
Herman POV.
7 bulan telah berlalu semenjak aku dan Yani telah memulai hubungan baru. Sejujurnya bukan Yani yang merasa seperti itu tetapi aku sendiri yang berusaha untuk memulai semuanya. Sedangkan Yani hanya menganggap biasa saja dan seolah hubungan kami baik-baik saja. Namun, ada satu hal yang menjadi aib untukku, yaitu kabar hubunganku dan Nana yang telah tersebar luas di daerah ini.
Ya, semenjak Nana telah memutuskan ikut bersama Dana ke Kalimantan, para ibu-ibu disini sudah mulai bergosip tentangku dan Nana. Apalagi diperkuat dengan Nana yang ikut suaminya dan ada seseorang yang telah membocorkan, memperkuat bukti tersebut sehingga Nana disebut sebagai pelakor didalam rumah tangga sepupunya sendiri. Aku tidak begitu pusing dengan para ibu-ibu tersebut karena aku memang tak berbaur dengan mereka karena aku laki-laki. Namun, yang membuat diriku tak nyaman adalah saat pandangan mereka yang sulit diartikan. Akan tetapi aku mengabaikan hal tersebut karena memang ini adalah resiko yang harus kudapat akibat bermain api.
Aku menyeruput kopi setelah makan lalu memperhatikan orang berlalu lalang depan rumah dari teras. Siang ini aku memilih pulang terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu yang diperintahkan oleh atasanku yang aku simpan di rumah sekaligus makan siang. Yani sedang berada di rumah sebelah mengobrol dengan kerabatnya. Citra dan Arham juga berada disana bermain dengan keponakan mereka, sedangkan Nadia masih di sekolah. Hanya aku sendiri yang berada di rumah.
Sebuah motor berhenti di depan rumah dan salah satu diantara mereka turun dari motor tersebut. Aku mengenal dua orang yang baru saja datang dengan sebuah motor. Siapa lagi jika anak sulungku, Nadia dan satu lagi teman sekolahnya yang selalu berangkat pulang bersama.
"Tumben cepat pulangnya, Nad?" tanyaku saat Nadia telah berada di tangga naik ke rumah. Biasanya Nadia akan pulang jam 3 sore. Tetapi ini masih siang dan mungkin jam 12an.
"Guru-guru lagi pada rapat, Pak. Jadi kami semua dipersilahkan pulang lebih cepat," jawab Nadia sambil melepaskan sepatunya lalu menghampiriku dan mencium takzim tangan ayahnya.
"Kamu sudah makan?" tanyaku.
"Belum."
"Yasudah, kamu makan dulu sana," titahku.
"Ibu mana?" tanya Nadia.
"Ada di rumah sebelah," jawabku.
Nadia masuk kedalam dan mungkin ia akan makan dibelakang. Aku meminum kopiku lagi sehingga air yang berwarna hitam pekat di gelas telah habis olehku. Aku baru teringat sesuatu saat Nadia pulang bersama temannya.
"Nad! Kamu nggak berangkat atau pulang sekolah lagi sama Dinda?" tanyaku menoleh kedalam dan melihat Nadia makan sambil duduk di lantai beralaskan karpet, menonton televisi.
Nadia mengedikkan bahu. "Nggak," jawabnya singkat.
"Kenapa? Bukannya dulu kalian selalu bersama pulang pergi bareng? Kok sekarang Bapak lihat kalian sudah nggak bareng lagi?" tanyaku heran. Dulu waktu mereka mendaftar SMK bersama, keduanya selalu terlihat akrab dan bersama pulang-pergi dari sekolah baru mereka. Karena aku belum membelikan Nadia motor, anak sulungku itu akan menumpang kepada Dinda dan selalu berangkat bersama. Lalu mengapa akhir-akhir aku melihat mereka tak lagi bersama?
"Nggak tahu. Dinda pulang duluan tadi sama temannya yang lain," jawab Nadia.
