
Aku mengambil ponsel yang tersimpan di depan televisi lalu menyimpannya di saku celana. Sesuai janjiku dengan Muhlis, malam ini aku akan datang ke rumahnya untuk membicarakan hal penting terkait hubunganku dan Nana. Entah maksud apa tiba-tiba dia membahas hal ini, tapi aku juga penasaran dengan apa yang akan ia katakan.
"Mau ke mana, Pak?" tanya Yani yang sedang melipat pakaian di depan televisi.
"Mau ke rumah Muhlis."
"Akhir-akhir ini bapak selalu pergi ke rumah Muhlis."
"Ya karena dia teman bapak, satu tempat kerjaan. Aku dan Muhlis 'kan akrab karena kita hampir tiap hari selalu ketemu," jawabku dusta. Padahal aku sama Muhlis jarang terlibat obrolan semenjak ia terlibat pernikahanku dan Nana. Bukan aku yang menghindar, tapi Muhlis yang menghindar dariku. Setiap aku mencoba mendekatinya, ia selalu punya alasan untuk menjauh dariku.
Walaupun Muhlis seolah menjauhiku, tapi aku tetap berusaha mendekatinya supaya pertemanan kami tak putus hanya gara-gara pernikahan keduaku. Tapi aku juga terus selalu mengawasi Muhlis. Hanya dia yang tahu soal rahasia hubunganku dan Nana. Jika seandainya rahasiaku terbongkar, pasti aku langsung menuduh Muhlis karena dialah satu-satunya orang yang mempunyai kunci rahasiaku. Jika Nana yang membongkar, jelas terlihat tak mungkin, karena dia pasti akan terkena dampaknya.
"Menginap lagi tidak disana? Kalo tidak, aku kunci pintunya," ucap Yani.
"Tidak, cuma mau ngobrol sebentar kok sama dia," balasku lalu pergi keluar rumah.
Karena aku tak memiliki motor, aku memutuskan untuk berjalan kaki ke rumahnya yang cukup berjarak dari rumahku.
...\=\=\=...
"Kali ini apa yang kau mau katakan soal hubunganku dan Nana, Lis?" tanyaku setelah kami berdua duduk dibawah rumahnya. Istri dan anak-anaknya berada di atas sedang menyaksikan acara televisi.
"Aku mau tanya dulu soal pengetahuanmu tentang ilmu agama. Apakah kamu tahu hukumnya menikahi perempuan yang masih berstatus suami orang?" tanyanya dengan intonasi tenang dan datar.
__ADS_1
Aku menyeringit bingung, tak tahu soal pembahasan ini. Hukum soal menikahi perempuan yang sudah bersuami memang aku tidak tahu. Tapi jika kedua mempelai ingin melaksanakan pernikahan dan tahu soal syarat-syarat pernikahan agama, bukankah itu sah-sah saja?
"Tidak, emang ada apa soal hal itu?" tanyaku tak mengerti.
Muhlis menghela napas kasar lalu menatapku dengan pandangan yang sangat serius. "Kau tahu, jika ada laki-laki menikahi perempuan yang statusnya masih jelas istri orang lain, maka pernikahannya tak sah dan haram hukumnya."
Deg~
Penjelasan dari Muhlis membuatku membeku seketika. Ja-jadi ... pernikahan dan Nana tak sah dan haram hukumnya? Ini seriusan?!
"Kau serius, Lis?! Kau tahu darimana hukum tersebut?"
"Dari ustad Nico, aku juga kebetulan cari-cari di internet soal hukum menikahi perempuan yang masih bersuami. Dan apa yang diucapkan ustad Nico sama dengan apa yang ada internet. Hampir semua mengatakan jika hukumnya tak sah dan haram jika dilakukan."
"Ck! Justru karena umur ustad Nico masih muda, tapi dia tahu dan paham soal mendalami agama! Tak seperti kita yang dangkal soal ilmu agama kita sendiri!" ujar Muhlis kesal terhadapku.
Aku masih tak percaya akan hal ini. Itu berarti pernikahanku dan Nana tak sah. Dan kami berdua telah melakukan dosa besar akibat pernikahan keduaku ini. Lalu hubunganku selama ini dengan Nana berarti termasuk zina? Lalu untuk apa tujuanku menikahi dirinya jika kita hanya ingin menghindari perbuatan zina?! Arrrggghhh!!! Sialan!!!
