
Author POV
Nana melempar asal ponselnya di ranjang setelah membaca satu-persatu pesan yang dikirimkan temannya. Semua teman dan para tetangga pada menanyakan kabar tentang perselingkuhannya dengan Herman yang telah tersebar di desa hingga ke luar desa. Bahkan tak segan-segan ada teman kerjanya yang membuat status menyindir tentang pelakor.
Nana tak bisa berbuat apapun karena kabar tersebut benar-benar sudah menyebar luas. Jikalau Nana mengelak, pasti teman-temannya pada tidak percaya dan mencari sumber terpercaya dari orang lain. Buat apa Nana klarifikasi jika mereka sendiri tak percaya.
Nana mengutuk Herman dalam hati karena laki-laki itu sudah bertindak bodoh. Mengapa Herman bisa dengan entengnya membongkar hubungan mereka pada malam itu? Apakah dia tidak memikirkan dampak apa yang akan terjadi jika hubungan mereka terungkap? Nana benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Herman waktu itu.
Diambil kembali ponsel miliknya lalu mencari kontak seseorang yang sudah membuatnya nasibnya terancam.
[Abang punya otak tidak?]
Nana menunggu balasan dari orang tersebut. Tak peduli jika pesannya dibaca oleh anaknya atau istrinya sekalipun. Yang terpenting ia harus meluapkan kekesalannya pada pria bodoh itu.
Bang Herman
[Maksudnya?]
[Bang Herman punya otak gak sih waktu bongkar hubungan kita didepan teman-teman Abang? Mengapa abang bertindak bodoh seperti itu?!]
Setelah mengirimkan pesan tersebut, tak berselang lama ponsel Nana berdering dengan nama Herman tertulis di panggilan tersebut.
"Halo!"
"Maaf, Na. Abang benar-benar minta maaf karena sudah bertindak bodoh waktu itu. Abang refleks mengungkapkan hubungan kita karena abang cemburu dengan kedekatanmu sama Dana," ucap Herman ditelepon dengan nada terdengar bersalah. Entah berada dimana laki-laki itu berada hingga ia nekad menelpon Nana mengajaknya berbicara.
"Buat apa abang cemburu, hah?! Abang 'kan tahu kalau Bang Dana itu suamiku. Suami sahku! Abang tak boleh bertindak seperti itu. Lagian masa iya cuma gara-gara cemburu abang bisa nekad membocorkan hubungan kita sampai memperlihatkan bukti-buktinya? Otak abang dimana, hah?!" Nana berusaha menekan suaranya agar tak terdengar sampai keluar kamar. Bisa mendapat masalah jika suaranya terdengar oleh Dana dan anak-anak jika ia sedang menelpon Herman, mantan suami gelapnya.
"Maaf, abang mengaku salah. Waktu itu abang minum minuman alkohol lalu melihat kemesraan kamu dan Dana di rumah pada malam setelah acara syukuran di rumah kamu. Abang terbawa suasana hingga tak sadar jika abang telah bertindak bodoh. Maafkan abang, Na."
__ADS_1
"Bodoh!!"
Pip!
Nana langsung mematikan sambungan dan melempar kembali ponsel tersebut. Ia menekuk kedua kaki dan menyembunyikannya di antara lutut. Masalah sekarang datang menimpa hidupnya. Dana berniat ingin menceraikannya. Belum lagi jika kabar Dana dan dirinya bercerai, otomatis para tetangga akan menjudge dirinya yang memang sebagai wanita pelakor setelah mengetahui alasan mengapa Dana dana Nana bercerai. Lalu bagaimana dengan nasib anak-anaknya nanti? Apakah mereka akan baik-baik saja setelah mengetahui hal tersebut? Apakah mereka akan membenci ibunya? Sungguh, Nana pusing memikirkan itu semua.
Nana mengangkat kepalanya saat mendengar suara pintu kamar terbuka dan menampilkan Dana yang baru saja membuka pintu.
"Kita perlu bicara. Segeralah naik ke atas." Setelah Dana mengucapkan hal tersebut, laki-laki itu pergi lebih dulu meninggalkan Nana yang terlihat kacau.
Nana menghapus setitik air mata yang keluar dari sudut matanya. Ia turun dari ranjang lalu menyusul suaminya yang naik ke lantai dua rumah yang baru saja dibangun. Nana tidak tahu mengapa Dana mengajaknya ke lantai dua ingin membicarakan sesuatu. Tapi yang jelas, Nana sudah ketar-ketir jika menyangkut keputusan Dana yang akan menceraikannya.
Anak-anak sedang berada diluar bermain dengan teman-temannya. Suara bising dari anak-anak sampai terdengar ditelinga Nana. Mungkin karena inilah Dana memintanya untuk ikut ke atas karena tak ingin anak-anak mendengar obrolan orang dewasa.
Setelah sampai di lantai dua, Nana dikejutkan dengan kehadiran ayah dan ibunya disana. Mereka berdua duduk di atas karpet depan kamar anak-anak. Nana tak menduga jika ada mereka disini terlebih lagi dengan kehadiran sang ayah. Nana menunduk merasa malu melihat tatapan ayah dan ibunya. Ia merasa bersalah karena sudah membuat nama keluarganya tercoreng akibat perbuatan gilanya.
Nana duduk di samping Dana dan berhadapan dengan kedua orangtuanya. Keringat sebesar biji jagung sudah bermunculan di kening. Nana meremas kedua tangannya merasa gugup dan takut secara bersamaan.
