
Nana POV
Suamiku
[Nan, minggu depan aku pulang. Mau dibawain oleh-oleh apa?]
Pesan dari Bang Dana membuatku girang seketika. Suamiku yang pulang setahun sekali selalu mengabariku jika dia akan pulang. Biasanya dia akan pulang sebelum setelah memasuki bulan puasa dan mengambil cuti tiga minggu. Atau hari lainnya jika disini punya keperluan mendadak.
Aku begitu senang mendengar kabar berita ini. Kalian tahu, istri yang ditinggal kerja oleh sang suami pasti harus menahan rasa rindunya. Terlebih lagi jika sang suami perginya begitu lama. Aku pun merasakan rindu pada Bang Dana setelah sekian lama. Ya walaupun ada Bang Herman yang kadang suka menemaniku kala sedang merasa sepi, tetap saja rasanya berbeda.
Jika dengan Bang Dana, aku bisa puas-puasnya bersama dengan dirinya tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti hal yang dilakukan olehku dan Bang Herman. Kehidupanku memang bisa terbilang sempurna memiliki dua suami yang begitu perhatian. Namun, tetap saja ada perasaan salah menjalani kehidupan seperti ini.
Apakah perasaan bersalah kepada Bang Dana dan Yani?
Mungkin saja. Tapi jika aku berhenti, apakah aku bisa bertahan dengan hasratku? Apakah aku bisa berhenti menyuruh Bang Herman datang padaku? Apakah Bang Herman akan menerimanya?
Minggu lalu saja saat aku meminta Bang Herman datang ke rumahku, dia tidak bisa datang karena harus menemani Arham sakit hingga membuatku begitu kesal. Segitu saja sudah membuatku kesal, apalagi jika harus menghentikan hubunganku dengan Bang Herman? Sanggupkah aku bisa lepas darinya jika aku merasa kesepian?
"Mah!"
Aku tersentak dan menoleh saat mendengar suara. Rupanya Dinda duduk di sampingku dan menatapku bertanya-tanya.
"Ada apa, Dek?"
"Mama ngelamun?"
"Ah, nggak kok. Mama lagi nonton," jawabku dusta sembari menunjuk layar televisi lalu kembali ke arah Dinda.
"Kenapa, Dek?" tanyaku mengalihkan perhatian.
"Dinda mau minta uang buat beli LKS ujian nanti, Mah."
"Oh, coba kamu ambil dompet Mama di lemari. Masih ada gak ya uang Mama di dompet?" Keuangan yang kupegang memang makin menipis untuk keperluan sehari-hari dan anak-anak. Aku lupa pergi ke ATM mengambil uang.
"Ini, Mah." Dinda menyerahkan dompetku.
Aku mengecek isinya dan rupanya masih ada sedikit uang. "Berapa?" tanyaku pada Dinda.
"20 ribu."
"Cuma itu?" tanyaku dan Dinda mengangguk.
Aku menyerahkan uang pas padanya lalu Dinda menerimanya. Namun, Dinda tak beranjak. Dia masih duduk di sampingku dengan kaki di selonjorkan.
"Mah, boleh nanya?"
__ADS_1
"Tanya apa?"
Kulihat Dinda sedikit ragu dan gelisah dari pandangan matanya. Aku menyeringit bingung melihatnya. Sepertinya ada yang ingin Dinda sampaikan padaku hingga membuatnya ragu seperti ini.
"Ada apa, Dek? Tanyakan saja, Mama nggak akan marah kok?" tanyaku meyakinkan dia.
Dinda memperbaiki posisi duduknya lalu menatap serius ke arahku. "Mah, mama sama Om Herman kelihatan dekat banget ya akhir-akhir ini."
Deg~
Aku terkejut mendengar penuturan putriku. Apa maksud Dinda mengatakan hal itu barusan? Sebisa mungkin aku tak menunjukkan reaksi tubuhku pada Dinda. Aku harus bersikap santai dihadapannya.
"Maksudnya?"
"Iya, aku lihat Mama begitu dekat dengan papanya Nadia. Seperti orang-orang pacaran gitu."
Duh, kok Dinda makin ngelantur sih?! Bisa bahaya ini kalau dia terus-terusan bertanya seperti ini.
"Kamu ini gimana sih. Ya mama memang dekat sama Om Herman karena dia suami sepupu Mama. Lagipula Mama juga sedang minta tolong padanya untuk beli bahan-bahan bangunan buat lantai dua rumah ini." Sebisa mungkin aku menjelaskan baik-baik terhadap anak yang sedang memasuki fase remaja ini. Aku tidak mau membuat Dinda kepikiran tentangku dan Bang Herman yang memang memiliki hubungan.
"Tapi apa harus sampai pegangan tangan dan mengelus paha Mama?"
Deg~
Aku membelalakkan mataku terkejut. Darimana Dinda tahu soal ini? Apakah dia pernah melihat langsung?
"Aku pernah melihatnya langsung, Mah!"
Ya Allah! Rupanya Dinda sudah pernah melihatnya langsung. Namun, bukankah aku dan Bang Herman selalu main aman? Lalu kenapa Dinda bisa tahu soal ini?
Apakah Dinda juga tahu soal tindakanku dan Bang Herman saat malam hari? Kalau iya, bisa gawat ini!! Dinda bukan anak kecil lagi yang tak tahu soal begituan. Dia sudah tahu tentang hal-hal berbau dewasa karena aku pernah mengajarkannya soal *** education. Di sekolah pasti sudah diajarkan tentang hal ini oleh gurunya.
