
Nana POV
"Bang, temani aku ke rumah Yani, ya?" ucapku kepada Bang Dana saat ia kembali dari rumah ibu didepan. Hari ini telah memasuki hari raya idul fitri setelah menjalani 30 hari bulan puasa. Suara takbir dari arah tv dan masjid masih terdengar sampai sekarang walaupun matahari telah turun hingga menampakkan warna jingganya.
"Mau ngapain kesana?" tanyanya yang menatapku heran.
"Aku mau minta maaf sama Yani, Bang."
Ya, aku akan meminta maaf kepada Yani dengan tulus tanpa ada gengsi lagi. Aku telah sadar apa yang telah aku perbuat dengan Bang Herman hingga melukai hati sepupuku itu. Bahkan waktu aku ikut Bang Dana pergi ke Kalimantan pun, aku tak menemuinya untuk sekedar meminta maaf. Rasa gengsi dan malu terlalu besar untuk menemuinya. Aku terlalu takut bagaimana reaksi Yani saat bertemu denganku kala itu.
"Minta maaf apa? Kamu punya salah lagi dengan Mbak Yani?" cerca suamiku mengintrogasi.
Duh suamiku ini sekarang jadi sensi amat sama istri sendiri.
"Tidak, Bang. Aku nggak punya masalah apapun sama Yani. Cuma pengen minta maaf dengan tulus saja, nggak lebih," ungkapku jujur.
Bang Dana terdiam menatapku penuh selidik. Entah kenapa suamiku ini selalu protektif kepadaku setelah kejadian perselingkuhanku dengan Bang Herman terbongkar. Ia selalu menanyakan hal apa saja apa yang selalu aku lakukan dan bertemu dengan siapa saja waktu di Kalimantan saat ia bekerja. Bahkan, untuk berkenalan dengan teman-temannya pun, ia mengultimatum diriku untuk tak berdekat-dekatan dengan mereka karena takut aku berbuat nekad lagi. Ia mengira jika aku takut akan tergoda dengan teman-temannya seperti layaknya wanita murahan. Jangan ditanya hatiku bagaimana. Tentu rasa sakit di cap seperti itu oleh suami sendiri. Walaupun Bang Dana tak mengucapkan secara gamblang, tetapi, maksudnya aku tahu.
Hufft ... benar-benar menyebalkan! Namun, aku tetap menyukai caranya karena itu tandanya ia mencintaiku dan takut kehilanganku. Bolehkah aku merasa tersanjung?
"Kamu sudah minta maaf sama Mbak Yani 'kan sebelum kita berangkat pada waktu itu?"
Aku menelan saliva, gugup untuk menjawab. Kenyataannya memang aku belum minta maaf kepada Yani karena pada saat itu egoku lagi tinggi, tak mau bertemu dengannya. Namun, kali ini aku benar-benar ingin meminta maaf dengan tulus kepada Yani. Aku ingin membuang rasa bersalahku selama ini yang terus menghantuiku. Bayang-bayang bagaimana Yani terluka akibat perbuatanku, kadang suka menghampiri ingatanku untuk mencoba merenung. Ku pikir lagi memang aku ini telah bersalah kepada sepupuku. Aku ingin minta maaf tentang kesalahan ku itu. Apalagi di hari lebaran ini orang-orang harus saling memaafkan dan bersilaturahmi, memutuskan dendam yang telah bersarang di hati.
"Apa kamu mau bertemu Bang Herman?" tuduh Bang Dana hingga membuatku melotot.
"Astagfirullah! Nggak, Bang! Aku nggak berniat mau ketemu dia! Nana hanya ingin datang ke rumah Yani hanya untuk meminta maaf," jawabku yang menolak tuduhan suamiku. Aku sudah tak mau lagi berurusan atau menjalin hubungan dengan pria itu. Sudah cukup aku terperdaya olehnya sehingga melukai perasaan pihak keluarga. Aku tak mau lagi jatuh ke lobang yang sama.
"Abang mau temani aku kesana, gak? Kalau nggak, biar aku saja yang kesana sendirian," ucapku sedikit kesal karena Bang Dana terlalu mengulur waktu.
"Iya-iya, aku akan temani kamu kesana. Aku kasih tahu Dinda dulu untuk jaga rumah," jawabnya dan berlalu dari kamar.
