
Karena rasa penasaran tak bisa ku bendung lagi, akhirnya aku mencari cara lain untuk mengetahui kabar Nana. Ingin bertanya kepada orang lain yang masih berkomunikasi baik dengan Nana, itu tidak mungkin aku lakukan. Mendengar perkataan Muhlis waktu itu saja sudah membuatku mengambil salah langkah untuk bertanya padanya. Bagaimana jika aku bertanya kepada orang lain? Pasti mulut mereka akan mengolokku dan membongkarnya terhadap Yani. Aku tidak mau itu terjadi. Masih ada cara lain untuk bisa mengetahui kabar Nana dengan bantuan teknologi.
Aku telah membuat akun cloning di aplikasi biru lalu membuat akun baru dengan nama samaran dan juga foto orang lain. Hanya tinggal mencari nama akun Nana saja dan berteman dengannya, aku bisa mengetahui bagaimana aktivitas kesehariannya.
Aku mengetik nama panjang Nana di pencarian sehingga memunculkan banyak sekali nama yang sama di pencarian tersebut. Aku scroll lagi kebawah dan melihat-lihat dari foto profilnya memastikan jika foto Nana yang aku cari.
Sepersekian detik aku mencarinya, akhirnya aku melihat fotonya dan langsung mengklik nama akun tersebut. Aku lihat postingan terakhir dia tidak ada sama sekali dan hanya foto profil dan sampulnya saja yang belum ia ganti dari dulu, karena akun Nana ter-privasi dari publik. Aku memutuskan untuk menambahkan pertemanan padanya sehingga aku harus menunggu konfirmasi darinya. Aku tidak begitu yakin jika Nana akan menerima pertemanan tersebut karena akun yang aku buat ini bukan akun yang dikenal. Mungkin Nana tak akan mengkonfirmasi pertemananku.
Namun, aku berharap semoga saja Nana menerima permintaan pertemanan dan aku dapat melihat aktivitas apa saja yang dilakukan oleh wanita yang sempat menjadi istri keduaku itu.
Mengapa aku begitu keras kepala untuk mengetahui kabar Nana? Mengapa aku masih ingin berinteraksi dengannya? Bukankah aku sudah berjanji kepada Yani jika aku tak akan lagi berhubungan dengan Nana? Lalu mengapa aku ingin melanggar janjiku itu?
Entahlah, aku hanya mengikuti perasaanku saja yang mengatakan ingin berhubungan lagi dengan Nana tanpa peduli dengan istriku. Jahat kah aku?
Aku menoleh kearah pintu rumah saat mendengar suara orang yang sedang naik tangga rumah. Kulihat Nadia baru saja pulang dari sekolah lalu melepaskan dan meletakkan sepatunya dibelakang pintu.
"Baru pulang, Nad?" tanyaku sambil melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 5 sore. Tidak biasanya ia pulang jam segini. Nadia menghampiriku dan mencium takzim tanganku.
"Iya, Pak. Abis dari rumah teman dulu tadi mampir setelah pulang sekolah," jawabnya.
"Sudah makan?" tanyaku.
"Sudah tadi di rumah temanku," jawabnya lalu masuk kedalam, memasuki kamarnya. Mungkin ia akan mengganti baju dan bersiap pergi mandi.
Aku mengecek ponselku dan melihat apakah Nana sudah mengkonfirmasi pertemananku atau belum? Rupanya belum. Mungkin aku harus menunggu sampai besok untuk melihat konfirmasinya.
Aku berjalan ke teras dan duduk menghadap jalan yang kini sedang dilalui oleh kendaraan dan juga orang-orang. Suasana sore yang tampak cerah dan bersahabat membuat orang-orang menikmati hari santai seperti ini. Apalagi jika ditemani cemilan dan kopi untuk menemani hari santai seperti ini yang akan semakin mantap rasanya.
Aku melihat Yani datang yang entah dari mana sambil membawa sebuah kantong plastik di tangannya.
"Darimana, Bu?" tanyaku saat Yani sudah berada di anak tangga.
"Dari bawah," jawabnya. Maksud dari bawah itu adalah jalanan turunan yang mengarah ke mesjid.
__ADS_1
"Itu apa?"
"Kue, dikasih tadi sama Bu Rami," ucap Yani sambil menyerahkan kantong plastik tersebut kepadaku. Bu Rami adalah penduduk desa ini yang rumahnya berada di dekat masjid.
Aku membuka kantong plastik tersebut dan melihat banyak kue yang dibawakan oleh istriku. Ada barongko, donat, dan kue lapis didalamnya.
"Ada acara apa di rumah Bu Rami sehingga banyak sekali kue yang kamu bawa?" tanyaku sambil memakan donat tersebut.
"Acara pengantin. Dikit lagi anaknya mau nikah nanti," jawabnya hingga aku mengangguk mengerti.
"Arham sama Citra mana?" tanya Yani.
"Main sepeda. Mungkin mereka pada main di lapangan," jawabku.
Nadia keluar sambil membawa handuk yang diletakkan di pundaknya dan pakaian baru yang dipegangnya. Sepertinya ia akan pergi mandi dibawah.
"Darimana, Bu?" tanya Nadia melihat ibunya baru datang.
"Dari bawah, bantu-bantu Bu Rami bikin kue," jawab Yani sambil menunjuk kantong plastik tadi.
