
Di tempat kerja, Herman mengajak seluruh anggotanya berdiskusi setelah makan siang di salah satu rumah warga. Dengan kursi bale yang terbuat dari bambu cukup luas untuk menempati beberapa orang, Herman dan kawan-kawannya mulai membuat lingkaran di tempat tersebut.
"Kenapa, Her?" tanya Anto setelah semuanya telah berkumpul.
"Begini, kemarin Pak Boss menawarkanku proyek jalan tol di Kalimantan yang didapat dari sahabatnya. Aku belum menerimanya karena aku harus meminta izin dulu pada istriku dan juga perlu bicara dengan kalian. Seandainya jika aku menerima tawaran tersebut, apakah kalian mau ikut?" jelas Herman sambil menatap satu-persatu temannya.
Anto dan kawan-kawan saling menatap setelah mendengar tawaran yang menggiurkan dari ketuanya. Mereka tak menyangka jika ada tawaran job besar di luar pulau dan sahabat dari Pak Boss mereka yang menawarkannya kepada mereka.
"Kalo itu kita gak bisa mengambil keputusan dulu, Her. Kita harus izin dulu sama keluarga-keluarga kita," jawab Badri yang diangguki setuju dengan yang lain.
"Iya aku tahu, maka dari itu aku memberitahu ini kepada kalian supaya kalian meminta izin terlebih dahulu pada istri kalian. Aku juga belum dipastikan jika istriku mengizinkanku pergi kesana," balas Herman.
"Seharusnya kamu memberitahu kabar ini setelah mendapat izin dari istrimu, Her. Bagaimana jika kita telah disetujui sama istri-istri kita sedangkan kamu sendiri belum menerima izin?" sentak teman yang lain.
'Justru itu yang aku inginkan supaya Yani mengizinkanku pergi kesana,' batin Herman menjawab.
Herman telah membuat rencana untuk bisa mengambil proyek tersebut. Dengan mengandalkan para rekan-rekannya yang telah disetujui oleh keluarga mereka, otomatis Herman akan meminta Yani untuk mengizinkannya pergi ke Kalimantan bersama kelompoknya dengan alasan merasa tak enak kepada rekan timnya. Disaat kelompok yang lain telah bersedia dan disetujui oleh istri-istri mereka, Herman sendiri yang belum mendapat izin dari istrinya sehingga membuat Yani terpaksa menyetujui keinginannya. Herman tahu Yani memiliki sifat merasa tak enak kepada seseorang. Dengan mengandalkan hal tersebut, Herman bisa memohon kepada istrinya supaya ia diberi izin ke Kalimantan.
"Tenang saja, aku telah membicarakan ini kepada istriku. Dia bilang jika kalian setuju ikut denganku ke Kalimantan, maka ia akan mengizinkanku pergi," jawab Herman hingga para rekannya mengangguk mengerti.
"Yasudah, aku cuma mau menyampaikan hal itu kepada kalian. Istirahatlah, setelah itu kita lanjutkan pekerjaan kita," titah Herman lalu beranjak dari kursi bale tersebut.
"Tunggu, Her!"
Herman menghentikan langkahnya dan berbalik menatap seseorang yang baru saja memanggilnya.
"Sampai kapan batas waktu yang diberikan untuk berpikir?" tanya Anto.
"Sampai bulan depan setelah lebaran," jawab Herman lalu kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
...~~~...
__ADS_1
Yani termenung sendirian di teras rumahnya, memikirkan ucapan suaminya semalam. Jujur saja perasaannya mengatakan tak ingin Herman mengambil tawaran tersebut di Kalimantan. Ia takut jika suaminya masih akan berhubungan lagi dengan Nana karena disana ada wanita itu. Seandainya proyek yang ditawarkan bukan di Kalimantan, Yani akan mengizinkan suaminya pergi. Namun, jika proyek tersebut berada di Kalimantan, Yani ragu mengizinkannya.
"Tante!"
Yani tersentak dan melihat kearah tangga melihat keponakannya datang dari arah tangga sambil membawa anaknya dan kantong kresek di tangan satunya lagi.
"Eh, Irna. Sini duduk!" ucap Yani mempersilahkan keponakannya bernama Irna duduk di sampingnya.
Irna duduk di samping Yani lalu meletakkan kantong kresek yang dipegangnya tadi ke meja kecil dihadapannya.
"Hei, baru kelihatan, hmm." Yani mengajak ngobrol anak Irna yang masih balita. Anak berusia 6 bulan itu tersenyum kepada Yani hingga memamerkan isi mulutnya yang kini mulai tumbuh gigi susu. Yani mengangkat anak Irna bernama Azka ke pangkuannya dan bermain sejenak dengannya.
