
Nana telah mempersiapkan barang-barang dirinya, suami, dan Nizam untuk dibawa ke dalam tas dan koper. Nana telah menyetujui keputusan Dana untuk ikut membawanya hidup di Kalimantan daripada harus diceraikan. Lagipula tinggal disini dirasa sudah tak aman lagi buat Nana. Sudah banyak orang yang curiga tentang gosip yang beredar tentang dirinya berhubungan dengan Herman.
Saat Nana mengajukan pengunduran diri di balai desa, salah satu temannya menanyakan tentang gosip tersebut. Namun, sebisa mungkin Nana mencari alasan tak membenarkan gosip tersebut. Adapula yang memandang dirinya dengan pandangan yang Nana sendiri sulit diartikan. Namun, saat Nana melihat balik, orang itu langsung membuang muka. Sungguh, Nana sudah tak dibuat nyaman untuk tinggal di desa kali ini.
"Semuanya sudah siap, Na?" Nana menoleh dan mendapati ibunya berdiri di depan pintu kamar.
"Sudah, Bu. Barang-barang Nizam pun sudah dimasukkan ke dalam koper."
"Sudah minta surat kepindahan dari sekolah Nizam?"
"Sudah dari kemarin, Bu."
Bu Asih mengangguk dan membantu Nana melipat pakaian yang berserakan di ranjang. Tiba-tiba Dana masuk ke kamar dengan membawa dua kantong plastik di tangannya.
"Apa itu, Dan?" tanya Bu Asih setelah Dana meletakkan kantong plastik tersebut di lantai.
"Ini kue lapis sama lemang, Bu. Dikasih sama Pak Hasan barusan."
"Sudah semua?" tanya Dana pada Nana melihat barang-barang yang sudah disusun rapi beserta satu koper besar.
Nana mengangguk. "Hanya pakaian sama peralatan sekolah Nizam nanti disana."
"Jam berapa kalian berangkat?" tanya Bu Asih.
Dana melirik di jam di dinding yang sekarang sudah menunjukkan pukul 12 siang. "Jam 3 sore kapan akan berangkat, Bu. Mungkin mobil akan jemput 2 nanti."
Bu Asih mengangguk dan beralih kearah putrinya. "Kamu nggak mau minta maaf dulu ke Yani?"
Nana sedikit terkejut saat ibunya menyebut nama Yani. Ia mengira jika masalah yang terjadi tak akan dibahas lagi saat menuju keberangkatannya. Namun, sepertinya ibunya ingin membuat Nana harus bertemu Yani dan meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya.
"Iya, bagaimanapun juga kau sudah menjadi duri di rumah tangganya Yani. Setidaknya datanglah ke rumahnya dan minta maaf yang tulus padanya," sambung Dana menyetujui ucapan ibu mertuanya.
"Iya, Bu, Bang. Nanti Nana akan datang ke Yani untuk minta maaf," jawab Nana pasrah. Sejujurnya Nana merasa gengsi dan tak punya muka untuk datang kehadapan Yani setelah apa yang ia perbuat dengan Herman. Entahlah, rasa gengsinya terlalu tinggi hanya sekedar meminta maaf walaupun ia sudah salah menyakiti sepupunya.
"Ma, mama yakin mau ikut papa pergi?" tanya Dinda yang tiba-tiba masuk ke kamar.
"Iya, Nak. Mama sama Nizam akan ikut Papa ke Kalimantan," jawab Nana.
"Terus aku sama Aras gimana? Masa ditinggal berdua?" tanya Dinda memandang kedua orangtuanya sendu.
Nana mendekati Dinda dan menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang. "Nak, bukankah kemarin Papa sama Mama sudah jelaskan. Mama ikut sama Papa karena kasihan dengan Papa tidak ada yang jaga dia disana. Kalo Papa sakit, siapa yang akan merawatnya. Selama ini Papa 'kan kalo sakit ia sendiri yang mengurusnya. Tak ada yang bisa menjaga papa," jelas Nana sedikit kebohongan. Tak mungkin ia menjelaskan niat aslinya ikut suaminya ke Kalimantan.
