
Memasuki bulan puasa, banyak orang-orang telah mempersiapkan dirinya menyambut bulan penuh rahmat tersebut. Harus siap menjalankan rasa menahan lapar, haus, emosi, dan ucapan di bulan suci ramadhan. Perbanyak ibadah dan meminta rahmat kepada sang maha kuasa agar puasa yang kita jalani nanti senantiasa menjadi amal ibadah kita.
Seperti hari ini, Herman mengantar Yani ke pasar untuk belanja keperluan bulan puasa yang jatuh pada hari esok. Terlihat telah banyak orang-orang yang berkerumun di pasar tak seperti biasanya. Mereka semua berbondong-bondong belanja membeli keperluan memasak mempersiapkan bulan puasa nanti.
"Sudah belum, Bu?" tanya Herman pada Yani. Pasalnya lelaki itu ingin cepat-cepat pulang karena pegal berjalan keliling terus-menerus dari pagi sambil membawa beberapa belanjaan ditangannya.
"Bentar lagi, Pak. Ini mau beli cendol dulu sama bumbu masakan pisang ijo," balas Yani yang kini mampir di salah satu gerai penjual bumbu masakan.
Setelah beberapa menit berkeliling, akhirnya Herman bernapas lega karena semua barang belanjaan telah terbeli. Dari mulai ikan, sayur-sayuran, bahan pokok menu buka puasa, sampai mukena dan baju koko baru buat anak-anak mereka yang sengaja Yani beli untuk dipakai saat shalat tarawih nanti.
"Sudah semua 'kan, Bu?" tanya Herman memastikan jika Yani tak lupa dengan belanjaannya.
Yani mengecek sejenak barang-barangnya lalu mengangguk kearah Herman. "Sudah semua, Pak."
Herman menjalankan mobilnya yang berwarna putih dan meninggalkan pasar yang masih tampak ramai di jam 10 pagi. Herman dan Yani terpaksa harus belanja di pasar yang bukan dari desanya karena jadwal pasar disana terbuka di hari tertentu saja, hari rabu. Tidak setiap hari pasar di desa selalu terbuka karena pedagangnya selalu berkeliling lagi ke pasar-pasar desa lain.
"Bu Ranti nggak kesini, Bu?" tanya Herman menanyakan ibu mertuanya yang masih berada di Kalimantan.
"Nggak tahu, Pak. Setelah bapak meninggal, ibu jadi stay terus disana. Mungkin kalo ada acara penting, dia baru datang kesini," jawab Yani. "Memangnya kenapa, Pak?"
"Nggak, ibumu 'kan sudah lama tidak datang kesini. Siapa tahu dia mau ramadhan dan lebaran disini, bukan?"
"Iya juga sih, Pak. Nanti sore ibu akan coba menelponnya."
Setelah beberapa menit perjalanan, Herman dan Yani akhirnya tiba di rumah lalu mengeluarkan barang belanjaannya mereka dari dalam mobil.
"Darimana, Tan?" sentak seseorang dibelakang Yani.
Yani menoleh. "Eh, kamu, Na. Ini abis dari pasar. Belanja buat bulan puasa besok."
"Lah, tante kenapa nggak kabarin Irna jika mau ke pasar? Kan Irna juga mau belanja buat puasa besok," protes Irna sedikit kesal.
"Hehe, maaf ya, Na. Tante lupa kasih tahu kamu," jawab Yani menyengir merasa bersalah.
"Yasudah, sini biar aku bantu bawa belanjaan tante," ucap Irna menghampiri Yani memegang beberapa kantong kresek besar yang lumayan berat.
"Terimakasih, Na."
Keduanya jalan menaiki tangga memasuki rumah Yani. Herman sudah lebih dulu naik membawakan beberapa belanjaan yang dianggapnya paling berat keatas rumah.
"Tante beli apaan saja? Kok kelihatannya banyak banget," ucap Irna memperhatikan barang belanjaan tantenya setelah meletakkannya di lantai dapur.
