Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku

Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku
Yani dan Dana Saling Bertukar Pikiran


__ADS_3

Yani berbaring di ranjang kamar termenung memikirkan masalah yang menimpa rumah tangganya. Ia masih memikirkan langkah apa yang harus ia ambil untuk menyelesaikan semuanya. Sebenarnya Yani cukup mudah untuk mengambil keputusan. Pilih Cerai atau Bertahan? Hanya dua pilihan yang ada dipikiran Yani saat ini.


Jika ia bercerai dengan Herman, bagaimana nasib ketiga anak mereka. Apakah Yani sanggup menjadi ibu sekaligus ayah untuk ketiga anaknya seandainya jika ia memilih bercerai?


Yani bukanlah orang pendidikan seperti Nana yang sudah lulus S1 di sekolah tinggi perkuliahan. Yani hanya seorang lulusan SMA saja tanpa punya pengalaman pekerjaan. Cukup sulit untuk mencari pekerjaan yang hanya mengandalkan ijazah SMA.


Kehidupan di kota dan desa jelas jauh berbeda. Disini orang-orang hanya mengandalkan hasil dari lahan pertanian mereka. Kemudian ada juga yang membangun usaha kecil-kecilan di rumah mereka atau di pasar. Jika Yani ingin membuat usaha dari kue atau makanan, dibutuhkan kendaraan dan dana untuk membuka usaha tersebut.


Yani tak mempunyai uang sebanyak itu untuk membuka usaha, apalagi jika harus membeli kendaraan yang Yani sendiri tak pandai naik motor. Mengandalkan uang suaminya saja hanya cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari keluarga dan sekolah anak-anak. Walaupun kadang-kadang Herman mendapatkan bonus besar dari pekerjaannya. Namun, itu saja tak cukup bagi Yani. Ia harus memikirkan masa depan ketiga anaknya jika ia dan Herman berpisah nantinya.


Jika ia memilih bertahan, apakah ia mampu menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Herman? Apakah ia bisa membuang bayang-bayang hubungan Herman dan Nana? Apakah ia sanggup?


Yani menghela napas memikirkan itu semua hingga membuat kepalanya berdenyut-denyut. Ia tak mungkin mengambil keputusan secepatnya karena harus memikirkan ketiga anaknya yang masih membutuhkan orang tua yang lengkap.


Drrtt! Drrtt!


Yani menoleh setelah mendengar bunyi yang berasal dari ponselnya di meja kecil samping ranjang. Ia mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa yang mengirim pesan padanya.


Dana


[Mbak, bisa kita ketemu?]


Yani menyeringit bingung setelah membaca pesan dari suaminya Nana.


'Dana mintalah ketemuan? Untuk apa?' batin Yani bertanya-tanya.


^^^[Ada apa, Dan?]^^^


Dana


[Ada yang mau aku bicarakan sama, Mbak. Soal rumah tanggaku dan Mbak.]


Yani terdiam dan bingung. Apakah Dana mengajaknya untuk berdiskusi tentang Nana dan Herman? pikir Yani.


Dana


[Aku hanya ingin kita bertukar pikiran soal masalah ini, Mbak. Aku tidak mau mengambil langkah yang terburu-buru hingga menyakiti banyak pihak. Terutama anak-anak.]


Pesan lanjutan dari Dana membuat Yani langsung menyetujui ajakan Dana. Ia juga sama seperti Dana sekaligus penasaran dengan langkah apa yang akan diambil Dana setelah mengetahui perbuatan istrinya.


^^^[Ketemu di mana?]^^^


Dana


[Di mana bagus tempat yang aman membicarakan hal ini tanpa diketahui orang-orang?]

__ADS_1


Yani berpikir sejenak. Ia juga bingung mencari lokasi privasi untuk berdua mengobrol. Tak mungkin Yani mengajak Dana ke tempat-tempat sepi. Orang nanti berpikir jika mereka tengah berbuat mesum di tempat lokasi tersebut.


^^^[Gimana kalo di rumahnya Bunda Desi? Kita bicarakan di rumahnya dan meminta Bunda untuk memberi kami waktu privasi untuk kita.]^^^


Dana


[Janganlah, Mbak. Gak enak kita ngobrol di rumah orang. Belum tentu Bunda mengizinkan kita untuk mengobrol berdua.]


^^^[Aku akan ke sana dan meminta izin dulu sama Bunda. Tenang saja, Bunda orangnya gak kepo dan ikut campur kok masalah orang lain. Mbak bisa jamin kalo di sana bakalan aman.]^^^


^^^[Lagian kalau bukan di rumah Bunda, di mana lagi tempat yang bagus?]^^^


Dana


[Yaudah deh, Mbak. Gak apa-apa. Nanti kabari saja jika Bunda sudah memberi izin.]


