
Author POV
Jika seseorang telah berjanji kepada kita, maka, orang tersebut pasti akan memegang janjinya tersebut, bukan? Namun, bagaimana jika janji yang ia buat diingkari sendiri olehnya? Pasti kita merasa kecewa, 'kan? Akan tetapi, jika orang tersebut meminta kesempatan kedua, apakah omongannya akan ditepatinya?
Sebagian orang pasti akan menggunakan kesempatan kedua tersebut dengan baik dan tak akan mengulanginya. Namun, bagaimana dengan seseorang yang sudah diberikan kesempatan kedua, orang tersebut malah mengingkarinya lagi? Kecewa, bukan?
Hal itulah yang terjadi pada Herman. Pria itu telah diberi amanat oleh istrinya dan telah berjanji tak akan lagi berhubungan dengan Nana. Namun, janji tetaplah janji yang terkadang juga tak bisa ditepati. Herman dibuat lupa akan janjinya dan terus berusaha mencari tahu tentang keadaan Nana. Bila perlu, Herman ingin menjalin komunikasi baik lagi dengan Nana tanpa sepengetahuan istrinya.
Percayalah, seseorang yang sudah ketagihan dengan nikmat dunia, pasti ia akan mengulanginya lagi walaupun itu dosa.
Saat ini Herman sedang mengecek sosial medianya di aplikasi biru. Ia melihat belum ada tanda-tanda Nana telah mengkonfirmasi pertemanannya. Sudah lewat dua Minggu, tetapi, Herman belum mendapatkan notifikasi dari wanita yang kini telah merajai hatinya. Siapa lagi kalau bukan Nana.
"Oi! Main hp terus kau, bro!" sentak temannya Herman bernama Anto datang menghampirinya. Pria yang waktu itu membawa minuman alkohol ke rumah Nana hingga membuat Herman mengungkapkan rahasianya.
"Tau nih. Jangan-jangan kau lagi nonton film po*no ya?" ucap Badri yang kini duduk disebelah Herman. Herman dan para rekan timnya tengah berada di sebuah desa yang jalan utamanya masuk kedalam desa tersebut mengalami kerusakan. Herman dan para rekan yang lain tengah beristirahat di salah satu rumah warga disana, berteduh dibawah rumah mengistirahatkan tubuh mereka sekaligus makan siang.
"Ya nggaklah! Cuma main aplikasi biru sama buka aplikasi tik-tak saja," jawab Herman.
"Masa? Coba lihat?" ucap Anto lalu merebut ponsel Herman dan melihat isinya yang memang membuka aplikasi biru.
"Kenapa? Masih nggak percaya?" Herman mengambil kembali ponselnya dan menyimpannya di meja kecil dihadapannya.
"Tapi kok yang aku lihat disitu kau baru saja membuka akun sosial media Nana, Her. Kamu masih penasaran sama selingkuhanmu itu?" ucap Anto membuat Badri terkejut.
"Wah parah! Bukannya kau tak ingin lagi berhubungan dengan Nana, ya? Kok masih lihat-lihat akun sosial media dia? Kamu rindu sama Nana, Her?" ucap Badri menatap Herman selidik.
__ADS_1
Herman menelan saliva merasa terintimidasi oleh kedua temannya. Untungnya hanya mereka bertiga yang berada di bawah rumah, sedangkan yang lain berada diatas rumah warga tengah makan siang.
"Ya kagaklah! Aku nggak rindu sama Nana. Cuma pengen tahu saja dengan kabarnya gimana selama di Kalimantan. Soalnya dia sudah memblokir semua komunikasi denganku. Nggak salah 'kan jika aku ingin tahu bagaimana kabarnya?" jawab Herman.
"Ya memang tidak salah sih. Bahkan kalau bisa silaturahim kalian tidak boleh putus setelah kalian terlibat ikatan terlarang. Namun, yang perlu diingat itu posisi kamu dan Nana. Kau harus ingat jika dirimu sudah mempunyai keluarga dan Nana pun begitu. Kamu harus menjaga perasaan Yani setelah apa yang kamu perbuat dibelakangnya," jelas Badri bijak.
"Betul, aku malah salut sama istrimu yang sabar menghadapi ujian rumah tangga kalian. Dia mau menerima kau kembali dan memulai semuanya dari awal karena Yani telah mencoba memberi kesempatan kedua buatmu. Coba jika kamu berada di posisi Yani? Kira-kira kamu sanggup gak bertahan dengan istri yang sudah mengkhianatimu?" ujar Anto berpendapat.
Herman menyeringit bingung menatap tak suka kedua temannya yang seperti berpihak kepada istrinya. Setahu Herman, Anto dan Badri tak kenal dekat dengan istrinya. Bertemu pun jarang karena jarak rumah mereka begitu jauh dan berbeda desa. Mereka cuma tahu Yani adalah istrinya saja, tak lebih.
