My Two Face

My Two Face
Vol 25


__ADS_3

"Kalau kamu gak mau sama Gavin, gimana kalau sama aku aja."


Ucapan Raka masih terngiang dengan jelas, ungkapan Raka semalam membuat Erin tidak bisa tidur, malam itu mereka bertiga tidur di rumah fari, kedua sohibnya sudah ngorok duluan karena letih dan tidak bisa mengobrol lebih lama lagi karena ngantuk yang mendesak mereka.


Erin masih mengingat semua ucapan Gavin kepada wanita genderuwo itu, 'ck apa? aku juga menyukaimu dan menyukai Erin, pergi aja ke neraka, aku gak nyangka dia seperti itu'.


Erin menatap ponselnya tiba-tiba pesan masuk dari gavin, Erin membacanya tetapi tidak membalasnya.


'Udah tidur?'


'Koq di read, tapi gak di balas?'


'ngambek ya?'


'Erin??'


'Besok aku jemput ya'


Erin mendengus kesal, dia menonaktifkan ponselnya lalu berusaha menutup matanya dan mengambil selimut agar selimut itu menutupi tubuhnya.


~


Pagi harinya Erin beserta fari dan jeni sudah berangkat ke sekolah, tanpa menjawab pesan Gavin Erin berangkat begitu aja, ketika mereka sampai di gerbang sekolah, Gavin sudah keluar dari mobilnya, dia kemudian menahan jalan mereka bertiga. Tatapan membunuh dilontarkan jenibdan fari ketika menatap gavin.


"Erin, koq pesan aku gak kamu balas?" tanyanya. "Aku mau bicara sebentar."


Erin menatap kedua sohibnya yang mau menahan tangan erin, tetapi Erin berbisik kepada mereka berdua sehingga tangan jeni terlepas dari lengan Erin.


Erin mengikuti arah Gavin berjalan dan masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu ngambek ya?" tanyanya.


"nggak koq, siapa yang ngambek." ucap erin.


"Trus, koq pesanku semalam gak di balas Rin?"


"Aku udah tidur." ucap erin.


Gavin tersenyum, "Udah tidur tapi masih di read pesanku, emang kenapa kamu marah? beritahu apa kesalahan aku supaya kamu nggak ngambek lagi."

__ADS_1


"Kita....tidak usah lanjutkan pertunangan ini kak gavin." ucap erin.


Sontak Gavin terkejut dia tidak menyangka kalimat yang keluar dari mulut Erin begitu mengejutkannya.


"Apa maksudmu Rin, koq kamu ngomong gitu, kalau kamu marah bicara sama aku Rin, tunangan kita bukan main-main, gak bisa kamu putuskan semau kamu." Terlihat wajah Gavin yang mulai marah.


Erin tertawa, "Bukankah kak gavin pernah tunangan sama kak merin?" tanyanya.


"iya, itu kan dulu Rin, kamu kan sudah tahu."


"Tahu gak, kenapa kak merin memutuskan sepihak pertunangannya dengan kak gavin?" ucap erin.


"Karena semua kesalahan ada sama kak gavin, aku juga baru tahu sih ceritanya, kak merin tuh juga suka sama kak gavin tapi dia menyerah, kak gavin tahu kenapa? itu semua karena pertemanan kak gavin dengan wanita bernama shyntia."


Wajah Gavin terkejut setengah mati mendengar ucapan Erin.


Erin menatap gavin dengan tajam. "Belum terlambat koq untuk mutusin pertunangan ini, aku tidak mau alamin nasib yang sama seperti kak merin." ucap erin.


Gavin mematung di tempat duduknya, dia tidak menyangka Erin berkata seperti itu, Erin kemudian membuka pintu mobilnya lalu beranjak pergi meninggalkannya.


~


"Kamu menangis Rin?" ucap seseorang yang masuk ke ruangan UKS dan melihat erin berbaring dan sedikit terisak di Balik tangannya.


Erin mengintip dari matanya yang basah seseorang berdiri di hadapannya. "Ngapain sih kamu kemari, aku lagi mau sendiri tau !"


ucap erin menghapus air matanya dan menatap sosok Raka yang melipat kedua tangannya.


Dia kemudian menghembuskan napasnya lalu duduk di tepi tempat tidur Erin. "Kamu begitu sukanya ya sama Gavin?" tanyanya.


"Berisik, jangan sebut nama dia deh." keluh Erin.


"Oke deh, aku punya cara supaya kamu lupa sama dia." ucap Raka.


"Apaan?"


