
Nana
[Tolong jangan hubungi aku dulu, Bang. Hari ini Bang Dana akan pulang.]
Pesan yang dikirim Nana seminggu yang lalu bertengger di percakapan terakhir WhatsApp. Ya, Minggu lalu Dana telah pulang ke kampung sambil membawa oleh-oleh untuk keluarganya setelah bekerja di Kalimantan, seperti biasa.
Sejujurnya aku ingin sekali menghubungi Nana dan menjelaskan soal status kami selama ini. Namun apa daya, jika Nana memintaku untuk tak menghubunginya dulu. Aku pun menurutinya dan hanya bisa menunggu sampai Nana yang mulai menghubungiku.
Pernah aku mendesaknya untuk ketemuan denganku di samping lapangan dekat sekolah. Di sanalah tempat yang aman untuk diajak bertemu karena disana tempat yang gelap dan juga sepi yang jarang dilalui orang-orang saat malam hari. Namun, Nana selalu menolak tegas ajakanku dan mengatakan dia tak akan menemuiku dulu setelah suaminya pergi kerja lagi ke Kalimantan.
Sejujurnya ada perasaan tak terima setelah Nana mengatakan hal tersebut. Jadi selama ini Nana menganggapku hanya sebagai suami pelipur laranya saat sepi? Nana hanya membutuhkanku di saat ia hanya memerlukan perhatian dan sentuhanku saja? Apakah ia tidak memikirkan perasaanku? Jujur aku merasa hina dengan anggapan dia seperti itu.
Namun, bukankah ini yang Nana inginkan dariku dan keputusanku? Tujuan kami menikah memang hanya ingin menghindari hal zina dengan aku memberikan nafkah batin padanya? Ya walaupun sebenarnya pernikahan kami tetap tidak sah hukumnya.
Namun, kenapa aku menjadi terbawa perasaan seperti ini? Kenapa aku seperti tak suka jika Nana menganggapku hanya selirnya saja disaat dia butuh? Apakah aku mempunyai perasaan dengan Nana? Apakah aku mengalami puber kedua? Ah, memikirkannya bikin kepala pusing saja. Belum lagi setelah aku mengetahui status pernikahanku dan Nana dari Muhlis.
Ya, setelah mendengar penjelasan dari Muhlis itu hari, aku sekarang jadi banyak pikiran. Terkadang saat di tempat kerja, aku selalu melamun hingga ditegur oleh teman-temannku. Begitu sulitnya aku mengambil langkah sampai setiap hari selalu memikirkan jalan apa yang harus aku ambil setelah mengetahui hal tersebut. Apakah harus berhenti? Atau terus melanjutkan?
"Pak, Ibu bilang Bapak disuruh pergi cari menu buka puasa," ucap anakku, Citra sambil menghampiriku di teras depan.
"Ibumu mana?"
"Di rumah Bunda Leha, lagi bikin kue."
Aku hanya mengangguk dan kembali masuk ke dalam mengambil kaos yang sempat aku lepas dan memakainya. Aku mengambil uang di dompet lalu kembali menemui Citra.
__ADS_1
"Mau ikut nggak nyari menu buka?" ajakku padanya.
"Nggak, Pak. Citra mau pergi mandi di rumahnya Sasa. Di kamar mandi nggak ada air," jawabnya lalu masuk ke dalam mengambil handuk dan pakaian ganti.
Sudah menjadi kebiasaan kalo disini sulit mendapatkan air bersih. Bahkan, kita harus membuat cadangan air di beberapa jerigen untuk persiapan saat tak ada air nanti. Karena disini hanya mengangguk air dari pegunungan atau hujan. Sepertinya aku harus mengambil air lagi di rumah tetangga yang airnya sedang jalan dan mengisi kembali bak mandi hingga penuh.
Dengan berjalan kaki, aku pergi mencari menu buka puasa di daerah dekat rumah saja. Mungkin di dekat masjid yang cukup ramai orang-orang jualan menu buka puasa disana.