"Mama gak pergi karena gosip yang beredar, 'kan? Yang katanya mama punya hubungan sama papanya Nadia?" tanya Dinda hingga membuat orang yang disana terkejut.
"Ka-kamu tahu darimana, Nak?" tanya Nana gugup.
"Dari teman-teman Dinda di sekolah. Mereka dengar kalo Om Herman sama Mama punya hubungan. Apa itu benar?" desak Dinda. Dalam benak anak itu ia merasa malu jika ditanyai seperti itu oleh teman-temannya. Walaupun beritanya yang mereka tahu belum akurat, tapi jika ditanyai seperti itu Dinda akan merasa sakit hatinya kala mendengar ibunya mempunyai affair dengan pria lain. Apalagi dengan ayahnya Nadia.
"Lagian Dinda 'kan sudah memperingatkan Mama untuk jangan dekat-dekat sama Om Herman. Sekarang gosip Mama sama Om Herman kesebar, 'kan?"
Nana kelabakan saat diinterogasi oleh putrinya. Ia melirik kearah sang suami yang kini sudah menatapnya tajam. Nana menelan salivanya karena takut ditatap seperti itu.
__ADS_1
"Tidak, Nak. Itu tidak benar. Mama sama Om Herman tak punya hubungan apa-apa kok. Mama sama Om Herman 'kan satu keluarga. Tak mungkin mamamu bertindak seperti itu," jelas Dana membujuk putrinya akan percaya. Dalam benaknya Dana bertanya-tanya sejak kapan putrinya mengetahui jejak hubungan ibunya dan Herman.
"Serius Mama sama Om Herman gak punya hubungan apa-apa? Jadi berita itu gak benar?" tanya Dinda sekali lagi.
"Iya, Nak. Berita itu gak benar. Mama sama Om kamu itu dekat karena ada urusan dengan pembangunan lantai dua kamar kalian. Jadi kamu gak boleh berpikiran macam-macam tentang ibu kamu," ucap Dana membelai rambut putrinya.
"Ada nenek, kakek, Riski, sama sepupu-sepupu kamu disini yang akan menemani kamu. Kamu kalo ada apa-apa bisa minta tolong pada kakek dan nenek, ya?"
Dinda mengangguk lalu memeluk ibunya yang sebentar lagi akan berpisah dengannya.
...~~~...
Yani, Herman, dan anak-anak mereka sedang makan siang bersama di depan televisi. Dengan suara televisi dan Arham yang kadang suka berisik mengaduk-aduk sendoknya menjadi melodi mereka saat makan. Di dapur mereka tak memiliki meja makan karena ruang dapur dirumah Yani dan Herman begitu sempit untuk diletakkan meja makan dan kursi. Lagipula mereka lebih suka makan sambil menonton acara televisi sehingga acara makan mereka tak terlalu bosan dan ada hiburan didepannya.
"Ma, Nizam katanya mau ikut papanya pergi," celoteh Arham memberitahu kepada kedua orangtuanya.
Yani menyeringit bingung begitupula dengan Herman. "Nizam siapa? Nizam sepupu kamu?" tanya Yani. Di desa ini ada dua nama Nizam yang sama tapi dengan umur yang berbeda.
"Iyalah, siapa lagi teman Arham selain Nizam."
"Dia mau ke ikut papanya ke Kalimantan?" tanya Yani sekali lagi.
Arham mengangguk. "Iya, Tante Nana juga ikut katanya."
Yani melirik sekilas pada Herman yang kini menyimak pembicaraan anaknya. 'Apakah Bang Herman sudah tahu jika Nana ikut suaminya?' batin Yani bertanya-tanya.
"Terus kapan dia berangkat?"
"Aras sama Dinda diajak juga?" tanya Yani pada Citra.
"Nggak, cuma Nizam saja yang diajak katanya."
Yani mengangguk. "Jadi kalian mau ke rumahnya abis ini?" Citra dan Arham hanya mengangguk sebagai jawaban.
...~~~...