Sebelum Erin membuka lebar kedua matanya, wajah Raka sudah menutupi wajahnya dengan ciuman dibibir Erin. Wajah erin sontak begitu terkejut bukan main, ciuman Raka bukan sebuah kecupan singkat tetapi ciumannya berubah menjadi dalam, dia memainkan bibir erin di bibirnya.


Raka melepaskan ciumannya dan mereka saling menatap, Raka tersenyum tipis menatap erin yang telah membeku dengan mata melotot. Raka membisikkan sesuatu di hadapan wajah erin tanpa memisahkan jarak di antara wajahnya jadi sesekali bibir mereka bersentuhan.

__ADS_1


"Lebih baik kamu mengingat ciuman ini dibandingkan kau mengingat dia." ucap raka tersenyum tipis lalu beranjak keluar dari ruangan dan kembali ke dalam kelas.


"AWAS KAU RAKAAAA..." Teriak erin dari dalam ruangan UKS, Raka hanya tersenyum ketika mendengar teriakan dan makian Erin dari jauh.


~


Gavin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia begitu terkejut dengan keputusan Erin yang mau memutuskan pertunangan mereka.


Gavin tiba di sebuah cafe yang sering di kunjunginya, dia memesan kopi dan bersandar pada kursi panjang, kemudian dari jarak yang begitu jauh dia seperti mengenal sosok wanita yang sedang bergelayut manja kepada seorang pria dari balik tembok.


"Cepetan deh kamu pesan kamar, kita tidak bisa leluasa jika di sini sayang?" ucap wanita itu sambil mendesakkan tubuhya kepada pria yang ada di sampingnya. Tanpa menunggu dia ******* bibir wanitanya. Gavin berdecak dan kembali duduk mendengarkan suara ciuman mereka yang beradu.


"Cukup Al, kita diliatin orang kalau di sini."


Gavin mengernyitkan alisnya, suara itu nyata adalah suara Shyntia.


"Jadi kamu punya rencana apa lagi untuk memutuskan pertunangan Gavin kepada gadis kecil itu, yang pertama kan udah berhasil, sampai si cewek menyerah dan memutuskan sepihak pertunangannya, kini adik kembarnya yang mau tunangan sama Gavin, ribet banget sih." ucapnya.


"Tenang aja sayang, Gavin akan terus berada di genggamanku, wanita manapun yang ada di sampingnya akan aku singkirkan, kau tahu aku kan sangat terampil untuk urusan rayuan Al." ucapnya.


Buku-buku jari Gavin terkepal keras mendengar ucapan dua orang yang di anggapnya sahabat itu.


"Jangan cemburu ya beb, kalau aku udah berhasil dapetin Gavin, aku akan menjadi nyonya di rumah itu, dan setelah itu kau sendiri tahu apa yang harus aku lakukan untuk kita berdua, Gavin terlalu lugu untuk semua hal itu, dia berperilaku sederhana dengan harta kekayaan melimpahnya, dia terlalu naif.." ucap shyntia.


"Benarkah? naif?" Gavin berdecak, dia tidak menyangka dua orang yang di anggapnya melebihi sahabat itu memperlakukannya seperti ini, berteman dengannya agar dapat masuk ke dalam keluarganya dan meraup harta kekayaan keluarga Gavin.


Keduanya membeku di tempat, Syntia dan Aldo, kedua matanya melotot menatap gavin yang bersedekap menatap tajam mereka berdua.


"Gav? kamu di sini koq gak ngabarin, aku lagi cerita ma Aldo mengenai semalam dan....


Tamparan keras melayang di wajah Syntia. Aldo lalu berdiri dan menghalangi gavin.


"Mulai sekarang kalian berdua jangan pernah muncul dihadapanku, jika tidak.. kalian tahu sendiri akibatnya." ucap Gavin tajam.


"GAV?? MAAFIN AKU GAV, AKU SUNGGUH MENCINTAIMU GAV.." Permohonan shyntia di balas dengan dorongan keras Gavin kepadanya hingga dia jatuh di lantai dan menangis tersedu-sedu, satu pukulan melayang di wajah Aldo.


Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Gavin meninggalkan mereka berdua dengan begitu marah.


Tangisan shyntia terdengar hingga Gavin sudah berada di area parkiran, dia tengah berlari dan menghalangi mobil gavin sambil menangis memohon kepadanya. "Gav, Gavin maafin aku...jangan gini gav, aku sungguh menyukaimu gav, gaviiiin." Gavin menginjak pedal gas pada mobilnya hingga shyntia terhempas ke samping dan diapun pergi meninggalkan tempat itu dengan suara tangis shyntia terdengar keras di area cafe itu.

__ADS_1


__ADS_2