
Dana membanting perabotan kamar, menarik sprei, melempar bantal guling, dan mengeluarkan pakaian di lemari dengan acak-acakan. Emosinya masih meluap setelah kembali dari rumah orangtuanya Yani. Hatinya dirundung perih dan sakit saat mengetahui istrinya telah mengkhianatinya.
Berusaha ia setia dan bekerja keras di Kalimantan untuk ketiga anak dan istrinya. Namun, apa yang ia dapatkan dari istrinya membuat pengorbanannya terasa sia-sia. Nana telah berkhianat dan menikah lagi dengan Herman dengan alasan kesepian.
"Bang, udah Bang! Jangan kayak gini!" tegur Nana sambil berderai air mata mencegah Dana melampiaskan emosinya.
Akan tetapi, Dana seolah kalap tak memperdulikan perkataan istrinya dan terus memporak-porandakan kamar mereka sampai pakaian anak-anak dihamburkan juga ke lantai. Nana yang tak tahan melihat semua ini mendekati Dana dan memeluk suaminya dari belakang mencoba menenangkan Dana. Namun, bukannya tenang, emosi Dana langsung meningkat hingga ia melepas kasar pelukan istrinya dan mendorong wanita itu hingga tersungkur.
"Jangan pernah menyentuhku!!" hardik Dana tajam.
"Aku tidak tahu dimana letak kesalahanku hingga kau tega menusukku dari belakang," ucap Dana menatap Nana tajam. Terlihat di mata Dana sudah merah dilanda emosi yang memuncak.
"Menurutmu apa cuma kau saja yang tak tahan dengan sentuhan dan perhatian? Apa kau tahu bagaimana harus menahan rasa rinduku dengan sentuhan-sentuhan dari wanita? Kau tahu, bukan? Aku pun juga sama sepertimu, Nana. Aku juga butuh hasrat biologis yang tak didapat darimu selama aku di Kalimantan," jelas Dana lantang.
"Tetapi aku tidak pernah berpikir untuk mencari pengganti ataupun berniat berselingkuh di sana. Karena apa? Karena kau, Nana! Karena kau aku menjunjung tinggi kesetiaan di sana!!"
Nana menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya terus berderai setelah mendengar pengakuan suaminya. Sebegitu berharganya kah dia sampai Dana menahan hasratnya?
Dana memejamkan mata lalu memegang dadanya yang tiba-tiba sedikit terasa nyeri. Lelaki yang sedang dilanda kekecewaan besar tersebut memilih duduk di tepi ranjang lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dana memang terkenal di desa dengan tutur katanya yang lembut dan orang yang sabar. Tak pernah para warga atau teman-teman kerjanya melihat Dana marah atau sampai ribut dengan orang lain. Lelaki itu begitu sabar dalam menghadapi masalah tanpa harus menggunakan emosinya.
Namun, kali ini bukan perkara yang mudah bagi Dana. Ia tak bisa mengendalikan emosinya saat mengetahui kelakuan istrinya dibelakangnya. Sesabar apapun manusia, pasti emosinya akan meluap jika kesabarannya telah habis karena dirinya merasa sangat tersakiti atau tidak dihargai sama sekali.
Nana mendekat lalu bersimpuh di kaki suaminya, memeluk kedua kaki Dana dan menegelamkan kepalanya di paha sang suami.
"Maafkan aku, Bang. Tolong maafkan aku. Aku salah, aku benar-benar khilaf telah melakukan itu. Tolong ampuni aku," ucap Nana sambil sesenggukan.
Wanita itu tahu kesalahannya begitu besar dengan menikah lagi yang jelas-jelas ia sudah tahu hukumnya. Namun, karena sudah terlena, ia mengabaikan semua itu.
"Khilaf? Yakin cuma khilaf? Kok sampai dua tahun ya khilaf-nya?" sindir Dana datar dan membiarkan Nana memeluk kakinya hingga celana yang ia pakai terasa basah di bagian permukaan akibat air mata istrinya.
Nana tak menjawab dan terus menangis. Apa yang dikatakan Dana memang benar. Ia tak akan menampik soal itu.
"Aku minta maaf, Bang. Aku salah, tolong ampuni aku," racau Nana terus-menerus.
Dana yang sudah kembali tenang kini hanya menatap dinding yang ada dihadapannya dengan pandangan kosong. Untung saja anak-anak mereka sudah pada berangkat ke sekolah. Jadi Dana bisa leluasa meluapkan emosinya. Tak peduli jika tetangga lainnya mendengarkan keributan rumah tangganya.
"Sebaiknya kita pisah saja, Nan."
Nana mengangkat kepala dan menatap suaminya tak percaya. Ia begitu terkejut mendengar perkataan Dana barusan.