Setelah kepergian anak-anak mereka setelah makan siang, Yani kini sedang berada di dapur mencuci piring. Tiba-tiba Herman muncul dan berjongkok melihat Yani mencuci piring didekat pintu. Tempat cuci piring yang ada di rumah Yani bukan seperti westafel, melainkan hanya tempat kecil yang biasa anak-anak pipis disana dengan disediakan kran air.
"Bu," panggil Herman.
Yani menoleh ke belakang sekilas lalu kembali mencuci piringnya, tak menyahuti panggilan atau keberadaan suaminya dibelakangnya.
"Bapak pengen tahu bagaimana keputusan Ibu. Bapak penasaran dengan jalan yang akan Ibu ambil setelah kejadian itu."
Beberapa detik kemudian tak ada respon dari Yani. Herman menghela napas melihat reaksi istrinya yang kini sudah mengacuhkannya semenjak pembicaraan mereka tempo hari. Herman sudah berusaha untuk mengajak Yani berbicara dan membahas apapun supaya istrinya bereaksi atau membalas ucapannya. Namun, Herman hanya mendapat jawaban berupa gelengan atau anggukan kepala dari istrinya. Atau tidak Yani hanya mengeluarkan suara 'hmm' saja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Sungguh, melihat Yani mengacuhkan dirinya membuatnya batinnya terasa tersiksa.
"Bu, Bapak mohon ya untuk jangan minta cerai. Bapak gak mau pisah dari Ibu ataupun anak-anak. Bapak akan melakukan apa saja supaya Ibu mau memaafkan kesalahan Bapak dan memulai semuanya dari awal."
Herman sudah berubah. Ia akan melakukan apapun untuk membuat Yani kembali percaya dengannya asalkan bukan dengan perceraian. Herman tak akan bermain api dibelakang Yani kapanpun itu. Itu janji Herman dalam hidupnya.
"Ibu hanya ingin Bapak tak berhubungan lagi dengan Nana," jawab Yani setelah selesai mencuci piring.
__ADS_1
Herman tersentak saat mendengar Yani menjawabnya. "Ibu bilang apa tadi?"
Yani berdiri dan berbalik menatap suaminya. "Ibu hanya minta bapak tak lagi berhubungan dengan Nana. Entah itu berkomunikasi lewat pesan atau bertemu langsung."
Herman bangkit berdiri. "Jadi Ibu mau menerima Bapak lagi? Tak ingin meminta cerai dari Bapak?" tanya Herman seolah tahu maksud dari Yani.
"Iya, asalkan permintaan Ibu tadi Bapak bisa kabulkan."
Herman langsung mengangguk antusias. "Iya, Bu. Herman berjanji gak akan berhubungan lagi dengan Nana," balasnya lalu langsung memeluk Yani dengan perasaan senang. Senang karena Yani memberi kesempatan kedua padanya dan tak jadi meminta cerai.
Yani memang sudah mengambil keputusan untuk menerima kembali dan memaafkan kesalahan suaminya. Ia tak boleh egois memikirkan perasaan dirinya jika ia mengambil keputusan berpisah dengan Herman. Ada perasaan ketiga anaknya yang harus ia jaga. Ia tak ingin membuat ketiga anaknya sedih saat mengetahui jika ibu dan ayahnya berpisah suatu saat nanti.
Lagi-lagi hanya alasan anaklah Yani bertahan dengan Herman. Jika bukan karena anak, mungkin Yani sudah memilih mengakhiri kisah rumah tangganya dengan Herman.
...~~~...
Mobil yang menjemput Dana dan Nana sudah stay didepan rumah mereka. Barang-barang sudah pada dimasukkan kedalam belakang mobil sedari tadi. Nana dan Dana kini sedang berpamitan dengan orangtuanya, Dinda, dan juga Aras.
"Kamu sudah minta maaf sama Yani, Nak?" tanya Pak Tanto pada Nana saat mereka berada di ruang tamu.
Nana mengangguk. "Sudah, Pak. Tapi lewat telepon."
"Baguslah, jagalah tali keluarga kita. Jangan sampai putus," nasihat Pak Tanto yang dijawab anggukan dari Nana.
