Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku

Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku
Mendapatkan Izin (S2)


__ADS_3

Author POV.


"Assalamualaikum!" ucap Herman yang baru saja memasuki rumah.


"Waalaikumsalam!"


Herman terdiam mematung didepan pintu saat melihat keberadaan Nana dan Dana di rumahnya. Ia tak menyangka jika kedua orang tersebut datang bertamu ke rumahnya tanpa diduga-duga sebelumnya. Belum lagi melihat jejak air mata yang terlihat di mata Nana membuat Herman berpikir bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.


"Ada apa ini?" tanya Herman melangkah mendekati mereka, kemudian meletakkan kantong kresek yang dibawanya ke lantai dan duduk di samping Yani.


"Nggak ada apa-apa, mereka cuma datang bertamu saja," jawab Yani.


Nana yang melihat kedatangan Herman langsung berpindah tempat dan duduk disamping Dana. Ia merasa sedikit terkejut dan canggung melihat kedatangan Herman yang tiba-tiba.


Herman menatap Dana dan Nana secara bergantian, menelisik apa yang terjadi. "Serius nggak ada apa-apa?" tanya Herman kepada istrinya.


"Kami kesini cuma mau bersilaturahim saja, Bang." Dana menjawab agar Herman tak terus berpikiran macam-macam.


"Oh gitu." Herman mengangguk canggung. Kemudian ia sedikit melirik kearah Nana yang kini sedang menghapus jejak-jejak air matanya.


'Kalo memang hanya bersilaturahmi, lalu mengapa Nana menangis?' batin Herman bertanya-tanya.


"Yasudah kalo gitu, Mbak, Bang. Kita pamit pulang dulu," ucap Dana lalu berdiri dari duduknya, diikuti oleh Nana.


"Kok cepat banget perginya?" tanya Herman.


"Kita nggak enak tinggalin rumah. Nanti ada tamu yang datang disaat kita tidak ada di rumah," jawab Dana.


"Eh, diminum dulu sirupnya," titah Yani yang melihat dua gelas minuman belum diminum oleh mereka.


Dana dan Nana langsung menghabiskan minumannya dan meletakkan kembali gelas kosong tersebut ke meja. Dana mengulurkan tangannya kepada Herman dan Yani. "Minal aidzin wal faidzin ya, Bang, Mbak."


"Minal aidzin wal faidzin juga, Dan."


Nana pun juga sama mengulurkan tangannya. Tetapi, saat pada Herman, Nana tak menatap sama sekali wajah lelaki itu.


"Kita pulang dulu ya, assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Yani mengantar mereka sampai depan pintu rumah dan melihat Dana dan Nana turun dari tangga lalu keluar dari halaman rumahnya. Yani berbalik dan membereskan minuman tadi.


"Mereka ngapain datang kesini?" tanya Herman yang masih tak percaya jika Dana dan Nana datang ke rumahnya hanya bertamu saja.


"Ini 'kan hari lebaran, jadi mereka datang silahturahim sama meminta maaf," jawab Yani.

__ADS_1


"Terus kenapa Nana kayak abis menangis gitu tadi?"


Yani terdiam sejenak menatap suaminya. Kemudian ia berlalu dari hadapan Herman, menyimpan gelas kosong tadi ke dapur.


"Nana cuma mau minta maaf saja kesini!" seru Yani dari dapur.


"Minta maaf?" gumam Herman. "Minta maaf untuk apa?" balas Herman.


"Kira-kira Nana minta maaf sama Yani karena apa, Bang?" tanya Yani kembali dan duduk di samping suaminya.


Herman terdiam sejenak memikirkan ucapan istrinya. Kemudian ia menatap Yani yang kini sedang menatapnya menunggu jawaban dari dirinya.


"Kira-kira Nana kenapa minta maaf, hmm?" tanya Yani sekali lagi.


Herman menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Karena ... kejadian tahun lalu?" gumam Herman yang ingat akan peristiwa tahun lalu.


"Nah, itu tahu! Jadi kenapa Nana terlihat abis menangis karena ia mengakui kesalahannya dan meminta maaf padaku. Kalo aku sudah memaafkannya dari lama dan tidak menaruh dendam padanya," jelas Yani.


"Lagipula ini hari memaafkan. Tak boleh menaruh dendam pada orang lain selagi orang tersebut sudah meminta maaf dengan tulus kepada kita," sambung Yani hingga membuat Herman mengangguk canggung.


"Ini apa?" tanya Yani melihat kantong kresek berwarna hitam di dekat meja yang baru saja Herman bawa.


"Oh, itu rambutan. Di kasih tadi Pak Denis," jawab Herman.


...~~~...


"Jaga rumah ya? Dengerin apa kata kakek, nenek," ucap Nana kepada Dinda, putri sulungnya.


"Iya, Ma."


