Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku

Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku
Kalimantan (S2)


__ADS_3

Kapal yang ditumpangi Herman dan kawan-kawannya telah tiba di dermaga pelabuhan Semayang kota Balikpapan, setelah menempuh waktu perjalanan 27 jam. Herman dan yang lain bergegas turun dari kapal sambil membawa barang-barang mereka dan menunggu di dermaga pelabuhan. Cuaca yang terik karena mereka sampai di siang hari membuat mereka masuk kedalam menunggu didalam bangunan Semayang.


"Ini yang jemput kita siapa?" tanya salah satu rombongan bertanya kepada Herman dan Taryo.


"Bentar, aku hubungi dulu sahabatnya Pak Denis. Kemarin beliau sudah kasih nomornya ke saya." Taryo mengeluarkan ponsel lalu mulai menghubungi sahabat atasannya.


"Assalamualaikum, Pak. Saya Taryo, anak buahnya Pak Denis yang di daerah xxx. Kami semua sudah tiba di pelabuhan Semayang, Pak. Kira-kira ada yang jemput kita disini gak, Pak?" tanya Taryo setelah sambungan terhubung.


"Oh iya, kalian sudah tiba di Kalimantan? Kalo gitu bapak akan perintahkan anak buah bapak bernama Mas Satria menuju kesana menjemput kalian."


"Oh gitu, Pak. Kalo gitu kita menunggu di dekat warung kaki lima ya, Pak. Dekat dengan dermaga. Kita mau makan siang dulu disana."


"Ok, segera anak buah saya kesana."


"Baik, Pak. Terimakasih."


Tut!


"Gimana?"


"Nanti ada yang jemput kita disini. Kita ngaso dulu cari tempat makan sambil menunggu jemputan," beritahu Taryo lalu berjalan keluar mencari warung makan.


Total ada 20 orang yang dibagi dalam dua tim ikut proyek ke Kalimantan. Tim Herman dan tim Taryo. Kedua tim tersebut singgah ke tempat makan yang menu utamanya seafood. Semuanya langsung memesan makan siang terlebih dahulu, mengisi perut sebelum mereka akan bertemu dengan boss baru mereka nanti.


Drrtt! Drrtt!


Ponsel Taryo berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Sang pemilik ponsel itu segera mengangkat panggilan tersebut.


"Ya?"


"Dimana, Pak? Saya sudah ada di pelabuhan ini."


"Oh, kami semua berada di warung makan seafood dekat pelabuhan."


"Oh gitu. Mobil jemputan ada di parkiran pelabuhan, Pak. Bisa kalian yang datang kesini?"


"Oh iya-iya. Kami segera datang kesana."


Tut!


"Kenapa?" tanya Herman yang baru saja menghabiskan makanannya.


"Mobil jemputan kita sudah ada di parkiran pelabuhan. Kita diminta segera datang kesana."


"Ayo-ayo, cepat habiskan makanan kalian! Mobil jemputan kita sudah menunggu di parkiran!" sambung Taryo memerintahkan para anggota mempercepat makan mereka.


...~~~...


Kedua Tim tersebut langsung bergegas kembali ke pelabuhan dan mencari keberadaan mobil jemputan mereka.


"Yang mana mobilnya, Yo?" tanya Herman.


"Tunggu, aku telepon dulu orangnya." Taryo mengambil kembali ponsel lalu mulai menghubungi anak buah atasan barunya.


"Halo, mobil yang mana ya, Pak? Kami semua sudah tiba di parkiran ini."


"Mobil berwarna putih dekat bangunan pelabuhan Semayang area kanan, Pak."


Taryo berjalan ke sisi kanan area pelabuhan dan mendapati mobil putih berjejer dengan dua mobil hitam disisi kanan kirinya. Seseorang melambaikan tangan kearahnya pertanda itu adalah orang yang telah menjemputnya.


"Itu mobilnya!" ucap Taryo kepada rekan-rekannya setelah mematikan sambungan telepon.

