Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku

Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku
Keputusan Nana


__ADS_3

Herman POV


Sudah seminggu ini Nana tak menghubungiku setelah aku menjelaskan status kami pada malam itu. Dia tak memberi tahu sampai kapan ia akan memberi keputusan padaku. Namun, aku akan tetap menunggu sampai ia sudah memutuskan dan akan menghubungiku.


Saat ini aku dan para anggota keluarga lainnya sedang membantu mengurusi pernikahan keponakan Yani. Aku dan yang lain sibuk membantu mendekor hiasan pengantin yang diadakan di rumah mertuaku.


Acara akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Kami semua yang berkeluarga dan tetangga dekat tengah membantu pelaksanaan acara tersebut. Jika para laki-laki mengurus persediaan acara, sedangkan para wanita sedang sibuk memasak dibelakang dan membuat kue.


"Her, ke sini sebentar!" panggil ibu mertuaku.


"Ya, Bu?"


"Bisa kau carikan daun pisang? Soalnya daun pisang dibelakang banyak yang kering. Cuma sedikit yang kita dapat."


"Bisa, Bu. Nanti Herman carikan daun pisang di kampung sebelah."


"Iya, suruh saja Muhlis temani kamu mengambil daun pisangnya. Mungkin kamu nggak bisa bawa sendirian nanti," titah mertuaku sambil menunjuk Muhlis yang sedang melihat pemotongan balok.


"Baik, Bu." Aku langsung menghampiri Muhlis dan meminta dia menemaniku mengambil daun pisang di kampung sebelah. Aku juga meminta dia untuk memakai motornya terlebih dahulu karena aku memang tak punya kendaraan roda dua.


...\=\=\=...


"Masih lagi kah?" tanyaku pada Muhlis saat sedang memotong batang daun pisang dari pohonnya.


"Sedikit lagi, mungkin tinggal 8-10 baru cukup," jawab Muhlis dari atas bukit dekat poros jalan. Lokasi ini masih cukup aman untuk dipijak, tak ada jurang di bawah sana selain hutan belantara. Daun pisang yang aku ambil ini adalah milik Pas Santoso yang rumahnya di atas dekat jalan poros. Kami sudah meminta izin padanya dan beliau mengizinkannya.


Setelah mengambil beberapa helai daun pisang, aku naik ke atas dan menyerahkan daun pisang terakhir pada Muhlis.


"Sudah, 'kan?" tanyaku dengan napas ngos-ngosan. aku harus lompat tadi mengambil daun pisang yang jaraknya tidak bisa kujangkau. Ditambah lagi dengan cuaca terik di siang hari menambah aura panas hingga membuat tubuhku berkeringat.


"Sudah, cuma hanya ini saja?"


"Iya, cuma daun pisang saja yang disuruh."


"Her, bagaimana hubunganmu dengan Nana? Apa sudah berakhir?" tanya Muhlis tiba-tiba.


Aku sontak menatap ke arahnya dengan tatapan terkejut. Ini kenapa Muhlis tiba-tiba membahas hubunganku dengan Nana?


"Emang kenapa?" tanyaku yang cukup merasa gusar akibat pertanyaannya. Bisa panjang urusannya jika aku mengatakan soal menunggu keputusan Nana.


"Jangan bilang kamu belum mengakhiri hubunganmu dengannya?" tanya Muhlis menatapku dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


Gawat! Aku harus jawab apa padanya?! Muhlis memang memintaku untuk mengakhiri hubunganku dengan Nana. Namun, aku tidak mau itu terjadi. Entah itu dengan Nana gimana karena dia belum memberikan jawabannya. Seandainya Nana ingin mengakhiri, maka aku akan siap menerima keputusannya itu. Tapi jika sebaliknya, aku dan Nana akan terus menjalani hubungan kami tanpa orang-orang ketahui termasuk Muhlis.


"Sudah, aku telah membicarakannya pada Nana dan dia menerimanya. Kita sama-sama sepakat untuk mengakhiri hubungan kita," jawabku berdusta dihadapan Muhlis.