"Pak, belikan Nadia motor untuk berangkat pulang sekolah. Kasihan dia nebeng sama temannya terus," ucap Yani.
"Iya, Bu. Bapak juga lagi kumpulin uang untuk membelikan Nadia motor," balasku. Aku memang berniat membelikan Nadia motor untuk pergi ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh dari sini. Namun, karena ingin mencari motor yang bagus, aku harus mengumpulkan dulu uangnya. Karena bukan cuma Nadia saja yang akan memakai motornya nanti. Jika Nadia tak sekolah atau pulang dari sekolahnya, aku bisa memakainya untuk pergi ke rumah teman yang jaraknya juga lumayan jauh dari desa.
"Gak apa-apa kalo yang bekas, Pak. Yang penting Nadia bisa pake untuk pergi ke sekolah," ucap Yani.
"Iya, Bu. Bapak usahakan nanti ya." Rencananya aku ingin membelikan Nadia motor second. Namun, aku berusaha mungkin untuk membelikan Nadia motor baru walaupun harus dengan biaya menyicil tiap bulannya.
"Oh ya, Bu. Dinda sama Nadia nggak pernah terlihat bareng lagi? Bahkan berangkat pulang sekolah pun mereka tak lagi bersama seperti biasanya. Ibu tahu mereka kenapa?" tanyaku yang merasa aneh dengan pertemanan Nadia dan Dinda. Sudah beberapa hari terakhir ini aku lihat Nadia sama Dinda itu tak bertegur sapa. Bahkan saat aku minta Nadia berangkat sekolah pagi tadi, dia seperti enggan dan menjawab akan pergi bersama teman yang lainnya.
"Menurut Bapak gimana?" tanya Yani.
"Kok Ibu nanya balik? Bapak kalau tahu Bapak gak akan tanya ke ibu," balasku sedikit kesal.
__ADS_1
Yani terlihat menghela napas lalu menatapku dengan pandangan sulit diartikan. Entahlah. "Bapak tak perlu khawatir. Mungkin Dinda sama Nadia sedang lagi bertengkar masalah anak remaja. Mungkin sebentar lagi mereka berdua akan baikkan kok."
"Ibu tahu apa yang terjadi dengan mereka?" tanyaku penasaran.
"Tahu, Nadia sudah cerita ke ibu semuanya."
"Terus masalah apa?"
"Cuma masalah anak-anak doang kok, Pak. Biasalah masalah anak remaja," jawab Yani dan kembali memakan kue.
"Masalah cinta-cintaan?"
Yani hanya menatapku sekilas lalu mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Aku mengerti sekarang. Jadi Dinda dan Nadia sedang bertengkar gara-gara masalah percintaan. Aku merasa lega sekarang. Jika masalah seperti itu aku tak akan memusingkan hal tersebut dan menganggap mereka ini sedang dalam masa remaja cinta monyet.
Pernah merasa muda tentu saja aku memaklumi konflik permasalahan mereka. Akan tetapi satu yang tak ingin sesuatu terjadi diantara Nadia dan Dinda, yaitu kesalahpahaman mereka yang berlanjut semakin lama. Aku tidak ingin mereka berdua yang terikat dalam satu keluarga menjadi musuh dan tak memperdulikan satu sama lain gara-gara masalah percintaan. Aku akan menegur Nadia dan membicarakan hal ini kepadanya.
Beberapa menit kemudian, Nadia telah selesai mandi dan naik keatas rumah.
"Kamu lagi bertengkar sama Dinda, Nad?" tanyaku saat Nadia berdiri di pembatas teras yang sudah mengganti pakaiannya dengan yang baru.
Kulihat Nadia menatap kearah Yani, kemudian beralih ke arahku. Aneh.
"Tidak, Pak." Nadia menjawab.
"Terus kenapa kamu dan Dinda tak lagi saling bertegur sapa dan terlihat bersama? Kalian tidak sedang bertengkar, bukan?" tanyaku lagi. Namun, Nadia sepertinya tak menjawab dan duduk di pinggir pembatas pagar kayu tersebut.
"Kamu kalau sedang ada masalah dengan Dinda, jangan terlalu lama kalian bertengkar. Kalian berdua itu sepupuan, tak baik saling memendam dendam terlalu lama. Bapak tidak mau itu terjadi. Lebih baik kalian baikkan dan kembali seperti dulu," ucapku memberi kebijakan terhadap putri sulungku.
Nadia masuk kedalam rumah begitu saja, tak menjawab ucapanku. Dari raut wajahnya ia terlihat sedikit kesal tapi berusaha tak menunjukkannya dihadapan kami, kedua orangtuanya.
Aku menghela napas lalu beralih kearah Yani. "Nanti kamu kasih nasehat anakmu untuk jangan terlalu lama bertengkar dengan Dinda."
Yani hanya mengangguk sebagai jawaban. Terkadang jika aku tak bisa memberikan nasehat baik terhadap anak-anakku, aku bisa meminta tolong kepada ibunya. Terkadang cara penyampaian atau nasehat yang diberikan oleh ibu dan bapak berbeda. Namun, dengan tujuan yang sama menjadi hal yang baik. Aku yang begitu tegas, sedangkan Yani begitu lembut terhadap anak-anak. Tergantung dari mereka yang menangkap baik nasehat dari orangtuanya.
__ADS_1
Kira-kira Dinda sama Nadia kenapa ya?