Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku

Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku
Hubungan Dilanjut atau Berakhir?


__ADS_3

Author POV


Hari lebaran telah usai beberapa hari yang lalu. Dan sudah saatnya Dana untuk pergi lagi merantau meninggalkan istri dan anaknya yang kini seperti tak rela melepas dirinya.


"Jaga anak-anak baik-baik ya, Na." Nasihat Dana selalu kepada istrinya.


"Pasti, Pah."


"Yuk anak-anak, antar papa sampai depan. Sekalian bawa barang-barang papa," ucap Dana pada ketiga anaknya.


Dana, Yana dan ketiga anak mereka berjalan ke teras rumah mereka dan sudah ditunggu oleh mobil sedan berwarna hitam yang Nana pesan untuk mengantar suaminya pergi ke pelabuhan. Di depan rumah mereka juga sudah ada orang tua Nana yang akan juga berpamitan pada menantunya.


"Hati-hati ya, Nak. Jaga kesehatan di sana. Kalo ada apa-apa hubungi kami segera," ucap ibunya Nana.


"Iya, Bu." Dana mencium tangan kedua mertuanya lalu beralih pada anak-anaknya. Diantara mereka, hanya Nizam yang menangis tak sanggup berpisah lagi dengan papanya. Anak berusia 6 tahun itu masih tak rela melepas pergi ayahnya.


Setelah acara perpisahan sedih itu berlangsung, akhirnya Dana naik ke mobil dan pergi meninggalkan rumah dan keluarga kecilnya. Sejujurnya Nana juga tak rela melepas suaminya pergi. Namun apa daya, Dana pergi merantau hanya untuk mencari nafkah buat dirinya dan anak-anak mereka. Tak mungkin ia mencegah Dana hanya untuk keegoisan dia.


Drrtt! Drrtt!


Sebuah notifikasi muncul di ponsel Nana.


Bang Herman


[Dana sudah pergi? Tadi aku lihat mobil jemputannya sudah berangkat.]


^^^Nana^^^


^^^[Iya, dia barusan pergi.]^^^


Bang Herman


[Aku kesana ya sekarang, ada hal penting yang perlu dijelaskan]


^^^Nana^^^


^^^[Jangan dulu! Jangan mampir ke rumah beberapa hari dulu setelah Bang Dana pergi.]^^^


Bang Herman


[Terus kapan?]


^^^Nana^^^


^^^[Tunggu 3-4 hari baru boleh kesini.]^^^


Bang Herman


[Baiklah.]


...\=\=\=...


Seminggu telah berlalu setelah Dana pergi ke Kalimantan. Namun, Herman tak memunculkan batang hidungnya sesuai apa yang Nana inginkan itu hari. Nana sempat merasa cemas jika Herman tak mau datang lagi ke rumahnya dan sempat menelpon lelaki tersebut. Namun, Herman mengatakan jika ia tak bisa datang dulu ke rumahnya karena ia lagi sibuk dengan urusannya. Entah urusan apa, Nana jelas-jelas tak tahu.

__ADS_1


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" Nana mengintip dari ruang keluarga dan melihat siapa yang datang ke rumahnya.


"Eh, jis. Baru datang kamu?" sapa Nana pada sepupunya yang baru datang.


"Iya, Kak. Baru antar Mama ke sini," jawab Ajis lalu duduk di lantai sama seperti Nana, tapi berjarak.


"Terus Mamamu mana?"


"Ada tuh di rumah depan, lagi ngobrol sama Tante Sari."


"Sudah makan?"


"Belum."


"Makan sana di dapur. Ada itu ikan bakar sama sayur sop di meja," titah Nana.


"Nanti aja, Kak. Barusan tadi makan kue di depan. Kalo lapar, nanti aku ambil sendiri kok."


Nana hanya berohria lalu kembali menonton televisi. Tak berselang lama muncullah Herman di rumah Nana tanpa mengucap salam terlebih dahulu.