Aku hanya ber'ohria saja, tak bertanya lagi lalu berbalik menatap lurus kearah jalan. Tidak biasanya Dinda dan Nadia tak lagi bersama. Apakah keduanya sedang bertengkar? Apakah ada masalah diantara mereka?
Ah, itu tidak apa-apa. Sudah biasa jika anak-anak remaja diusia mereka sedang terlibat perkelahian atau kesalahpahaman kecil. Nanti juga keduanya akan kembali membaik seperti biasa.
__ADS_1
Berbicara tentang Dinda, aku jadi teringat dengan ibunya. Wanita yang kukira istri keduaku. Bagaimana kabarnya sekarang disana ya?
Sudah lama aku tak mendengar kabarnya dan apa saja yang tengah dilakukannya. Semua sosial medianya tak bisa diakses karena Nana sudah bergerak cepat memblokirku. Dari aplikasi hijau sampai ke aplikasi biru semuanya telah diblokir olehnya sehingga aku tak dapat menghubunginya.
Aku memang tak ingin berbuat kesalahan lagi dengan berselingkuh dibelakang istriku dan telah berjanji padanya jika aku tak akan lagi berhubungan dengan Nana. Namun, aku hanya penasaran saja bagaimana kabarnya dia disana dan apa kesibukannya.
Apakah aku rindu dengan Nana? Entahlah, aku tak tahu mengungkapkan perasaanku tentang Nana. Mungkin bagi para pembaca tahu apakah aku ini rindu dengan Nana atau tidak?
Kalau dibilang aku punya perasaan terhadap Nana, jujur aku mengakuinya walaupun sedikit. Bagaimana tidak, hubungan yang terjalin selama dua tahun tersebut sudah banyak kita lalui, walaupun kita berdua hanya sebatas hubungan ranjang saja dan kemesraan lainnya. Dan itu dengan tujuan awal saling menolong.
Namun, bukankah jika sepasang manusia yang berbeda jenis dan dalam keadaan saling membutuhkan akan menimbulkan benih-benih sesuatu didalam hati mereka? Mungkin saja iya dan mungkin saja tidak? Entahlah.
Hubunganku dengan Nana ternyata menimbulkan sesuatu didalam diriku sehingga aku berbuat ceroboh sehingga semuanya terbongkar. Aku begitu bodoh membocorkan hubunganku dengan Nana hanya karena aku cemburu melihat dia bersama dengan suaminya. Tidak masuk akal, bukan?
Namun, itulah yang timbul di perasaanku saat itu. Bukankah orang mabuk akan terlihat jujur dengan apa yang akan diucapkannya? Bukankah itu pertanda aku cemburu dan memiliki perasaan terhadap Nana?
Bagaimanapun perasaanku terhadapnya, aku akan tetap mempertahankan janjiku untuk tak berhubungan lagi dengan Nana. Jika bisa, seandainya Nana balik lagi ke sini, aku tetap tak ingin bertemu dengannya dan akan selalu menjaga hati istriku. Itulah janjiku!
...~~~...
"Muhlis!" seruku saat melihat dia turun tangga dari rumahnya.
"Oi!"
Aku menghampirinya yang kini berdiri di pijakan anak tangga. "Kau lihat dompetku yang tertinggal di tempat proyek tadi sore?"
"Dompet?" Muhlis berpikir sejenak lalu menatapku. "Oh iya, ada-ada. Tunggu sebentar, aku ambilkan dulu." Muhlis naik kembali ke rumahnya, sedangkan aku masuk ke bawah rumah dan duduk di kursi menunggu Muhlis.
"Herman?"
"Aku disini!" sahutku menjawab di bawah rumah.
Muhlis turun dan menghampiriku. "Nih!" ujarnya sambil menyerahkan dompetku berwarna coklat tua.
"Thanks!"
