
"Jadi kami tanya sekali pada kalian. Apakah berita itu benar kalau kalian sudah menikah?" tanya Pak Hasan.
"I-iya, Pak." Akhirnya setelah cukup lama didesak, Herman mulai mengakui terlebih dahulu. Untuk apalagi ia mengelak jika kebohongannya terungkap lewat dirinya sendiri.
"Astaghfirullah ...." Semua orang di sana mengucapkan istighfar setelah mendengar pengakuan Herman. Nana sendiri hanya diam dan menunduk dengan matanya yang kini mulai berair. Semuanya sudah terbongkar sekarang, tak ada yang perlu lagi ia tutupi dari keluarga.
Sedangkan di satu sisi, Yani merasakan bergemuruh hebat di dadanya setelah mendengar pengakuan dari suaminya. Matanya sudah siap mengeluarkan cairan bening saat ini juga. Ia sama sekali tak menyangka jika suami dan sepupunya telah bermain api dibelakangnya. Ah, bukan dibelakangnya saja, tapi seluruh keluarga mereka termasuk Dana. Ia mengira jika pelakor itu hanya ada di dalam cerita ikan terbang dan di kota-kota saja. Namun ternyata disini ia mengalami hal tersebut hingga rasanya sangat sulit ia jabarkan.
Dana pun juga merasakan hal yang sama. Ia menggelengkan kepala tak menyangka jika istri yang ia cintai dan sayangi itu telah berbuat curang dibelakangnya. Berusaha keras ia banting tulang untuk memenuhi kehidupan keluarga kecilnya dan harus menahan rasa rindunya berjauhan dari istri dan anak-anak.
Dana bisa saja mencari kepuasan batinnya selama ia bekerja di Kalimantan. Hasrat laki-laki itu lebih kuat untuk segera dituntaskan apalagi bagi yang sudah menikah. Akan tetapi Dana tak melakukan hal tersebut karena ia orang bertanggung jawab akan kesetiaan. Jika Dana ingin menyalurkan hasratnya, ia bisa melakukan sendiri tanpa harus meminta bantuan orang lain.
Dana begitu menjunjung tinggi kesetiaan dan prinsipnya saat berjauhan dari sang istri. Tujuan ia merantau ke Kalimantan hanya bekerja menghidupi keluarga kecilnya, bukan mencari kesenangan di sana sekalipun berjauhan dari sang istri. Itulah prinsip Dana selama hidup bekerja di Kalimantan.
Lalu apa yang menyebab Nana melakukan hal seperti ini hingga dia tega berselingkuh dengan suami sepupunya sendiri? Apakah Nana tak mendapatkan kepuasan batin selama dirinya di Kalimantan? Kalo memang benar, sungguh Nana tak lebih dari seorang wanita murahan. pikir Dana.
"Nak, bisa kamu panggilkan ustad Nico kesini. Ada yang perlu kami bahas bersamanya," ucap Pak Hasan kepada Dika––suami keponakan Yani yang baru saja menikah.
"Baik, Pak." Dika berdiri dan keluar dari ruang yang dijadikan sidang untuk Nana dan Herman.
"Boleh saya liat bukti yang kamu tunjukkan pada malam itu, Her?" tanya Pak Hasan.
Herman menunduk lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. "Maaf, Pak. Bukti foto tersebut sudah aku hapus dari kemarin."
"Kenapa dihapus?"
"Setelah aku menceritakan pengakuanku pada malam itu, besoknya aku langsung buru-buru menghapus bukti tersebut," jawab Herman jujur. Ia memang menghapus bukti-bukti foto pernikahannya dengan Nana karena merasa cemas. Setidaknya jika orang-orang meminta bukti tersebut, ia pasti akan mengelak dan mengatakan jika berita yang tersebar itu tidak benar.
Seharusnya ia bisa mengatakan hal seperti itu dihadapan Pak Hasan dan keluarga mereka yang hadir di ruangan ini. Namun, entah kenapa hatinya seperti memilih jujur dan mengakui perbuatannya pada mereka. Seandainya jika ia berkelit, pasti ia diminta untuk menyuruh teman-temannya yang menjadi saksi pada malam itu untuk datang ke sini dan menceritakan kejadian sebenarnya. Jika hal itu terjadi maka makin parah keadaannya dan orang luar akan mengetahui aib keluarga mereka.
"Jadi memang benar kalau kamu dan Nana sudah menikah? Nikah siri?" tanya Pak Hasan sekali lagi. Herman mengangguk pelan.
"Sudah berapa lama kalian menikah?"
"Su-sudah dua tahun, Pak," jawab Herman pelan.
__ADS_1
Semua orang di sana mengelus dada dan geleng-geleng kepala merasa tak percaya jika mereka telah menjalin hubungan selama itu. Dana dan Yani memejamkan matanya setelah mengetahui kabar buruk tersebut. Bahkan Yani sudah tak bisa menahan air matanya hingga luruh. Mereka tak menyangka jika pasangan mereka sudah menjalin hubungan selama itu tanpa membuat keduanya curiga.
"Kalau Nana gimana? Apakah kamu dan Herman sudah menikah?" Nana mengangguk pelan dengan terus menunduk. Air mata yang ia tahan jatuh di punggung tangannya yang ia letakkan di pangkuan. Penyesalan kini menggerogoti hatinya. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain hanya diam dan terus menunduk.
Mengapa setiap kita telah melakukan tindakan kesalahan, pasti penyesalan selalu diakhir? Saat mereka tengah menjalin hubungan tanpa orang-orang ketahui, mereka begitu santai menjalaninya seolah apa yang mereka jalani itu tak masalah.