"Kalo kamu tidak percaya, kamu bisa tanya sama ustad yang lain atau cari di google sampai ke youtube-youtube bila perlu jika kamu masih tidak percaya," sambung Muhlis.
"Jadi nafkah batin yang selalu aku berikan pada Nana––"
"Itu zina, Her. Kalian sudah berbuat zina selama ini," potong Muhlis hingga membuatku terdiam.
__ADS_1
"Apalagi soal aku yang menjadi wali untuk pernikahan kalian. Aku baru tahu jika pernikahan kalian jalani tetap tidak sah jika bukan wali dari ayah kandung mempelai wanita itu sendiri. Kau tahu 'kan jika ayahnya Nana masih hidup, dan kita tetap melaksanakan pernikahan itu dan membohongi Pak penghulu," jelas Muhlis hingga membuatku bertambah pusing. Apalagi ini? Sebegitu bodoh kah aku tak memahami syarat-syarat pernikahan?
"Aku mau tanya sama kamu, Her. Kok bisa pak penghulu menikahkan kalian dengan status Nana yang masih bersuami?"
Aku menelan ludah mendengar pertanyaan Muhlis. Sebenarnya aku memang sengaja tak memberitahu rencanaku padanya soal bagaimana aku memalsukan identitas Nana hingga membuat kami bisa menikah. Menurutku tak perlu Muhlis tahu mendetail soal ini. Bisa-bisa ia mengatakan kami gila karena sudah melakukan berbagai cara hanya untuk kami menikah.
Namun, jika sudah di desak seperti ini, mau tak mau aku harus jawab jujur padanya. Dan benar, setelah aku menjelaskan semuanya, Muhlis menatapku tak percaya sembari geleng-geleng kepala.
"Ya Allah, Her ... dimana otakmu ini, hah?! Bisa-bisanya kau melakukan hal itu hanya untuk menikah dengan Nana?! Dimana otakmu?! Gila betul kau ini!!!" Benar 'kan, dia sudah mengataiku gila.
"Seandainya tidak ada istri dan anakku di rumah, sudah dari tadi aku berteriak-teriak emosi padamu, Her!" desis Muhlis menahan suara ucapannya agar tak terdengar orang diatas rumahnya.
"Kau tahu, hidupku seraya tak tenang setelah ikut campur bagian dari rencanamu. Hatiku merasa tak tenang setelah aku kembali dari kota bersama kalian, tapi aku tak tahu jelas karena apa itu. Dan setelah mencari tahu, aku mengerti kalo pokok permasalahan ini ada pada kejadian waktu itu."
"Aku minta tolong sebagai keluarga, Her. Tolong kamu hentikan hubungan kalian sebelum rahasia kalian terbongkar. Kau tahu 'kan dampak apa jika hubungan kalian terbongkar?"
Ya, aku tahu dampak jika semuanya akan terbongkar. Pihak keluarga pasti akan kecewa dan Yani akan merasa sedih jika tahu akan hal ini. Belum lagi aku dan Nana akan menjadi bahan buah bibir di kampung ini jika beritanya sudah melebar luas.
Muhlis mendekat ke arahku dan menepuk pundakku. "Sebagai pihak keluarga, aku tak mau jika orang yang sudah kuanggap sebagai sodara akan jatuh ke lembah dosa kenistaan. Maka dari itu sebelum asap tercium oleh orang-orang, sebisa mungkin kamu mematikan asal sumber apinya. Karena tak ada asap, pasti tak ada api. Jika api menyebar kemana-mana, kalian tak bisa berbuat apa-apa selain berusaha memadamkannya. Itupun kalo kamu berhasil. Kamu tahu maksudku, bukan?"
Ya, aku tahu maksudnya. Jika api sudah menyebar kemana-mana, sama halnya dengan rahasiaku yang sudah terbongkar pada orang-orang, sebisa mungkin kami berusaha menjelaskannya maksud perbuatan kami pada mereka. Namun, jika tak berhasil maka kita hanya pasrah dengan keadaan dan menerima omongan-omongan pedas dari mereka yang menyudutkanku dan Nana.
Lalu apakah aku harus berhenti melanjutkan hubunganku dengan Nana? Lalu bagaimana tanggapan Nana sendiri?
__ADS_1
---