
Kabar berita hubungan Nana dan Herman menyeruak cepat di desa tempat mereka tinggali selama tiga hari ini. Teman-teman Herman langsung membeberkan rahasia tersebut dengan mengatakannya dari mulut ke mulut. Namun, sedikit banyak yang mempercayai berita tersebut. Mereka yang mengenal baik Nana dan Herman tentu menolak percaya jika mereka tengah menjalin hubungan. Namun, para teman-teman Herman yang menjadi saksi pada malam itu meyakinkan mereka bahwa apa yang dikatakan mereka itu benar adanya serta bukti yang Herman sendiri perlihatkan.
Kabar tersebut sampai ke telinga Nana saat ia baru memeriksa ponselnya pagi ini yang kini berisik dari tadi. Nana merasa shock saat teman-teman kerjanya menanyakan soal status hubungannya dengan Herman di status WhatsApp.
[Na, emang benar kabar itu?]
[Kamu punya hubungan dengan suaminya Yani, Na?]
[Na, berita tersebut benar bukan sih kalo kamu menjadi istri keduanya Herman??
Dan masih ada lagi yang menanyakan soal kabar tersebut pada Nana hingga membuat wanita itu bingung sekaligus cemas.
'Kenapa mereka bisa pada tahu?' batin Nana merasa cemas. Ia takut jika kabar ini sampai diketahui oleh keluarga dan Dana.
Kemudian Nana mencoba menghubungi Herman terlebih dahulu tanpa menggubris pertanyaan dari teman-temannya. Nana harus memastikan apakah Herman sudah tahu tentang kabar ini atau belum. Akan tetapi panggilan tersebut tak digubris oleh Herman. Sudah beberapa kali ia menelpon tapi Herman sama sekali tak mengangkatnya.
'Bang Herman kemana sih?! Kok di telepon nggak diangkat-angkat?' batin Nana merasa kesal.
"Na!"
Nana terlonjak saat Dana memanggilnya di depan pintu kamar.
"I-iya, Pah?" Nana merasa cemas saat ini. Melihat pandangan suaminya yang tak biasa membuat perasaannya tak enak.
"Kita di panggil ke rumah depan," ucap Dana datar. Rumah depan adalah rumah orangtua Yani, sekaligus kerabat Nana yang bertetanggaan.
"Mau ngapain kita kesana?" tanya Nana bingung.
__ADS_1
"Pokoknya kamu ikut saja, nggak usah banyak tanya."
Setelah mengatakan hal tersebut, Dana meninggalkan istrinya terdiam di atas ranjang. Nana merasa bingung dengan sikap suaminya pagi ini. Tak biasanya Dana bicara seperti itu terhadapnya tanpa adanya kesalahan diantara mereka. Sikap dan bicara Dana seperti ini seperti saat mereka sedang dalam pertengkaran-pertengkaran. Namun, karena kemarin mereka tampak baik-baik saja, lalu kenapa Dana tiba-tiba menjadi dingin terhadap istrinya?
'Apakah Bang Dana sudah mengetahui kabar burung tentangku dan Bang Herman?' batin Nana. Wanita itu segera turun dari ranjang dengan cepat lalu bergegas mengganti pakaiannya bersiap menyusul suaminya.
Sedangkan di tempat lain, Herman pun sama seperti Nana yang juga merasa cemas dan frustasi akibat kebodohannya. Akibat pengaruh alkohol dan rasa cemburunya, menyebabkan otaknya tak bisa berpikir panjang hingga mengakui hubungannya dengan Nana dihadapan teman-temannya lalu membuat berita tersebut menyebar ke desa ini. Seharusnya ia tak meminum alkohol pada malam itu dan bisa mengontrol emosinya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi. Herman harus menanggung resiko yang akan terjadi setelahnya.
Herman celingukan mencari keberadaan istrinya saat ini. Tadi setelah anak-anak berangkat sekolah, ia tak melihat Yani kembali. Entah kemana perginya Yani saat ia mengantar anak-anak turun ke bawah.
Kemarin saja Yani terlihat menjadi sosok yang pendiam tak seperti biasanya saat ia mengobrol dengan istrinya itu. Yani akan menjawab seperlunya saja dengan mengatakan 'ya, tidak, atau tidak tau' hingga Herman tak banyak bicara lagi padanya. Bahkan saat anak-anak mengajak ibunya berbicara, Yani hanya menanggapinya seperlunya saja tanpa bertanya apa-apa lagi hingga menyuruh anak-anak untuk tak mengganggunya terlebih dahulu. Melihat itu Herman tentu merasa heran dengan perubahan sikap istrinya.
'Apakah Yani sudah tahu?' batin Herman mendadak cemas. Lelaki itu menggelengkan kepala dan berdoa supaya Yani belum mengetahui kabar burung yang tersebar.