"Dinda mana?" tanya Herman yang baru muncul di ruang keluarga.


Nana dan Ajis sontak menoleh. "Ada di rumah temennya. Ada apa?" jawab Nana.


"Tidak apa-apa." Herman mengangguk lalu beralih ke arah Ajis, sepupu Yani juga. "Baru kau datang?"


"Baru, Om."


"Sama Mama. Dia lagi ngobrol tuh di rumah depan."


Herman berohria lalu duduk di lantai dekat Nana. Suasana hening tak ada percakapan. Hanya suara televisi yang menyapa indra pendengaran mereka saat ini. Ajis mengeluarkan ponselnya setelah merasa ponsel tersebut bergetar. Ajis memang dikenal orang yang pendiam jika dia tak diajak ngobrol terlebih dahulu.


"Mana Aras sama Nizam?" tanya Herman.


"Nggak tahu, mungkin main di rumah temannya."


Herman diam lalu melirik sekilas pada Ajis yang sibuk dengan ponselnya.


"Na, ada yang mau aku bicarakan. Tapi nggak sekarang," ucap Herman.


Nana menyeringit. "Mau bicara apa sebenarnya?"


"Ada lah pokoknya, tapi bukan sekarang. Nanti malam aku bisa datang ke sini?"


Nana berpikir sejenak. "Nggak tahu, Bang, soalnya liat keadaan anak-anak dulu. Kalo aman nanti aku kirim pesan ke abang."


Herman berbaring di lantai dan menggunakan lengan kirinya sebagai bantalan kepalanya. "Ok, nanti malam kabarin saja kalo sudah aman."


"Bisa pijitin sebentar tanganku? Pegel banget dirasa kemarin abis angkat karung semen," keluh Herman menyerahkan tangan kanannya pada Nana.


"Lagian kenapa abang pakai angkat karung semen segala? 'Kan ada tukang yang biasa angkatin?" ujar Nana tapi mendekat ke arah Herman lalu memijat tangan yang dianggap suami keduanya.

__ADS_1


"Iya, tapi aku cuma mau membantu mereka. Nggak mungkin 'kan aku cuma lihat mereka dengan susah payahnya angkat semen," ucap Herman menikmati pijatan Nana.


"Oh, emang proyek jalan yang di kampung xxx sudah selesai?"


"Sudah, bahkan jalannya sudah bisa dipakai sama penduduk di sana."


Nana diam dan terus melakukan pijatan terhadap tangan Herman. "Hitamnya tanganmu, Bang. Pakai handbody sana biar agak putih-putih sedikit."


"Ini hitam karena terlalu sering bekerja di bawah sinar matahari. Kalo laki-laki hitam itu tandanya dia lelaki bekerja keras," balas Herman.


"Ya deh, terserah abang saja."


"Sekalian ya kerok punggung abang." Herman berbalik badan hingga kini ia telungkup di lantai.


"Ish, apaan sih! Tangan Nana capek kalo mau kerok abang!" tolak Nana.


"Kok kamu gitu sih. Sekali aja gak apa-apa. Ini badanku kurang enak badan tau gara-gara masuk angin semalam," beritahu Herman.


"Emang darimana semalam?"


"Nggak kemana-mana sih, cuma begadang aja di warung kopi sama teman-teman kerja sampai jam 12."


"Itu dibilang jangan keluar malam-malam kalo nggak mau masuk angin. Udah tahu kalo di kampung hawanya dingin banget kalo malam," omel Nana tapi tetap mengambil koin dan minyak urut di dekat televisi.


Setelah itu hanya ada obrolan-obrolan kecil dari mereka saat Nana mengkerok punggung belakang Herman. Mereka tengah asik berduaan tanpa menyadari jika ada seseorang yang dari tadi melirik keakraban mereka.


