Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku

Nafkah Batin Untuk Sepupu Istriku
Meminta Izin (S2)


__ADS_3

Jam 19.00 malam, Herman baru saja tiba di rumah setelah memarkirkan mobil truknya di pinggir jalan depan rumah. Ia berlama-lama di kantor bersama atasannya karena terlibat obrolan ringan dulu dan membahas proyek yang ada di Kalimantan. Pak Denis bilang Herman boleh membawa rekan timnya bekerja disana. Pak Denis memberikan hak Herman keputusan untuk memilih sendiri kesana atau mengikutsertakan anak buahnya. Namun, Herman belum memutuskan hal itu karena harus bertanya terlebih dahulu kepada anak buahnya apakah mereka mau diajak kesana atau tidak.


Setelah Herman mencuci kaki di kamar mandi, kemudian ia naik tangga dan masuk kedalam rumah dengan mengucapkan salam. "Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Terlihat anak-anaknya sedang belajar di lantai sambil menyaksikan acara televisi. Sedangkan istrinya berada di sofa sedang menjahit baju Arham yang baru saja sobek tadi sore.


"Darimana, Pak?" tanya Yani yang melihat suaminya datang dan duduk disampingnya.


"Dari kantor," jawab Herman sambil memperhatikan anak-anaknya sedang belajar.


"Tumben kalian rajin belajar? Barengan pula. Biasanya disuruh belajar pada malas," ucap Herman. Setahu dia, Citra dan Arham adalah anak yang malas untuk belajar. Mungkin mereka akan belajar disaat ada PR dari sekolahnya. Sedangkan Nadia memang dari dulu anaknya rajin belajar. Setiap Senin sampai Jumat Nadia gunakan waktunya untuk belajar setiap malam. Sedangkan hari weekend, Nadia gunakan untuk bersantai atau jalan-jalan keluar bersama temannya.


"Ish! Bapak ini gimana. Di suruh belajar, dibilang tumben. Nggak disuruh belajar, dibilang malas. Mau orangtua apa sih?!" gerutu Arham tapi tatapannya dan tangannya masih mengerjakan tugas sekolahnya.


"Tau nih, Bapak." Citra ikut menyahut. Sedangkan Yani dan Nadia hanya tersenyum saat mendengar Arham dan Citra mendumel.


"Memang benar, 'kan? Pasti kalian belajar kalo ada tugas buat besok atau tidak, pasti ada sesuatu ini yang diinginkan," balas Herman.


"Nggak! Bapak sok tau!" ketus Citra yang diangguki oleh Arham.


"Mereka ini lagi mau makan martabak, Pak. Makanya ibu suruh mereka pada belajar kerjain tugasnya, baru ibu bisa belikan mereka martabak," ucap Yani memberitahu.


Herman langsung mengangguk mengerti. "Kalian mau martabak?"


"Mau!!" sahut Citra dan Arham.


"Yasudah, selesaikan dengan cepat tugas kalian. Nanti bapak belikan kalian martabak satu-satu di jalan xxx."


"Beneran, Pak?" tanya Nadia terkejut.


"Iya beneran."


"Jangan banyak-banyak lah, Pak. Cukup 1-2 saja cukup untuk mereka. Kalo kebanyakan nanti mubazir," sahut Yani.


"Nggak apa-apa, Bu. 3 cukup untuk kita berlima. Martabaknya juga kita beli dengan ukuran sedang saja," balas Herman pada istrinya.

__ADS_1


Anak-anak langsung pada semangat mengerjakan tugas mereka setelah mendengar mereka akan dibelikan martabak satu-persatu. Tak terkecuali dengan Arham. Bahkan anak sampai menjawab asal-asalan saat memilih soal pilihan ganda karena ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya.


"Jangan salah ngisinya! Nanti bapak cek dan ada jawaban yang salah, bapak tak jadi membelikan kalian martabak," ucap Herman saat melihat anak bungsunya menjawab soal dengan cepat.


Arham langsung cemberut dan mengambil penghapus untuk menghilangkan jawabannya yang sempat ia isi tadi.


"Bu, bikinkan bapak kopi dong."


Yani meletakkan baju Arham yang telah selesai dijahit lalu bergegas membuatkan kopi untuk suaminya


...~~~...


Nadia, Citra, dan Arham pergi setelah selesai mengerjakan tugas sekolah mereka dalam waktu 45 menit. Herman menyuruh Nadia meminjam motor anaknya Bu Desi dan segera pergi membeli martabak yang letaknya cukup jauh dari desanya karena tak ada yang menjual martabak disini. Herman sengaja memerintahkan anak-anaknya untuk pergi semuanya karena ada pembahasan penting yang harus ia bicarakan terhadap istrinya.


"Bu!" Herman memanggil Yani setelah keduanya baru makan malam.


Yani menghampiri suaminya dan duduk di samping Herman. "Ada apa, Pak?"


"Tunggu sebentar." Herman berdiri dan keluar rumah mengambil barang yang tertinggal didalam mobil truk.


"Ini apa, Pak?" Yani mengambil pemberian suaminya dan melihat isi didalamnya.


"Proyek dari Boss Denis," jawab Herman.


Yani memperhatikan gambaran-gambaran yang dicetak dalam kertas-kertas tersebut. Yani membaca sebuah judul besar tertera di kertas tersebut yang merupakan sebuah proyek jalan tol di daerah Kalimantan.


