
Yani POV
Memulai semuanya dari awal dengan sang suami yang sudah mengkhianati kita memang begitu sulit untuk bisa kembali seperti dulu. Apalagi jika suami berselingkuh dengan wanita yang berasal dari keluarga dekatku sendiri, Nana. Bayang-bayang bagaimana mereka memadu kasih selalu menghampiri pikiranku sehingga membuatku terasa tercekik.
Apakah mereka tak memikirkan pasangan mereka masing-masing? Terutama Nana. Orang terdekat, orang yang disayangi, keluarga, tetangga dekat rumah, tetapi mengapa dia dengan teganya menusuk sepupunya dari belakang? Dimana akal pikirannya itu hingga nekad mengiyakan ajakan Bang Herman untuk menikah? Benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikiran mereka.
Ah, lagi-lagi mengingat hal itu membuat rasa nyeri di dalam hati yang sedang menyembuhkan luka, walaupun sudah terlewati 7 bulan. Sebaiknya aku berusaha melupakan semua itu dengan menjalani hari biasa dengan suami tanpa harus mengungkit masalah yang menimpa rumah tanggaku, walaupun itu semua masih terasa sulit. Namun, aku selalu mensugesti diriku jika semuanya akan baik-baik saja. Apalagi tak ada Nana di sini sehingga membuat Bang Herman tak bisa mendekati Nana lagi.
"Yan, kamu kok kuat banget jalani itu semua? Kalo aku berada di posisimu, aku sudah nyerah dari awal."
"Kenapa memilih bertahan dengan Herman, Yan? Sudah disakiti tapi malah menerima dia kembali. Hati-hati lho, Yan. Orang yang sudah ketagihan selingkuh, pasti dia akan selingkuh lagi untuk kesekian kalinya."
"Gila sih Nana sama Herman. Gak nyangka mereka bisa melakukan perbuatan bejad seperti itu terhadap kamu dan Dana, Yan."
"Aku gak nyangka kalo Nana gatel."
Banyak para kerabat dan tetangga yang menyayangkan perselingkuhan Bang Herman dan Nana. Bahkan tak segan-segan mereka menjelekkan Nana telah bermain api dibelakang suaminya. Mereka juga mensupport ku untuk segera bercerai dari Bang Herman dan mengambil hak asuh anak-anak. Akan tetapi itu semua tidak mudah bagiku. Aku yang tak memiliki pekerjaan dan uang bagaimana bisa mengurus perceraian? Bukankah biaya perceraian itu mahal? Lagipula yang aku pikirkan saat ini kebahagiaan anak-anak. Aku tak boleh egois jika aku mementingkan diriku sendiri dan mengesampingkan perasaan anak-anak.
Namun, cobaan masih saja ada walaupun masalay Bang Herman dan Nana telah usai. Dan ini berasal dari Nadia dan Dinda yang kini saling membenci dan tak berteman lagi.
"Bu!" Nadia datang menghampiriku yang tengah menyetrika pakaian sendirian didepan TV yang sedang menyala mempertunjukkan acara malam di salah satu stasiun televisi. Arham, Citra, dan Bang Herman keluar membeli bakso karena suamiku baru saja mendapat gajian. Sudah menjadi kebiasaan Bang Herman jika ia menerima gaji, ia akan membelikan makanan spesial untuk anak-anak.
"Kenapa, Nak?"
"Nadia boleh tanya sama ibu, boleh?" tanya Nadia yang kini duduk disampingku.
Aku tersenyum. "Kamu tinggal nanya saja mengapa harus minta izin sih? Kalo mau bertanya, tanya saja. Nanti ibu akan jawab jika ibu tahu."
Nadia sedikit terdiam dan seperti ragu untuk mengatakannya. Aku dibuat bingung dengan ekspresinya itu. "Ada apa, Nak? Kok kamu jadi diam?" tanyaku.
"Nadia ingin tanya, ada hubungan apa bapak sama tante Nana, Bu?" tanya Nadia.
Deg!
Aku terdiam dan shock saat mendengar Nadia bertanya seperti itu. Ku tatap matanya yang kini menunggu jawaban dariku. Dari wajahnya terlihat serius dan tak main-main dengan ucapannya. Namun, mengapa Nadia tiba-tiba bertanya seperti itu? Darimana ia tahu tentang hubungan bapaknya dan Nana?
__ADS_1
"Hubungan apa? Bapak sama tantemu 'kan memang punya hubungan. Ya hubungan secara kekeluargaan," jawabku.
"Nadia tahu, Bu, kalau soal itu. Tapi yang Nadia tanya itu hubungan spesial diantara Bapak dan Tante Nana," ucap Nadia sehingga aku bingung harus menjawabnya.
