
Allah Akbar! Allah Akbar!
Suara azan Maghrib terdengar nyaring dari arah masjid menandakan sudah waktunya berbuka puasa, bagi yang menjalankan. Semua orang berbondong-bondong mengambil air minum, membaca doa, lalu meminumnya sehingga tenggorokan mereka yang terasa kering karena menahan haus, kini telah segar setelah air masuk kedalam tenggorokan mereka.
Sama halnya dengan Herman dan keluarganya telah berbuka puasa bersama dengan makanan ringan. Yani telah membuat pisang ijo dan teh manis sebagai bahan pembuka puasa untuk mereka. Dan tambahan gorengan yang dibeli Herman saat perjalanannya pulang ke rumah. Sudah dua minggu puasa mereka jalani dan bersyukur tak ada bolong sama sekali.
"Pelan-pelan kalo makan!" titah Yani melihat anak bungsunya makan pisang ijo dengan lahap dan cepat.
"Tau nih! Tuh pisang nggak bakal lari kok sampai terburu-buru begitu," tambah Nadia.
Arham menyengir. "Abis Arham lapar tau."
Yani menggelengkan kepala melihat tingkah polos putranya. Anaknya itu berniat ingin menjalankan puasa full tahun ini dari puasa sebelum-sebelumnya yang hanya setengah hari, atau kadang suka bolong puasanya. Terbukti sudah 13 hari ia menjalani puasa tanpa adanya kendala sama sekali. Namun, tetap saja kadang anak itu suka mengeluh merasa lapar dan haus saat di siang hari. Akan tetapi, Yani selalu memberi semangat kepada putranya untuk menahannya sampai azan Maghrib tiba.
"Abis makan baru pada shalat, ya? Nanti biar bapak kamu yang jadi imam," titah Yani kepada anak-anaknya.
Mereka semua mengangguk dan segera menghabiskan makanannya. Setelah beberapa menit, semuanya makanan telah habis dan mereka bersiap untuk shalat berjamaah di rumah dengan Herman menjadi imam.
Beberapa menit kemudian...
"Mau makan sekarang atau selesai tarawih baru pada makan?" tanya Herman setelah mereka baru menyelesaikan shalat Maghrib.
"Setelah shalat tarawih deh, Pak. Perut Citra sedikit nggak enak kalau langsung makan nasi," ujar Citra.
"Yasudah, jangan pada kemana-mana. Setelah ini nanti kita pada shalat tarawih di mesjid," titah Herman sambil melipat sarung dan sajadah.
"Iya, Pak."
Setelah membereskan alat shalat mereka, anak-anak langsung sibuk dengan kegiatan masing-masing. Nadia dan Arham sibuk dengan bermain game di ponsel, Citra membantu Yani melipat pakaian, sedangkan Herman sibuk dengan ponselnya juga. Namun, kali ini Herman sedang membuka aplikasi biru karena ada pemberitahuan dari aplikasi tersebut.
Sebuah senyum terbit di bibirnya kala melihat ada pesan masuk dari seseorang.
Nana
[Siapa ini?]
__ADS_1
Ya, pesan itu dari Nana dan baru saja terkirim di ponsel Herman.
Lalu bukankah Nana telah memblokir semua komunikasi dengan Herman? Mengapa Herman bisa menghubungi Nana?
Jawabannya adalah Herman memakai akun kloning yang sempat ia buat waktu itu. Herman nekad mengirimkan pesan kepada Nana lewat messenger lewat akun palsunya itu. Ya walaupun laki-laki itu harus menunggu selama seminggu sehingga Nana baru saja membalas pesannya saat ini.
[Bukan siapa-siapa. Aku cuma mau nambah pertemanan saja di aplikasi ini.]
Balas Herman yang tak ingin Nana mengetahui soal akunnya ini. Bisa dipastikan jika Nana mengetahui kalau akun tersebut adalah Herman, wanita itu tak akan membalas pesannya dan memblokir akunnya lagi, tak mau berhubungan dengannya.
Nana
[Oh.]
[Terimakasih telah balas pesanku. Semoga kita menjadi teman yang baik.]
Lima menit Herman menunggu balasan dari Nana, tetapi, tak dibalas sama sekali olehnya.
Ting!
Nana
Singkat, padat, dan jelas. Tipikal Nana sekali jika membalas pesan dari orang asing.
[Kamu tinggal dimana?]
Lagi-lagi Herman menunggu balasan hingga lama sekali. Herman berkali-kali keluar masuk dari aplikasi mengecek pesannya yang saat ini belum dibalas oleh Nana. Padahal terlihat status Nana menyala, pertanda sedang online. Namun, mengapa wanita belum membalas pesannya? pikir Herman.
"Ayo, Pak. Kita tarawih," sentak Arham kepada bapaknya.
