Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku

Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku
Pengakuan Muhlis


__ADS_3

...Jangan lupa tekan tombol like dan tinggalkan komentar kalian pada cerita ini. Berilah tanggapan untuk cerita ini supaya penulis semangat untuk rajin update tiap hari !...


...---...


"Begini ... aku ingin mengakui sebuah kejujuran tentang pernikahan Nana dan Herman," ucap Muhlis membuat semuanya menatapnya menyeringit bingung. Herman dan Nana menoleh ke belakang saat mendengar suara Muhlis dan melihatnya yang kini duduk di samping Dana. Keduanya tak percaya telah kedatangan Muhlis ke sini. Mereka berdua tidak menyadari keberadaannya karena Nana dan Herman terus menatap ke depan tanpa menoleh ke belakang.


"Maksudnya, Nak?" tanya Pak Hasan.


Muhlis menatap kedua pelaku yang sedang disidang dengan raut wajah sedikit bersalah. Sekarang sudah saatnya ia mengakui kesalahannya yang sudah ikut campur dalam masalah mereka. Tak ada yang perlu lagi ditutupi ataupun menutup mata seolah tak mengetahui persoalan Nana dan Herman. Muhlis sudah mempertimbangkan masalah ini dari kemarin saat berita keduanya sudah menyebar.


Saat Muhlis mengetahui berita tersebut, tentu membuat ia merasa terkejut dan mengira siapa yang telah membongkar hubungan mereka. Bukankah mereka sudah mengakhiri hubungan tersebut? Lalu mengapa berita itu sudah terendus?


Saat mendengar penjelasan istrinya setelah mendengar gosip dari orang-orang, Muhlis tak percaya jika Herman sendiri yang membongkar rahasia tersebut kepada teman-temannya. Untuk meyakinkan dirinya, Muhlis menanyakan berita tersebut terhadap Anto yang menjadi saksi kejadian tersebut dan menyuruhnya menceritakan cerita selengkapnya.


Setelah mengetahui hal tersebut Muhlis merasa geram. Rupanya Nana dan Herman masih berhubungan sampai sekarang. Muhlis tak habis pikir dengan pikiran mereka yang terus melanjutkan hubungan terlarang mereka. Bukankah ia sudah menjelaskan semuanya pada Herman? Mengapa mereka berdua masih berhubungan jika tindakan yang selama ini mereka lakukan itu adalah salah? Ingin menanyakan langsung pada mereka, tapi ia mengurungkan niatnya itu hingga menunggu hari yang tepat.


Dan disinilah ia berada menjadi saksi saat pernikahan keduanya. Ia sudah siap menanggung resiko saat sudah membongkar hubungan mereka, sekalipun harus menjadi bahan omongan orang-orang.


Muhlis menatap Dana sembari menunjukkan raut wajah bersalah. "Aku minta maaf terlebih dulu padamu, Dan. Aku sudah bertindak bodoh hingga ikut campur dalam masalah mereka."


Dana diam tak menyahut ucapan Muhlis. Hatinya masih merasa sesak mengetahui kabar perselingkuhan istrinya. Namun, ia sedikit penasaran dengan apa yang akan diungkapkan Muhlis pada saat ini.


Muhlis mengalihkan atensinya. "Begini, Pak, saya yang menjadi wali saksi di pernikahan mereka pada saat itu," ucap Muhlis yakin.


Pengakuan Muhlis sontak membuat orang-orang disana terkejut, termasuk Herman dan Nana. Para keluarga merasa tak percaya jika Muhlis juga terlibat dalam urusan pernikahan Nana dan Herman hingga menjadi wali pernikahan mereka.


Herman dan Nana pun juga sama. Akan tetapi yang membuat mereka terkejut adalah dengan keberanian Muhlis yang mengaku dihadapan keluarga. Setahu keduanya, Muhlis pernah bilang untuk tidak melibatkan dirinya jika suatu saat semuanya telah terbongkar. Lalu mengapa Muhlis tiba-tiba mau mengakui hal tersebut hari ini?


"Kamu serius, Lis?" tanya Tantenya Yani--Bu Desi.


"Serius, Tante."


"Mengapa kamu mau menjadi wali saksi pernikahan mereka?" tanya Pak Hasan.