Aku tak tahu darimana Nadia mendapatkan berita tentang bapaknya dan Nana sehingga ia membutuhkan konfirmasi dariku. Memang berita perselingkuhan Nana dan Bang Herman sudah tersebar di desa ini. Akan tetapi kabar tersebut hanya diketahui oleh orang-orang dewasa saja. Namun, tak dipungkiri jika mungkin Nadia dapat mengetahui berita tersebut.
"Ka-kamu tahu darimana, Nak, jika bapakmu punya hubungan lain dengan tante Nana?"
"Dari teman dan Dinda, Bu. Dinda bilang suruh bapakku untuk menjauh dari ibunya dan memintanya tak dekat-dekat lagi dengan tante Nana."
"Temanku juga menanyakan hal ini tentang berita itu kepadaku, Bu. Mereka menanyakan kebenaran tentang berita tersebut," ungkap anakku yang membuat diriku tak bisa lagi berkata apa-apa. Inilah yang ditakutkan jika berita perselingkuhan Bang Herman dan Nana tersebar luas. Anak-anak yang akan menjadi korban dari perbuatan mereka sehingga anak-anak merasa malu.
"Aku hanya perlu ibu jujur tentang berita tersebut. Apakah memang benar jika bapak sama ibunya Dinda punya hubungan spesial?" tanya Nadia sekali lagi.
"Itu tidak benar, Nak. Mana mungkin bapakmu berbuat tega seperti itu. Kamu jangan percaya apa yang dikatakan oleh teman-temanmu ya." Aku terpaksa berbohong didepan Nadia dan tak ingin membuat citra Bang Herman sebagai seorang ayah menjadi buruk di mata putrinya sendiri. Walaupun aku telah disakiti olehnya, aku tak mungkin melibatkan anak-anak dan membuatnya benci terhadap bapak kandungnya sendiri.
"Bu, Nadia sudah tahu semuanya. Nadia mohon ibu jangan berbohong kepada Nadia tentang hubungan bapak sama tante Nana."
Deg!
"Kamu tahu darimana semua itu, Nak?" tanyaku merasa gusar.
"Aku dengar sendiri, Bu. Saat dimana ibu dan bapak berbicara berdua dan membahas soal hubungan bapak dan tante Nana," jawabnya yang membuatku mengutuk diriku sendiri. Sepertinya aku harus mengontrol mulutku untuk tak mengungkit masalah perselingkuhan Bang Herman saat aku dan suami sedang berbicara berdua.
Aku memang sempat mengungkit-ungkit hubungan suamiku dan Nana saat berbicara dengannya. Entah itu disengaja atau tak disengaja yang terselip dalam obrolan. Walaupun aku mengungkit hal tersebut, Bang Herman hanya diam dan mencoba sabar menghadapiku walaupun wajahnya terlihat kesal. Ia berusaha mungkin untuk bersabar denganku karena itulah resiko yang harus dia hadapi jika ingin mengulang semuanya karena aku masih membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka tersebut.
"Sejujurnya Nadia kecewa sama Bapak. Sangat-sangat kecewa. Nadia ingin marah kepada bapak dan ingin mengatai bapak dengan kasar yang telah berselingkuh dibelakang ibu. Tapi Nadia tak berani melakukan itu mengingat bapak adalah bapak kandung Nadia. Nadia juga takut saat Nadia marah, ibu akan kecewa dengan Nadia,"
Aku terenyuh saat mendengar ungkapan anakku yang kini terlihat sedih, marah, kecewa, dan mungkin sedikit timbul perasaan benci. Semuanya campur aduk dan sulit untuk dikendalikan. Aku mengerti perasaannya.
Aku mencabut colokan setrikaan lalu memeluk putriku yang sedang dalam fase kedewasaan ini. Nadia tengah rapuh sekarang mengetahui keburukan bapaknya sendiri.
"Nak, walaupun bapakmu berbuat salah, berbuat yang tak baik, kamu tak boleh membencinya ya? Kamu tak boleh membenci bapakmu sendiri karena kesalahannya. Seberat apapun kesalahannya, sebisa mungkin kamu harus memaafkannya. Berdosa sekali jika kamu dendam dan benci dengan bapakmu sendiri. Itu tak baik ya, Nak."
Sebisa mungkin aku memberi penjelasan kepada Nadia agar ia tak membenci Bang Herman. Aku tak ingin anakku membenci bapaknya sendiri, sebesar atau sebanyak apapun kesalahan yang dilakukan orangtuanya. Apalagi jika Citra dan Arham besar dan mengetahui keburukan ayahnya. Aku tak ingin ketiga anakku tersebut menjadi orang yang pendendam dan tak memperdulikan kondisi bapaknya. Aku tak mau ketiga anakku menjadi anak durhaka.
