
Peringatan!!! : Bacanya malam saja pas saat buka puasa. Ada adegan 21+ dibawah ini!!!
...~~~...
Malam ini, Yani membantu suaminya mengurus perlengkapan apa saja yang akan dibawa Herman pergi ke Kalimantan esok hari. Wanita itu telah mempersiapkan satu buah koper besar yang berisi pakaian dan perlengkapan alat mandi untuk persiapan Herman selama disana.
"Bang, ini cukup ya? Nggak usah banyak-banyak bawa baju," ucap Yani sambil menunjuk isi koper kepada Herman. Tak banyak pakaian yang diberi masuk dan masih tersisa sedikit ruang kosong diatasnya.
"Iya, begitu saja."
Yani menutup koper setelah memasukkan alat perlengkapan alat mandi suaminya kedalam koper. Wanita itu menyimpan koper tersebut di sudut dekat pintu rumah lalu berjalan menghampiri suaminya.
"Jam berapa bapak pergi besok?" tanya Yani duduk disamping suaminya.
"Jam 2 siang. Keberangkatan kapal mungkin jam 3-4 sore," jawab Herman sambil memperhatikan tiket kapal yang baru saja dibelikan oleh Pak Denis. Biaya keberangkatan mereka semua ditanggung oleh Pak Denis sendiri. Dan masalah tempat tinggal, Pak Denis memberitahu bahwa kelompok Herman dan kelompok Taryo akan tinggal di sebuah mess dekat dengan proyek jalan tol tersebut setelah disediakan oleh sahabatnya itu.
"Bapak jadi pergi ke Kalimantan?" tanya Nadia yang baru saja datang ke rumah.
Herman dan Yani sontak menoleh. "Iya, tuh kopernya ada di samping kamu," jawab Herman sambil menunjuk arah koper dengan wajah.
Nadia melirik koper disamping pintu lalu berjalan mendekati orangtuanya. "Berapa lama bapak disana?"
"Kurang tahu. Mungkin 2-3 tahun proyek tersebut selesai," jawab Herman.
"Kok lama banget?" rajuk Nadia. Anak itu sepertinya tak rela melepaskan kepergian bapaknya pergi jauh ke pulau Kalimantan.
Herman tersenyum. "Kan kamu tahu sendiri kalo bapak ambil proyek jalan tol, pasti membutuhkan waktu yang lama untuk selesai," ucap Herman. "Tapi kamu tenang saja, nanti setiap tahunnya bapak ambil cuti untuk pulang kesini."
"Citra sama Arham tahu?"
"Tahu, tapi ya gitu mereka masih nggak mau lepasin bapak pergi."
"Terus mereka kemana?" Nadia celingak-celinguk mencari keberadaan kedua adiknya yang menghilang di rumah.
"Mereka pada main ke rumah sebelah," jawab Yani.
"Kamu darimana tadi?" tanya Yani.
"Dari rumah Bunda."
"Ngapain kesana?"
"Main sama cucu-cucu Bunda," jawab Nadia. "Oh ya. Kaira akan mendapatkan adik, Bu."
"Dea hamil?" tanya Yani.
__ADS_1
Nadia mengangguk. "Usianya baru 3 bulan katanya."
"Alhamdulillah."
Dea merupakan menantu pertama ibu Desi. Kaira merupakan putri pertama dari Dea dan Reza––anak pertama Bu Desi. Dan sekarang di usia Kaira menginjak lima tahun, Dea diberi kepercayaan lagi untuk mengandung anak keduanya.
"Besok bapak jam berapa berangkat?" tanya Nadia.
"Besok siang."
...~~~...
Jam sudah menunjukkan pukul 01.25 tengah malam. Suasana desa dan rumah-rumah warga terasa sunyi karena penduduknya sedang tertidur pulas di rumah mereka. Hanya ada beberapa orang laki-laki saja yang berjaga di pos ronda setiap malam secara bergantian.
Di rumah Yani dan Herman, anak-anak mereka telah terlelap sedari tadi sebelum jam 10. Nadia tidur di kamar pribadinya, sedangkan Citra dan Arham tertidur di depan televisi beralaskan kasur lipat.
Sedangkan di kamar utama, Herman dan Yani belum tertidur walaupun lampu kamar telah dimatikan. Hanya terdengar suara deru napas yang memburu dan juga derit ranjang yang berbunyi pelan mengisi keributan suasana malam di kamar mereka. Kedua insan pasangan suami-istri tersebut sedang melakukan kewajiban halal merenguk kenikmatan dunia bersama.
"P-pak ... pelan-pelan, Ah!" ucap Yani terbata-bata akibat menerima terkaman suaminya.
"Dikit lagi bapak keluar, Bu." Herman terus menggoyangkan pinggulnya dengan cepat hingga derit ranjang yang terbuat dari kayu tersebut berbunyi cukup keras.
"Pak, pelan-pelan! Shh ... nanti anak-anak kebangun!" peringat Yani karena Herman memacunya dengan cepat.
Herman tak memperdulikan karena amunisinya akan segera keluar. Peluh telah membanjiri tubuh keduanya akibat aktivitas tersebut. Entah sudah berapa lama mereka berolahraga seperti itu setelah anak-anak tertidur pulas.
Herman menggeser tubuhnya, berpindah kesamping kanan Yani. Keduanya saling menormalkan deru napas mereka yang masih memburu akibat olahraga malam barusan. Herman menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka.
"Terimakasih, Bu." Herman berucap sambil memeluk tubuh istrinya.
"Semangat banget sih, Pak. Sampai ibu udah keluar empat kali," ucap Yani.
