My Two Face

My Two Face
Ep 12


__ADS_3

Selama ulangan matematika berlangsung, erin sama sekali gak tenang bentar-bentar tengok kiri dan kanannya bukan karena kebiasaanya kalau ulangan buka buku, tapi ada tatapan dingin dari samping bangkunya yang sama sekali gak ngerjain ulangan di depan hidungnya.


Bel berbunyi nyaring, erin menarik napasnya, di liriknya sembunyi-sembunyi raka yang ada seberang sana dan erin tertangkap oleh raka yang memang sejak semula tak pernah matanya beralih dari erin.


Erin terkesiap saking tak percayanya matanya melotot, memalingkan wajahnya di depan meja. "Ren...yuk gak mau pulang?" jeni menyipit memandang erin yang kikuk memasukkan buku-bukunya di dalam tas.


"Aduuuuuuh," teriak jeni, lemot banget sih lo...sini biar gue bantu, gemes gue liatnya." jeni memasukkan begitu saja buku-buku erin yang hasilnya berantakan, dan erin hanya membiarkan saja.


"yuk ren dah kellar." sambil menarik tangan erin belum sampai di pintu tiba-tiba seseorang mencegat jalannya.


Erin terkesiap begitupun jeni, Raka memblokir jalan mereka lalu memusatkan matanya pada erin yang melotot.


"Gue mau ngomong." lalu raka menatap jeni yang setengah ternganga. "Biar gue yang antar erin pulang."


Keduanya ternganga takjub. Tanpa menunggu jawaban dari erin, raka menarik tangan erin, lalu mengambil tasnya dari tangannya sebelum sampai di pintu kelas raka menghentikan langkahnya dan menatap sosok yang bersandar di pintu dengan tenang tapi matanya berkilat tajam.


Irgi berjalan memblokir jalan keduanya, wajah raka dan irgi sangat dekat dan saling menyeringai.


Aduuuuuuuuh gimanaaaaa iniiiii...erin menggigit bibirnya. Irgi menatap erin, "ikut." perintah Irgi, lalu di tariknya tangan erin keras hingga terhuyung kedepan tapi raka yang dengan gerakan refleks juga menarik tangan erin yang bebas satu tangannya masih memegang tas erin, mereka berdua saling menatap tajam.


Jeni ternganga takjub dan beberapa anak yang lewat kontan aja berhenti saking terpananya. Mereka berdua saling menatap dan erin berada di antara keduanya, tak berani bersuara wajahnya seputih kertas pucat asli.


Gak bisa begini terus kelihatannya gak ada yang mau mengalah pikir erin, otaknya bekerja cepat.


"Tu..tunggu gimana kalau kita bicara aja sama-sama, gue jelesin ke lo berdua oky...oky!!! gimana??"


Mereka berdua masih saling menatap tak mendengar saran dari erin, "Gimana?" erin kembali bertanya menatap ke raka dan Irgi.


"GIMANA?" teriak erin. Raka dan irgi akhirnya menatap erin, fiuuuuuuuh..."Gue jelesin ke lo berdua, tujuan kalian kan sama." irgi menaikkan alisnya, "Oky," kata Irgi.


erin balik ke raka meminta jawaban. "ok." Erin lalu menatap ke dua tangannya.

__ADS_1


"Lepasin tangan gue dulu," mereka berdua melepasnya dan erin memijit-mijit tangannya yang merah, lalu mengambil tasnya dari raka dengan kasar, sialan mereka berdua, tangan gue jadi merah nih.


Raka dan irgi memblokir pintu kelas tau aja erin kabur lagi, erin menatap keduanya dengan sok berani, sambil ngulur waktu plus mikir gimana kibulin nih 2 cowok di depannya.


" Erm….kalian mau dengerin penjelasan di sini atau di tempat yang lebih tenang?" sambil melirik 2 sohibnya yang berdiri matung di sudut kelas.


Raka dan irgi menatap erin dengan curiga, "Gak percaya?? ikut gue," kata erin judes sambil jalan di depan erin melirik dua cowok di belakangnya ini, sambil ngedumel bisik-bisik marah, "siallllllll banget gue, minta penjelasan kok maksa sih…..awas aja lo kak gavin kalau ketemu gue cekek."


Erin membawa dua cowok ini di kantin, mereka duduk berseberangan sambil melipat tangan menunggu penjelasan erin.


"Ehm…..gue haus mau minum dulu," erin duduk dengan salah tingkah dipandangi dua cogan di hadapannya, "Bi…bi es jeruknya satu deh." Irgi memperhatikan setiap gerak gerik erin yang duduk bentar-bentar balik kiri dan kanan seperti mencari inspirasi atau menunggu bantuan dari tuhan, tanpa sadar dia tersenyum.