"Kamu bawa apaan ini, Na?" tanya Yani melihat kantong kresek di meja.
"Ini gula merah, Tan. Kemarin tante titip gula 'kan sama Bang Dika pas dia mau ke pasar," jawab Irna.
"Oh gitu, berapa totalnya?" tanya Yani.
"Tunggu bentar." Yani bangkit sambil membawa Azka masuk kedalam rumahnya ingin mengambil uang di kamar.
"Nih, Na." Yani menyerahkan uangnya setelah ia kembali ke teras.
"Terimakasih, Tan," jawab Irna sambil mengambil uang tersebut.
"Na, mama kamu di daerah mana tinggal di Kalimantan?" tanya Yani yang lupa di mana tinggal kakaknya di Kalimantan.
"Di Kapuas Hulu, Tan. Kalimantan Barat."
Yani mengangguk. "Kalo Dana, kamu tahu nggak di daerah mana dia kerja?"
Irna terdiam sejenak, berpikir. "Bang Dana suaminya Kak Nana?" tanya Yani yang dijawab anggukan oleh Yani.
__ADS_1
"Aku nggak tahu, Tan. Katanya sih dia di daerah Kalimantan timur. Tapi aku nggak tahu kota mana dia tinggal," ucap Irna. "Memang kenapa?"
Yani menghela napas. "Om kamu dapat proyek disana. Semalam ia baru saja memberitahukannya."
"Om Herman dapat tawaran pekerjaan di Kalimantan?" tanya Irna dijawab anggukan oleh Yani.
"Terus Tante izinkan?" sambung Irna.
"Tante belum menjawabnya karena disuruh berpikir dulu."
"Memang tante mau mengizinkan Om Herman pergi?" tanya Irna.
Yani menghela napas dan menatap Irna. "Sejujurnya tante nggak mau Om kamu pergi kesana. Apalagi yang tante takutkan adalah bagaimana jika Om kamu bertemu dengan Nana disana nanti. Luka yang diberikan mereka masih belum mengering sampai sekarang lho, Na. Apalagi hubungan mereka pernah berjalan selama 2 tahun. Sampai sekarang tante nggak bisa lupain tentang perselingkuhan mereka."
Irna terdiam menatap mata adik dari ibunya yang menunjukkan sisi lukanya. Irna tahu tentang hubungan Herman dan Nana karena saat sidang, ia juga berada disana menyaksikan semuanya. Walaupun Irna tak pernah mengalami apa yang dirasakan oleh tantenya. Akan tetapi, sebagai sesama wanita ia juga ikut merasakan luka yang diakibatkan oleh Nana dan Herman, keluarga dekat mereka sendiri.
"Namun, di satu sisi tante juga memikirkan tabungan Tante yang mulai menipis sekarang. Tante mau membelikan motor untuk Nadia berangkat sekolah. Belum lagi tante juga berkeinginan membangun kamar dan ruang keluarga di bawah rumah," sambung Yani sambil memijit keningnya yang terasa sedikit pusing.
"Sabar ya, Tante. Bang Dika juga lagi ngumpulin uang untuk mengganti biaya pernikahan Irna waktu itu," ucap Irna merasa sedikit tersentil saat tantenya menyinggung soal tabungan Yani dan Herman yang dipakainya untuk membuat acara pernikahannya tahun lalu.
Suaminya, Dika hanya bekerja serabutan. Dika akan menerima apa saja pekerjaan yang dilakoninya. Dari kuli bangunan sampai membantu perkebunan tetangga. Namun, walaupun Dika tak memiliki pekerjaan tetap. Dika memiliki beberapa petak sawah dan sapi sebagai pahan pokoknya. Dika mempunyai 3 sapi, satu betina dan dua jantan. Dan Rencananya sapi yang jantan yang baru saja tumbuh dewasa akan dijual dan akan mengganti biaya pesta pernikahan Irna nanti.
"Nggak apa-apa, tante nggak bakalan mendesak kamu kok untuk membayarnya." Yani tahu apa yang dipikirkan keponakannya. Perasaan tak enak menghinggapi dirinya membahas soal tabungannya.
"Terus tante akan mengizinkan Om Herman pergi ke Kalimantan?" tanya Irna.
"Entahlah, tante nggak tahu. Nanti tante mau tanya-tanya dulu sama Om-mu," jawab Yani.
...~~~...
Jangan lupa like komen vote dan beri bintang 5 cerita ini ya guys.
__ADS_1