"Begini, Nak. Bapak mendengar kabar dari tetangga kita dan menanyakan soal hubungan kamu dengan Herman. Apakah berita itu benar?" tanya ayahnya dengan intonasi tenang dan lembut.
Nana menunduk tak berani mengangkat wajahnya. Mata wanita itu sudah mulai berkaca-kaca dan siap mengeluarkan cairan asin.
"Jawablah, Na. Tak ada lagi yang perlu kamu tutupi dari bapak. Bapak tidak akan marah jika kamu jujur dan mengakui kesalahanmu."
Nana mengangkat sedikit kepalanya melihat sang ayah. Pria yang umurnya sudah tua itu terlihat tenang menatapnya dengan sorot mata yang lembut. Tidak ada pancaran kemarahan disana. Nana tambah merasa bersalah melihat tatapan beliau.
Nana mengangguk kecil. "I-iya, Pak. Nana mengakui semua itu."
Pak Tanto menutup mata sambil menarik napas dalam-dalam. Raut wajahnya terlihat shock. Walaupun ia sudah menduga hal ini terjadi, tapi rasanya masih tak bisa dipercaya mendengar putrinya bisa melakukan perbuatan seperti itu.
__ADS_1
Sesungguhnya Pak Tanto tak percaya apa yang dikatakan tetangganya menanyakan soal hubungan gelap Nana dan Herman pada dirinya. Seorang ayah pasti takkan percaya jika putrinya yang dikenal anak yang baik bisa melakukan perbuatan terlarang tersebut. Ia sudah bertanya pada istrinya dan mendesak apakah berita itu benar adanya. Pak Tanto lagi-lagi menarik napas dalam-dalam setelah melihat istrinya mengangguk. Kabar miring tersebut rupanya sudah diketahui lebih dulu oleh istrinya dan sudah diakui kalau memang benar Nana dan Herman mempunyai hubungan. Akan tetapi Pak Tanto masih belum sepenuhnya percaya. Maka dari itu ia mengajak istri, Dana, dan Nana bertemu untuk membicarakan masalah ini.
"Lalu bagaimana denganmu, Nak. Apa keputusanmu?" tanya Pak Tanto kepada menantunya. Pak Tanto sudah mengetahui semuanya saat dimana Nana dan Herman telah disidang. Istrinya sudah menjelaskan bagaimana Nana dan Herman memulai hubungan hingga mereka nekad melakukan pernikahan kedua. Pak Tanto merasa gagal menjadi seorang ayah tak mengajarkan pelajaran ilmu agama pernikahan pada Nana. Begitu dangkalnya ilmu agama yang diketahui Nana sampai-sampai putrinya nekad melakukan poliandri?
Dana melirik istrinya yang saat ini memegang pergelangan tangannya. "Bang, Nana nggak mau pisah dari abang. Nana nggak mau cerai, Bang!" ucap Nana lirih sambil mengeluarkan air matanya. Nana sungguh-sungguh tak ingin pisah dari suaminya karena ia begitu mencintai lelakinya ini.
"Alasan apa yang harus aku pertimbangkan jika aku memilih perpisahan?" tanya Dana.
"Anak-anak, Bang. Tolong pikirkan anak-anak jika mengetahui orangtuanya berpisah," jawab Nana.
Dana tersenyum sinis. "Anak-anak? Mengapa harus anak-anak yang harus dilibatkan dalam masalah kita? Bukankah saat kamu berhubungan dengan Herman, kamu tak memikirkan anak-anak dan hanya memikirkan nafsumu saja?"
Nana menggeleng keras. "Tidak, Bang. Nana mengaku khilaf melakukan hal itu. Nana hanya menganggap Herman sebagai pelipur lara Nana saat abang tak ada disisi Nana. Nana tidak punya perasaan apa-apa dengan Bang Herman. Nana masih mencintai abang."
Kedua orangtua Nana dan Dana sama-sama saling menarik napas setelah Nana mendengar pengakuannya barusan. Mereka benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Nana yang mau mengikuti hawa nafsunya hingga nekad berselingkuh dengan Herman.
"Nak, apapun keputusanmu, bapak akan terima dengan ikhlas. Jika kamu memilih jalan berpisah, maka bapak akan menerima keputusanmu dengan hati yang lapang. Tapi bapak mohon untuk pikirkan terlebih dahulu sebelum kamu mengambil keputusan tepat. Masih ada Dinda, Aras, Nizam yang membutuhkan kalian. Bapak bukanya berpihak pada Nana, tapi bapak memikirkan batin cucu-cucu bapak."
Dana terdiam dan mengerti maksud dari perkataan bapak mertuanya. Lelaki itu memang memikirkan ketiga anaknya yang masih membutuhkan orangtua yang lengkap. Akan tetapi Dana sudah mengambil keputusan final untuk dirinya dan juga anak-anak. Dana sudah memikirkan matang-matang tentang kelanjutan jalan hidup rumah tangganya.
"Kapan kamu kembali ke Kalimantan, Dan?" tanya Bu Asih yang sedari tadi diam.
"Besok lusa, Bu."
"Jadi apakah kamu sudah mengambil keputusan sebelum kembali ke Kalimantan?"
Dana mengangguk, lalu menatap ke arah istrinya. "Dana akan membawa Nana dan anak-anak ke Kalimantan ikut bersama saya."
__ADS_1
...**Kalo ending season 1 kurang puas, akan dilanjutkan season 2. Ayo beri dukungan cerita ini guys**!!...