Aku merapikan pakaiannku dan mengambil kerudung instan untuk dipakaikan di kepalaku. Walaupun jaraknya rumah Yani terlalu dekat, aku harus tetap menutup aurat. Pakaian yang aku kenakan juga tak terlalu menor untuk keluar. Hanya memakai gamis berwarna hitam putih dan kerudung instan senada dengan gamis berwarna hitam.
"Sudah?" tanyaku setelah melihat suamiku datang ke kamar.
Kulihat ia mengangguk menjawab pertanyaanku. "Coba abang chat atau telepon Yani. Siapa tahu pas kita datang kesana, dia tidak ada di rumah."
Suamiku menurut dan langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia terlihat mengotak-atik di layar ponsel lalu mulai menghubungi Yani.
"Assalamualaikum. Mbak ada dimana?" tanya Bang Dana.
"..." Aku mendengar jelas Yani berbicara karena suaranya terdengar hingga ke telingaku. Namun, tetap saka tak terlalu jelas apa yang Yani bicarakan.
"Oh ya, aku mau datang ke rumah Mbak sekarang. Mbak lagi nggak sibuk, 'kan?"
__ADS_1
"..."
"Nggak, cuma mau silahturahim aja."
".."
"Iya, yasudah kami jalan kesana. Assalamualaikum!" Bang Dana langsung mematikan ponselnya.
"Gimana? Yani ada di rumah, 'kan?" tanyaku.
"Iya, dia lagi dirumah," jawabnya.
"Yasudah, ayo kita jalan ke depan."
Aku keluar lebih dulu diikuti oleh suamiku dibelakang. Saat di ruang tamu, kulihat Dinda dan Aras sedang sibuk makan kue lebaran sambil bermain ponsel.
"Nak, papa sama mama mau ke depan, ya. Kalo ada tamu, nanti telepon mama ya," ucapku kepada mereka.
"Iya, Ma."
Aku dan Bang Dana keluar dari rumah, berjalan ke depan keluar dari lorong menuju jalan poros. Saat melewati rumah tetangga, ada dua ibu-ibu dan satu seorang laki-laki yang merupakan suami dari salah satu ibu tersebut sedang melihat kearahku.
"Mau kemana, Na?" tegur salah satu ibu-ibu tersebut.
"Mau ke rumah Yani, Bu." Aku menjawab sambil tersenyum tipis kepada mereka.
Aku tahu jejak tentang hubungan gelapku dengan Bang Herman belum sepenuhnya menghilang. Aku tak tahu harus bagaimana lagi menghadapinya selain ikut suami ke Kalimantan menghilangkan prasangka buruk mereka. Lebih baik menghindar daripada harus melihat tatapan mereka yang seakan menatapku hina.
Saat memasuki rumah Yani, kulihat ada mobil putih terparkir di halaman rumahnya. Namun, aku tak mendapati mobil truk yang selalu terparkir di depan rumah mereka. Aku bernapas lega saat mengetahui jika Bang Herman tak ada di rumahnya melihat tak ada keberadaan mobil truknya itu. Entah kemana dia pergi keluyuran disaat hari raya seperti ini. Aku begitu malas bertemu dengannya jika aku bertandang ke rumah dia.
"Assalamualaikum!" sapaku dan Bang Dana saat menaiki tangga rumah Yani.
"Waalaikumsalam!" sahut seseorang dari dalam disusul seseorang keluar.
"Ibu mana, Cit?" tanya Bang Dana kepada Citra yang baru saja keluar.
"Ada didalam," jawabnya.
Aku dan Bang Dana masuk kedalam dan melihat keadaan rumah Yani. Ruang tamu dan keluarga yang dijadikan satu membuat kami bisa melihat jika tv mereka dalam keadaan menyala dengan karpet di lantai terdapat banyak beberapa toples kue yang memang sengaja diletakkan disana.
"Eh, Dana, Nana, mari duduk," ucap Yani tersenyum ramah kearah kami sambil membawa nampan berisi dua gelas es sirup rasa jeruk.
Aku dan Bang Dana duduk di kursi disusul oleh Yani yang meletakkan dua gelas es sirup kepada kami.
"Cit, bisa keluar sebentar? Mama mau bicara dulu dengan Om dan Tante kamu," ucap Yani kepada Citra yang kembali memakan kue.