^^^[Ok.]^^^


Yani bangkit, turun dari ranjang, mengambil ikat rambut lalu memakainya. Sore ini ia akan berdiskusi pada Dana tentang masalah rumah tangga mereka yang sedang kacau. Jika seandainya Dana sudah mengambil keputusan, maka ia juga harus segera mengambil keputusan untuk rumah tangganya.


Yani keluar dari kamar dan melihat anak-anak dan Herman sedang bermain di teras rumah. Arham dan sang ayah sedang sibuk membuat kerajinan yang dibuat dari botol plastik. Mereka membentuk sebuah bola besar yang di lem perekat supaya botol-botol tersebut saling menempel satu sama lain. Bukan cuma itu saja yang mereka buat. Nadia dan Citra membantu pekerjaan sekolah adik mereka dengan membuat pot-pot tanaman yang terbuat dari botol plastik.


Yani memandang sendu pada mereka. Melihat keakraban ayah dan anak-anak membuat ia harus berpikir ulang jika ingin bercerai dari Herman. Ada kebahagiaan anak-anak yang harus ia pikirkan. Ia tak boleh egois jika hanya memikirkan perasaan dirinya sendiri.


"Ibu mau kemana?" tanya Citra melihat ibunya keluar. Herman pun melirik kearah istrinya yang tengah berjalan ke arah tangga.


Herman hanya melihat saja tanpa bertanya apa yang akan istrinya itu lakukan rumah Bunda Desi. Ia mengerti jika Yani begitu tertekan dengan masalah rumah tangga mereka hingga memilih keluar rumah mencari kesibukan lain. Herman tak mencegah dan membiarkan saja Yani keluar demi ketenangan istrinya.


...\=\=\=...


Yani POV.


Aku menunggu Dana di lantai dua rumah Bunda Desi. Aku sudah mengirimkan pesan padanya jika Bunda Desi sudah mengizinkan lantai duanya dipakai kami untuk berdiskusi. Di lantai dua keadaan sudah sepi karena tempat ini hanya ditempati oleh anak-anak kerabat Bunda yang dititipkan dan sekolah disini. Bunda Desi dan keluarganya tinggal di bawah dan menjaga toko jualannya.


"Mbak."


Aku menoleh dan melihat Dana sudah muncul dibalik tangga. Ia menghampiriku lalu duduk di sampingku.


"Ini tidak apa-apa kalau rumah Bunda kita jadikan tempat pertemuan?" tanyanya.


"Tidak apa-apa, tadi aku sudah minta izin sama Bunda dan memberikan kita privasi untuk membahas masalah rumah tangga kita," jawabku.


"Jadi gimana, apa keputusanmu saat ini?" sambungku bertanya sekaligus penasaran dengan keputusan yang akan diambil oleh Dana.


Dana menghela napasnya lalu menoleh ke arahku. "Mbak sendiri gimana? Sudah mengambil keputusan?"

__ADS_1


"Ck, Kok kamu nanya balik? Seharusnya kamu jawab dulu pertanyaan Mbak tadi," balasku kesal.


"Hmm ... aku malah bimbang Mbak mengambil keputusan. Tadinya aku sudah berpikir untuk berpisah dari Nana dan membawa anak-anak."


"Tetapi aku sudah mendiskusikan dulu kepada ibu mertuaku soal apa langkah yang harus aku ambil kedepannya. Ada perasaan anak-anak yang harus aku pikirkan jika aku membawa mereka dan menjauhkannya dari ibunya."


Kebimbangan Dana sama yang ada dipikiranku. Kita tak boleh gegabah mengambil keputusan masalah ini. Ada perasaan anak-anak yang harus dipikirkan.


"Aku juga sama sepertimu, Dan. Aku juga memikirkan nasib ketiga anakku jika mereka berpisah dari ayahnya. Lalu bagaimana dengan nasibku yang akan menjadi janda nanti. Kau tahu 'kan aku tak memiliki pekerjaan, pengalaman ataupun usaha disini. Bagaimana bisa aku menghidupi ketiga anakku jika selama ini aku bergantung pada nafkah yang diberikan Bang Herman," jelasku padanya.


Inilah yang menjadi pertimbanganku. Jika aku berpisah dengan Bang Herman, aku harus mencari nafkah sendiri dan membiayai kehidupan anak-anak. Walaupun Bang Herman tetap mengirimkan nafkah anak-anak jika seandainya aku dan dia berpisah, tetapi tetap saja terasa sulit mencari pendapatan di desa.


