Noda Di Balik Jilbabku

Noda Di Balik Jilbabku
Berpisah


__ADS_3

Pagi harinya, Alvin bangun terlebih dahulu. dia langsung melakukannya lagi kepada Nisa yang masih tidur.


"Emm" Nisa terusik karena tubuhnya bergerak-gerak. dia membuka kedua matanya. dia melihat kelakuan suaminya yang sedang asyik menghujam miliknya.


"Eugghh Mas lagi ngapain?" tanya Nisa


"Mengulang yang semalam sayang." jawab Alvin tanpa menghentikan permainannya.


"Memangnya belum puas?"


"Belum sayang, Mas ingin lagi dan lagi." jawab Alvin


"Emmm Mas pelan-pelan." Nisa merasa jika Alvin semakin cepat.


"Kamu diam saja sayang, cukup menikmati." ucap Alvin dan masih terus melakukannya.


Nisa mendengar adzan subuh berkumandang. dia menepuk-nepuk punggung suaminya untuk menyudahi aktivitasnya. namun Alvin tidak menghiraukan itu. hingga 30 menit kemudian Alvin baru menyudahinya. Nisa segera turun dari atas ranjang untuk membersihkan diri. sedangkan Alvin masih tiduran di atas ranjang. dia merasa sangat lelah.


Setelah selesai mandi, Nisa mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. lalu dia segera melaksanakan sholat subuh. setelah sholat subuh, Nisa menyuruh Alvin untuk mandi dan segera sholat. Nisa kembali mengeringkan rambutnya karena masih basah.


Alvin yang baru keluar dari kamar mandi melihat Nisa yang sedang duduk di kursi depan meja rias.


"Sayang, makasih yah." kata Alvin yang kini berjalan menghampiri Nisa.


"Untuk?"


"Untuk semalam dan tadi." jawab Alvin


"Sama-sama Mas, lagian itu sudah kewajiban Nisa sebagai seorang Istri." kata Nisa sambil menoleh menatap suaminya.


Nisa segera beranjak dari duduknya. dia mengambilkan pakaian untuk Alvin di dalam lemari.


Enak juga punya Istri, ranjangku selalu hangat." batin Alvin sambil menatap Nisa.


"Hari ini kita enaknya ngapain yah. nanti sore kamu sudah pergi lagi." gumam Alvin memikirkan untuk menghabiskan kebersamaan bersama Nisa.


"Di rumah saja Mas, kalau pergi nanti Nisa kecapean."


"Iya deh, kita di kamar saja yah."


"Ngapain di kamar terus?"

__ADS_1


"Mas masih kurang sayang, bakalan di tinggal lama jadi butuh stamina ekstra."


"Seminggu sekali pulang inih, masa tidak kuat sih."


"Tidak sayang, kalau mau itu gimana coba?"


"Di tahan dong Mas, awas yah kalau Mas macam-macam sama wanita lain. Nisa tidak mau melayani Mas lagi." ucap Nisa mengancam Alvin.


"Siap sayang, nanti kalau Mas kangen tinggal nyusul ke pesantren saja." kata Alvin


"Terserah Mas saja" ucap Nisa


Setelah selesai berpakaian, Alvin mengajak Nisa untuk ke lantai bawah.


Bu Hilya melihat Alvin dan Nisa yang begitu dekat.


"Wah, kayaknya bakalan ada kabar gembira nih. mereka makin lengket saja." ucap Bu Hilya yang kini sedang menatap anak dan menantunya.


"Iya Mah, Papah juga senang melihat mereka semakin lengket." sahut Pak Alex yang juga sedang menatap anak dan menantunya.


Alvin dan Nisa duduk di depan orang tuanya.


"Al, bagaimana jika secepatnya bikin acara resepsi pernikahan?"


"Tidak Nak, kamu mau nungguin apalagi? apa nunggu perut Nisa membuncit." ucap Pak Alex


"Iya Al, lama kelamaan Nisa hamil loh." sahut Bu Hilya


"Terserah Mamah sama Papah saja." kata Alvin membiarkan orang tuanya yang mengurus semuanya.


"Kalau Nak nisa gimana?" tanya Bu Hilya


"Nisa juga nurut saja sama Mamah. tapi jangan terlalu mendadak. orang tua Nisa juga pasti harus menyiapkan segala sesuatunya." jawab Nisa


"Baiklah, dua bulan lagi saja yah." ucap Bu Hilya


"Iya Mah" ucap Nisa menyetujui keputusan Bu Hilya.


Mereka masih asyik mengobrol. Nisa juga terlihat lebih akrab dengan mertuanya.


°°°

__ADS_1


Sore ini Alvin akan mengantar Nisa ke pesantren. sebenarnya dia masih ingin berlama-lama dekat dengan Istrinya. namun mau tidak mau mereka harus pisah.


"Sayang, nanti kalau Mas kangen gimana dong." Alvin bergelayut manja di lengan Istrinya.


"Tinggal telfon saja, tapi malam yah kalau mau telfon." ucap Nisa


"Telfon doang tidak cukup loh. kalau pengen cium gimana dong?"


"Tinggal m*ncium fotoku di layar ponsel." kata Nisa


"Astaga, itu tidak cukup loh. pengen yang asli." rengek Alvin


"Nanti juga Nisa pulang. tapi cuma seminggu sekali doang." kata Nisa


"Yah bakalan rindu" ucap Alvin yang kini sedang memeluk Istrinya dari belakang.


"Ayo Mas, berangkat! nanti keburu malem loh." Nisa mengajak Alvin untuk segera pergi.


"Iya sayang" ucap Alvin lalu dia mengambil tas milik Nisa dan membantu membawanya.


Mereka berjalan menuruni tangga. di bawah sudah ada Bu Hilya dan Pak Alex yang sedang menunggu menantunya yang akan pergi. Nisa menghampiri mereka untuk berpamitan.


"Mah, Pah, Nisa pamit pergi dulu yah." pamit Nisa lalu dia bersalaman dengan Bu Hilya dan Pak Alex secara bergantian.


"Iya Nak, hati-hati di jalan." ucap Bu Hilya sambil menatap menantunya.


"Iya Mah, Assalamu'alaikum." Nisa mengucapkan salam sebelum pergi.


"Waalaikum'salam" jawab Bu Hilya dan Pak Alex secara bersamaan.


Bu Hilya dan Pak Alex menatap menantunya hingga keluar dari rumah.


Alvin membukakan pintu mobil untuk Nisa. Nisa langsung masuk dan duduk di depan. Alvin juga sudah masuk dan segera mengemudikan mobilnya menuju ke pesantren.


Akhirnya kini mereka sudah sampai di depan pesantren. Nisa berpamitan dengan suaminya. lalu dia hendak membuka pintu mobil. namun Alvin menahan tangannya. Alvin menarik Nisa dan langsung m*nciumnya. Alvin melepaskan pangutannya saat Nisa terlihat kehabisan pasokan udara.


"Mas, nanti ada yang lihat malu loh." ucap Nisa sambil mengelap sudut bibirnya yang basah.


"Tidak terlihat dari luar, kamu tenang saja."


Nisa segera turun dari mobil. namun Alvin tetap di dalam. dia menatap Nisa hingga memasuki gerbang pesantren.

__ADS_1


°°°


__ADS_2