Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku

Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku
Dana dan Nana Pulang (S2)


__ADS_3

Drrtt! Drrtt!


Yani yang baru saja selesai berpakaian sehabis mandi, langsung mengalihkan atensinya kearah ponselnya yang diletakkan di meja televisi. Ia menghampirinya dan melihat siapa yang tengah menelponnya.


Ibu is calling...


"Halo, Bu. Assalamualaikum!" jawab Yani langsung menjawab panggilan ibunya.


"Waalaikumsalam. Kamu dimana, Nak?"


"Yani ada di rumah, Bu. Kenapa?"


"Tidak apa-apa, ibu cuma telepon saja. Kangen."


Yani tersenyum hangat. Rupanya sang ibu tengah rindu padanya. "Kabar ibu bagaimana? Sehat?"


"Alhamdulillah sehat, Nak. Kamu dan sekeluarga sehat disana?"


"Alhamdulillah sehat juga semuanya disini, Bu."


"Syukurlah."


"Ibu lagi dimana?"


"Ibu lagi di rumah sama kakak kamu. Nih lagi buat es cendol."


"Wah, enak itu. Ibu puasa?"


"Iya, disini sudah mulai puasa hari ini."


"Oh gitu, syukurlah kalo ibu sehat dan masih bisa menjalankan puasa."


"Alhamdulillah, Nak."


"Oh ya, tadi Bang Herman tanya, ibu kapan lagi datang kesini? Sudah lama lho, ibu nggak balik lagi kesini," tanya Yani yang mengingat percakapan tadi pagi dengan Herman.


"Waduh, ibu belum tahu kapan ibu bisa kesana lagi, Yan. Soalnya disini juga nanti setelah lebaran, mau panen cengkeh."


"Ibu lebaran disana?"


"Hmm, dilihat dulu deh, nanti. Ibu mau lebaran dimana. Mau disini atau disana."


"Iya lho, ibu udah lama nggak datang-datang lagi kesini semenjak bapak pergi. Padahal disini keluarga pada kangen sama ibu."


"Hehe, iya-iya. Nanti kalo ada waktu kosong, ibu akan pulang kesana sambil bawa oleh-oleh." jawabnya membuat Yani tersenyum.


"Kamu sama Herman baik-baik saja 'kan, Nak?"


Yani menyeringit bingung sejenak. "Baik, aku sama Bang Herman sehat-sehat saja kok, Bu."

__ADS_1


Terdengar seperti suara orang berbisik yang ibunya lakukan dengan seseorang. Tetapi, Yani tidak tahu itu siapa. "Bu? Ibu sama siapa disana?"


"Oh, ini ibu bicara sama kakakmu. Syukurlah kalo kamu sama Herman baik-baik saja. Yasudah kalo gitu, ibu matikan dulu teleponnya. Soalnya ibu mau mandi."


"Oh iya, Bu. Jaga kesehatan disana ya, Bu."


"Pasti, Nak."


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Tut!


Yani mematikan sambungan kemudian menyimpan ponselnya di meja televisi. Ia sempat merasa sedikit bingung saat ibunya bertanya soal dirinya dan Herman. Namun, Yani tak memikirkan hal sepele itu. Ia memilih berlalu pergi ke dapur ingin memasak sayur. Sayur yang ia buat tadi siang telah habis dimakan anak-anaknya sehingga Yani harus membuat menu sayur baru untuk nanti malam. Rencananya ia akan membuat sayur santan pare kesukaan dirinya dan suami yang juga akan dimakan anak-anak.


Namun, saat Yani sedang memotong sayur pare beberapa bagian, ia menepuk jidatnya seolah lupa. "Astaga, aku lupa beli santannya."


Yani berdiri berniat ingin membeli santan kemasan di warung depan. Waktu belanja di pasar tadi, ia sudah mengecek dan meyakinkan semuanya kalau belanjaannya sudah terbeli semua melalui ingatannya. Namun, ia lupa jika ingin membuat sayur santan pare harus memerlukan santan kelapa untuk menjadi bahan utama dalam pembuatannya.


"Berapa semuanya, Ran?" tanya Yani saat ia membeli santan kara di warung milik Rani dekat rumahnya.


"4 ribu," jawab Rani. Yani menyerahkan uang 5 ribu dan menunggu kembaliannya.


"Kamu puasa, Ran?" tanya Yani saat menerima kembaliannya.


"Puasa dong," jawab Rani.


"Nggak, Bang Yadi berniat puasa hari ini dari kemarin. Biar dia bisa full 30 hari puasa."


Yani mengangguk mengerti. "Terus buka apaan nanti?"


"Mau buat pisang ijo sama jalangkote nanti. Baru tadi pagi abis belanja di pasar beli pisang satu sisir," ujar Rani.


"Lho, kamu abis dari pasar tadi pagi? Kok kita nggak ketemu, ya? Tadi pagi juga aku sama Bang Herman abis dari pasar belanja," tanya Yani heran.


"Mungkin nggak ngeliat kali ya, karena sibuk belanja," jawab Rani.


Mulailah keduanya terlibat obrolan ibu-ibu di teras depan warung Rani. Sebagai tetangga, Yani biasa datang ke warung Yani dan mengajak pemiliknya ngobrol hal random. You know lah, ibu-ibu kalo ngumpul ngapain? :v


"Eh, Dan. Mau beli apa?" sentak Rani melihat seseorang di belakang Yani. Yani mengerutkan keningnya lalu menoleh kearah belakang.


"Mau beli garam, Ran."


"Berapa?"