__ADS_1


"Maaf, Pak, pada saat itu aku sedang membutuhkan uang untuk membayar hutang. Temanku sudah mendesakku untuk segera membayar hutangku pada saat itu. Kemudian Herman datang dan menyuruhku untuk menjadi wali pernikahan.


Awalnya aku menolak tegas tawarannya tersebut walaupun Herman menawarkan akan melunasi hutangku. Tapi sekali lagi karena desakan hutang, dengan terpaksa aku menerima tawaran Herman dan menjadi wali Nana di pernikahan mereka," jawab Muhlis jujur.


Semua orang terdiam mendengar penjelasan Muhlis. Mereka bingung harus merespon bagaimana karena Muhlis pada saat itu sedang dalam desakan.


"Maaf, Pak, jika saya menyela pembicaraan. Saya mau tanya dulu dengan Pak Muhlis terlebih dahulu," ucap ustadz Nico menginterupsi. "Pak Muhlis apakah sudah tahu hukum saat menjadi wali Nana?"


"Waktu itu saya belum tahu, Pak, saat menjadi wali mereka. Namun, satu tahun berjalannya hubungan mereka, aku baru mengetahui kalau pernikahan mereka tetap tidak sah jika wali perempuan harus ayahnya jika beliau masih hidup."


"Benar, pernikahan tetap tak bisa berjalan atau tak sah jika wali tersebut bukan dari ayah kandung si perempuan itu sendiri. Jika sudah tidak ada ayahnya, bisa diwakilkan oleh kakeknya lalu buyutnya lalu saudara laki-lakinya sesuai urutan wali nasab. Dan setahu saya bapak kandung Nana masih hidup dan sehat-sehat saja, bukan?" jelas ustadz Nico.


Semua orang mengangguk mengiyakan. Ayahnya Nana memang masih ada sampai sekarang tapi tak ikut bergabung dalam sidang tersebut. Alasan mereka tak mengajak beliau atau memberitahu peristiwa ini karena mereka takut akan terjadi sesuatu yang tidak-tidak jika ayah Nana yang sudah tua mengetahui kelakuan putrinya.


"Jika pernikahan yang mereka jalani bukan dari wali resminya yang masih hidup, maka pernikahan mereka dianggap bathil. Pernikahan bathil adalah pernikahan yang tidak memenuhi salah satu dari rukun pernikahan."


"Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya maka pernikahannya batil, maka pernikahannya batil, maka pernikahannya batil. Jika laki-laki (suami) itu menyetubuhi perempuan itu (istrinya) maka perempuan itu berhak atas mahar dengan apa yang suami menjadikan halal ******** perempuan itu. (HR at-Tirmidzi)."


"Namun, percuma saja saya menjelaskan soal pernikahan bathil terhadap kalian jika awalnya saja sudah perbuatan terlarang yang menikahi perempuan yang masih berstatus istri orang. Bagaimanapun pernikahan yang Nana dan Herman ini sudah memasuki tindakan yang haram," jelas ustadz Nico.


Nana dan Herman sama-sama menelan air saliva. Tentu saja mereka sudah tahu jika hubungan yang mereka jalani ini sudah salah setelah diberitahu Muhlis. Namun, bukannya berhenti tetapi terus melanjutkan perbuatan sampai sekarang. Dan mereka sepertinya enggan untuk mengakui di depan pihak keluarga.


"Maaf, ustad, aku dan Nana tidak tahu jika pernikahan kami ini haram hukumnya," jawab Herman berbohong. Untuk sementara ini biarlah ia berbohong dulu. Ia tidak mau di sudutkan terus-menerus. Jika ia jujur telah mengetahui bahwa pernikahan mereka haram, tentunya keluarga sangat amat kecewa terhadapnya, walaupun mereka sudah kecewa terlebih dahulu telah berselingkuh dengan Nana.


Sedangkan dibelakang, Muhlis mengangkat sebelah alisnya setelah mendengar pengakuan Herman yang menurutnya berbohong. Disaat seperti ini Herman benar-benar tak memilih jujur soal apa yang ia dan Herman bicarakan pada malam itu. Namun, Muhlis sengaja membiarkannya dan tak menyanggah ucapan Herman. Biarlah sang maha kuasa yang bertindak akan kelakuan mereka. Dirinya sudah cukup mengakui kejujurannya dan tak ingin ikut campur lagi.