__ADS_1
"Nadia tak membenci bapak, Bu. Cuma Nadia hanya kecewa berat kepada bapak yang teganya bermain api dengan ibunya Dinda," jelas Nadia memelukku. Aku merasakan ada sapuah basah di bajuku. Aku mengerti jika Nadia tengah menangis mengeluarkan kekecewaannya terhadap ayahnya.
Aku mengusap punggungnya, mencoba menenangkannya, dan menunggu kesedihan Nadia berhenti. Menunggu Nadia mengeluarkan keluh kesahnya melalui tangisannya. Aku pun juga sama seperti Nadia yang kini telah siap mengeluarkan air mata. Namun, berusaha mungkin aku menahannya, tak menunjukkan kesedihanku didepan Nadia.
Setelah beberapa menit Nadia menangis, anakku mengangkat wajahnya yang kini terlihat sembab di matanya. Aku menghapus jejak air mata tersebut dan tersenyum lembut kepadanya.
"Semuanya sudah berlalu, Nak. Bapakmu sudah tak berhubungan lagi dengan tantemu dan telah bertobat. Bapak sudah mengakui kesalahannya dan berjanji tak lagi melakukan itu lagi. Bapakmu sudah berubah untuk menjadi yang lebih baik lagi. Kita hanya perlu berdoa supaya bapakmu diberi kesehatan dan jalan yang baik agar tak terlena dengan maksiat yang diberikan oleh bisikan setan."
"Bapak sudah tak berhubungan lagi dengan tante Nana, Bu?" tanya Nadia.
Aku mengangguk. "Iya, hubungan mereka telah selesai. Kamu sudah tahukan tantemu itu sudah ikut Om Dana pergi ke Kalimantan?"
"Itu berarti tante Nana pergi karena ketahuan telah memiliki hubungan dengan Bapak, Bu?"
"Kalo itu ibu tidak tahu, Nak. Tantemu pergi memang sudah menjadi keputusan yang diambilnya untuk ikut dengan suaminya."
"Tapi bapak benar-benar tak berhubungan dengan tante Nana lagi, 'kan? Maksud Nadia bapak tak berkomunikasi lagi dengan tante Nana walaupun tante Nana berada di Kalimantan?"
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban sehingga kulihat di mata Nadia ada binar bahagia mengetahui kabar tersebut. Aku masih mengingat janjinya Bang Herman jika ia tak akan lagi berkomunikasi ataupun berhubungan lagi dengan Nana. Aku hanya berdoa dan mencoba kembali percaya dengan janji yang diucapkan oleh suamiku itu.
"Terus bagaimana tentang pertemananmu dengan Dinda, Nad?" tanyaku.
"Entahlah, Bu. Dinda sendiri terlihat menjauh dan seolah tak mau lagi berteman denganku. Bahkan untuk berangkat pulang bersama pun dia tak lagi menjemput atau mengajakku naik ke motornya," jawabnya.
Aku menghela napas mengetahui hal tersebut. Tentunya Dinda belum bisa menerima kenyataan jika ibunya memiliki affair dengan Bang Herman. Ditambah dengan Nana ikut bersama Dana ke Kalimantan membuatnya sulit untuk mendapatkan kejelasan dari kedua orangtuanya tersebut.
"Yasudah, kalo kamu masih dijauhi oleh Dinda, kamu nebeng dulu sama temanmu yang lain untuk berangkat dan pulang sekolah bareng. Nanti ibu bicarakan sama bapakmu untuk membelikanmu motor," ucapku.
Kulihat Nadia mengangguk lalu beralih mengambil setrikaan dan menyalakan kembali benda tersebut. Ia menyetrika pakaian yang tadi aku setrika dan membantuku melanjutkan pekerjaan tersebut.
Aku tersenyum melihatnya yang kini membantuku membantu pekerjaan rumah. Beruntungnya aku memiliki anak-anak yang penurut dan bisa membantu pekerjaan rumah.
"Kamu jangan bicarakan ini kepada bapak ya, Nad. Soal kamu sudah mengetahui perbuatan bapakmu sama masalah kamu dengan Dinda. Biarkan bapakmu jangan tahu dulu tentang hal ini dan biarkan bapakmu yang tahu sendiri soal hal ini. Kamu hanya perlu bertindak seperti biasanya dan fokus terhadap sekolah saja ya?"
Nadia hanya mengangguk sambil terus menyetrika pakaian. Sengaja aku tak ingin Bang Herman tahu tentang Nadia yang mengetahui perbuatan buruknya. Biarlah Bang Herman tahu sendiri melalui Nadia dan Dinda yang kini tak lagi bersahabat. Biarkan dia tahu tentang kesalahannya yang sudah berimbas kepada anak-anak.
__ADS_1