
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di bab ini!...
...--------------...
Herman POV.
Semua benar-benar diluar kendali. Aku dan Nana sudah ketahuan akibat kebodohanku sendiri. Sekarang aku tidak tahu harus berbuat apalagi selain menjelaskan semuanya ini pada Yani. Walaupun aku sudah menjelaskan semuanya saat disidang tadi, tapi aku tetap saja takut saat apa yang dikatakan oleh Pak Hasan tadi. Aku takut nanti jika Yani akan menggugat cerai diriku. Sungguh, aku tak mau itu terjadi.
Suasana di ruang tamu benar-benar hening dan hanya suara isak tangis Yani yang berusaha ia tahan yang ditenangkan oleh Bu Desi. Aku tahu Yani sedang merasa sakit hati setelah mengetahui perbuatanku. Namun, aku juga tidak tahu ada apa dengan diriku yang nekad menikahi Nana. Dari yang berawal hanya kasihan, lalu berujung keterusan hingga kami sama-sama nyaman.
Yani sebenarnya istri yang sempurna untukku. Dia begitu telaten mengurusku dan ketiga anak kami. Akan tetapi hanya satu kekurangan dirinya yang tak membuat mata suaminya puas. Yaitu tampilannya badannya yang sedikit gemuk mampu membuat mataku berpaling dari tubuh istriku sendiri.
Apakah aku salah?
Tentu, kalian menganggapku salah karena hanya sepele seperti ini mampu membuatku selingkuh. Namun, apakah kalian tahu hasrat laki-laki itu gimana? Apakah kalian––untuk kaum wanita tahu cara memuaskan suaminya sendiri di ranjang? Jika tahu, mengapa laki-laki yang sudah menikah mampu berani berselingkuh di belakang istrinya hanya karena urusan ranjang.
Kebanyakan para suami mencari selir hanya untuk memuaskan fantasi liarnya yang tak didapat dari istrinya. Jika suami ingin ini itu saat berhubungan, istri kadang ada yang menolak dan seolah jijik melakukan itu. Jadi jangan salahkan para suami jika mereka akan mencari fantasinya sendiri yang tak didapat dari istrinya. Termasuk dengan diriku sendiri.
Akan tetapi se-bajingan apapun diriku, aku akan tetap kembali kepada istriku. Aku tak akan terlena terus-menerus dengan Nana karena faktor utama dia sudah mempunyai suami. Selain itu, aku juga memikirkan ketiga anakku yang akan sedih jika aku berpisah dengan Yani. Karena itulah Nana aku hanya jadikan sebagai selirku, bukan untuk dijadikan teman hidupku.
"Pak, setahu saya jika ada seorang suami/istri yang menikah diam-diam tanpa sepengetahuan pasangannya, bukankah itu di tindak pidanakan?" Suara intrupsi dari Dika membuatku tersentak.
Dipidanakan? Apakah itu berarti aku dan Nana akan di penjara?
"Ya, yang saya tahu jika suami/istri menikah diam-diam tanpa seizin dari pasangannya, maka dapat dipidanakan di penjara paling lama 5-7 tahun di negara kita," jawab ustadz Nico.
Aku menelan saliva merasa resah. 5-7 tahun di dalam penjara? Menginap seharian disana saja tak ada yang mau, apalagi sampai 5 tahun. Aku tidak mau masuk penjara!
Namun, apakah Yani akan melaporkanku? Apakah dia tega?
"Pak, bisakah aku dan Yani berbicara empat mata?" tanyaku pada Pak Hasan.
__ADS_1
"Silahkan, Nak. Tapi bapak mohon untuk tidak meninggikan suara kalian saat berbicara nanti, takut orang lain mendengarnya."
Pak Hasan mengizinkanku dan meminta orang-orang untuk memberi kami privasi. Ku lirik sejenak ibunya Nana menangis setelah ia keluar. Ah, beliau pasti merasa sedih dengan perilaku putrinya.
Setelah semua orang keluar dan pintu di tutup, aku mendekati Yani yang masih menangis. Aku duduk di sampingnya sambil menunggu ia tenang terlebih dahulu.
Sungguh, melihatnya seperti ini membuatku ingin memeluknya dan memenangkannya. Akan tetapi aku tak bisa melakukan hal itu takut Yani terkejut dan mendorongku seakan aku ini mahluk menjijikkan yang tak ingin disentuh olehnya.
"Yan, aku ... minta maaf. Tolong maafkan kesalahanku," ucapku setelah beberapa menit hening.
Yani diam dan tak melihat ke arahku. Ia memalingkan wajahnya ke dinding seolah tak sudi melihat suaminya. Sebegitu jijik kah dia padaku?
"Aku tahu aku salah. Aku minta maaf telah menjalin hubungan dengan Nana di belakang keluarga."
"Kenapa?" tanya Yani dengan suara serak. Aku begitu senang ketika ia merespon ucapanku.
"Kenapa kamu mau berhubungan dengan sepupuku sendiri?" sambung Yani. Bahkan ia memanggilku dengan sebutan 'kamu' bukan lagi 'pak' seperti biasanya.
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa aku utarakan padanya. Semua sudah kujelaskan tadi. Yani sudah tahu alasanku menikahi Nana.
"Apakah kamu tidak memikirkanku dan bersalah padaku saat kamu menjalin hubungan dengannya? Lebih penting kah dia daripada istrimu?" sambung Yani dengan nada pilu yang membuatku ikut merasa sesak di hati.
