Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku

Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku
Hubungan Terbongkar dari Mulut Herman Sendiri


__ADS_3

Author POV


Delapan bulan telah berlalu semenjak Herman dan Nana sepakat untuk melanjutkan hubungan mereka, walaupun fakta tentang pernikahan mereka tak sah dan dianggap zina. Terhitung sudah hampir dua tahun mereka menjalin hubungan. Namun, mereka seolah tak peduli dan terus melanjutkan hubungan terlarang tersebut dengan dalih sudah sama-sama nyaman.


Tidak ada yang tahu hubungan mereka termasuk Muhlis yang pernah menjadi wali saksi di pernikahan mereka. Nana dan Herman begitu apik menyembunyikan rahasia mereka dari orang-orang. Jika mereka berada di tempat umum, mereka bersikap biasa saja dihadapan mereka sekalipun di depan keluarga. Bahkan Dinda yang sempat mencurigai hubungan ibu dan omnya itu tetap tak mengetahui hubungan mereka karena mereka selalu bermain aman saat anak-anak Nana tidak ada.


Nafkah batin tetap dijalani oleh Herman kepada Nana. Bahkan Herman tak segan-segan memberikan nafkah lahir juga pada Nana jika ia memiliki bonus lebih dari pekerjaannya tanpa Yani ketahui. Yani tak pernah protes atau bertanya saat uang yang dihasilkan suaminya sedikit berkurang dari biasanya. Pernah Yani bertanya, lalu Herman menjawabnya kalau temannya memijam uangnya atau membeli sesuatu yang Yani tak ketahui. Kemudian Yani tak bertanya lagi dan menerima uang tersebut.


Jika Nana mendapatkan nafkah batin dari Herman, apakah Nana suatu saat dia akan hamil? Itu bisa saja terjadi. Namun, Nana dan Herman sudah mengantisipasi hal itu. Herman selalu membeli kontrasepsi dan memberikannya pada Nana. Itupun Herman harus membelinya dari luar kampungnya karena tak ingin membuat pemilik apotek dekat rumah––yang kebetulan kenalannya juga, mencurigai dirinya membeli barang tersebut. Atau Herman akan mengeluarkannya di luar jika mereka lupa memakai kontrasepsi.


Herman dan Nana tak mau mengambil resiko jika suatu saat Nana hamil. Apa kata orang jika mengetahui kabar tersebut. Pasti Nana menjadi bahan gunjingan dan orang-orang mulai menebak siapa ayah dari bayi tersebut. Tak mungkin mereka menganggap anak itu adalah anak Dana karena mereka mengetahui kalau suami Nana tersebut pulang setahun sekali saja. Nana pasti akan didesak oleh keluarganya siapa yang telah menghamilinya.


Jika suatu saat itu terjadi pasti Herman akan terseret dan menjadi pengalaman petaka baginya. Mereka berdua pasti akan jadi bahan cemoohan dan bisa saja diarak keliling kampung karena telah melakukan perzinahan. Terlebih keluarganya pasti akan kecewa berat padanya karena tak menyangka jika laki-laki yang dikenal dianggap baik dan ramah, adalah seorang pezina. Lalu kemungkinan terburuknya adalah ia akan berpisah dengan Yani dan anak-anaknya yang telah menemaninya belasan tahun.


Herman tidak ingin sampai hal itu terjadi.


Bukankah itu egois?!


Herman tak ingin berpisah dengan Yani dan anak-anaknya tapi ia tak mau melepaskan Nana karena sudah merasa nyaman terhadapnya?! Egois, bukan?


Begitulah ciri-ciri orang tamak!


Namun, Allah SWT. tidak tidur. Dia menunggu waktu yang tepat untuk membuat hubungan Nana dan Herman terbongkar dihadapan publik. Sesuatu perbuatan buruk tidak akan selamanya berakhir baik. Hal itulah yang akan terjadi suatu saat nanti di kehidupan Nana dan Herman. Dan itu semua terbongkar karena kebodohan dari Herman sendiri.


...\=\=\=\=\=...


Para tetangga terdekat dan keluarga sedang sibuk membantu acara syukuran di rumah Nana. Lantai dua yang telah dibangun diatas rumah telah selesai dan bisa dipakai oleh sang pemiliknya. Nana dan Dana sepakat untuk mengadakan acara syukuran di rumah batu bata mereka.