Aku tak ingin Muhlis tahu akan perasaanku yang tak rela melepas Nana. Bisa-bisa dia akan ceramah panjang lebar hingga membuatku pusing mendengarnya. Atau bisa saja dia membongkar rahasiaku terhadap orang-orang. Namun, aku percaya dengannya kalau Muhlis bukan orang bermulut besar. Aku tahu sifatnya dari dulu yang tak mau ikut campur urusan orang lain.


"Alhamdulillah, jika hubungan kalian telah berakhir, sebaiknya kamu bertobat dan meminta pengampunan pada Allah. Walau bagaimanapun perbuatan yang kalian lakukan sebelumnya adalah perbuatan dosa besar, dosa zina. Namun, aku yakin Allah akan mengampuni kesalahan kalian karena kalian sendiri tidak mengetahui soal hukum pernikahan yang kalian jalani sebelumnya," jelas Muhlis yang membuatku menelan ludah.


Dosa besar? Hubunganku dan Nana merupakan tindakan zina dan itu adalah dosa besar. Apakah aku bisa meminta pengampunan dari-Nya jika hatiku sendiri seperti tak bisa melepaskan Nana?


"Yuk kita pulang. Mungkin kita sudah ditunggu oleh yang lain," sentak Muhlis membuyarkan lamunanku.


Aku menurutinya, naik ke motor, lalu menghidupkan mesin. Sedangkan Muhlis berada di belakangku sambil membawa banyak daun pisang yang diletakkan di tengah kami.


...\=\=\=...


Nana


[Bang, bisa ke rumah sebentar?]


Pesan dari Nana membuatku bangkit dari rebahan di depan televisi. Aku mengecek kembali isi pesan tersebut dan benar kalau ini adalah Nana yang mengirimkanku pesan barusan. Aku langsung segera bangkit dan bersiap ke rumah Nana.


"Mau ke mana, Pak?" tanya Nadia sambil ia sedang mengerjakan tugas sekolahnya.


Setelah tiba di depan rumah Nana, aku mengintip terlebih dahulu sebelum masuk mengecek apakah Nana sendiri atau tidak. Aku tak bisa leluasa bicara dengannya karena biasa ada anak-anaknya di sekitarnya. Apalagi Dinda yang katanya sudah mulai mencurigai hubungan ibunya dan aku.


Setelah merasa cukup aman, aku langsung masuk dan mencari Nana, karena dia tak berada di ruang keluarga seperti biasanya. Aku berjalan masuk lebih dalam lagi hingga sampai dapur hingga menemukan dia sedang mencuci gelas di westafel.


"Na," panggilku.


Nana menoleh sekilas lalu kembali mencuci gelas. "Tunggu aku selesai membersihkan ini dulu, Bang. Baru aku keluar."


"Ya." Aku memilih berlalu dan kembali ke ruang keluarga lalu duduk di lantai di depan televisi. Aku memperhatikan sekitar dan tak menemukan anak-anak Nana di sini. Ke mana mereka?


"Anak-anak kamu mana, Na?" tanyaku saat melihat Nana datang.


"Kalo Dinda menginap di rumah temannya ini hari. Besok pagi dia mau jalan-jalan ke wisata xxx bareng teman sekolahnya. Kalo Aras sama Nizam pergi main, nggak tahu kemana," jawab Nana lalu duduk di hadapanku.


"Emang Nadia nggak menginap juga? Katanya dia juga diajak," sambung Nana bertanya.


"Iya, tadi dia minta izin mau menginap di rumah temannya juga. Tapi karena dia ada tugas, jadi dia selesaikan dulu kerjaannya," jawabku. Nana mengangguk. Besok adalah hari weekend, aku tak keberatan jika Nadia dan Dinda pergi jalan-jalan atau menginap di rumah temannya.

__ADS_1


"Oh ya, ada apa kamu memintaku datang ke sini?" tanyaku dengan perasaan berdebar. Apakah ini akan membahas keputusan Nana soal hubungan kami?


