiba saja dia memiliki kecemasan yang berlebihan, sehingga dia harus menemui dokter dan berkonsultasi dengan dokter Zain, dia adalah suami dari Erika yang juga teman Gavin selama di boston, mereka berdua mencoba membantu Gavin untuk menyembuhkan penyakit Gavin.
~
Erin masuk ke dalam rumahnya dengan berlari-lari kecil, untung saja ibunya sedang tidak di rumah, kalau dia melihat Erin yang terlihat ketakutan dan cemas, tentu saja ibunya akan khawatir.
__ADS_1
Erin masuk ke dalam kamarnya, dia memeluk dirinya, dia membiarkan air matanya jatuh dan tubuhnya bergetar. "Mengapa Gavin seperti itu? sikapnya menjadi kasar." ucap Erin menatap pergelangan tangannya yang memerah dan perih karena genggaman keras Gavin sore itu.