"Iya tau, aku juga akan menjaga perasaan Yani dan tak mengulang kesalahan yang sama. Cuma aku hanya penasaran saja gitu gimana kabarnya Nana lewat aplikasi biru. Hanya itu, tidak bermaksud apapun," balas Herman mengelak disudutkan.
"Anggap saja kabar Nana baik-baik saja disana bersama dengan anak dan suaminya. Setelah itu kau tak perlu lagi mencari tahu keadaannya dengan men-stalking sosial medianya," jawab Badri yang diangguki oleh Anto.
"Iya-iya," jawab Herman pasrah lalu menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. Ia mengambil sebatang rokok, membakarnya dengan korek api, dan mulai menghisapnya. Herman tak ingin menambah panjang perdebatan bersama kedua temannya soal Nana. Entah mengapa jika membahas soal Nana, seolah menjadi topik yang sensitif bagi Herman karena dia pernah terlibat hubungan terlarang dengan wanita itu.
"Benarkah?" Herman mengambil kembali ponselnya dan mengecek panggilan. Dan benar saja ada panggilan tak terjawab dari Pak Boss sebanyak tiga kali.
"Aku telpon Pak Boss dulu, ya," ucap Herman kepada kedua temannya lalu bangkit berdiri dan berjalan menjauh hendak menelpon.
Saat sudah berada di bawah pohon besar di samping rumah, Herman kembali menelpon bossnya ingin mengetahui mengapa atasannya itu menelponnya sebanyak tiga kali.
"Assalamualaikum, Pak Boss!" salam Herman saat panggilannya sudah dijawab.
"Waalaikumsalam!" jawab diseberang sana.
__ADS_1
"Maaf Pak Boss saya baru mengecek ponsel dan tak melihat panggilan tak terjawab dari Boss. Tadi sedang sibuk-sibuknya mengecek pengecoran jalan," ujar Herman.
"Iya, tidak apa-apa kok, Her. Aku tahu kok kalo kamu sedang sibuk tadi."
"Ada apa ya, Pak Boss tadi menelpon saya?" tanya Herman.
"Oh, tadi aku mau menyampaikan tawaran besar di Kalimantan denganmu, Her. Tapi sepertinya tidak enak jika kita bicarakan lewat telepon. Kamu bisa gak, kita bicara di kantor sore ini setelah kamu pulang?"
'Tawaran besar? Di Kalimantan? Buat apa Pak Boss menyampaikan ini padaku?' batin Herman bertanya-tanya.
"Her? Kok diam? Kamu bisa gak sepulang dari sana kita bicara di kantor? Kalo tidak bisa, keesokan paginya saja kita bicarakan," sentak atasannya.
"Oh, bisa-bisa kok, Pak Boss. Tapi aku pulang dulu untuk mandi sama ganti baju. Gak mungkin 'kan aku kesana dalam keadaan bau keringat?" balas Herman setelah sadar dari lamunannya.
"Iya-iya, nanti kalo jadi kamu kabari saya saja ya. Kebetulan saya stay di kantor sampai jam 7 malam."
"Siap, Pak Boss. Nanti aku kabari nanti jika jadi," jawab Herman.
Setelah mendapat balasan dari sana, Herman mematikan sambungan telepon dan terdiam di tempat, bertanya-tanya soal atasannya yang mengajaknya bertemu sore ini. Herman menangkap jika pembahasan kali ini sesuatu tawaran pekerjaan yang menggiurkan. Akan tetapi, pasti tempatnya berada di Kalimantan karena Pak Boss menyinggung soal pekerjaannya disana.
'Apakah aku ditawari pekerjaan besar di sana? Jika iya, apakah nanti aku akan bertemu lagi dengan Nana?' batin Herman bertanya-tanya sekaligus mengingat Nana.
Lagi-lagi Herman mengingat nama Nana jika ada sesuatu bersangkutan dengan wanita itu. Keberadaan Nana memang ada di Kalimantan bersama suaminya. Akan tetapi, Kalimantan itu luas dan Herman tak tahu dimana alamat dan tempat tinggal Dana disana.
Herman menggelengkan kepalanya mengusir bayang-bayang Nana yang selama ini terus hinggap mengganggu hati dan pikirannya. Ia teringat akan janjinya dengan sang istri jika ia tak akan lagi berhubungan dengan Nana apapun itu. Herman sudah bertekad berubah dan tak ingin menyakiti istrinya.
__ADS_1
...~~~...
Guys, ceritanya di season 2 kali agak sedikit lambat ya alur ceritanya. Insyaallah di bulan Ramadhan ini, aku akan terus setiap hari update mengisi kekosongan hari libur. Ya walaupun gangguannya cuma satu sih masalah mood yang kadang suka down.