Aku memang sempat merasa bersalah saat aku telah menjalin hubungan dengan Nana. Aku berpikir apakah Yani akan menceraikanku setelah aku ketahuan. Namun, aku selalu menepis semua itu setelah bersama dengan Nana. Aku begitu terlena dengan pelayannya hingga kami melupakan status kami pada saat itu.
"Apa yang kamu lihat dari Nana hingga kamu mau menjadikan dia istri keduamu? Apakah dia cantik? langsing? putih? Atau dia jago dalam urusan ranjang hingga mampu membuat kalian lupa pada status kalian, hah?!" ucap Yani yang kini menatapku. Bisa kulihat pancaran matanya yang memendam rasa sakit. Bulir bening di matanya yang kini siap jatuh di pipi. Sungguh, aku ingin sekali menghapus air matanya dan menyuruhnya untuk berhenti menangis. Namun, lagi-lagi aku tak bisa.
Secara wajah Yani memang lebih unggul daripada Nana. Wajah Yani ayu dan manis dibandingkan dengan Nana yang biasa saja. Warna kulit memang sedikit lebih putih Nana ketimbang Yani yang mempunyai kulit kuning langsat. Masalah ranjang, tentu Nana yang paling jago dalam melakukan urusan itu. Namun, aku tak mungkin mengatakan sebenarnya pada Yani. Takut ia akan makin membenciku jika aku membanding-bandingkannya dengan Nana.
"Bukan, bukan itu alasanku menikahi Nana, Yan. Aku hanya kasihan dengannya tanpa diperhatikan suaminya sendiri. Aku melihat dia seperti orang stress memikirkan segala sesuatu yang menimpa dirinya. Aku membantunya sebisaku hingga ... aku mengajaknya untuk menikah," ucapku pelan diakhir.
Yani membuang muka lalu menghapus air matanya. "Apa hanya itu alasannya?"
__ADS_1
"Iya."
"Memberikan perhatianmu padanya, memberikan ketenangan padanya, dan memberikan nafkah lahir dan batin juga?"
"I-iya," jawabku jujur.
Yani diam dan kami kembali dalam keadaan hening. Aku tak tahu harus melakukan apa supaya Yani percaya lagi padaku. Aku tak ingin sampai Yani mempunyai kepikiran menggugat cerai diriku. Aku tak mau berpisah darinya dan berjauhan dengan anak-anak.
Sejujurnya aku bisa saja mengambil hak asuh anak-anak karena umur mereka sudah pada besar. Akan tetapi aku memikirkan sikap ketiga anakku yang tak ingin pisah dari ibunya. Apalagi Arham yang selalu manja pada Yani. Tak mungkin aku memisahkan mereka hanya karena keegoisanku. Aku yang sudah berbuat salah, lalu dengan egoisnya aku mengambil hak asuh anak-anak dari Yani. Bukankah aku begitu jahat jika aku melakukan hal itu.
"Yan, kamu boleh memukulku, menamparku, atau menendangku untuk menghilangkan rasa emosimu. Aku memang pantas diperlakukan seperti itu. Tapi tolong, jangan kepikiran untuk bercerai dariku. Aku tidak mau kita berdua pisah," ujarku memohon.
"Kenapa? Bukankah jika kita cerai kamu bisa lebih dekat dengan Nana tanpa harus sembunyi-sembunyi? Tunggulah Nana diceraikan oleh Dana terlebih dahulu lalu kamu bisa menikahi dia secara resmi," ucap Yani tanpa beban.
"Tidak, Yan! Sampai kapanpun aku tidak ingin kita cerai. Aku masih mencintaimu. Nana hanya kuanggap sebagai bentuk rasa kasihan saja, tidak lebih. Tolong pikirkan anak-anak jika kita berdua pisah," ucapku jujur.
Aku memang masih mencintai Yani dan tak rela jika sampai kita bercerai. Yani sudah menemaniku dari belasan tahun. Kita berdua sudah sama-sama menjalani pahit dan manis kehidupan bersama. Dia yang selalu ada jika aku membutuhkan semangat atau saran darinya. Tak mungkin aku rela berpisah darinya hanya untuk Nana yang hanya ku jadikan pelampiasan.
Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan berpisah dari Yani. Jika Yani tetap teguh dengan pendirinya, maka aku akan mengambil hak asuh anak-anak dan membawanya pergi tinggal di kota. Aku yakin Yani akan tetap mempertimbangkan hal itu jika aku membawa anak-anak.
...\=\=\=...
Author POV
Sedangkan di tempat lain, Nana bersimpuh di kaki Dana yang hanya duduk di tepi ranjang dengan pandangannya lurus ke depan. Suara isak tangis Nana memenuhi suasana kamar mereka yang tampak seperti kapal pecah akibat pelampiasan Dana.
Nana terus memohon ampun dan maaf pada Dana yang kini hanya diam tanpa bereaksi apapun. Pancaran mata Dana benar-benar kosong seperti sedang bertikai dengan pikirannya.
"Sebaiknya kita pisah saja."
---
__ADS_1
Beberapa chapter lagi kisahnya bakalan tamat ya guys. Maksudnya kisah season 1 dari cerita ini dan akan dilanjutkan season 2 dengan murni fiktif belaka tanpa campuran dari kisah nyata. Season 2 benar-benar murni dari karangan penulis.
Jangan lupa tekan like dan komentarnya, oi!!!