Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku

Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku
Herman Mendapat Lampu Hijau (S2)


__ADS_3

Herman memarkirkan mobil truk yang dikendarainya lalu mulai menurunkan bak dibelakang berisi tanah ke jalan yang akan dilakukan proses pembuatan jalan tol. Kemudian mobil truk tersebut pergi mengambil tanah kembali ke tempat lain. Tugas Herman ialah sebagai supir truk pengangkut elemen pasir, tanah, dan semen yang akan dibawakan ke tempat proyek. Memang cukup mudah untuk dilakukannya karena semua tugas sudah dibagi-bagi oleh atasan.


Sudah dua bulan Herman dan kawan-kawannya bekerja di Kalimantan berusaha membangun proyek tersebut bersama regu-regu lain. Herman tidak tahu berapa orang yang bekerja didalam pembangunan proyek tersebut. Akan tetapi, jumlahnya begitu banyak dari perkiraan sebelumnya.


Herman melirik jam ditangannya yang sekarang sudah menunjukkan pukul 11.16 siang. Sebentar lagi akan masuk waktu shalat Dzuhur dan makan siang. Dirinya harus cepat mengantarkan muatan tanah satu kali lagi lalu segera beristirahat di pos dan mencari tempat makan bersama teman-temannya. Atau jika mereka tidak ada yang mau bergerak/mager, Herman akan memesannya lewat aplikasi gojek.


...~~~...


"Mau makan disini atau cari tempat makan?" tanya Herman kepada rekan-rekan timnya setelah mereka sampai di pos sebagai tempat berteduh bagi mereka.


"Pesan saja kali ya? Aku malas cari tempat makan lagi," ucap Anto sambil mengibas-ibaskan buku bekas––yang entah dapat darimana, ke wajahnya.


"Dekat sini saja, lagian cuma makan doang. Nggak usah cari makan sampai ke tempat jauh," balas salah satu yang lain.


"Begini saja, kita pesan saja kalo kalian pengen makan makanan yang lain. Terserah kalian mau makan apa," tukas Herman.


Semuanya mengangguk setuju dan langsung mengeluarkan ponsel memesan layanan g*ab food. Sebagian orang yang belum mengerti tentang cara pemakaian aplikasi hijau tersebut atau memori mereka tak cukup, meminta tolong kepada temannya untuk memesankan juga.


"Kamu beli dimana itu, Yo?" tanya Herman melihat Taryo sudah bawa kantong kresek berisi makanan.


"Didepan sana, barusan gue pesan tadi," balas Taryo dan duduk disamping Muhlis dan mulai makan terlebih dahulu.


Drrtt! Drrtt!


Herman merogoh saku celana, mengambil ponselnya yang baru saja bergetar.


Nana


[Lagi istirahat makan siang?]


Herman tersenyum melihat Nana mengirimkan pesan terhadapnya. Baru kali ini Nana memulai obrolan dengan akun palsunya di aplikasi biru. Biasanya hanya Herman yang memulai obrolan mencari topik agar Nana nyaman mengobrol dengannya walaupun hanya sekedar di pesan teks saja. Lelaki itu belum berani mengajak Nana berbicara lewat telepon, takut Nana akan mengetahui suaranya dan berakibat wanita itu akan curiga hingga menjauhinya.


^^^[Iya nih, kita semua lagi istirahat. Kamu sendiri ngapain? Sudah makan siang?]^^^


Nana


[Lagi rebahan saja di kost. Alhamdulillah sudah makan tadi.]


^^^[Sendirian di kost?]^^^

__ADS_1


Herman tahu jika Nana ditinggal sendirian di kost disaat Nizam dan Dana pergi. Intensitas kabar yang selalu mereka bicarakan selama dua bulan ini membuat Herman tahu jam berapa Dana dan Nizam pulang dan aktivitas apa saja yang dilakukan Nana selain ikut suaminya pergi bekerja.


Nana


[Iya, tapi sebentar lagi anakku pulang kok dari sekolah.]


^^^[Ohh, kapan-kapan kita boleh ketemuan nggak?]^^^


"Nih, makanan kalian," sentak Badri dengan memberikan kantong kresek satu-persatu kepada temannya yang baru saja diantar beberapa gojek.


Karena perutnya sedari tadi lapar, Herman menyimpan ponselnya lalu membuka makanannya siap untuk makan. Akan tetapi, ia tetap menunggu balasan dari Nana sekaligus ingin mengetahui apakah Nana akan menyetujui ajakannya untuk bertemu. Namun, setelah Herman selesai makan dan mulai siap untuk bekerja, Nana sama sekali belum membalas pesannya.


...~~~...