__ADS_1
Anak itu tak menjawab, tetapi, beranjak dari sana dan meletakkan kembali toples kue meja dihadapanku lalu pergi keluar. Aku tak tahu mengapa Yani menyuruhnya keluar tak ingin mendengar obrolan kami saat ini.
"Gimana kabar kalian?" tanya Yani memulai obrolan.
"Alhamdulillah, kami semua baik, Mbak," jawab Bang Dana.
Yani dan Bang Dana terlihat obrolan basa-basi tentang keseharian kerjanya di Kalimantan. Sedangkan aku memilih diam mendengarkan obrolan mereka sambil memilin jari-jari tanganku merasa gugup.
"Mohon maaf mbak kalo kedatangan kita kesini mendadak. Soalnya ada yang ingin Nana bicarakan sama, Mbak," ujar suamiku sambil melirik ke arahku.
Kemudian Yani menatapku. "Ada apa ya, Na?" tanyanya lembut tanpa ada rasa ketus atau tersirat dendam di matanya, membuatku tambah merasa bersalah.
Aku mulai memperbaiki dudukku, sedikit merasa gugup. "Begini, Yan. Aku datang kesini mau ... minta maaf sama kamu," ucapku menatap kearahnya.
Yani terdiam sejenak menunggu aku terus berbicara.
"Aku sudah salah sama kamu selama ini karena telah menjalin hubungan dengan suami kamu. Aku mengaku salah dan sadar telah berkhianat dibelakang kamu dan suamiku. Aku terus dihantui rasa bersalah setelah kejadian itu. Tolong maafkan aku, Yan." Aku menunduk menutupi genangan air mata yang kini telah tertampung di mataku. Sungguh, kali ini aku benar-benar ingin meminta maaf dari lubuk hatiku.
Kudengar Yani menghela napas. "Tidak apa-apa, Na. Semua sudah berlalu. Aku sudah memaafkanmu sejak lama tanpa menunggu kamu meminta maaf. Namun, hanya saja terkadang luka itu masih ada dan sedikit sulit untuk dilupakan," ucapnya yang semakin membuatku merasa bersalah.
"Tolong maafkan aku, Yan. Aku tahu kesalahanku besar terhadapmu. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan maafmu, apa saja." Aku mendongak menatap Yani memohon.
Yani tersenyum. "Sudah aku bilang aku telah memaafkanmu dari lama, Na. Aku tidak memiliki dendam terhadapmu. Cuma aku akan berusaha perlahan-lahan mulai melupakan kesalahan kalian."
"Ka-kamu serius mau memaafkanku?" tanyaku tak percaya.
Yani mengangguk. "Iya, aku sudah memaafkanmu."
Aku beralih kearah suamiku yang kini tersenyum kepadaku sambil menganggukkan kepala. Lalu aku beralih lagi kepada Yani dan mulai mendekatinya hingga aku duduk di kursi sebelahnya. Aku menggenggam tangannya menyampaikan perasaan haruku yang telah dimaafkan oleh sepupuku.
"Terimakasih, Yan. Terimakasih. Aku tahu perbuatanku akan sulit dilupakan olehmu. Tapi aku akan melakukan apa saja supaya kamu mau menerimaku lagi sebagai sepupumu dan mulai menjalankan hubungan keluarga seperti dulu," ucapku menahan rasa haru. Aku tahu proses melupakan seseorang yang telah menusuk dibelakang kita begitu sulit untuk dilupakan. Namun, aku akan berusaha mengembalikan itu semua dan mengambil kepercayaan Yani untuk memaafkanku.
"Sudah, nggak usah dipikirin. Aku malah lebih senang kalo kamu datang kesini minta maaf tulus denganku," jawab Yani balas tersenyum kearah ku.
Aku langsung memeluknya menumpahkan perasaan bahagiaku. Aku begitu beruntung mempunyai sepupu yang baik seperti Yani. Aku tak menyangka jika Yani telah memaafkan diriku lebih dulu sebelum aku meminta maaf kepadanya. Mulai sekarang aku akan bertekad untuk berubah dan menjalin komunikasi yang baik dengan sepupuku ini.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" jawab kami.
Aku melepaskan pelukan, menghapus air mataku lalu menoleh kearah sumber suara yang kini berdiri mematung di pintu.
Bang Herman?!
...~~~...
__ADS_1
Guys, cara naikin level karya gimana? Levelku masih stock saja sampai sekarang dan belum naik-naik. Padahal rajin promosi ke grup literasi di fb.