Muhlis duduk di satu kursi yang kosong lalu mengeluarkan bungkus rokok. Ia menyalakan rokok tersebut dan menyerahkan sebungkus rokok tadi terhadapku.
__ADS_1
"Rokok?" tawarnya.
Aku tak menjawab tetapi langsung mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Ku sesap rasa batang rokok tersebut sehingga masuk kedalam paru-paru, lalu menghembuskannya sehingga memunculkan asap kimia dari dalam mulutku.
"Gimana kabar Nana, Lis?" tanyaku to the point.
Muhlis tersentak dengan pertanyaanku. "Ngapain kamu nanya-nanyain Nana?"
"Ya aku cuma pengen tahu saja gimana kabar dan kehidupan dia disana," jawabku jujur.
"Kenapa tak tanya langsung saja sama orangnya? Kan dia itu mantan istrimu," ucapnya dengan sedikit menekan di perkataan mantan istri.
"Semua komunikasi diblokir oleh Nana. Dari aplikasi hijau dan biru pun dia memblokirku," jawabku lalu kembali menyesap rokok.
"Baguslah, itu tandanya Nana nggak mau lagi berhubungan denganmu, Her. Hubungan kalian itu sudah menyakiti banyak pihak tahu gak. Untungnya keluarga Dana dan ibunya Yani tidak ada yang tahu jika kau dan Nana berselingkuh," jelasnya.
"Keluarga Dana belum tahu?"
"Hmm, menurutku Dana nggak mau membawa keluarganya untuk ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Sama halnya seperti Yani yang tak memberitahukan kelakuanmu kepada Bu Ranti."
Bu Ranti adalah ibu mertuaku yang saat ini tinggal di Kalimantan bersama putri sulungnya, kakak ipar ku. Beliau tinggal di Kalimantan karena kebun cengkeh miliknya sedang panen disana. Aku kurang tahu kapan ibu mertuaku datang lagi kesini. Semenjak ayah mertua meninggal, Bu Ranti sepertinya lebih memilih tinggal disana bersama putri sulung dan keluarganya.
Aku pernah bertanya kepada Yani tentang apakah ia memberitahu hubunganku dengan Nana kepada ibunya. Yani menjawab tidak dan tak ingin membawa ibunya ikut dalam urusan masalahnya, sama seperti Dana. Bahkan kakaknya pun tak diberitahukan olehnya.
Aku juga tidak tahu bagaimana reaksi ibu mertuaku jika mengetahui aku telah berselingkuh dengan Nana, kerabat dari keluarganya. Setahuku ibu mertuaku itu orangnya penyabar dan baik. Namun, aku tidak tahu reaksi beliau jika mengetahui kabar putrinya disakiti olehku. Apakah ia akan marah?
"Lagian ya, kau ngapain nanya-nanya Nana? Bukankah kau pernah bilang kalau kau akan berubah dan tak lagi berhubungan dengan Nana? Seharusnya kau mikir, Her, gimana nanti perasaan Yani jika kamu masih menanyakan soal Nana," ucap Muhlis menasehatiku.
"Nggak begitu, Lis. Aku cuma penasaran saja. Pengen tahu saja gitu kabarnya." Aku tidak salah 'kan jika ingin mengetahui kabar Nana?
"Kabarnya baik dan sehat wal'afiat," jawabnya ketus lalu menghisap kembali rokoknya.
Aku tak bertanya lagi dan memilih mengganti pembahasan lain. Aku salah jika menanyakan kabar Nana kepada Muhlis. Sepertinya aku harus cari cara lain agar aku bisa mengetahui kabar Nana nantinya.
**Guys, saran buat balikin mood untuk menulis dong. Sudah 3 hari aku nggak nulis lagi karena mood lagi down. Ide udah ada buat chapter berikutnya tapi jari seakan malas untuk ngetik. Kadang ide di otak suka mentok. Kira-kira ngembalikin mood apa ya?
...Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya**!...
__ADS_1