"Bu, Pak, kita pamit dulu ya," ucap Dana kepada kedua mertuanya sambil mencium takzim tangan mereka.


"Hati-hati ya, Nak. Kalo ada apa-apa disana, jangan lupa hubungi kami disini," ucap Pak Tanto kepada Dana.


"Iya, Pak."


Ketiganya langsung naik ke mobil bersiap berangkat menuju pelabuhan. Dinda dan Aras sudah rela melepaskan mereka merantau pergi ke pulau seberang. Tidak ada lagi air mata kesedihan mengantar mereka karena keduanya sudah diajarkan ikhlas untuk berpisah sementara dengan orangtuanya.


...~~~...


"Bagaimana, Her? Ini sudah hampir waktunya kalian berangkat, lho? Kalo tidak jadi, nanti tinggal bapak kasih tahu ke sahabat bapak," ucap Pak Denis kepada Herman lewat sambungan telepon.


Herman terdiam sejenak lalu melirik istrinya yang tengah menonton televisi sambil berbaring. "Tunggu dulu ya, Pak. Saya tanya dulu ke istri saya."


"Kamu belum minta izin ke istrimu?"

__ADS_1


"Sudah, Pak. Tapi dia beri waktu dulu sampai selesai lebaran. Ini aku mau tagih jawabannya," jawab Herman.


"Oh gitu. Buruan ya, bapak gak bisa tunggu lama lagi. Kalo bisa hari ini sudah ada jawaban dari kamu."


"Siap, Pak."


Tut!


Sambungan dimatikan, lalu Herman berjalan mendekati Yani. "Bu."


"Hem?"


"Bagaimana dengan jawaban ibu?" tanya Herman.


Yani mengubah posisinya yang tadi miring ke kanan langsung telentang menatap suaminya. "Jawaban apa?"


"Jawaban soal bapak boleh mengambil proyek ke Kalimantan."


Yani terdiam, memikirkan soal perizinan suaminya yang ingin mengambil proyek jalan tol di Kalimantan. Yani dibuat lupa soal jawabannya sendiri untuk memberikan izin untuk Herman setelah hari raya idul fithri.


"Bapak yakin mau pergi kesana?" tanya Yani ingin mengetahui jawaban suaminya.


"Iya, anak-anak juga sudah mendapat izin dari istri mereka. Bapak nggak enak sama mereka kalo bapak sendiri yang tak boleh diizinkan sama ibu."


"Bapak perginya sendiri atau sama yang lain?"


"Sama tim bapak. Tapi, teman bapak yang tim lain juga sudah mendapat izin dari istrinya untuk pergi. Jadi otomatis ada dua tim yang akan pergi kesana," jawab Herman.


"Yasudah kalo bapak mau pergi, ibu izinin."


Sontak Herman melebarkan matanya, terkejut menatap Yani. "Serius ibu izinin bapak pergi?" tanya Herman tak percaya sekaligus senang.


Yani mengangguk. "Tapi dengan syarat bapak harus jaga diri dan tak boleh melakukan kesalahan yang sama. Bapak ngerti, 'kan?"


Herman terdiam menatap Yani bingung. "Kesalahan apa?"


"Selingkuh."


"Oh itu, ibu bisa percayakan sama bapak kalo bapak tidak akan neko-neko lagi disana," ucap Herman mencoba meyakinkan Yani. Laki-laki itu mengerti jika istrinya seperti takut untuk diselingkuhi lagi. Bukankah Herman sudah berjanji akan berubah dan tak akan berniat selingkuh lagi? Apa yang perlu ditakutkan? pikir Herman.


"Awas saja kalo bapak macem-macem disana. Kalo sampai bapak macam-macam, jangan pernah menginjakkan kaki ke rumah ini dan jangan pernah membawa anak-anak dari ibu!" ancam Yani yang tak main-main.


"Iya, bapak nggak akan macam-macam lagi. Sumpah!"


Jika dulu Yani ragu untuk memberi izin Herman pergi karena Nana. Sekarang keraguan itu sudah tak lagi merambat ke hatinya kala Nana datang meminta maaf padanya. Melihat mata dan ucapan Nana yang terlihat tulus membuat Yani sedikit mampu melupakan kesalahan sepupunya itu. Yani tak perlu takut lagi jika Nana bertemu lagi dengan Herman disana karena ia yakin Nana tak akan mampu tergoda lagi dengan suaminya. Yani telah yakin jika Nana dan Herman telah berubah dan tidak akan lagi melakukan perbuatan yang sama hingga menyakiti keluarga mereka masing-masing. Yani yakin akan hal itu.

__ADS_1


Guys, aku nggak sanggup kejar daily updated setiap hari 😭. Kadang otak suka mentok untuk lanjut cerita. Paling seminggu 3-2 kali itu sudah cukup buat saya.


__ADS_2