Dana bisa diberi izin kesempatan untuk pulang ke kampung lagi karena ia ingin melihat bagaimana keadaan rumahnya. Bersyukurlah Dana yang memiliki bos baik di tempat kerjanya hingga memberikannya cuti lagi tahun ini. Sejujurnya ia merasa tak enak pada bos dan juga rekan-rekan sesama para pekerjanya karena harus mengambil cuti 2x dalam tahun ini. Namun, pemilik tempat kerja tersebut menyatakan kalau sekarang para pekerja bisa mengambil 2x cuti setiap tahun. Tapi untuk cuti yang kedua kalinya harus bergiliran dengan para pekerja lainnya yang akan meminta cuti.


"Makasih, Pak, Bu, udah mau mampir ke sini," ucap Dana pada para tamunya. Di sampingnya ada Nana yang juga ikut menemani Dana mengantar tamu sampai teras.


Para tamu membalasnya dan pergi dari rumah Nana. Tersisa keluarga kecil Dana, orangtua Nana, dan para kerabat yang masih tersisa di rumah untuk membantu. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mungkin sebentar lagi kerabat mereka akan segera pulang.


"Na, Dan, terimakasih ya atas kue dan makanannya," ucap ibu-ibu kerabat Nana sambil membawa beberapa kantong plastik di tangannya. Bukan cuma ibu itu saja, tapi ada beberapa wanita yang sama seperti ibu-ibu tadi yang juga membawa beberapa kantong plastik di tangan mereka yang berisi kue dan makanan yang tersisa.


"Sama-sama, terimakasih juga ya, Bu, udah mau bantu-bantu," balas Nana. Jika tak ada mereka, mungkin ia dan keluarganya akan kerepotan mengurus acara tersebut.


Para tetangga Nana langsung pamit pulang menyisakan Nana dan Dana di depan pintu.


"Riski mana?" tanya Dana pada istrinya.

__ADS_1


"Nggak tahu, tadi dia makan di sini," jawab Nana sambil menunjuk ke ruang tamu. Riski adalah adik laki-laki Nana yang berusia 18 tahun.


"Aku mau nyuruh dia angkat kasurnya anak-anak ke atas. Tadi siang kasur anak-anak baru sampai di mari," beritahu Dana.


"Oh gitu, aku panggilkan Aras dulu," balas Nana. "Aras!" panggil Nana memanggil anak keduanya di dalam rumah.


"Ya, Mah?" jawab Aras yang muncul dihadapan Nana.


"Coba kamu cari Riski di rumah nenek. Kalo ada panggilkan ke sini lalu minta tolong angkat kasur ke lantai dua."


Aras mengangguk lalu pergi ke rumah neneknya. Dana berlalu lalu mengambil kasur yang tersimpan di kamar Dinda kemudian membawanya ke lantai atas. Sebenarnya kasur singel untuk anak-anak ini cukup mudah dibawa karena terbuat dari bahan busa. Namun, karena tak mau memberatkan Nana dan yang lain, Dana meminta tolong pada Riski untuk membantunya.


Tak berselang lama muncullah Riski dan Aras dihadapan Nana. "Ada apa?" tanya Riski.


"Minta tolong bawakan kasurnya anak-anak ke atas. Nggak berat kok, cuma kasur single busa itu," ucap Nana.


"Di mana kasurnya?"


"Ada di kamar Dinda."


Riski dan Aras berlalu masuk menyisakan Nana sendirian di teras. Ibu dan ayahnya muncul dari dalam sambil membawa barang peralatan dapur dan kantong plastik berisi kue.


"Segini aja dulu, nanti kalo kurang bisa diambil lagi besok."


Ibu dan ayahnya pulang ke rumah yang ada di sebelah Nana. Namun, Nana kepikiran dengan satu sosok laki-laki yang belum datang kehadirannya. Siapa lagi kalau bukan Herman. Lalu di mana dia? Mengapa dari pagi sampai malam belum muncul juga? pikir Nana.


Saat Nana hendak berbalik masuk, Nana mendengar suara orang-orang lagi mengobrol yang mendekat ke arah rumahnya. Nana yang tadinya ingin masuk kedalam mengurungkan niatnya itu ingin melihat siapa orang-orang tersebut.


"Oh, baru datang rupanya!" sapa Nana pada para tamu laki-laki tersebut lalu melirik laki-laki yang baru saja ia pikirkan.


"Iya, baru ada waktu untuk bisa datang kesini," jawab laki-laki yang Nana kenali teman kerjanya Herman.


Ya, mereka adalah Herman dan teman-teman kerjanya yang baru saja datang ke rumah Nana. Muhlis tak ada diantara mereka karena setelah shalat Maghrib, ia sudah datang ke sini dan pulang setelah mengisi perutnya bersama istri dan anak-anaknya.


"Mari masuk."


Herman dan yang lain masuk ke dalam lalu berjalan ke meja tempat makanan disediakan. Nana mengambil piring di dapur terlebih dahulu lalu membawanya ke ruang tamu.