__ADS_1


Mereka semua berjalan mendekat kearah mobil tersebut yang sudah ditunggu tiga orang laki-laki di dalam tiga mobil yang berbeda.


"Mas Satria?" tanya Taryo saat berhadapan dengan seorang laki-laki yang usianya lebih muda darinya.


"Iya, Pak. Saya Satria. Saya ditugaskan atasan untuk menjemput kalian," jawab Satria.


"Tiga mobil?" tanya Taryo yang diangguki oleh Satria.


Taryo dan yang lain naik ke mobil yang isinya hanya muat delapan orang dalam satu mobil. Kedua kelompok tersebut membagi kelompok hingga semuanya telah masuk kedalam mobil jemputan mereka.


"Nanti kita semua tinggal dimana?" Salah satu anak buah Herman bertanya kepada Satria.


"Tempat tinggal untuk orang yang berasal dari luar daerah akan ditempatkan di mess dekat proyek, Mas."


"Emang ada berapa orang yang berasal dari luar daerah?" tanya Herman.


"Kalo tidak salah, Pak Sanja memanggil 30 orang termasuk tim kalian, Mas."


"Nama atasan baru kita Pak Sanja?" tanya Herman yang diangguki oleh Satria. "Terus kapan proyeknya berjalan?"


"Kalo jadi, insya allah besok atau nggak lusa, Mas, mulai bekerja," jawab Satria membuat Herman mengangguk paham.


Mobil yang ditumpangi mereka kini telah sampai di sebuah gedung kantor berlantai dua yang tak cukup besar tapi luas. Mereka semua turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kantor tersebut.


"Yang lain tunggu disini saja. Aku sama Taryo saja yang masuk bertemu dengan atasan kita. Nggak enak kita bareng-bareng masuk kedalam," ucap Herman setelah mereka berada di lobi.


Teman-teman yang lain mengangguk setuju dan memilih rehat sejenak di lobi kantor. Sebagian memilih keluar untuk merokok karena ruang lobi tak terlalu besar sehingga membuat keadaan semakin sempit.


Tok! Tok! Ceklek!


"Permisi, Pak." Satria masuk diikuti Herman dan Taryo dibelakangnya.


Seorang pria paruh baya mengangkat kepalanya dan melihat mereka masuk kedalam ruangannya. "Ya?"


"Oh, mari silahkan duduk." Pria paruh baya tersebut memerintahkan tamunya dengan ramah untuk duduk di sofa yang telah disediakan di ruangan tersebut. Sedangkan Satria pamit undur diri kembali keluar.


"Yang lain kemana? Bukankah kalian datang kesini dengan tim kalian?" tanya pria tersebut.


"Mereka ada didepan, Pak." Herman menjawab.


"Oh gitu. Nama kalian siapa?"


"Saya Taryo, Pak."


"Saya Herman."


"Ok, nama saya Aji Sanja Irawan, panggil saja Pak Sanja. Kalian sudah tahu 'kan mengapa saya memanggil kalian kesini lewat sahabat saya, Denis?"


Herman dan Taryo mengangguk. "Tentu, Pak."


"Kalian sudah pada makan, 'kan?" tanya Pak Sanja.


"Sudah, Pak. Sebelum kita datang kesini."


"Baiklah, bapak akan sedikit memberikan informasi kepada kalian soal proyek ini. Semoga kita bisa bekerja sama." Pak Sanja memulai obrolan kepada Herman dan Taryo mengenai pembangunan proyek yang akan mereka jalani nanti.


...~~~...


"Nah, ini mess kalian," ujar Satria saat mereka semua telah sampai di sebuah rumah seperti layaknya kost-kostan berbentuk L. Terdapat ada enam kamar mess dan tiga kamar mandi luar yang akan ditinggali oleh para penghuni yang berada dari luar daerah. Setiap kamar hanya memiliki enam kasur lantai yang telah disediakan. Itu berarti satu kamar hanya diisi oleh enam orang saja setiap kamar.