"A-abang ...??" Nana tak bisa melanjutkan kata-katanya. Hatinya merasa sakit sekaligus cemas sekarang. Dana minta pisah darinya? Apakah suaminya itu serius? pikir Nana.
__ADS_1
'Nggak! Aku nggak mau pisah dari Bang Dana. Aku nggak mau bercerai!!' batin Nana menjerit sambil menggelengkan kepalanya.
"Nggak, Bang! Nana nggak mau pisah sama abang! Nana tahu kesalahan Nana besar. Tapi tolong jangan minta pisah. Aku mohon, Bang, jangan!" Nana memohon sembari air matanya bertambah deras keluar. Inilah yang ditakutkan Nana jika perbuatannya diketahui oleh Dana. Pasti lelaki itu akan meminta cerai darinya.
"Untuk apa mempertahankan pernikahan kita jika kamu sendiri tidak mampu menjaga kesetiaan? Bahkan ... tubuhmu saja sudah disentuh orang lain," ucap Dana merasa pilu di dada. Hatinya terasa sakit setelah mendengar pernyataan Herman jika Nana telah mendapatkan nafkah batin dari orang itu.
"Tolong maafkan Nana, Bang. Abang boleh melakukan apa saja pada Nana. Abang boleh memukulku, menamparku, atau sebagainya, yang penting membuat abang puas. Abang boleh meminta apapun pada Nana asalkan jangan minta perceraian, Bang, Nana mohon."
Dana menatap Nana lalu sebuah tarikan kecil muncul di sudut bibirnya. "Kau yakin?" tanya Dana meminta sekali lagi. Ia ingin memastikan apa yang diucapkan Nana benar-benar serius.
Nana mengangguk yakin. "Iya, asalkan abang jangan meminta cerai."
"Termasuk jika aku berpoligami?"
Skakmat! Nana mati kutu setelah mendengar permintaan suaminya. Poligami? Benarkah Dana ingin menikah lagi? Membayangkan Dana berpoligami saja membuat Nana tak sanggup bertahan di sisinya. Namun, jika dengan permintaan ini Dana tak menceraikannya, apakah Nana harus hidup berbagi suami? Apakah Dana ingin balas dendam padanya karena ia sudah menikah lagi? pikir Nana.
Dana yang melihat reaksi istrinya yang terdiam berdecih dalam hati. Ia tahu istrinya akan menolak jika ia berpoligami. Dana sudah tahu karakter Nana yang egois. Tak mungkin Nana mengizinkan dirinya menikah lagi dan membagi suaminya dengan wanita lain.
Akan tetapi permintaan yang diucapkan Dana tadi hanya sekedar main-main saja. Ia tak sungguh-sungguh mengatakan ingin berpoligami. Tak ada keinginan Dana untuk kesana. Ia hanya ingin melihat bagaimana reaksi istrinya saat meminta dirinya untuk menikah lagi.
"Sudahlah, aku akan tetap dengan keputusanku. Aku ingin kita pisah!"
Setelah mengatakan hal tersebut, Dana bangkit dan melepaskan paksa tangan Nana dari kakinya lalu berjalan keluar tanpa memperdulikan panggilan istrinya. Namun, saat ia tiba di ruang tamu, Dana berhenti melangkah dan melihat ibu mertuanya duduk di sofa dengan matanya yang sembab dan terus mengeluarkan air mata.
Ibunya Nana berdiri dan mendekat ke arah Dana. "Apakah kamu yakin minta pisah dari Nana?" tanya ibu mertuanya dengan suara serak.
...\=\=\=...
Sedangkan di sisi lain, Herman dan Yani sudah berada di rumah mereka. Yani kini sedang memasak di dapur dengan mulut tertutup rapat dengan hati dilanda luka. Herman ada di sana menyaksikan istrinya dengan telaten memasak untuk makan siang nanti.
Setelah Herman berbicara semuanya, Yani pulang ke rumah berniat menyendiri tanpa ingin diganggu siapapun. Yani ingin meluapkan emosi kesedihannya sendirian. Akan tetapi Herman sepertinya tak mengizinkannya untuk menyendiri dan terus mengikuti dirinya hingga kini sampai di dapur. Ia sudah meminta suaminya untuk membiarkan dirinya menyendiri, tapi Herman menolak lembut permintaannya. Herman berpikir jika Yani sedang memikirkan rencana untuk menggugat cerai dirinya. Sungguh, Herman benar-benar egois.
Yani terus mengeluarkan air matanya lalu menghapusnya saat memasak. Hatinya masih merasa sakit setelah mengetahui perselingkuhan suami dan sepupunya. Yani begitu percaya pada keduanya sampai tak tahu jika mereka telah menusuknya dari belakang. Entah apa kesalahannya hingga dengan teganya mereka melakukan hubungan tersebut.
