
Sekali lagi, ada 21+ dalam bab ini dan pembahasan soal menuju kearah 18+. Bagi yang dibawah umur sebaiknya di skip saja. Ingat! Dibacanya pas menunggu waktu buka puasa ya!
...~~~...
Di daerah Kalimantan lain, di dalam kamar kost, Dana dan Nana sedang bersantai menikmati acara televisi sambil mengajarkan Nizam mengerjakan tugas sekolahnya. Anak itu mendapatkan PR matematika yang membuatnya bingung sehingga meminta bantuan orangtuanya untuk membantu menyelesaikan tugasnya itu.
"Pah, Dinda telepon. Katanya dia ingin beli laptop buat tugas sekolah," ucap Nana memberitahu kepada suaminya. Tadi siang setelah memasak makan siang, Dinda menelpon menanyakan kabar sekaligus ingin memberitahu ibunya jika ia sedang membutuhkan laptop buat mengerjakan tugas sekolah.
"Harga laptop sekarang berapa?" tanya Dana.
"Hmm ... mungkin 5-6 juta. Ada juga dibawah segitu tapi yang bekas," jawab Nana.
"Emang Dinda butuh banget pakai laptop? Nggak bisa kerjakan tugas di laptop temannya?"
"Pasti Dinda butuh banget laptop, Pah. Apalagi di zaman sekarang apa-apa harus mengerjakan tugas pakai ketikan. Buat laporan, makalah, tugas, kebanyakan juga harus dibuat di laptop supaya terlihat rapi dan bagus."
Dana terlihat berpikir sejenak.
"Papa masih punya uang di tabungan?" tanya Nana.
"Ada sih, tapi nggak banyak. Tapi rencananya uang itu buat bayar kost Minggu depan," balas Dana.
"Emang sisa uang tabungannya berapa?"
"Lima juta. Sejuta buat bayar kost, sisanya untuk kebutuhan kita sehari-hari nanti."
Keduanya termenung memikirkan sisa uang mereka. Mungkin untuk membelikan Dinda laptop akan terkabul jika penghasilan Dana ditabung sedikit demi sedikit.
"Apa Papa pinjam saja sama Sekar?" tanya Dana.
Sekar merupakan adik kandung Dana yang tinggal dekat kabupaten dimana Nana dan Dana tinggal di kampung. Sekar telah berumah tangga dan hidup dengan suaminya dengan keuangan yang cukup, karena suami Sekar bekerja sebagai seorang aparat kepolisian.
"Dari Papa saja. Kalo mau pinjam, boleh. Tapi kalo tidak bisa membayarnya nanti, lebih baik jangan dulu," balas Nana.
__ADS_1
"Hmm ... begini saja. Kita tabung dulu uangnya untuk belikan Dinda laptop baru. Tapi kalo tidak bisa, kita pinjam saja uangnya sama keluarga," saran Dana.
Nana hanya mengangguk setuju saja. Selebihnya ia serahkan keputusan semuanya kepada sang suami karena hanya dia yang bekerja mencari nafkah. Dulu saat Nana bekerja di balai desa, uang dari gajinya tersebut hanya untuk kebutuhan dirinya dan jajan anak-anaknya. Alasan ia bekerja karena Nana merasa bingung melakukan aktivitas apa untuk menghilangkan rasa bosan. Ia juga kesepian disaat anak-anak pergi ke sekolah saat siang hari, ia merasa sendirian jika berada di rumah seorang diri.
Dan sekarang setelah ia memutuskan untuk ikut dengan Dana, ia hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga saja, mengurus kamar kost, kebutuhan anak dan suaminya. Selebihnya jika ia merasa bosan, ia akan ikut datang ke tempat kerja suaminya membantu Dana bekerja di kelapa sawit.
Drrtt! Drrtt!
Suara getar notifikasi di ponsel membuat Nana mengalihkan atensinya. Ia mengambil ponselnya lalu melihat siapa yang mengirimkan pesan kepadanya.
Bara Harahap
[Kamu tinggal dimana di Kalimantan? Soalnya aku juga tinggal di Kalimantan ini.]
Pesan dari akun bernama Bara Harahap di aplikasi biru menjadi teman ngobrol Nana di sosial media. Ketika di bulan ramadhan kemarin, Nana memutuskan untuk meladeni akun pria bernama Bara tersebut sebagai dalih menjalin hubungan pertemanan.
^^^[Di Kalimantan Selatan.]^^^
Bara Harahap
^^^[Oh iya. Tinggal sendiri disana atau sama keluarga?]^^^
Bara Harahap
[Tinggal sama teman. Ada pekerjaan bersama disini.]
^^^[Oh gitu. Keluarga dimana?]^^^
Bara Harahap
[Keluarga ada. Tapi pada di jawa semua.]
Nana mengangguk saja lalu meletakkan ponselnya kembali disisinya. Sudah cukup ia mengetahui informasi mengenai pria itu. Dari yang ia lihat, pria itu berumur 40-an dan tentunya telah memiliki anak dan istri. Dilihat dari foto profil yang terpasang di akun profil Bara, wajahnya terlihat biasa saja tapi terlihat tegas dari raut wajah. Memiliki postur badan agak gempal, perut buncit, dan sedikit berotot dibagian lengannya.
