
Saat jam menunjukkan pukul 17.30 sore, Herman dan kawan-kawannya bergegas pulang setelah menjalani pekerjaan melelahkan. Proyek perbaikan jalan sudah hampir selesai dan tinggal tahap finishing saja yang dilakukan pada esok hari. Setelah proyek jalan tersebut selesai, Herman dan yang lain akan bersantai saja sambil menunggu job panggilan kembali dari atasan mereka.
Herman pulang terlebih dahulu menggunakan mobil truk bersama Muhlis. Kedua pria itu pulang bersama karena mereka searah dan tinggal di satu desa. Terlebih lagi motor Muhlis sedang di pakai anaknya tadi pagi untuk pergi ke kota karena ingin membeli sesuatu barang disana.
"Lis, aku mau ketemuan sebentar sama Pak Boss di kantor," beritahu Herman.
"Sekarang?" tanya Muhlis.
Muhlis mengangguk. "Iya, tadi siang dia menelpon dan mengajakku ketemuan. Katanya ada yang penting harus dibahas lewat pertemuan. Gak bisa lewat telepon katanya."
Muhlis menyeringit bingung menatap Herman. "Emang sepenting apaan ya, sampai Pak Boss menyuruhmu datang?"
"Nggak tahu. Tadi Pak Boss bilang ada tawaran besar di Kalimantan. Aku juga nggak tahu mengapa beliau tiba-tiba membicarakan hal tersebut kepadaku nanti."
Muhlis terdiam sejenak dan memikirkan ucapan Herman. "Mungkin kau ditawari proyek besar disana sama Pak Boss kali, Her."
"Entahlah, aku juga nggak tahu."
"Tapi kalau seandainya itu benar, kau mau menerima proyek tersebut?" tanya Muhlis.
"Aku kurang tahu, Lis. Soalnya aku harus minta izin dulu sama Yani," jawab Herman.
Keduanya kini terdiam dan fokus melihat kearah depan. Selang beberapa menit, mobil truk Herman telah sampai didesa mereka dan menurunkan Muhlis di perempatan jalan. Setelah Muhlis mengucapkan terimakasih, Herman melanjutkan mobilnya kearah rumahnya.
Mobil truk Herman diparkirkan di samping jalan poros depan rumahnya lalu sang pengemudi keluar dari mobil. Mobil truk tersebut tak bisa di masukkan ke halaman rumah karena ada sebuah mobil putih yang juga milik Herman terparkir disana.
Saat Herman masuk kedalam rumah, hanya ada Nadia didalam sedang sibuk memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Ibu kemana, Nad?" tanya Herman sambil membuka kancing kemejanya.
"Ke rumah bunda," jawab Nadia. Bunda yang dimaksud adalah Bunda Desi.
Herman mengambil handuk dan turun kebawah bersiap untuk mandi. Ia telah berjanji kepada atasannya bahwa ia akan bertemu dengannya setelah pulang kerja. Namun, sebelum itu Herman sudah mengabarkannya terlebih dahulu kepada atasannya bahwa dia akan segera kesana setelah mandi.
Setelah 15 menit mandi dan telah berpakaian rapi siap untuk berangkat, Herman menoleh kepada Nadia. "Bilang sama ibu kalo bapak pergi ke kantor dulu, ya. Atasan bapak lagi mencari bapak," ucapnya memberitahu kepada putri sulungnya.
Nadia hanya mengangguk tetap terus memainkan ponselnya dan membiarkan bapaknya pergi. Herman turun dari rumah dan kembali menaiki mobil truknya untuk pergi ke kantor. Bisa saja ia memakai mobil warna putihnya itu. Namun, karena tak inginkan repot mengeluarkan mobilnya itu, lebih baik ia memilih mobil truk untuk dibawanya pergi.
...~~~...
Herman baru saja tiba di kantor tempat dimana para pekerja biasa berkumpul. Kantor yang dimaksud bukan sebuah gedung bertingkat tinggi yang biasa kita temui di cerita atau di kota. Melainkan hanya sebuah rumah sederhana di sudut dekat bukit dengan lahan kosong yang luas. Lahan kosong tersebut dijadikan tempat parkir untuk muatan truk dan truk mixer.
Herman memasuki rumah tersebut yang kini sedang sepi, taka ada siapapun disana. Rumah tersebut hanya memiliki ruang tamu yang luas, kamar mandi, dan 3 tiga kamar saja. Satu diantara kamar tersebut dijadikan tempat Pak Boss untuk ruang kerjanya. Sedangkan dua lainnya dijadikan tempat kamar peristirahatan untuk para pekerja saat mereka kembali dari aktivitas pekerjaan mereka.
Herman mengeluarkan ponsel dan menelpon atasannya untuk menayangkan keberadaannya.
"Aku lagi keluar sebentar beli gorengan. Kamu tunggu saja dulu disana, gak lama kok."