"Setahu bapak, pernikahan yang kalian jalani ini hukumnya tidak sah. Wanita yang masih berstatus istri orang tak boleh menikah dengan orang lain sebelum ia diceraikan dan selesai masa iddah. Namun bapak nggak mau memberi penjelasan kalo bukan dari orang yang ahli dalam bidang agama. Kita tunggu saja Dika datang bersama ustadz Nico," jelas Pak Hasan maksudnya saat menyuruh Dika memanggil ustadz Nico.
Herman dan Nana telah mengetahui penjelasan ini karena sebelumnya mereka telah diberitahu oleh Muhlis. Namun bodohnya, mereka tetap terus melanjutkan hubungan mereka dan mengesampingkan ajaran yang telah diketahui.
Setelah menunggu beberapa menit, muncullah kedatangan Dika dan laki-laki berumur 26 tahun dengan penampilan kasual, ustadz Nico. Namun, mereka tidak datang berdua saja. Dibelakangnya ada Muhlis yang ikut masuk ke dalam.
"Assalamualaikum!" ucap ketiga laki-laki yang baru saja datang.
"Waalaikumsalam."
"Mari duduk sini, Nak," ucap Pak Hasan menggeser posisi sedikit.
"Bagaimana kabarnya, Pak?" tanya ustadz Nico mencium tangan Pak Hasan.
"Alhamdulillah baik juga, Pak." Ustadz Nico duduk di lantai bersampingan dengan Pak Hasan. Ia menatap orang-orang yang sedang berkumpul lalu kembali menatap Pak Hasan.
"Kamu lagi tidak sibuk, 'kan?" tanya Pak Hasan.
"Tentu saja tidak, Pak. Tadi baru pulang membeli perlengkapan bayi."
"Udah berapa bulan kandungan istrimu?"
"Sudah jalan enam bulan." Pak Hasan mengangguk.
"Ini ada apa ya, Pak? Tadi Dika menyuruhku datang kesini karena ada sesuatu yang ingin dibahas," tanya ustadz Nico.
"Begini, Nak, kami semua ingin menanyakan soal pernikahan yang status wanitanya masih berstatus istri orang lain. Kalo poligami dalam islam jelas diperbolehkan. Tapi bagaimana dengan poliandri? Itu gimana ya hukumnya, Nak?"
"Hukum tersebut jelas haram dalam islam sebelum wanita yang akan dinikahi itu sudah diceraikan oleh suami sebelumnya dan selesai masa iddah."
__ADS_1
"Di dalam Al Qur'an surah An-Nisa ayat 24 sudah dijelaskan bahwa :
وَّالۡمُحۡصَنٰتُ مِنَ النِّسَآءِ اِلَّا مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُكُمۡۚ كِتٰبَ اللّٰهِ عَلَيۡكُمۡۚ وَاُحِلَّ لَـكُمۡ مَّا وَرَآءَ ذٰ لِكُمۡ اَنۡ تَبۡتَـغُوۡا بِاَمۡوَالِكُمۡ مُّحۡصِنِيۡنَ غَيۡرَ مُسَافِحِيۡنَ ؕ فَمَا اسۡتَمۡتَعۡتُمۡ بِهٖ مِنۡهُنَّ فَاٰ تُوۡهُنَّ اُجُوۡرَهُنَّ فَرِيۡضَةً ؕ وَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ فِيۡمَا تَرٰضَيۡـتُمۡ بِهٖ مِنۡۢ بَعۡدِ الۡـفَرِيۡضَةِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيۡمًا حَكِيۡمًا
Artinya : Dan (diharamkan juga kamu menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu. Dan dihalalkan bagimu selain (perempuan-perempuan) yang demikian itu jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya bukan untuk berzina. Maka karena kenikmatan yang telah kamu dapatkan dari mereka, berikanlah maskawinnya kepada mereka sebagai suatu kewajiban. Tetapi tidak mengapa jika ternyata di antara kamu telah saling merelakannya, setelah ditetapkan. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."
"Dijelaskan dalam ayat di atas yang berbunyi
وَّالۡمُحۡصَنٰتُ مِنَ النِّسَآءِ اِلَّا مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُكُمۡۚ
“wal muhshanaat min al-nisaa' illa maa malakat aymaanukum” menunjukkan bahwa salah satu kategori wanita yang haram dinikahi oleh laki-laki adalah wanita yang sudah bersuami, yang dalam ayat di atas disebut al-muhshanaat."
Semua mengangguk mengerti mendengar penjelasan dari ustadz Nico.
"Begini, Nak, Nana dan Herman mempunyai hubungan tanpa sepengetahuan kami. Katanya mereka telah menikah selama dua tahun," beritahu Pak Hasan.
"Astaghfirullah." Ustadz Nico geleng-geleng kepala lalu menatap ke arah mereka berdua dihadapannya.
"Mengenai soal pernikahan mereka, apa pernikahan tersebut tetap tak sah walaupun mereka sudah terikat?"
"Tetap tidak sah, Pak, dan jatuhnya malah perzinahan yang mereka jalani."
"Astaghfirullah ...."
"Bagaimana dengan penghulu, wali, dan para saksi saat menikahkan keduanya. Apakah mereka tidak tahu hukum menikahkan pasangan jika status wanitanya masih bersuami?" tanya ustadz Nico.
"Kami tidak tahu, Nak. Hanya mereka berdua yang tahu soal hal itu," jawab Pak Hasan menunjuk Nana dan Herman.
"Mohon maaf, Pak, saya menyela pembicaraan." Semua langsung menoleh ke arah Muhlis setelah pria itu menginterupsi.
"Ada apa, Lis?"
"Begini ... aku ingin mengakui sebuah kejujuran tentang pernikahan Nana dan Herman."
__ADS_1
Jika salah, tolong koreksinya ya guys. Aku baca-baca soal peristiwa ini dari google.