"Satu bungkus saja."


Rani bangkit dan masuk kedalam warung. Sedangkan Yani terdiam merasa tak percaya jika kedatangan seseorang yang ada dihadapannya ini membuatnya terdiam membeku. Ia tak menyangka jika melihat keberadaan Dana ada di desa saat ini. Bukankah Dana seharusnya berada di Kalimantan? Lalu mengapa ia tiba-tiba berada disini? pikir Yani.

__ADS_1


Kemudian Yani berpikir lagi dan langsung mengerti mengetahui mengapa bisa ada Dana disini. Setiap memasuki bulan ramadhan, Dana memang kerap pulang untuk bisa berkumpul dengan keluarga menikmati hari bulan suci ramadhan. Jika keberadaan Dana ada disini, itu berarti ada Nana yang ikut pulang dengan suaminya.


"Kapan pulangnya, Dan?" tanya Yani basa-basi.


"Kemarin sore, Mbak." Dana menjawab sehingga Yani mengangguk mengerti.


Yani dan Dana terlihat dalam keadaan canggung saat ini. Walaupun kejadian perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan mereka. Akan tetapi, tetap saja mereka seperti bingung harus bereaksi bagaimana jika keduanya bertemu setelah insiden mereka saling curhat-curhatan. Walaupun mereka hanya korban dari Herman dan Nana, Yani dan Dana seolah ikut dalam keadaan malu dan canggung jika keduanya berpapasan saat ini.


Setelah itu Rani keluar sambil membawa pesanan Dana didalam kantong kresek lalu menyerahkannya kepada Dana. "Nih."


Dana menerima kantong tersebut dan menyerahkan uang pas kepada Rani. "Mari, Mbak," ucap Dana lalu berbalik pulang.


"Kapan Dana pulang?" tanya Rani dan duduk di samping Yani.


"Kemarin sore katanya," jawab Yani sambil menatap punggung Dana yang berjalan jauh.


...~~~...


"Nana?!" ucap Herman terkejut mendapati sosok wanita yang dikenalnya ada dihadapannya.


Begitupula dengan wanita tersebut yang dipanggil Nana. Wanita itu menelan saliva dan bingung harus melakukan sesuatu saat bertemu dengan mantan suaminya (walaupun tetap tak sah). Padahal niatnya ingin mampir ke warung membeli susu setelah perjalanannya dari ATM. Akan tetapi, ia tak menyangka jika ia bertemu dengan Herman di warung ini.


"Permisi, Bang." Nana turun dari motor lalu masuk kedalam warung. Sudah kepalang tanggung ia bertemu dengan Herman. Jadi, Nana putuskan untuk melanjutkan niatnya untuk masuk ke warung tanpa memperdulikan keberadaan Herman disana.


Sedangkan Herman sendiri masih terkejut sambil menatap punggung Nana yang sedang belanja di dalan sana. Ia tak menyangka jika akan bertemu dengan Nana lagi kali ini. Bukankah Nana ada di Kalimantan bersama Dana? Lalu mengapa wanita itu berada disini? pikir Herman bertanya-tanya.


"Kamu ada disini, Na?" tanya Herman bodoh. Sudah tahu Nana ada dihadapannya, tetapi, mengapa ia bertanya seperti itu?_-!


"Iya, Bang," jawab Nana setelah keluar dari warung dan berhadapan lagi dengan Herman.


"Dari kapan kamu pulang kesini?" tanya Herman melihat Nana yang sudah naik motornya.


"Kemarin, Bang." Nana menjawab datar tanpa melihat kearah Herman dan mulai menghidupkan mesin motornya.


"Duluan, Bang," ujar Nana dan mulai melajukan motornya meninggalkan Herman terdiam di tempat.


Herman menatap punggung Nana yang mulai hilang dibalik tikungan. Herman masih sedikit tak percaya bisa bertemu lagi dengan wanita itu. Namun, ia berpikir lagi jika Nana pulang kesini bersama suami dan Nizam yang akan menyambut bulan ramadhan bersama keluarganya. Itu berarti Nana akan berada disini selama usai lebaran dan akan ikut lagi dengan suaminya? pikir Herman.


Entahlah Herman tidak tahu jika Nana akan menetap disini atau ikut lagi dengan Dana merantau ke Kalimantan.


Herman naik ke mobilnya dan mulai menjalankan mesin mobil mencoba mengejar Nana yang sudah berjalan jauh. Setelah mendapati motor hitam yang dikendarai Nana, Herman berjalan pelan dibelakang Nana tanpa wanita itu ketahui.


Setelah keduanya telah di desa, Nana berbelok arah ke lorong masuk jalan rumahnya. Herman melihat semua itu dan melanjutkan mobilnya hingga sampai di rumahnya yang tak jauh dari lorong tersebut.


Tiba-tiba lekungan tipis keluar di bibirnya setelah memberhentikan mobil di halaman parkir rumahnya. Entah kenapa hatinya begitu terasa gembira saat melihat Nana ada disini dan melihatnya langsung. Herman ingin bertemu dengan Nana satu kali lagi dan mengajaknya ngobrol dengan santai. Namun, apakah itu bisa? Sedangkan Nana sendiri terlihat seperti menjauh darinya kala bertemu dengannya.


Arrgghhtt!!!


Herman mengacak rambutnya frustasi memikirkan itu semua. Sebaiknya ia turun dan mandi menyegarkan tubuhnya yang terasa lengket setelah berkeringat.

__ADS_1


...~~~...


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya ya guys!


__ADS_2