"Oh iya, Boss." Herman mengerti dan mematikan sambungan.
Selang beberapa menit, Herman mendengar suara motor dari arah luar sehingga Herman yang duduk di sofa ruang ruang tamu berdiri dan mengecek keluar.
"Maaf, Her, sudah membuatmu menunggu. Bapak beli gorengan dulu tadi," ucap Pak Boss bernama Pak Denis menghampiri Herman sambil membawa kantong kresek berisi olahan gorengan. Seorang pria paruh baya berusia 54 tahun yang menjadi atasan Herman.
"Tidak apa-apa, Pak. Aku juga baru saja datang kok," balas Herman.
__ADS_1
Kedua pria itu masuk melangkah kearah sebuah kamar yang dijadikan tempat Pak Denis ruang kerja. Pria yang umurnya lebih tua dari Herman, meletakkan gorengannya di meja lalu duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Herman duduk didepan meja Pak Denis.
"Begini, Her, bapak memintamu datang kesini mengajakmu untuk bekerja sama dengan salah satu sahabat bapak di Kalimantan yang sedang membangun jalan tol. Dia meminta bapak untuk merekrut tim kita bekerja disana," jelas Pak Denis.
Herman mengangguk mendengarkan penjelasan dari Pak Denis. Dugaannya memang benar jika Pak Denis akan menawarkan pekerjaan besar di Kalimantan untuknya. Herman bukan hanya bekerja sebagai tim yang tahu memperbaiki jalan. Namun, pengetahuan Herman dan timnya telah berpengalaman untuk membuat jalan raya besar bersama dengan tim yang lainnya.
"Kenapa harus aku, Pak? Kenapa bukan Pak Deden atau Taryo?" Pak Deden dan Taryo sama seperti Herman yang bertugas sebagai pengawas pekerja lapangan. Pak Denis memiliki tiga kelompok yang semuanya sama-sama bekerja sebagai infrastruktur jalan, yaitu Herman, Deden, dan Taryo.
"Kalo Pak Deden, ia bilang tak bisa karena usianya sudah tua dan beralasan tak bisa mengurus dirinya sendiri disana. Kalau Taryo kemungkinan bisa, tapi dia minta izin dulu sama istrinya. Maka dari itu jika kamu dan Taryo sama-sama mau, bapak akan bilang sama sahabat bapak dan mengirimkan dua tim saya ke Kalimantan," jelas Pak Denis.
Herman terdiam sejenak memikirkan langkah apa yang harus dia ambil. Satu sisi ia ingin mengambil tawaran tersebut karena ia tahu gaji proyek pembangunan jalan tol itu besar dan menggiurkan. Namun, satu sisi ia harus meminta izin terlebih dahulu kepada istrinya. Jika Yani menolak dirinya pergi ke Kalimantan, Herman akan menuruti perintahnya dan mengabaikan tawaran besar tersebut.
"Pak, bisa aku pikirkan terlebih dahulu untuk mengambil keputusan. Soalnya aku juga harus minta izin sama istri jika harus bekerja di Kalimantan," ucap Herman.
Pak Denis tersenyum. "Bapak tidak memintamu untuk mengambil keputusan sekarang. Pikirkan terlebih dahulu dan bicarakan semuanya kepada istrimu. Tidak apa-apa jika seandainya kamu atau Taryo menolak. Nanti bapak akan bicarakan sama sahabat bapak."
"Tetapi bapak menunggu jawaban kamu sampai bulan depan, ya. Soalnya bulan depan Mei nanti proyek disana akan segera dikerjakan," sambung Pak Denis.
Pak Denis mengeluarkan beberapa kertas foto yang telah difotokopi dan tersimpan di map plastik lalu menyerahkannya ke Herman. "Ini adalah infrastruktur jalan tol yang akan dibangun disana. Kau boleh mempelajarinya dari sekarang."
Herman menerima map tersebut dan mulai menelitinya. Panjang jalan tol yang akan dibuat sepanjang 250 km dengan lebar 60 m. Ada juga pembuatan jembatan jalan diatas jalan dekat dengan rumah penduduk.
"Baiklah, Pak. Aku akan membawa pulang ini dan akan membicarakan dengan sang istri," ucap Herman dan dibalas anggukan oleh Pak Denis.
Herman kurang yakin jika Yani akan mengizinkannya menerima proyek besar ini. Yani memang tak menuntut apapun selain perhatiannya terhadap keluarga. Namun, jika Herman yang akan berpergian jauh ke luar pulau apakah Yani akan mengizinkannya? Apakah Yani bisa melepas Herman pergi?
__ADS_1
**Guys**, **aku punya cerita baru. Tapi aku kurang yakin kalian bakal suka apa tidak. rencananya jika part ini sudah tamat. Mungkin 50-60 bab, aku akan publish cerita baru aku disini. Semoga alur ceritanya kalian suka**.