Di tempat lain, Nana sedang menyiapkan makan siang untuk Nizam yang baru saja pulang dari sekolah. Nana meletakkan nasi dan lauk pauk di lantai dan membiarkan bocah itu mengambil sendiri apa yang dia suka.


"Papa mana, Ma?" tanya Nizam.


"Belum datang, paling selesai shalat Dzuhur dia baru balik," jawab Nana.


Tak berselang lama, Dana pun datang di jam ia istirahat makan siang. Kost dan tempat kerjanya memang berdekatan sehingga memudahkan laki-laki itu pulang dengan jalan kaki. Lagipula Dana tak perlu lagi harus mencari makanan diluar dan boros uang hanya untuk makannya setiap hari. Karena istrinya ikut, Dana menyerahkan seluruh gajinya kepada Nana untuk mengurus segala keperluan masak dan bahan dapur.


Nizam mengangguk. "Tadi pagi ada kerja bakti dulu sebelum mulai belajar. Makanya Nizam agak telat pulangnya."


Dana hanya ber'ohria dan mulai menyantap makan siangnya. "Kamu sudah makan, Na?" tanyanya pada sang istri.


"Sudah tadi," jawabnya lalu mulai membuka ponselnya.


Bara Harahap


[Ohh, kapan-kapan kita boleh ketemuan?]


Balasan dari pesan Bara membuat Nana terdiam. Sudah pasti jawabannya adalah tidak, karena Nana tahu kodratnya sebagai wanita bersuami bertemu dengan laki-laki lain itu tak boleh. Apalagi ini adalah orang asing yang baru saja dikenalnya. Nana akan langsung menolak ajakan tersebut.


[Maaf, Mas. Nggak bisa, soalnya aku sudah bersuami dan tidak mau bertemu dengan orang yang baru dikenal lewat sosmed.]


Nana melempar ponsel kearah kasur dan menyalakan televisi yang sedari tadi mati.


Drrtt! Drrtt!

__ADS_1


Nana menoleh kearah ponselnya yang bergetar.


Bara Harahap


[Oh iya, aku paham kok. Tapi jika seumpama aku dekat didaerah situ, kita boleh kenalan lebih dekat, 'kan?]


Bara Harahap


[Tenang saja, aku tidak ingin berniat jahat kok mengajak kamu ketemuan. Cuma hanya ingin tahu dan kenal lebih dekat saja, nggak lebih. Lagipula kita berdua sama-sama sudah berkeluarga, bukan?]


^^^[Jangan deh, Mas. Soalnya aku juga takut-takut bertemu sama orang asing yang baru dikenal.]^^^


Bara Harahap


[Tenang saja, aku nggak bakal berniat jahat kok. Kamu boleh ajak suami kamu atau orang lain untuk menemani kamu ketemuan sama aku. Nanti jika aku ada waktu, aku akan berkesempatan kesana jalan-jalan sekaligus ingin ketemuan sama kamu.]


^^^[Dilihat saja nanti, Mas.]^^^


Nana menghela napas dan menyimpan kembali ponselnya itu. Pria bernama Bara tersebut membuat Nana takut sekaligus penasaran bagaimana orangnya. Walaupun hanya melihat dari fotonya saja, Nana seperti penasaran dengan sosok pria tersebut.


Namun, tentunya Nana harus berpikir seribu kali untuk menerima ajakan tersebut. Selain karena Bara itu orang asing, Nana tak ingin Dana mengetahui tentang pria bernama Bara ini. Selain karena suaminya kini menjadi posesif, kini Dana telah membatasi gerak-geriknya disini. Jika Nana ingin berpergian harus melapor dulu kepada Dana dan ingin melakukan apa disana. Jika seandainya Nana menerima tawaran tersebut dan meminta suaminya menemaninya, tentunya Dana akan langsung menolak keinginannya untuk bertemu dengan Bara.


Nana berharap semoga Bara hanya main-main saja untuk bertemu dengannya dan melupakan ajakan tersebut. Ia tak ingin mencari masalah dengan bertemu pria itu tanpa sepengetahuan suaminya.


Namun, Nana tak mengetahui jika Herman telah menyusun rencana setelah mendapatkan lampu hijau dari Nana. Ia akan berpikir bagaimana ia akan ke Kalimantan Selatan untuk bertemu dengan Nana dan bersilahturahim dengan wanita yang sempat menjadi istri keduanya itu.




**Apakah ceritanya makin membosankan?



Maaf ya, seberusaha mungkin aku akan cepat menyelesaikan cerita ini setelah konflik cerita ini selesai.



Yuk, beri dukungan untuk cerita ini**!!

__ADS_1


__ADS_2