"Ini soal ... hubungan kita, Bang."


Tuh 'kan benar, pasti dia akan membahas soal ini padaku. Tapi aku menerka-nerka soal keputusannya.


"Jadi ... gimana?" tanyaku.


"Abang pinginnya gimana?" tanya Nana balik.


"Ya aku mau hubungan kita ini tetap berlanjut," jawabku jujur. Aku sudah nyaman dengannya. Hubungan yang awalnya merasa kasihan, tapi lama-kelamaan sudah mulai muncul perasaan nyaman di dekatnya selama ini. Aku tidak tahu perasaan ini muncul, tapi aku tak rela jika harus memutuskan hubungan kami.


"Kenapa? Kenapa abang mau melanjutkan hubungan ini? Padahal pernikahan kami itu tidak sah."


"Aku tahu, tapi entah kenapa aku seperti berat untuk melepasmu, Na. Seperti kayak nggak rela untuk mengakhiri hubungan kita yang sudah berjalan setahun ini. Kamu tahu, aku sudah nyaman sama kamu," ungkapku.


Nana menatapku tak percaya lalu menunjukkan rona merah di pipinya. Kemudian ia menundukkan pandangannya tak ingin melihatku. Ah, sepertinya dia tengah malu sekarang akibat ucapanku. Aku tergekitik melihatnya.


"Kalo kamu gimana? Masih mau melanjutkan hubungan kita ini atau mengakhirinya?" tanyaku meminta keputusannya.


"Hmm ... kalo aku minta untuk mengakhirinya gimana?"


"Ya tidak apa-apa. Aku akan ikhlas menerima keputusanmu dan tak akan mengganggumu lagi. Ya walaupun berat sih," jawabku. Jika Nana ingin mengakhiri, aku bisa apa? Aku akan menerima keputusannya itu.


"Aku ... aku masih mau melanjutkannya, Bang," bisiknya.


"Hah?" Aku mendekatkan wajahku padanya memastikan kalau ucapannya tadi tidak salah.


"Aku ... ingin hubungan kita tetap berjalan, Bang."


Keputusan yang dibuat Nana membuatku menatapnya tak percaya sekaligus senang. Ini serius Nana masih ingin melanjutkannya?


"Kamu serius?" Nana mengangguk.


Aku tersenyum gembira hingga tanganku menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Aku tak menyangka jika Nana sama sepertiku dan ingin melanjutkan hubungan ini. Entah kenapa aku begitu bahagia jika Nana tak mau berpisah denganku.


"Aku kira kamu akan mengakhiri hubungan kita, Na."


Nana melepaskan pelukan dan menatapku. "Tadinya aku berpikir seperti itu waktu awal-awal setelah abang menjelaskan status kita pada malam itu. Tapi setelah berpikir kembali, aku seperti tak mau hubungan kita berakhir. Aku juga sama seperti abang, sama-sama merasa nyaman. Itulah yang membuatku berpikir lagi soal kelanjutan hubungan kita. Dan setelah mendengar ucapan abang tadi, aku memutuskan untuk terus melanjutkan hubungan kita."


Aku tersenyum mendengar jawabannya. "Jadi keputusan kita sudah bulat. Kita akan terus melanjutkan hubungan kita tanpa ada siapapun orang yang tahu, termasuk Muhlis. Dia sudah kuberitahu kalau hubungan kita sudah berakhir. Aku tak mau dia ikut campur lagi dalam urusan kita."

__ADS_1


Nana mengangguk. Biarlah aku dan Nana terlibat hubungan terlarang lagi karena kita masih merasa nyaman. Aku tidak tahu sampai kapan hubungan kita akan berlanjut dan sampai kapan rahasia ini akan tersimpan terus-menerus dari orang-orang. Namun, aku berharap semoga rahasia ini akan terus tersimpan aman dan tak ada orang lain yang mengendus hubungan kami.


__ADS_2