"Proyek jalan tol di Kalimantan?" tanya Yani yang diangguki oleh Herman.


"Terus bapak menyerahkan ini ke ibu buat apa?" tanya Yani lagi.


"Bapak mendapatkan tawaran dari Boss Denis. Ia menawarkan proyek jalan tol yang ada di Kalimantan kepada bapak karena sahabatnya lagi membutuhkan rekan kerja dari Boss Denis. Bapak memberitahu hal ini sekaligus meminta izin dari ibu, bolehkah bapak pergi kesana?" jelas Herman.


Yani terdiam setelah suaminya meminta izin untuk pergi ke Kalimantan karena ada tawaran pekerjaan. Itu berarti Herman harus meninggalkan keluarganya untuk sementara waktu sampai pembangunan proyek disana selesai. Dan mungkin suaminya akan pulang selama ada masa cuti tiap tahunnya. Yani tahu pembangunan proyek jalan tol membutuhkan waktu yang lama karena sebelumnya Herman pernah mendapatkan proyek tersebut bersama temannya di kota. Dan itu mungkin memakan waktu 2-5 tahunan. Akan tetapi, yang menjadi penimbangan Yani adalah suaminya harus bekerja di Kalimantan.


"Ibu pikirkan terlebih dahulu. Waktu yang diberikan Boss Denis sampai bulan depan setelah lebaran. Itu berarti bapak sama ibu masih ada waktu untuk berpikir. Selain itu Bapak juga belum memberitahu tentang hal ini kepada teman-teman tim bapak," jelas Herman melihat raut wajah istrinya yang bingung.


"Tapi kenapa harus di Kalimantan?" tanya Yani.

__ADS_1


Herman menyeringit bingung menatap mata istrinya. "Memang kenapa dengan Kalimantan?"


"Kalo di daerah sini, ibu tidak masalah. Selain dekat, bapak bisa cepat bolak-balik pulangnya saat libur. Tapi jika di Kalimantan ibu kurang yakin mengizinkan bapak pergi kesana," ucap Yani yang mengeluarkan kegelisahan di hatinya.


Herman menghela napas. "Ya maka dari itu ibu pikirkan dulu permintaan bapak."


"Kalo bapak sendiri mau atau tidak pergi kesana?" tanya Yani.


"Kalo bapak sih mau, Bu. Apalagi kita lagi membutuhkan biaya buat beli motor untuk Nadia sama ingin membangun kamar dibawah. Tabungan kita juga lagi menipis karena dipinjam sama keponakan kamu untuk biaya pernikahannya tahun lalu. Jadi bisa dipastikan kita harus membutuhkan uang untuk memenuhi itu semua."


"Bapak juga perlu membicarakan hal ini kepada teman-teman bapak. Jika seandainya mereka nggak bisa ikut, bapak bisa pergi sendirian kesana. Tapi sebelum itu bapak minta izin dulu sama ibu," jelas Herman.


Herman dan Yani baru-baru ini ingin merencanakan membangun tiga kamar dan ruang keluarga yang berlapisan batu-bata dibawah rumah mereka. Rumah panggung mereka tak terbilang besar dan hanya memiliki dua kamar, dapur, dan ruang tamu saja yang disatukan menjadi ruang keluarga. Herman ingin menambah kamar pribadi untuk anak-anak mereka dan ruang keluarga lagi dibawah rumahnya.


...



(seperti ini kurang lebih gambarannya)...


Hawa dibawah rumah begitu menyejukkan saat di siang hari maupun malam hari. Saat siang hari di atas rumah, hawa akan terasa panas dan akan kesulitan untuk tidur siang. Walaupun disini terdapat banyak pohon, pegunungan, dan hutan, tetap saja saat terik matahari di siang hari menerpa, akan terasa membakar sehingga warga yang ingin beristirahat di siang hari akan kesulitan tidur di rumah panggung mereka. Maka dari itu kebanyakan penduduk desa ini membangun sebuah bangunan lagi sebagai tempat beristirahat di siang hari dibawah rumah mereka.


"Ibu pikirkan saja terlebih dahulu. Bapak akan bicarakan ini kepada teman-teman bapak besok," ucap Herman menepuk pundak Yani lalu berlalu keluar ingin ke kamar mandi.


Sedangkan Yani terdiam di tempat dengan pikiran berkecamuk di kepalanya. Apa yang dikatakan suaminya memang benar jika mereka sedang membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan itu semua.


Akan tetapi, mengapa harus di Kalimantan?


Seandainya suaminya bekerja di daerah pulau ini, Yani tak keberatan. Akan tetapi, berbeda jika Herman bekerja di luar pulau dan itu di Kalimantan. Yani merasa tak rela jika suaminya pergi kerja diluar pulau karena takut terjadi apa-apa dengan suaminya disana dan tak ada yang mengurusnya.


Tetapi jika Herman berniat ingin mengambil proyek tersebut, apakah Yani akan bisa tenang membiarkan suaminya pergi? Apalagi di Kalimantan ada wanita yang sudah merusak ikatan suci pernikahannya dengan sang suami.


Apakah Yani akan sanggup melepaskan suaminya pergi kesana?


...~~~...


Jangan lupa like komen vote dan rate bintang 5 ya guys. Beri author semangat untuk menamatkan cerita ini dengan cepat. Terimakasih!

__ADS_1


__ADS_2