Saat aku memesan menu buka dan menunggu di kursi rotan, tiba-tiba Dana dan Nana datang kesini menggunakan sepeda motor. Melihat keduanya memakai pakaian yang rapi dan juga memakai helm, sepertinya mereka abis dari pergi jauh dan entah darimana.
"Eh, Bang Herman. Gimana kabarnya, Bang?" ucap Dana lalu turun dari motornya dan datang menghampiriku. Umur Dana hanya selisih lima tahun denganku. Sebab itulah ia menghormatiku sebagai kakak dan memanggilku Abang.
"Alhamdulillah, aku sehat kok, Dan. Kau gimana? Puasa lancar 'kan?" tanyaku balik.
"Alhamdulillah sehat, Bang. Puasa juga lancar kok," jawabnya.
"Abis darimana, Dan?" tanyaku.
"Abis dari kota, cari-cari lemari sama kasur buat anak-anak nanti di lantai dua," jawabnya.
"Udah di dapat semua?" tanyaku
"Sudah, tapi tinggal cari lemari besar buat di kamar utama. Tadi di pasar nggak ada yang cocok. Harganya pada tinggi-tinggi kalo sudah memasuki bulan ramadhan. Apalagi lebaran," jelasnya.
"Ya emang gitu sih. Biasa biaya pada meningkat kalo sudah mau memasuki lebaran."
__ADS_1
Dana mengangguk. "Tunggu sebentar ya, Bang. Mau pesan menu buka dulu di dalam," sambung Dana lalu masuk menghampiri penjual di dalam rumahnya.
Aku berkesempatan melirik Nana yang kebetulan juga sedang melirikku. Aku mengedipkan mataku padanya hingga membuatnya mengkerut geli dan membuang wajahnya. Dih, begitu cueknya kah dia hingga tak mau menyapa suami keduanya?
Dana datang dan kembali duduk di sampingku. "Dari kapan kamu tiba disini, Dan?" tanyaku basa-basi padahal aku sudah tahu kapan dia datang.
"Dari Minggu lalu," jawab Dana.
"Oh, terus selesai lebaran baru kerja lagi?"
Dana mengangguk. "Seperti biasa."
Sudah menjadi kebiasaan jika Dana pulang disaat bulan ramadhan dan pergi setelah lebaran. Dana hanya pulang setahun sekali kesini. Namun, jika ada keadaan mendesak disini, dia akan meminta izin cuti lagi pada bosnya untuk pulang.
"Ini, Pak. Pesanan kalian," ucap pedagang sembari menyerahkan dua kantong plastik terhadapku dan Dana.
Aku menyerahkan uang pesananku diikuti oleh Dana. "Terimakasih," ucap kami kepada penjualnya.
Setelah itu kami keluar dari gerai tersebut lalu menghampiri Nana. "Jadi bahan material bangunan sudah dibeli semua?" tanyaku kepada mereka tapi pandanganku kerap mencuri kearah Nana.
"Iya, semuanya sudah dipesan. Kemungkinan besok barangnya akan tiba di rumah," jawab Dana sambil memberikan pesanannya menu buka puasa pada Nana. Kulihat di depan jok motornya ada beberapa kantong plastik penuh didalamnya. Namun, aku tak menanyakan hal itu karena menurutku itu tak penting.
"Kami duluan ya, Bang," ucap Dana sembari menyalakan mesin motornya.
"Iya," jawabku kemudian beralih ke arah Nana. Ia hanya memandangku sembari tersenyum tipis. Sombong sekali tak disapa suaminya!
__ADS_1
Nana melingkarkan tangannya pada pinggang Dana sebelum motor mereka melaju meninggalkanku sendirian. Aku mengeratkan genggamanku pada kantong plastik yang kupegang sambil menatap motor mereka.
Sial! Sepertinya Nana sengaja membuatku cemburu dengan memperlihatkan kemesraan dirinya dengan suami sahnya. Awas saja nanti jika suaminya sudah pergi ke Kalimantan. Akan kubuat ia menyesal telah mengabaikanku dengan permainan ranjangku. Akan ku buat Nana tepar dengan keperkasaanku nanti. Lihat saja!