Dinda dan Aras dari tadi menangis saat mengantarkan ibu dan ayahnya pergi. Kali ini kedua orangtuanya harus pergi ke Kalimantan dan meninggalkan dirinya berdua bersama kakek neneknya.
"Tolong jaga Dinda sama Aras ya, Bu." Nana berucap pada ibunya sambil mengelus punggung putrinya didalam dekapannya. Sama halnya dengan Dana yang kini berpelukan dengan Aras menenangkan bocah remaja itu.
"Kalian tenang saja, ibu dan bapak akan merawat Aras dan Dinda disini dengan baik. Jika ada apa-apa dengan keduanya kami akan memberitahukan kepada kalian."
Semua orang keluar dari rumah, mengantarkan Dana, Nana dan Nizam ke mobil. Teman-teman Nizam pun turut hadir untuk mengantarkan Nizam pergi di teras rumah. Tak lupa juga Dana dan Nana menyampaikan pesan-pesan yang bijak kepada Aras dan Dinda lalu memberikan sejumlah uang jajan kepada mereka sebelum berangkat. Dana juga memberikan uang kepada Bu Asih sebagai nafkah buat Aras dan Dinda nanti.
Ketiganya masuk kedalam mobil setelah berpamitan. Mesin pun dijalankan dan meninggalkan orang-orang tersayang mereka yang tertinggal dibelakang mobil. Untuk Nana, ia akan memulai hidup baru bersama sang suami dan anak bungsunya di Kalimantan. Melupakan masalah hubungan terlarangnya dengan Herman.
Drrtt! Drrtt!
Ponsel Nana tiba-tiba bergetar membuat sang pemilik mengambil ponsel tersebut dari dalam tasnya.
Bang Herman
[Semoga kamu bahagia dengan suamimu disana dan memulai hidup baru. Abang juga sama sepertimu yang akan memulai semuanya dari awal dengan Yani. Maafkan Abang yang sudah membawamu terseret dalam masalah besar. Abang mendoakan semoga kamu berbahagia disana.]
Pesan dari Herman yang mengucapkan perpisahan. Lelaki itu sepertinya mengingkari janjinya kali ini untuk tak berhubungan lagi dengan Nana. Akan tetapi Herman melakukan itu hanya sekedar salam perpisahan dan ucapan minta maaf saja kepada Nana, tak ada maksud apapun. Setelah itu ia bertekad untuk menepati janjinya tak lagi berhubungan dengan Nana.
Nana menyimpan kembali ponsel ke dalam tasnya, tak membalas pesan tersebut. Ia memandang pohon dan rumah-rumah yang dilalui dari kaca jendela mobil. Sesungguhnya Nana belum meminta maaf ataupun berbicara kepada Yani atas perbuatannya. Ia berbohong jika ia sudah berbicara dan meminta maaf pada sepupunya saat ditanyai oleh ayahnya. Rasa gengsinya masih terlalu besar untuk meminta maaf. Namun, Nana berharap seiring berjalannya waktu Yani sudah memaafkan dirinya dan melupakan semuanya.
Season 1 TAMAT!
Ceritanya memang gak beda jauh dengan konflik perselingkuhan lainnya. Namun, aku memang tak berani mengubah kisah nyata dalam kisah tersebut. Semua terjadi sesuai dengan alur yang dibuat. Penulis bisa saja menambahkan kisah lainnya supaya jalan ceritanya makin greget seperti penggerebekan atau Nana hamil. Tapi sekali lagi aku jelaskan kalau di kisah nyata mereka memang melakukan hubungan aman. Soal rahasia terbongkar pun memang kesalahan dari Herman sendiri yang membongkar hubungan affairnya dengan Nana.
Jadi untuk para pembaca mohon maaf sekali lagi jika jalan ceritanya tak sesuai dengan ekspektasi tinggi kalian. Mudah-mudahan di season 2 nanti aku akan membuat alur yang benar-benar full karangan fiktif dan alur yang lebih greget lagi.
__ADS_1
Jangan lupa beri dukungan untuk cerita ini guys!