
Mobil itu kini meninggalkan Linda yang diturunkan di dekat rumahnya, dia begitu sebal dengan Erin, dia menghentakkan kakinya di jalan lalu berbalik menuju ke rumahnya.
Kalau boleh milih, Erin lebih mau naik bus atau taksi dari pada semobil dengan kak Gavin, entah mengapa ada yang beda dari diri kak Gavin, tapi Erin sama sekali tidak memiliki ide mengenai apa yang membuatnya berubah.
Erin melirik sekali lagi, wajahnya terlihat biasa saja, tetapi anehnya kak Gavin tidak bicara sedikitpun sejak menurunkan Linda dari mobil.
"Kak Gavin kalau ada janji, langsung pergi aja, biar nanti Erin ambil taksi kalau kak Gavin terburu-buru." ucap Erin.
"Aku nggak terburu-buru koq, kita makan malam yah, kamu belum makan kan?"
"Nggak mau, aku mau langsung pulang aja." ucap erin terlihat jengkel.
Gavin menatapnya, dia kemudian menghentikan mobilnya di sisi jalan, membuat Erin terkejut. "Koq berhenti?" tanyanya, tubuhnya sedikit mundur.
Gavin mengalihkan pandangannya kepada Erin. "kamu masih marah soal kejadian itu?"
"Udah jelaskan, kak Gavin kasar memperlakukan aku, kakak emang kenapa sih." Gavin terdiam sebentar, dia menatap Erin dengan sungguh-sungguh.
"Aku sakit, dan aku bisa sembuh jika kita menikah, dan kau berada di sampingku." ucapnya.
"What, kak Gavin jangan suka becanda deh, koq ngomongnya gitu, emank kak Gavin sakit apa?"
Gavin hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan Erin, "Jadi kak Gavin mau menikah denganku untuk mengobati penyakit kak gavin," ucap Erin terdengar kecewa, dia ingin mendengarkan bagaimana perasaan Gavin kepadanya, bukan alasan menikah dengannya karena untuk alasan sakitnya.
"Apa yang ingin kau dengarkan Erin?" tanyanya.
"Gak ada, aku mau pulang sekarang." ucap Erin tanpa mau memandang Gavin yang sedang menatapnya.
Tiba-tiba saja Gavin meraup tubuh Erin dan menariknya hingga dia jatuh terduduk di pangkuannya. Mata Erin membulat, dia mendorong dada bidang Gavin dan ingin kembali ke tempat duduknya.
"Lepasin aku, kak Gavin kenapa sih," ucap Erin marah.
__ADS_1
Pelukan gavin semakin kuat, Erin menatap mata yang terlihat terluka itu, seakan Gavin tidak berniat ingin melepaskan Erin dari rengkuhannya. "Bukan hanya karena aku sakit Rin, apa aku harus menjelaskan bagaimana perasaanku lewat sikapku ini, atau kau lebih suka mendengarkan ucapan langsung dariku bagaimana perasaanku?"
"I..itu, bukannya kak Gavin punya hubungan dengan perempuan bernama Chyntia? dia kan yang kak Gavin bawa ketika pergi bersama dulu." Ucap Erin dengan nada menuduh.
"Sejujurnya, selama aku tinggal di Boston, aku tidak pernah menghubunginya sekalipun, sewaktu aku mendengar kau akan pergi berkencan dengan pria bernama mamat, aku tiba-tiba saja menghubungi dia, untuk pergi kencan bersama, supaya aku memiliki alasan untuk pergi bersamamu, jadi aku ingin kau mengerti bahwa kau begitu penting untukku." ucap Gavin.
Jantung Erin berdetak kencang, apakah dengan semua ucapan kak Gavin, dia masih boleh mempercayainya? apakah dia tidak akan di sakiti lagi ketika dia menaruh kepercayaannya kepada pria ini? pikiran itu terus berputar di kepalanya.
Gavin mendekati wajah Erin, dia hendak mengecupnya, dia menahan kepala Erina agar tidak bergerak dari tempatnya, dan memegang tengkuknya begitu posesif. Malam itu Erin membalas ciuman Gavin, ucapan dan sikap Gavin yang melembut kepadanya, akhirnya dapat meluluhkan hatinya.
~
wajah Gavin melembut menatap wajah Erin di hadapannya, kedua pipinya memerah, begitu lama dan dalam Gavin menciumnya, sehingga baru sekarang ini bibir mereka terlepas.
Senyuman Gavin terpancar di wajahnya, dia mengambil beberapa helai rambut erin yang menutupi separuh wajahnya dan menyelipkan di telinganya agar dia bisa melihat jelas wajah Erin yang merona.