Walaupun Nana dan Herman menggunakan bahasa daerah yang tak dimengerti Ajis, tapi dia mengetahui sedikit-sedikit kata yang ia tahu dari bahasa daerah tersebut. Namun yang membuat dirinya curiga, begitu intensnya keakraban mereka seperti mereka ini mempunyai hubungan khusus. Namun, Ajis menepis semua pikiran buruk tersebut karena menganggap kalau mereka ini sebuah keluarga. Kemungkinan mereka sudah terbiasa melakukan hal seperti itu selama ini.


...\=\=\=...


"Na, aku mau bilang kalau status pernikahan kita ini tidak sah di mata agama," ucap Herman pada Nana.


Saat ini mereka sedang berada di rumah Nana dan berada di atas ranjang Dinda setelah melepas kerinduan mereka. Awalnya Herman datang hanya untuk menjelaskan hal ini pada Nana. Namun, melihat pakaian Nana yang hanya menggunakan lingerie, gejolak hasrat Herman naik bergejolak. Apalagi rayuan-rayuan Nana padanya hingga membuat Herman lupa dengan tujuannya ia datang malam ini.


Ya, Nana dan Herman berada di kamar Dinda karena pemilik kamar tersebut bermalam di rumah neneknya bersama Aras. Sedangkan Nizam berada di kamar utama dalam keadaan sudah terlelap. Di lantai satu rumah Nana hanya memiliki dua kamar saja. Satu untuk Dinda dan satu lagi untuk Nana, suami, dan kedua putranya. Lantai dua Nana belum bisa dibangun karena mereka masih kekurangan uang untuk membayar para tukang bekerja nanti.


Nana menatap Herman tak percaya. "Ka-kamu serius, Bang?"


"Serius, Muhlis sudah menjelaskan semuanya tentang pernikahan kita. Dia bilang kalo menikahi wanita yang masih berstatus suami orang adalah tak sah dan haram hukumnya. Karena itulah aku sempat ingin menemuimu itu hari dan ingin menjelaskan soal ini," jelas Herman menatap Nana.


Nana hanya diam sambil mendengarkan penjelasan Herman. Dirinya tak percaya jika pernikahan keduanya ini tak sah dan hukumnya adalah haram.


"Tapi jujur, Na, aku seperti tak rela melepas hubungan kita. Aku tidak mau hubungan kita ini berakhir," ungkap Herman akan perasaannya.


Ya, selama ini ia memikirkan jalan apa yang harus ia ambil setelah mengetahui semuanya. Namun, saat ia ingin berhenti dan melepas semuanya, di hati kecilnya ada perasaan tak rela disaat hubungan mereka sudah sama-sama nyaman. Sebab itulah Herman merasa uring-uringan memikirkan jalan apa yang harus ia ambil.


"Aku sudah memikirkannya, Na, kalo aku tidak mau hubungan kita berakhir. Tapi jika kamu ingin berhenti, aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Aku akan menerima keputusan kamu," ucap Herman yang pasrah akan menerima keputusan Nana nanti. Dia tak boleh egois menuruti keinginannya. Pernikahan keduanya ini memang karena Nana. Jika Nana ingin berhenti maka dia harus menerima keputusan wanita itu


Setelah beberapa menit Nana terdiam, akhirnya Nana membuka suara, "entahlah, Bang, Nana juga nggak tau akan hal ini. Sebaiknya abang pulang dulu. Nana harus memikirkan dulu keputusan apa yang harus Nana ambil setelah ini. Untuk sementara jangan dulu menghubungi Nana sebelum aku sudah membuat keputusan."


Nana mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai lalu memakainya. Sedangkan Herman hanya tertunduk diam merasa dilema dan khawatir akan keputusan Nana. Namun, ia berharap semoga Nana tetap mau melanjutkan hubungannya ini.


---

__ADS_1


Kejadian diatas memang benar terjadi yang aku sempat alami. Awalnya sempat curiga pada intensnya kedekatan mereka. Tapi aku mencoba berpikir positif pada saat itu. Namun setelah semuanya terbongkar, aku jadi mengetahui kalau mereka memang memiliki hubungan khusus selama ini.


__ADS_2