"Apakah kamu serius?" tanya ustadz Nico.


"Iya," ucap Herman berusaha tenang.


"Sumpah demi apa?"


Herman menelan saliva merasa gugup. Soal menyumpah-nyumpah seperti ini tak bisa membuatnya berkutik. Namun, sepertinya Herman tak punya pilihan lain.

__ADS_1


"Su-sumpah demi apapun."


Ustadz Nico menatap mata Herman yang terlihat seperti tak yakin dimatanya. Namun, ia memilih bungkam dan membiarkannya. Jika Herman sudah bersumpah, hanya urusan dia dan Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi jika Herman berbohong.


"Kalo saya boleh tahu, mengapa kalian menikah disaat status kalian ini kasih memiliki pasangan?" tanya ustadz Nico.


Herman menatap sekilas Nana yang masih menunduk, lalu menatap ke arah ustadz muda tersebut. "Saya hanya merasa kasihan dengan Nana, ustadz. Nana jarang mendapatkan perhatian dari suaminya yang jauh dari perantauan. Alasan saya menikahi Nana karena ingin membantunya menggantikan peran Dana sebagai suaminya."


"Termasuk memberikannya nafkah batin dan nafkah lahir?"


Herman mengangguk kaku. "I-iya, ustadz."


"Ya Allah ...." Semuanya geleng-geleng kepala merasa geram, kesal, sakit secara bersamaan.


Yani yang sedari tadi diam terus menangis dalam diam selama persidangan itu berlangsung langsung lemas setelah mendengar pengakuan suaminya. Hatinya begitu sakit jika Herman telah membagi tubuhnya dengan sepupunya. Terbayang bagaimana mereka telah memadu kasih selama ini hingga membuatnya hatinya bertambah hancur berkeping-keping.


Herman melirik ke arah Yani yang kini terus mengeluarkan air matanya. Perasaan bersalah menghinggapi dirinya kala melihat istrinya menangis. Ingin sekali ia mendekat dan menjelaskan semuanya terhadap Yani. Namun, ia akan menunggu pembicaraan ini selesai lalu berbicara dengan Yani secara empat mata.


Tak jauh berbeda dengan Dana. Lelaki kurus berotot tersebut mendongakkan kepala menahan jalur laju air matanya yang akan keluar. Ia tak menyangka jika jalan pergi merantau di Kalimantan demi keluarga kecilnya membuat istrinya mencari perhatian dari orang lain.


Dana yang tak ingin berlama-lama di rumah orangtuanya Yani memilih bangkit lalu keluar dari rumah tersebut tanpa memperdulikan panggilan orang-orang. Hatinya merasa sakit dan kecewa dengan perilaku istrinya. Berusaha keras ia menjaga kesetiaan di sana demi sang istri, tapi istrinya sendirilah yang telah menghancurkan kesetiaan terhadapnya.


Nana yang melihat suaminya pergi memilih berdiri lalu menyusul suaminya yang pulang ke rumah. Sepertinya ia akan berusaha menjelaskan semuanya terhadap suaminya.


Semua orang diam dan bingung harus membicarakan apalagi saat ini. Semuanya sudah jelas dari mulut Herman sendiri bahwa mereka ini terlibat hubungan terlarang.


"Nak, aku minta tolong untuk tidak membocorkan masalah ini terhadap orang lain. Kami takut para warga akan bertindak bar-bar hingga menghukum kedua tersangka ini dengan cara mereka," ucap Pak Hasan pada ustadz Nico.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti kok dengan apa yang harus aku lakukan."


"Untuk sementara biarlah dari pihak kedua belah pihak keluarga yang mendiskusikan dan mengambil keputusan terlebih dahulu dalam langkah apa yang akan mereka pilih. Kita tak perlu ikut campur dalam urusan mereka dan menghalangi keputusan mereka nantinya," ucap Pak Hasan membuat Herman cemas lalu menatap Yani.


---

__ADS_1


Typo bertebaran. Kalo ada salah dalam penjelasan di cerita ini tolong dikoreksi ya, kita sama-sama belajar.


__ADS_2