Aku hanya punya keahlian memasak saja. Begitu susah mencari uang hanya mengandalkan keahlianku itu di sini. Di desa banyak yang sepertiku yang ahli dalam memasak. Tak mungkin aku berjualan kue ataupun masakan jika disini saja orang-orang pada tahu cara pembuatannya.


"Mbak nggak mau ke kota cari pekerjaan?" usul Dana.


Aku menghela napas. "Jika aku cari pekerjaan di kota, otomatis aku harus cari tempat tinggal dan mengurus kepindahan sekolah anak-anakku. Belum tentu juga aku mendapatkan pekerjaan yang bagus jika pengeluaran di sana saja melebihi dari kapasitas penghasilanku nanti."


Sempat terbersit untuk mencari pekerjaan di kota dan tinggal disana. Namun, aku memikirkan kembali soal pengeluaran jika aku dan anak-anak hidup di sana. Tidak mudah hidup di kota hanya mengandalkan keahlian memasak. Aku juga ragu jika aku membuka usaha disana. Apakah bisa menutupi pengeluaran atau sebaliknya.


"Apa sebaiknya aku mempertahankan rumah tanggaku dengan Nana ya, Mbak? Demi anak-anak?" tanya Dana meminta pendapatku.


"Aku tidak tahu, Dan. Itu semua ada di tanganmu sendiri. Kau yang menjalaninya dengan Nana jika kau tetap mempertahankannya," sahutku bijak. Aku tak ingin memberinya pendapat-pendapat lain yang membuat Dana semakin bimbang dengan keputusannya. Dia yang menjalaninya, bukan aku. Walaupun aku pun juga sama sepertinya yang bingung dengan keputusanku.


"Aku tak menyangka jika selama ini mereka berdua bermain belakang selama dua tahun. Sebegitu bodohkah kita sampai tidak tahu kecurangan mereka? Atau mereka-nya saja yang pandai menutupi?" ucap Dana lalu mendongakkan kepalanya.


Aku tahu bagaimana perasaannya karena kita sama-sama tersakiti. Kita berdua tak menyangka jika pasangan kami menjalin hubungan hingga nekad melakukan pernikahan kedua mereka secara diam-diam. Pikiran mereka benar-benar hanya dilandasi nafsu tak memikirkan hukum dan perasaan kami.


"Mbak tidak merasakan tentang hubungan mereka?"


Aku menggeleng. "Tidak, aku tidak berpikir macam-macam pada mereka karena aku begitu percaya pada keduanya. Kita disini sudah berkeluarga. Tak mungkin mereka menyakiti perasaan kita."


"Tapi itu hari Rani sempat memberitahuku soal Bang Herman yang pernah datang ke rumah Nana pada malam hari menurut kesaksian Yadi. Dan itu waktu orang-orang pada istirahat. Bahkan Rani bilang jika ia pernah melihat Herman keluar dari rumah Nana pagi-pagi buta."


"Itu hari aku sempat termakan dan membicarakan kejadian itu pada Bang Herman. Namun, jawaban dari Bang Herman membuatku percaya. Ia bilang ia ketiduran disana setelah mengobrol dengan Nana mengenai masalah pembangunan lantai dua di rumahmu," jelasku mengingat peristiwa waktu itu.


"Aku tak memikirkan apapun waktu itu dan sepenuhnya percaya pada mereka. Bahkan Bang Herman kadang selalu tak bermalam di rumah dan beralasan sering menginap di rumah temannya. Hampir tiap bulan ia menginap di rumah temannya beberapa kali waktu itu dan memberi kebebasan padanya karena aku percaya dengan suamiku. Tapi aku tidak menduga jika ternyata selama ini Bang Herman menginap di rumah Nana dan ... kau tahu apa yang mereka lakukan jika mereka berdua," sambungku tak mau mendetail hubungan mereka yang membuatku juga sakit hati.


Dana terdiam dan mengusap wajahnya secara kasar. "Lalu apa keputusan Mbak saat ini? Bertahan atau melepaskan Bang Herman?"


Aku menyandarkan punggungku di kursi dan menatap lurus ke arah depan. "Entahlah, aku pun juga bingung mengambil langkah apa yang harus diambil untuk masa depan rumah tanggaku."


Kami berdua sama-sama terdiam. Aku memikirkan ketiga anakku jika seandainya berpisah dari bapaknya. Apakah mereka bahagia atau tersika nantinya?


Dan mungkin Dana juga sama berpikiran sepertiku.

__ADS_1


Ayo guys, tinggalkan jejak kalian lagi! hehehe...


__ADS_2