"Kenapa baru datang?" tanya Nana pada Herman sembari menyerahkan piring kosong terhadap lelaki tersebut.


"Mereka pada malu-malu datang kalo masih banyak orang," jawab Herman sembari mengambil piring lalu mengambil nasi dan beberapa lauk pauk.

__ADS_1


Setelah mengambil makanan, Herman berbalik dan ikut bergabung dengan teman-temannya yang duduk di lantai ruang tamu.


Sofa dan meja ruang tamu dipindahkan semua ke kamar Dinda untuk tidak menghalangi para tamu lewat saat berkerumunan. Nana memilih duduk di samping Herman dan mengobrol kecil pada mereka untuk menghormati para tamunya datang.


...\=\=\=\=\=...


Herman meminum alkohol di gelas kecil sambil melihat interaksi Nana dan suaminya di dalam rumah. Hatinya merasa terbakar cemburu saat melihat Nana sedang memijat bahu Dana. Sesekali Nana memukul manja pundak Dana dan terlibat obrolan kecil yang Herman sendiri tidak tahu itu apa.


Saat ini Herman dan teman-temannya ada di teras rumah Nana sambil meminum alkohol yang sempat dibawa temannya di tas kerjanya. Anto––orang yang membawa minuman tersebut mengatakan pada mereka kalau dirinya membawa minuman alkohol berkadar rendah yang baru saja ia beli.


Teman-temannya yang lain meminta Anto untuk memperlihatkannya dan ingin mencoba rasa alkohol yang dibeli oleh Anto tersebut. Akhirnya setelah meminta izin pada pemilik rumah, mereka diizinkan untuk meminum minuman tersebut dengan persyaratan jika mabuk tolong pergi dari rumahnya.


"Oi! Kenapa kau memperhatikan Nana sama suaminya seperti itu?" tanya teman Herman yang berada di sebelahnya. Sedari tadi ia memperhatikan Herman sedang melihat interaksi pemilik rumah di dalam ruang keluarga. Entah apa yang terjadi pada Herman membuat temannya itu merasa heran.


Ruang tamu dan ruang keluarga dibatasi ruang masuk selebar 50cm tanpa pintu atau kain gorden hingga orang yang berada di luar bisa melihat kegiatan di ruang keluarga Nana.


"Ingat woi sama bini di rumah!" tegur Anto hingga membuat yang lain tersenyum geli terkecuali Herman.


"Kalian tau gak, kalo Nana ini juga istriku," ucap Herman yang sedikit terpengaruh dengan alkohol dan rasa cemburunya.


"Hah?!" Yang lain pada melongo dengan tatapan tak percaya melihat Herman. Dalam benak mereka, apakah Herman bercanda? Sepertinya Herman sudah mulai ngelantur akibat alkohol yang diminumnya. Bisa-bisanya dia mengaku kalau Nana itu istrinya. Padahal Nana ini sudah bersuami, dan itu bukan Herman tentunya. Tetapi, orang yang sedang dipijat Nana.


"Sepertinya nih orang udah mabuk, bro."


"Tau, udah-udah! Minumannya jangan dihabiskan. Padahal tadi 'kan cuma mau nyoba-nyoba aja. Kenapa malah keterusan." Anto mengambil botol di dekat Herman lalu menyimpannya kembali botol alkoholnya di tasnya.


"Yuk, kita anterin kau pulang. Sepertinya kau sudah mabuk sekarang," ucap seseorang bernama Badri sambil menepuk pundak Herman.


"Ck! Gue masih sadar kok!" jawab Herman kesal.


"Kalo sadar ngapain kau ngelantur bilang Nana itu istrimu?"


"Tau! Udah yuk, kita pulang sekarang. Nggak sopan masih di rumah orang apalagi dalam keadaan mabuk."


"Kalo kalian nggak percaya, nih gue serahkan buktinya." Herman mengeluarkan ponselnya lalu mengutak-atik ponsel tersebut.


Teman-teman Herman saling memandang menunjukkan ekspresi sama-sama bingung. Namun, mereka mendekat ke arah Herman hingga Herman menunjukkan sebuah bukti yang mampu membuat semuanya tercengang.


---


Peristiwa soal Herman memberitahu hubungannya dengan Nana itu real ya guys di kisah nyata. Nggak digerebek atau ketahuan oleh orang lain. Itu murni dari Herman sendiri. Entah kenapa Herman bisa berpikiran pendek tersebut, tapi kemungkinan memang ia cemburu dengan Dana, suami pertamanya Nana.

__ADS_1


__ADS_2