"Yasudah, kita bagi saja tiap enam orang dalam satu kamar," titah Taryo saat mengecek satu-persatu kamar mess.

__ADS_1


Dua kelompok Herman dan Taryo dibagi memenuhi kamar mess. Herman dan Taryo memilih bagian kamar terakhir yang otomatis akan satu kamar dengan penghuni lain yang bukan dari kelompoknya. Semuanya masuk kedalam kamar mess mereka, meletakkan barang-barang sambil berbaring sejenak.


"Kelompok lain sudah pada datang?" tanya Herman pada Satria setelah memasuki kamar mess dan meletakkan barangnya di samping ranjang yang sudah ia pilih.


"Kemungkinan besok mereka akan tiba. Katanya ada kendala soal kendaraan yang membuat mereka terlambat datang kesini," jawab Satria.


Kemudian Satria mengecek jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore. "Sudah jam empat nih, saya mau balik dulu. Kalo ada apa-apa, kalian bisa telepon saya. Rumah saya tidak jauh kok dari mess ini."


"Oh, sudah mau pulang? Kalo gitu terimakasih ya sudah temani kami kesini," ucap Taryo.


"Sama-sama, kalo gitu aku pulang dulu ya."


"Ya, hati-hati!"


Setelah Satria keluar dari kamar, hanya tinggal Herman dan Taryo berdua didalam kamar. Taryo sibuk menggeledah kopernya sedangkan Herman sibuk bermain ponsel di tempat tidur.


"Kamu nggak mau mandi, Her?" tegur Taryo yang sudah mengeluarkan handuk dan meletakkannya di bahunya.


"Nanti setelah aku kabari dulu istriku," jawab Herman.


"Lah, kirain sudah dari tadi pas sampe kesini kamu kabarin keluargamu. Ternyata belom toh." Taryo telah lebih dulu mengabari istrinya jika ia telah sampai di Kalimantan dengan selamat tadi siang. Dan ia pikir Herman juga sama seperti dirinya karena saat makan siang, Taryo melihat Herman sibuk memegang ponsel sedari tadi.


"Halo, assalamualaikum!" sapa Herman setelah sambungannya diangkat.


"Waalaikumsalam. Bapak sudah sampai?"


"Sudah, Bu. Ini sekarang bapak lagi di mess beristirahat dengan yang lain."


"Oh gitu. Sudah makan?"


"Sudah tadi siang. Anak-anak gimana? Arham sama Citra nggak nyariin bapak?"


Terdengar helaan napas dari Yani. "Kedua anakmu itu menangis ditinggal olehmu, Pak. Mereka menangis terus karena kamu perginya nggak pamit sama mereka."


"Terus mereka kemana? Bapak mau ngomong sama mereka."


"Mereka lagi pergi makan bakso, Pak. Tadi ibu suruh Nadia untuk belanjakan mereka bakso supaya tidak nangis lagi."


"Oh gitu, yasudah nanti malam bapak hubungi lagi dan bicara sama mereka."


"Iya, bapak jaga kesehatan disana. Jaga pola makannya."


"Iya, kalo gitu bapak tutup dulu ya. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Tut!


Herman melempar ponselnya ke ranjang dan segera menyusul Taryo untuk mandi. Badannya sedari tadi terasa lengket setelah seharian berada di luar terkena panasnya cuaca matahari.


Ting!


Herman mengurungkan langkahnya keluar saat mendengar notifikasi dari ponselnya.


[Di Kalimantan mana abang tinggal?]


Satu pesan dari seseorang langsung membuat Herman tersenyum gembira sehingga melupakan niatnya untuk pergi mandi.


...~~~...


**Ide lagi mentok. Segini dulu ya aku update untuk kalian. Insyaallah akan langsung ke konflik utama nantinya.

__ADS_1


Jangan lupa dukung guys**!!


__ADS_2