"Mau ke apartemenku?" tanya Gavin.
Mata Erin melotot, segala pikiran kotor tiba-tiba berbayang di kepala erin, dan hal itu membuat Gavin tertawa lepas, melihat wajah erin yang begitu mudah terbaca, atas apa yang tengah di pikirkannya.
"Bu..bukan itu yang aku pikirkan, kau saja yang memiliki pikiran seperti itu, aku...aku mau duduk kembali ke kursiku." ucap Erin dengan pipi merah merona.
Gavin mengecup bibir erin beberapa kali, dan tidak membiarkan dirinya lepas dari pelukannya.
"Jangan malu, katakan apa yang kau inginkan, dan aku akan mengatakan apa yang aku inginkan, bagaimana?" tanya Gavin.
Erin mengangguk senang, "Kalau begitu berikan ciuman terbaik untukku." bisik Gavin menggoda di telinga Erin. Mata Erin melotot sempurna, dia tidak menyangka Gavin akan meminta hal seperti itu darinya.
"Ap..apa? kak Gavin ngaco deh, gak mau, aku mau duduk kembali di kursiku." Erin menekan wajahnya ke belakang agar menjauh dari wajah Gavin dan napasnya yang begitu keras berhasrat.
"Aku tidak akan melepasmu, jika kau tidak melakukan apa yang kuminta, setidaknya kabulkan permintaanku." bisik Gavin tersenyum senang menatap Erin yang wajahnya kini seperti kepiting rebus.
__ADS_1
Erin mencoba mengikuti kemauan Gavin, sedikit lagi wajah Gavin begitu dekat dengan Erin, tetapi sebuah ketukan dari kaca mobil mereka membuat mereka berdua berbalik lalu menatap seseorang di luar sana.
Erin dengan segera kembali ke tempat duduknya di samping Gavin, dia memperbaiki posisi duduknya dan dirinya yang berantakan. Gavin membuka kaca mobilnya.
"Selamat malam pak, sebaiknya bapak tidak berhenti di daerah sini pak, karena daerah-daerah sini sering terjadi balapan liar, biasa juga terjadi perampokan, sebaiknya bapak pergi." ucap seorang pria, matanya seketika menatap Erin yang duduk di samping Gavin.
"Oh, iya pak, kami akan segera pergi." Ucap Erin, karena sepertinya Gavin terlihat marah karena interupsi pria itu, dan alasan yang di kemukakannya tidak masuk akal baginya.
"Kak Gavin kita pergi sekarang." ucap Erin menepuk-nepuk bahu Gavin, sebaiknya mengikuti ucapan bapak itu.
~
Pria itu berjalan di bandara dengan beberapa pria mengelilinginya, dia mengenakan jaket panjang berwarna hitam, wajahnya begitu tampan sampai-sampai mereka yang melihatnya, mengira dia adalah seorang selebriti dari luar negeri.
"Tuan Dirga ingin bertemu dengan anda, dan sekaligus ingin mempertemukan anda dengan seseorang." ucap pria itu.
"Aku ingin pergi sebentar, katakan kepada ayahku Sebentar lagi aku akan datang." ucapnya.
"Tapi tuan Raka, anda tidak bisa membiarkan tuan menunggu lama." ucapnya dengan penuh permohonan.
Raka bersikeras, dia kemudian berbalik kepada pria dengan wajah memelas itu, "Katakan kepada ayahku, jika dia tidak mau menungguku, dia boleh pergi, karena tempat yang kukunjungi ini sangat penting." ucap Raka dengan gigi menggertak.
Dia pergi begitu saja, tanpa memperdulikan pria itu berdiri mematung menatap layar ponselnya yang terus berbunyi.
~
Erin bangun kesiangan, semalam dia kembali bersama Gavin begitu larut malam, mereka makan malam dulu terlebih dahulu di salah satu rumah makan, meskipun makan malamnya sudah telat sekali.
Erin segera kocar-kacir menjambret segala sesuatu yang dibutuhkannya untuk berangkat ke kantor, ibunya hanya geleng-geleng kepala ketika melihat putrinya, mencomot sandwich buatannya dan segera menuju ke mobilnya.
"Hati-hati Rin, jangan ngebut." Teriak sang mama, keluar dari pintu rumahnya.
__ADS_1
"Oke deh mam." balas Erin, melambaikan tangannya kepada sang ibu.
Meskipun terlambat, Erin memasang wajah sumringah, wajah senang tak terkatakan, akhirnya semalam dia dan Gavin mencurahkan perasaan mereka masing-masing, dan Gavin ingin meresmikan pertunangan mereka bulan ini, dan bulan setelahnya dia ingin melangsungkan pernikahan mereka secepatnya.