"Non nih es jeruknya, loh gak pesen dua lagi non buat temen non," Tanya bik mina ke erin. Erin yang lagi dongkol asal ngomong aja, "mereka gak haus bik, lagian mereka bukan temen gue." Kata erin judes, Raka sontak menaikkan alisnya, irgi menyipitkan matanya memandang erin. Erin cuek aja sambil nyeruput es jeruknya sampai habis.


"Oke, kalian mau nanya apa?" kata erin memulai. Berbalik ke irgi dan raka. Dia udah mau jujur ke dua cowok ini, erin capek di benci bentar-bentar di bentak, bentar-bentar dimarahi, padahal erin kagak salah sama sekali, Cuma satu aja kesalahannya mukanya tuh mirip banget ama si merina yang udah wafat dan ninggalin seabrek orang-orang yang pada benci dia.


"Jelasin! kamu tadi ngomong ama raka kalau lo itu adik merina, lo bilang kalian kembar, gue gak pernah denger dari tante dewi kalau merina punya adik." kata irgi memandang tajam erin.


"kalau gitu kenapa Lo bilang kalau lo itu adik


merina?" tanya raka pada erin.


"gini ya," sambil menahan dongkolnya erin mau bilang kalau tadi Cuma boongan aja.Tapi dari arah belakang erin, terdengar suara seseorang.


"Dia memang adik merina." Erin membelalakkan matanya sontak balik ke arah suara yang dikenalnya.


"Kak gavin."


Ucap erin berbalik memandang Gavin yang kelihatannya mau adu jotos ama irgi dan raka,


Whaaaat, kok kebeneran gini boongnya sehati lagi, pikir erin memandang terbelalak gavin yang pasang wajah serius. irgi dan raka keduanya lalu berdiri.

__ADS_1


"Udah puas kalian berdua, mau penjelasan apa lagi, dia memang adik merina, kalau gak percaya tanya aja tante dewi."


"Jadi dia bukan merina?" kata irgi shock…sambil memandang erin.


"dia bukan merina, dia erina adiknya merina. Erin ngangguk tuing aja .Tanpa tau bahwa yang dikatakan gavin adalah kenyataan yang harus di terimanya.


"Kalau gitu dimana merina? yang gue tau dia direhab disalah satu rumah sakit di Jakarta." kata irgi.


"Lo Tanya ama si raka, dia tau persis di mana merina." Irgi memandang rendah yang tertunduk tangannya terkepal keras, matanya memerah, dia tak sanggup bicara.


"Dia sudah wafat." Kata gavin pada irgi. Shock terlihat jelas di wajah irgi. Tanpa mengucapkan apapun raka langsung pergi, sebelum pergi dia menatap erin.


Irgi terduduk shock, tatapannya jatuh ke cewek di sebelah gavin ini. Erin langsung aja ngumpet di belakang gavin, takut di bentak lagi, entar dia Tanya lagi kenapa lo gak ngomong kalau lo adik merina? nah..erinnya aja bingung mau jawab apaan coba.


Akhirnya gavin cabut juga dengan wajah shock berat di wajahnya. "Fiuuuuuhhhh," sambil menghapus keringat di dahinya.


"Wah kebenaran banget kak gavin datang, gue hampir aja ngebocorin semuanya." lalu erin balik ke gavin.


"Koq kak gavin kagak angkat telepon gue sih, katanya kalau lagi emergency cepet-cepet nelponnya, lah ini di telepon kak gavin gak sekalipun ngejawab."


Erin memandang gavin dengan alis keriting, "kak gavin koq boongnya sama ya ama aku, kebeneran banget." kata erin yang mijit-mijit tangannya.


gavin memandang tangan erin yang merah,


"kenapa tangan kamu ren." Erin berbalik menatap gavin sambil melotot…


"tadi gue main tarik tambang ama kak irgi dan raka." Erin sambil mijit tangannya lalu ngejawab dengan acuh.


"Gue nanya serius ren." kata Gavin dengan alis berkerut.


"Oky, yang benernya tuh bukan main tarik tambang tapi aku jadi talinya, tanganku ampe merah gini." kata erin sewot.

__ADS_1


Gavin memandang erin dengan pandangan aneh, tanpa di sangka ia memegang tangan erin menariknya pelan ke keran air sekolah. sontak erin terkesiap terheran takjub. Dia menyiram kedua tangan erin ke keran air dengan lembut, setelah itu ia memandang tangan erin dengan wajah sedih, erin yang ternganga cepat-cepat menarik tangannya dan semburat merah di pipinya terlihat jelas.


__ADS_2