Herman yang tahu istrinya masih menangis mencoba mendekatinya lalu memeluk tubuh wanita itu dari belakang. "Maafkan bapak, Bu. Bapak salah, bapak sudah membuat ibu menangis. Bapak mohon, tolong maafkan bapak," ucap Herman menghampiri Yani dan mengubah panggilannya kembali pada istrinya dengan sebutan ibu-bapak.
Herman menegelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri dan mencari posisi nyaman disana. Sama seperti Nana, ia tahu kesalahannya begitu besar hingga membuat orang-orang terdekatnya mengalami kekecewaan besar, termasuk istrinya.
Yani tak bereaksi apapun dan membiarkan Herman memeluk dirinya. Yani ingin menepis pelukan suaminya dan memerintahkan Herman untuk menjauhinya karena hatinya masih dirundung luka akibat lelaki tersebut. Namun, ia memilih diam. Batinnya terasa lelah untuk melepas pelukan Herman setelah terguncang menerima kenyataan. Ia tak ingin ribut dengan Herman apalagi dengan suasana hatinya yang sekarang ini.
"Bu, tolong bicaralah." Herman sudah mencoba mengajak Yani bicara setelah mereka sampai di rumah. Akan tetapi Yani tak mau membuka mulut dan mengabaikan dirinya seolah Herman mahluk tak penting. Harus dengan apalagi ia memohon maaf?
__ADS_1
Awalnya saat sampai di rumah, Herman menduga Yani akan memaki dirinya, memukulnya, atau mencakarnya seperti wanita-wanita yang tahu suaminya berselingkuh. Namun, dugaan Herman salah. Yani tak melakukan hal itu. Istrinya itu hanya diam dan mengabaikannya. Akan tetapi bukan perasaan lega yang ia dapatkan tapi ia merasa cemas melihat perubahan sikap Yani. Herman takut jika Yani sudah memikirkan rencana kedepannya untuk menceraikan dirinya. Itulah opsi yang ada di pikiran Herman saat ini. Sungguh, Herman takut jika kejadian itu terjadi.
Yani merasakan lehernya basah hingga mengenai kerah baju yang dikenakannya. Apakah suaminya menangis? Tapi tidak biasanya Herman menangis. Yani jarang atau tak pernah melihat Herman menangis selama mereka menikah.
"Tolong, Bu, jangan pernah berniat pisah dariku. Bapak tahu kesalahan bapak begitu besar berkhianat dibelakang ibu, tapi tolong jangan pernah punya kepikiran untuk pisah. Pikirkan anak-anak kita jika kita berpisah, Bu," ucap Herman dengan air mata. Perasaannya dilanda ketakutan jika Yani ingin meminta cerai. Sungguh, ia tidak mau jika Yani sampai menggugat cerai dirinya.
"Assalamualaikum!"
Herman sontak melepas pelukannya, menjauh sedikit dari Yani, lalu menghapus air matanya setelah mendengar suara Arham yang sudah pulang sekolah. Anak itu melepas sepatunya dan berlari masuk ke dalam mencari keberadaan orangtuanya.
"Pak, Bu!" Arham menghampiri orangtuanya yang berada di dapur. Namun, anak itu menyeringit bingung saat melihat mata bapaknya sedikit sembab seperti baru menangis.
"Bapak kenapa? Kok kayak abis menangis?"
"Nggak, cuma kelilipan tadi," jawan Herman berbohong.
Arham berohria. "Pak, bantuin kelompok Arham buatin kerajinan dari botol bekas dong."
"Botol bekas? Emang siapa yang nyuruh Arham buat kerajinan dari botol bekas?"
"Dari Bu guru, katanya buat kreasi di sekolah."
"Semua murid?"
"Cuma kelas Arham, yang lain sudah pada buat dari kerajinan lain."
"Yaudah, kamu dan teman-temanmu cari botol bekas sebanyak-banyaknya. Nanti bapak bantu buat bikin kerajinan dari botol bekas," ucap Herman sembari mengelus rambut putranya.
"Beneran?" tanya Arham dengan mata yang berbinar-binar.
"Iya."
"Yes! Yaudah, Arham sama-sama teman-teman mau cari botol bekas dulu," ucap anak itu lalu berlari keluar.
"Hei! Gak mau makan dulu?" seru Herman pada putranya.
"Nanti!"
Herman menggelengkan kepala melihat keaktifan putranya yang ceria. Akan tetapi bisakah keceriaan putranya itu bertahan? Apakah nanti anak itu akan dirundung kekecewaan setelah mengetahui permasalahan ayah dan ibunya?
Herman menoleh melihat Yani yang sedang menuangkan masakannya di piring. Ia berdoa semoga Yani berpikir panjang terlebih dahulu sebelum wanita itu menggugat cerai dirinya. Ada nasib anak-anak yang harus ia pikirkan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
__ADS_1
Yuk, tinggalkan jejak kalian di bab ini. cukup like dan komentar saja kok