"Persediaan ikan, sayur, sama menu buka, terus mukena sama baju koko anak-anak. Oh ya, tante juga membeli lebih beberapa botol sirup. Nih buat kamu," jawab Yani lalu menyerahkan satu botol sirup rasa jeruk kepada Irna.
"Wah, terimakasih, Tan."
__ADS_1
"Bu, bapak pergi ke kantor dulu ya," sentak Herman yang baru saja kembali dari kamar.
"Bapak mau kerja? Bukannya kemarin perbaikan jalan di desa xxx sudah selesai diperbaiki?" tanya Yani.
"Nggak, bapak cuma mau mampir kesana bareng Muhlis. Pak Boss sama rekan-rekan yang lain lagi pada kumpul disana," jawab Herman.
"Oh gitu, terus bapak pulang jam berapa?"
"Mungkin sore. Soalnya yang lain lagi mau buat acara kecil untuk ulangtahun Pak Boss hari ini."
"Oh gitu, yasudah, Pak. Hati-hati di jalan."
"Ya!" Herman berlalu pergi sambil membawa kunci mobilnya berwarna putih. Mobil truknya masih tersimpan di depan rumahnya dan diliburkan untuk sementara waktu sampai ada panggilan proyek.
"Tante sudah memikirkan jawaban soal keputusan Om Herman yang mau pergi ke Kalimantan?" tanya Irna setelah melihat Herman pergi.
"Belum, tante belum memberi jawaban apapun kepada Om kamu. Lagipula Om kamu juga nggak meminta jawaban buru-buru dari tante karena waktu berangkatnya setelah lebaran nanti," jawab Yani.
...~~~...
Di kantor memang Herman merayakan ulangtahun bersama teman-temannya untuk Pak Denis. Perayaan yang mereka lakukan hanya membeli ikan, bumbu, dan nasi untuk makan-makan mereka. Rencananya mereka akan memasak ikan bakar untuk acara makan siang mereka. Dan semua itu ditraktir oleh Pak Denis sendiri.
"Bagaimana? Kenyang?" tanya Pak Denis kepada anak buahnya.
"Kenyang dong, Boss." Semua orang tersenyum senang sambil meraba perut mereka yang kekenyangan.
Semua disana terdiam lalu saling berpandangan. "Sudah, Pak," jawab salah satu diantara mereka.
"Bagaimana keputusan kalian?" tanya Pak Denis lagi.
"Kalo aku sih mau, Pak. Soalnya aku lagi butuh tambahan uang untuk biaya sekolah anak."
"Aku juga, Pak! Aku sudah ngomong sama istriku dan mengizinkannya."
"Aku gak bisa karena istriku lagi hamil 5 bulan."
Suara para anak buah Pak Denis saling bersahutan menjawab pertanyaan Bossnya. Banyak diantara mereka yang setuju untuk ikut. Adapula yang tak bisa ikut karena tak diberi izin oleh istri mereka dan juga ada kendala hal lain.
"Untuk tim Deden, karena ketuanya tak bisa ikut menerima job tersebut. Nanti jika ada yang mau ikut bisa digantikan dengan tim lain yang tak bisa ikut," ujar Pak Denis kepada rekan-rekan tim Pak Deden.
"Kalian sudah bicara dengan istri-istri kalian?" tanya Herman kepada rekan timnya.
"Kalo aku sudah dan diberi izin oleh istriku," jawab Badri.
"Kalo yang lain?"
__ADS_1
"Aku sudah diizinkan, Her. Cuma pesan dari istriku harus jaga iman saja disana dan kesehatan," jawab Anto.
"Aku juga disetujui."
"Saya nggak bisa karena istriku lagi hamil," ulang seseorang.
Herman menangkap ada tiga orang yang tak bisa ikut. Lalu ia menoleh kearah Muhlis. "Kalo kamu gimana, Lis?"
"Aku sudah tanya sama istriku, tapi masih belum diberi izin," jawab Muhlis.