Duh, bagaimana ini?! Jawaban apa yang harus aku berikan padanya?! Tidak mungkin aku harus menjawab jujur tentang hubunganku dengan Bang Herman padanya.
"Tolong jawab jujur, Mah! Apa Mama sama papanya Nadia punya hubungan?" desak Dinda dengan tatapan intimidasi.
Tenang Nana, kamu harus tenang. Nggak boleh panik dihadapan Dinda. Bisa-bisa dia malah makin curiga dengan melihat reaksiku yang berlebihan. Sebisa mungkin aku harus tenang menyikapi ini.
"Mama sama Om Herman nggak punya hubungan apa-apa, Dek. Tolong kamu percaya sama Mama. Soal yang kamu lihat Mama pegangan tangan sama Om Herman itu karena telapak tangan Mama lagi pegal-pegal. Om Herman menawarkan bantuan karena dia itu jago mijit. Serius Mama nggak punya hubungan apa-apa sama Om kamu!" jelasku berharap dia percaya dengan kebohongan yang kucipta. Maafkan Mamamu ini yang telah membohongimu ya, Nak.
"Lalu yang tangan Om Herman di paha Mama gimana?"
"Kalo itu Mama nggak sadar, Dek. Mungkin itu cuma kebetulan dan tak sengaja yang Om Herman lakukan."
Kulihat dari raut wajah Dinda seperti ragu mempercayai perkataanku. Aku berkali-kali menelan air liurku susah payah akibat dugaan Dinda. Namun, aku harus tetap meyakini dia dan berusaha bersikap tenang.
__ADS_1
"Kamu nggak percaya sama Mama?" tanyaku sendu.
"Bukan gitu, Mah. Tapi Dinda nggak suka melihat kedekatan Mama sama Om Herman yang terlampau dekat. Dinda nggak mau Mama menjadi bayangan pikiran Dinda yang terlihat buruk di mata Dinda."
Ya ampun, Nak, maafkan Mama yang sudah membuatmu berpikiran macam-macam tentang Mama. Namun, apa yang ada bayangan pikiran kamu itu memang mungkin benar, Nak. Mama ini wanita jahat. Wanita penghancur rumah tangga seperti di film-film ikan terbang yang sering kita nonton. Tolong maafkan Mama ya, Nak.
(Kok aku ngakak ya disini 😂)
"Tidak, Nak, Mama bukan orang seperti itu. Mama tidak mungkin menjadi penghancur kebahagiaan seseorang apalagi dari keluarga kita sendiri." Ya walaupun Mama akan menjadi penghancur kebahagiaan sepupu Mama jika semuanya terbongkar, lanjutku yang tak mungkin aku utarakan pada Dinda.
"Mama serius 'kan nggak punya hubungan apa-apa sama Om Herman?" tanyanya lagi supaya aku meyakinkan dirinya.
"Tidak, Nak. Mama sam Om Herman tak mempunyai hubungan apa-apa selain urusan bangun lantai dua untuk rumah kita!" dustaku berbohong.
Dinda terdiam seperti seolah ragu dengan ucapanku. Duh, bagaimana harus meyakinkan Dinda?
"Dek, Minggu depan papa balik. Barusan dia kirim pesan," ucapku mengalihkan topik. Hanya ini yang bisa kulakukan agar Dinda tak kepikiran soal pembahasan tadi.
"Yang bener, Mah?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Iya, kamu nggak mau minta oleh-oleh apa gitu sama Papa sebelum dia balik kesini? Tadi Papa nanyain ke Mama."
Dia berpikir sejenak. "Ada sih, tapi biar Dinda yang bicara sama Papa langsung," ucapnya lalu bangkit berdiri dan pergi ke kamarnya. Mungkin dia akan mengabari papanya lewat ponselnya.
Aku bernapas dengan lega setelah Dinda balik ke kamar. Entahlah apakah Dinda percaya atau tidak. Aku akan meminta Bang Herman untuk jangan selalu datang kesini jika sedang ada Dinda di rumah.
...\=\=\=...
Herman POV.
Saat ini aku sedang berada di sebuah kampung yang bagian jalannya sedang diperbaiki dan diperbaharui setelah diberitahu oleh atasanku. Jalan disini begitu rusak setelah curahan hujan terus-menerus beberapa tahun silam hingga membuat pinggir jalanan rusak hingga membuat tanahnya longsor.
Aku dan timku berusaha akan memperbaikinya agar jalanan ini bisa layak dipakai oleh pengendara dan orang-orang. Pekerjaanku bisa dibilang cukup bagus karena bekerja sebagai proyektor jalanan. Aku tak perlu repot-repot bekerja seperti suaminya Nana yang harus merantau ke Kalimantan untuk menghidupi keluarganya.
"Bisa kita bicara sebentar saat pulang nanti?" ucap Muhlis datang setelah menepuk pundakku. Kami semua sedang beristirahat di bawah rumah kepala desa di kampung ini.
Muhlis juga bagian dari timku. Bedanya aku bekerja sebagai pengawas, dia bekerja sebagai tukang. Namun, aku tidak membeda-bedakan pekerjaan kami.
"Boleh, jam berapa?"
"Jam 9, di bawah rumahku."
"Kenapa nggak bicarakan langsung di sini?" Bukankah lebih bagus dibicarakan disini daripada harus datang ke rumahnya? Apakah pembicaraannya sangat penting hingga mengajakku mengobrol?
Muhlis memperhatikan orang-orang yang sedang makan lalu beralih ke arahku dan medekat.
__ADS_1
"Ini penting. Soal hubunganmu dan Nana," bisiknya di telingaku.
Hubunganku dan Nana? Maksudnya apa coba?