Herman meletakkan ponselnya dan keluar mengambil air wudhu dibawah, diikuti oleh yang lain yang wudhu dari rumah. Ini diajarkan Yani kepada mereka sebelum saat pergi ke mesjid.
Rasulullah SAW. bersabda :
مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مَنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
__ADS_1
“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat.” (HR. Muslim no. 666)
Yani mengajarkan amalan-amalan kecil kepada keluarganya supaya mereka tahu sekecil apapun yang dilakukan untuk kebaikan, maka, manfaatnya besar pula yang didapat.
Setelah semuanya telah bersiap dengan baju koko–untuk laki-laki dan mukena–untuk perempuan, keluarga Herman berjalan keluar dari halaman rumah mereka setelah Yani mengunci pintu rumah. Sudah banyak orang-orang di jalan berangkat ingin pergi shalat tarawih berjamaah. Di desa, budaya keagamaan masih kental hingga sekarang. Tak peduli jika keadaan semakin modern sehingga terkadang banyak orang yang malas untuk pergi ke masjid. Tak peduli jika pemerintah melarang pengeras suara dibesarkan disaat masuk jam waktu shalat. Justru disini, pengeras suara diperbesar suaranya sehingga batas maksimal. Bahkan tadarus dan ceramah pun tetap diperbesar suaranya.
Saat Herman dan Yani berjalan, keduanya melihat Dana yang baru saja keluar dari lorong bersama anak-anaknya yang telah rapi pergi bersama shalat tarawih. Arham yang melihat Nizam disana, langsung bergegas menghampiri temannya dan berjalan bersama mereka. Namun, yang membuat Herman bingung, tak ada Nana diantara mereka saat keluar. Saat melewati lorong tempat dimana jalan masuk ke rumah Dana, Herman menoleh dan tak mendapati Nana yang menyusul ikut shalat tarawih.
"Ibumu mana, Zam?" tanya Arham kepada Nizam. Pertanyaan yang diajukan Arham sanggup didengar oleh Herman dan Yani dibelakang mereka.
"Di rumah," jawab Nizam.
"Ibumu nggak pergi tarawih?"
"Nggak, lagi sakit katanya."
Arham mengangguk. "Tapi kenapa aku tidak pernah melihat ibumu pergi shalat tarawih di masjid?"
"Mama shalat di rumah, Ar."
"Emang boleh shalat tarawih di rumah?" tanya Arham polos.
"Boleh kata mama. Iya 'kan, Pah?" tanya Nizam menoleh kearah papanya.
"Iya, shalat tarawih boleh dilakukan di rumah," jawab Dana.
Arham mengangguk mengetahui tentang hal itu. Dana menoleh ke belakang dan mendapati Herman dan Yani dibelakangnya walaupun berjarak. Mata Herman dan Dana sempat bertemu beberapa saat, kemudian Dana langsung menoleh ke depan tanpa menyapa keduanya. Apalagi saat Dana melihat Herman. Laki-laki yang sempat menikah dengan istrinya walaupun pernikahan itu tak sah.
Tentunya Dana masih belum bisa melupakan perbuatan Nana dan Herman dibelakangnya. Masih ada bara dendam di hatinya kala ia mengingat hal itu. Apalagi saat ia baru saja bertatapan dengan Herman, membuat rasa amarah di hatinya tiba-tiba meluap begitu saja. Namun, Dana segera menstabilkan hatinya dengan menghirup napas sedalam-dalamnya agar emosinya segera mereda.
Ya, Herman dan Dana baru saja bertemu lagi. Saat Dana pulang pun, ia belum melihat atau berpapasan dengan Herman. Jika pun mereka berpapasan nanti, mereka tak akan bertegur sapa dan menganggap kalau keduanya ini sama-sama orang asing yang tak pernah dikenalnya. Padahal yang harus melakukan itu adalah Dana yang menjadi korban keegoisan Herman dan Nana. Namun, entah kenapa Herman juga seperti ikut memusuhi Dana setelah perselingkuhan dengan Nana terbongkar. Belum lagi Herman belum meminta maaf pada Dana setelah kejadian itu.
...~~~...
Hadist aku ambil satu dari google karena mengingat ajaran ceramah yang aku dapat dari masjid. Sebenarnya masih ada lagi hadits soal keutamaan wudhu dirumah dan pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Tetapi, karena takut terlalu banyak hadits yang dicantumkan, aku memilih satu saja yang bikin kalian cepat mengerti.
__ADS_1
Oh ya, ceritanya mau aku langsung ke konfliknya, dimana nanti lompat saat Herman telah mendapatkan izin ke Kalimantan supaya cerita bab ini nggak terlalu panjang-panjang amat.
Tunggu terus kelanjutan cerita ini ya guys!!