"Jadi kamu nggak ikut dong, Lis?" tanya Badri.
Muhlis mengangkat bahu, acuh. "Entah, waktu yang diberikan sampai selesai lebaran, 'kan? Jadi masih ada waktu untuk diberi izin."
Semua langsung mengangguk mengerti.
"Kalo kau gimana, Her? Sudah diberi izin sama Yani?" tanya Muhlis.
Herman menelan saliva, terdiam sejenak. Sampai sekarang pun ia masih belum mendapat jawaban dari Yani soal perizinannya. Herman juga tak pernah membahas hal ini dengan Yani karena sedang memberi waktu untuk istrinya berpikir terlebih dahulu. Jika ia memaksa jawaban Yani, maka, istrinya akan berpikiran negatif mengapa ia begitu gigih untuk mendapatkan izinnya ke Kalimantan.
"Sudah, tapi katanya tunggu waktu sampai lebaran ini untuk berpikir," jawab Herman.
"Yah, kamu gimana sih, Her! Kalo seumpama kamu dilarang sama istrimu, kita-kita yang sudah mendapatkan izin bagaimana? Masa iya kita nggak jadi berangkat kesana," sentak yang lain yang disetujui oleh teman-temannya.
"Iya, aku tahu. Lagipula si Taryo belum mendapatkan izin dari istrinya. Seandainya dia dan aku nggak diberi izin, otomatis tidak ada yang pergi kesana karena ketuanya tak bisa pergi," jawab Herman. Tadi saat ia membakar ikan, ia sudah berbicara kepada Taryo menanyakan tentang keputusannya mengambil proyek tersebut. Dan Taryo bilang kalau ia belum mendapat izin untuk pergi kesana.
Rekan tim Herman pada sedikit murung mendengar penjelasan ketua mereka. Mereka berharap jika penghasilan yang didapat dari proyek jalan tol di Kalimantan berguna untuk keluarga mereka. Ada yang ingin biaya berobat keluarganya, untuk anaknya sekolah, dan ada yang ingin membuka usaha kecil-kecilan di rumah. Namun, jika ketua mereka tak diberi izin oleh istrinya, mereka tak bisa berbuat apapun selain pasrah menerima keputusan ketua mereka.
"Nanti aku berusaha bujuk istriku supaya kita bisa pergi kesana," ujar Herman yang melihat raut wajah teman-temannya.
...~~~...
Di sore harinya, Herman sedang dalam perjalanan pulang ke rumah setelah menikmati acara kecil-kecilan yang dilakukan di kantor. Setelah mereka makan siang dengan ikan bakar, semuanya memutuskan main kartu berhadiah, seperti judi begitu. Namun, hadiahnya bukan apa-apa, kok. Cuman sabun mandi saja sebagai stok cadangan di rumah, bukan uang.
Herman mampir terlebih dahulu ke sebuah warung saat menuju ke desanya. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering sehingga memutuskan untuk membeli air minum terlebih dahulu.
"Bu, beli ini satu." Herman menunjukkan satu botol yang dikeluarkan dari dalam kulkas lalu menyerahkan uang 10 ribu kepada penjual.
Setelah menerima kembaliannya, Herman berbalik dan hendak kembali ke mobilnya. Namun, langkahnya terhenti tatkala ada motor yang berhenti di samping mobilnya.
Tubuh Herman terdiam membeku saat melihat sosok yang mengendarai motor tersebut di samping mobilnya. Begitupun juga dengan orang yang berhenti didepan Herman menatap pria itu dengan tatapan membola terkejut.
"Nana?!"
...~~~...
__ADS_1
**Yang lagi menjalankan ibadah puasa, semangat yuk! Jangan ngeluh.
Aku tak memaksa kalian beri like komen vote dan bintang 5 lagi ya guys. Seikhlasnya saja kalian mau memberi dukungan untuk cerita ini. Kalo ada yang memberi syukur, kalo tidak ada ya tidak apa-apa 😊**