Namun, Herman harus mematahkan harapannya itu karena Yani dikenal dekat dengan para tetangga. Sudah pasti Yani akan mengetahui berita tentangnya dari tetangga-tetangga yang akan membocorkannya pada Yani.
Sebuah nada dering di ponselnya menghentikan kegiatan Herman mencari keberadaan Yani. Ia melihat ponselnya dan nama Nana tertera di sana.
Lagi-lagi Herman mengutuki dirinya sendiri akibat kebodohannya. Pasti Nana juga sedang berada dalam masalah karena dirinya. Nana pasti sudah mengetahuinya dari teman-teman kerjanya di balai desa yang telah memberitahukan beritanya.
Sengaja Herman tak mengangkat panggilan Nana walaupun wanita selingkuhannya itu berulang kali menelponnya. Dia takut Nana memberondongkan pertanyaan mengapa bisa rahasia mereka terbongkar. Jika ia mengatakan sebenarnya pada Nana bahwa dirinyalah yang sudah membongkar hubungan mereka terhadap teman-temannya, pasti Nana akan mengatai dirinya bodoh dan memaki-maki dirinya.
"Pak."
Herman mendongak saat Yani memanggilnya di depan pintu rumah.
"Di panggil ke rumah sebelah," sambung Yani.
__ADS_1
Herman menyeringit bingung, sama seperti Nana tadi. "Di panggil sama siapa?"
"Sama Pak Hasan." Pak Hasan merupakan tetangga yang mereka hormati setelah kematian ayah kandung Yani beberapa bulan yang lalu.
"Oh tunggu sebentar, aku pakai baju dulu." Herman mengambil bajunya lalu memakainya kemudian menyusul Yani.
Saat Herman tiba di rumah mertuanya, Herman merasa heran saat ada beberapa sanak saudara Yani yang berkumpul di depan pintu masuk. Herman tak menegurnya dan langsung masuk kedalam.
Setelah ia masuk, tubuhnya tiba-tiba terdiam di depan pintu. Tubuhnya merasa membeku saat melihat kehadiran orang-orang yang hadir di dalam rumah mertuanya. Ada Ibunya Nana, Tantenya Yani, Dana, Yani, keponakan Yani dan suaminya yang beberapa bulan lalu menikah, dan ada Nana yang berhadapan dengan Pak Hasan.
"Bisa kesini, Nak." Ucapan Pak Hasan menyentak kesadaran Herman untuk menyuruhnya untuk duduk dihadapannya di samping Nana. Herman menurut dan duduk dihadapan beliau.
"Bapak sebagai wakil kalian menangani kasus ini ingin bertanya terlebih dulu terhadap kalian," ucap Pak Hasan memulai. Suasana tiba-tiba hening. Pintu rumah di tutup dari luar agar orang-orang yang lewat tak mengetahui atau mendengar keadaan di dalam yang sedang disidang.
"Apakah berita simpang siur belakangan ini benar adanya?" tanya Pak Hasan menatap keduanya.
Nana dan Herman sama-sama menelan air ludahnya merasa gugup. Benar saja, keluarganya sudah mengetahui kabar ini hingga membuat mereka mengadakan pertemuan seperti ini. Kepala Nana dan Herman sama-sama menunduk tak berani menatap Pak Hasan yang merupakan orang tegas di kampung ini. Keringat telah membasahi dahi Herman saat ini. Herman dan Nana begitu bingung harus menjawab pertanyaan Pak Hasan. Kalo mereka berbohong, apakah semuanya akan percaya?
"Tolong di jawab, Nak." Pak Hasan kembali menginterupsi.
Keduanya masih diam belum mau membuka mulut mereka. Dana yang melihat itu tentu saja merasa geram karena keduanya seperti tak mau mengakui.
"Jawab!! Apakah benar soal kalian yang memiliki hubungan dibelakang kami?!" seru Dana lantang.
"Sabar, Nak. Kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin ya," ucap Pak Hasan menenangkan Dana.
"Berita yang kami dengar bahwa Herman telah mengakui kalau kalian ini mempunyai hubungan. Bahkan Herman sendiri yang sudah memperlihatkan bukti-buktinya terhadap teman-temannya. Apakah itu benar?" sentak Tantenya Yani yang berada di samping Yani.
__ADS_1
Nana membelalakkan mata terkejut. Ia menoleh ke arah samping dan menatap Herman meminta penjelasan. Sedangkan Herman sendiri tetap terus menunduk tak sedikitpun menoleh atau mengangkat kepalanya.
"Jadi kami tanya sekali pada kalian. Apakah berita itu benar kalau kalian ini sudah menikah?"