"Hehehe, kan ini jatah bapak sebelum bapak pergi ke Kalimantan besok," jawab Herman.
"Ibu khawatir, Pak."
Herman menoleh kearah wajah istrinya yang kini sedang menatap kearah plafon. "Khawatir kenapa?"
"Ibu khawatir nanti bapak akan cari pelampiasan nafsu bapak disana," ucap Yani getir.
Herman terus menatap istrinya dengan pandangan tak terbaca. Yani tengah dalam kegelisahan yang sulit untuk melepas dirinya pergi jauh merantau. Ia mengerti akan perasaan istrinya.
"Ibu khawatir siapa yang mengurus bapak disana jika sakit, siapa yang mengurus makanan bapak, siapa yang cuci baju bapak, siapa yang ingatkan makan buat bapak, dan siapa yang akan memberikan jatah tiap malam untuk bapak. Ibu takut jika bapak akan cari pelampiasan disana tanpa memikirkan perasaan ibu," jelas Yani dengan perasaan gelisah di hatinya. Walaupun Herman pernah menyakitinya dengan berselingkuh dengan Nana, tetapi, cinta dan perhatian akan tetap tercurahkan untuk suaminya itu.
Herman mendekap tubuh Yani dan mengelus perutnya. "Ibu nggak usah khawatir, bapak bisa urus diri bapak sendiri kok. Kalo makan, bapak bisa cari diluar sama teman-teman. Masalah baju kotor, bapak akan cuci sendiri jika sempat atau laundry. Kalo bapak sakit, ada teman-teman bapak yang akan membantu bapak. Kalo untuk nafsu bapak, laki-laki punya cara sendiri untuk menuntaskannya jika tidak ada istri disisinya," jelas Herman.
__ADS_1
Yani memundurkan wajahnya, menjauh dari Herman. "Bapak akan cari wanita lain untuk menuntaskan nafsu bapak?" tanya Yani tajam, melotot kearah suaminya.
Herman cengengesan lalu menyentil jidad istrinya pelan. "Tentu tidaklah. Bapak 'kan punya tangan. Bapak bisa menuntaskan itu dengan tangan bapak sendiri."
Herman mengangkat tangan kanannya, membentuk sebuah lingkaran dari jari-jarinya, lalu menggerakkannya naik-turun, memperlihatkan caranya.
"Ish, Bapak!" Yani memukul tangan kanan Herman membuat pria itu cengengesan lagi.
"Ibu pokoknya tenang saja. Bapak akan menjaga kepercayaan ibu dan kesetiaan bapak disana selama ibu tidak ada disisi bapak," ucap Herman.
"Ibu hanya perlu bukti ya, bukan hanya janji-janji saja!" peringat Yani.
"Iya, bapak akan membuktikan hal itu!" balas Herman yakin.
Hening sejenak.
"Bu, bapak masih pengen lagi nih," ucap Herman sambil tangannya memulai aktif memeras bagian sensitif istrinya.
"Ish! Tadi 'kan sudah. Sampai 2x lho, bapak minta tadi," balas Yani yang menolak keinginan nafsu besar suaminya ini. Sungguh, Yani terkadang dibuat heran dengan stamina Herman yang kuat di ranjang. Entah apa yang dimakan suaminya sehingga laki-laki itu kuat melakukan aktivitas olahraga malam mereka.
"Bapak masih mau lagi. Anggap saja ini sebagai terakhir sebelum bapak pergi," ucap Herman memohon kepada istrinya.
"Tapi, Pak––"
"Sudah, Nggak usah pakai tapi-tapian! Sebagai istri, kamu nggak boleh menolak keinginan suami!" potong Herman yang kini bangkit berpindah diatas tubuh Yani.
Dimulailah permainan panas mereka satu kali lagi. Malam yang penuh bergelora bagi mereka sebelum sang pria pergi merantau ke pulau seberang tanpa ditemani sang istri di sisinya nanti.
...~~~...
"Hati-hati ya, Pak. Kalo ada apa-apa jangan lupa telepon ibu disini," ucap Yani mengantarkan Herman ke pelabuhan siang ini.
"Iya, ibu tenang saja. Bapak akan menjaga diri bapak dengan baik disana," jawab Herman.
Herman dan Yani tak sendirian pergi ke pelabuhan. Keduanya diantar oleh Bu Desi dan Reza bersama dengan Muhlis dan istrinya dalam satu mobil. Sudah banyak teman-teman Herman berada di pelabuhan menunggu keberangkatan sambil mengobrol dengan keluarga mereka.
Suara kapal berbunyi keras menandakan kapal akan segera berangkat beberapa saat lagi. Dan itu juga pertanda peringatan bagi penumpang untuk segera naik kedalam kapal karena kapal akan segera berlayar.
"Bu, bapak berangkat dulu ya. Kalo ada masalah di rumah atau anak-anak, jangan lupa kabari bapak," ucap Herman berhadapan dengan Yani.
"Iya, Pak."
Herman mengecup kening istrinya lalu berbalik pergi bersama Muhlis dan teman-temannya yang lain naik ke kapal. Yani hanya bisa menatap punggung suaminya dan merapalkan doa dalam hati agar Herman senantiasa dalam keadaan baik-baik saja. Ia berdoa meminta perlindungan kepada sang maha kuasa untuk menjaga suaminya dari segala macam bahaya diluaran sana.
...~~~...
__ADS_1
Agak ragu buat adegan 21+ di cerita. Tetapi karena stok ide kurang untuk mencapai 1000 kata, jadi aku tambahin sedikit bumbu penyedap agar pembaca merasa panas. Mwehehehe....