__ADS_1
Nana tidak tahu mengapa ia menerima pertemanan dari pria asing tersebut. Tetapi, tentunya ia ingin mencari teman dimana ia merasa bosan. Di tempat tinggal barunya ini, ia hanya mengobrol dengan tetangga kamarnya saja, berinteraksi dengan mereka yang tentunya kebanyakan pasutri juga tinggal disini. Ada juga anak dewasa seperti anak kuliahan yang tinggal disini. Tetapi, kebanyakan pria. Nana merasa enggan untuk akrab dengan anak kuliahan tersebut mengingat dirinya itu perempuan dan sudah bersuami.
"Ma, ini rumus bilangannya gimana?" sentak Nizam mengalihkan atensi Nana dari televisi.
...~~~...
"Ahh!" Suara de*@han pelan yang keluar dari mulut Nana menandakan sedang terjadi pergulatan panas diatas ranjang dengan sang suami.
Di jam 11 malam, Dana membangunkan Nana untuk membantunya menuntaskan has*@tnya yang tiba-tiba datang. Di luar sana, hujan sedang turun deras sehingga suasana area yang diguyur hujan menjadi dingin. Mungkin karena hal itulah membuat darah Dana berdesir dan meminta Nana untuk membantunya.
Dana menggerakkan pinggulnya dengan cepat pertanda ia akan segera keluar. Nana berusaha meredam suaranya dengan tangannya sambil melirik Nizam yang tertidur di sampingnya. Ia takut jika mengeluarkan suara akan membangunkan acara tidur anaknya sehingga Nizam bisa melihat aktivitas apa yang dilakukan oleh orangtuanya yang sedang mencari kenikmatan. Untungnya mereka tertidur di kasur lantai tanpa menggunakan divan kayu sehingga memudahkan Dana untuk bergerak cepat diatas istrinya tanpa takut menimbulkan suara dari gerakannya.
"Arrgghhtt!!" Suara geraman dari Dana menandakan ia telah keluar didalam istrinya. Kepalanya terkulai lemas disamping kepala istrinya setelah merasa puas.
Dana menyingkir dari atas tubuh Nana dan segera memakai bajunya kembali takut Nizam terbangun dan melihat keadaan orangtuanya yang telanjang bulat. Nana pun juga seperti itu, memasang bajunya dengan benar dan menarik selimut menutup tubuhnya dengan sang suami.
"Sudah?" tanya Nana.
Dana mengangguk. "Terimakasih," ucap Dana dan mulai menyusul alam mimpi. Aktivitas lelah setelah bekerja dan olahraga tadi ditambah suasana yang nyaman untuk tidur membuatnya lebih cepat tertidur meninggalkan Nana yang sedang sedikit gelisah.
Nana melirik lagi suaminya yang telah terlelap. Kemudian ia menarik napas dan bangkit berdiri hendak ke kamar mandi. Setelah sampai di kamar mandi, Nana termenung disana memikirkan kejadian tadi. Bagaimana tidak, Dana telah mencapai amunisinya lebih dulu sebelum dirinya. Walaupun kejadian ini tidak sering terjadi setelah mereka berhubungan. Akan tetapi, terkadang membuat Nana merasa gelisah karena nafkah batinnya belum dituntaskan dari sang suami.
Nana tiba-tiba teringat dengan Herman. Laki-laki yang telah mengajaknya menikah demi membantunya memberi nafkah batin. Jujur saja, masalah ranjang Herman lebih unggul dibandingkan dengan Dana yang kalah jauh. Herman mampu membuatnya terlena melambung tinggi dilanda ga*r@h. Bahkan Herman mampu membuatnya puas berkali-kali lipat saat melakukan 'itu' dibandingkan dengan Dana.
Herman dan Dana jelas berbeda dalam melakukan hubungan ranjang. Dana hanya sebentar memulai aktivitas pembuka sebelum ke menu utama. Sedangkan Herman, jangan ditanya lagi tentang kepandaian pria itu dalam memuaskan wanita. Kata Herman, pria itu akan membuat wanita lebih dulu mencapai kepuasannya sebelum memulai ke menu utama supaya mereka sama-sama menikmati dan puas.
Bagi pembaca dewasa kalian paham โkan maksud dari kata diatas?
Nana menggelengkan kepalanya mengingat tentang Herman. Lagi-lagi ia membandingkan hubungan ranjang antara Dana dan Herman. Bukan sekali ini ia membandingkannya setelah selesai 'itu' dengan Dana. Namun, Nana tak bisa membohongi perasaannya bahwa Herman mampu membuatnya lebih puas dibandingkan dengan suaminya.
Nana lebih baik mandi junub sambil meredakan gejolak rasa yang belum tuntas pada tubuhnya. Ia mengusir pikiran tentang perbandingan antara Dana dan Herman soal memuaskan dirinya. Ia sudah berjanji dan bertekad bahwa tak ingin lagi mengingat atau berhubungan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan Herman.
Nana telah bertekad tentang hal itu.
__ADS_1
...~~~...
Bantu support cerita ini dong guys! Seikhlasnya aja. Nggak maksa kok ๐