Noda Di Balik Jilbabku

Noda Di Balik Jilbabku
Merindukannya


__ADS_3

Nisa melangkah menuju ke asrama yang dia tempati. kebetulan tampak sepi karena semua santri sedang mengaji. Nisa memilih untuk beristirahat di kamarnya.


Melda yang baru masuk ke kamar melihat Nisa sudah ada disana.


"Wah akhirnya kamu kembali juga Nis." ucap Melsa sambil melangkah menghampiri Nisa.


"Iya Mel, gimana nih selama aku tidak ada pasti kamu berubah jadi rajin." ucap Nisa sambil menatap sahabatnya.


"Rajin apaan, yang ada hukumannya nambah dua kali lipat."


"Hahahaha, ngapain saja kamu bisa di hukum?" tanya Nisa


"Ya biasa Nis, kalau pagi bangunnya kesiangan. jadinya tidak ikut ngaji. kalau sore seringnya ketiduran." jawab Melda


"Astaga Mel, coba kamu berubah deh. masa mau di hukum terus sih." ucap Nisa mencoba menasehati Melda.


"Hehe Nan--"Melda menghentikan ucapannya karena dia tak sengaja melihat sesuatu. "Wah, cincin nikah? kamu habis nikah, Nis?" tanya Melda sambil memegang tangan Nisa. bukan hanya cincin yang dia lihat, namun Nisa juga memakai gelang. yang dia tahu Nisa itu sebelumnya tidak memakai gelang.


"Stt, jangan bilang siapa-siapa." pinta Nisa sambil menaruh jari telunjuknya di bibir.


"Wah parah Nis, masa sahabat sendiri tidak di undang sih." kata Melda


"Ini baru ijab doang, lagian acaranya juga tertutup. nanti kalau acara resepsi baru di undang." kata Nisa sambil menatap sahabatnya.


"Iya deh" ucap Melda walaupun sedikit kecewa karena Nisa nikah diam-diam. "Nikah sama siapa?" tanyanya lagi


"Sama lelaki yang malam itu menodaiku." jawab Nisa sambil berbisik di telinga.


"Kamu sengaja nikah sama dia? tahu dari mana alamatnya? yakin nikah sama lelaki club?" Melda menanyakan berbagai pertanyaan.


"Kita di jodohkan, lagian lelaki itu bukan lelaki club. dia itu anak dari orang yang punya Pesantren ini." jawab Nisa dan itu membuat Melda semakin kaget.

__ADS_1


"Wah, pasti tampan tuh. oh iya, kalian sudah malam pertama belum, maksudku malam kedua."


"Sudah ah nanti saja kita lanjut ngobrolnya setelah ngaji. tuh sudah mau adzan maghrib." ucap Nisa mengalihkan pembicaraan.


"Ih ditanya malah menghindar." gumam Melda


"Bukan gitu Mel, tapi benar kan kalau sekarang sudah mau adzan. tidak baik jika kita terus mengobrol." ucap Nisa


Dan benar saja, mereka mendengar adzan maghrib berkumandang. keduanya memilih untuk mengambil wudhu dan segera ke Masjid untuk sholat berjama'ah bersama yang lainnya.


°°°


Alvin yang baru sampai ke rumah juga mendengar adzan maghrib. dia memilih untuk ke kamarnya. dia akan segera melaksanakan sholat maghrib. setelah sholat, Alvin tampak termenung. dia merasa kesepian tidak ada Nisa disana. tidak ada suara orang mengaji di kamar itu. dan juga tidak ada yang mengajarinya untuk hafalan.


Baru juga berpisah beberapa menit. kenapa aku sudah merindukannya yah." batin Alvin


Alvin mengambil buku tuntunam sholat. dia hafalan sendirian karena hafalan dia belum lancar.


Alvin membuka pintu itu karena tadi dia menguncinya.


"Al, kok jam segini pintu kamar di kunci sih?" tanya Bu Hilya


"Iya Mah, Alvin lupa." jawab Alvin


"Ayo kita ke bawah! kita makan malam sekarang "


"Baik Mah" ucap Alvin lalu dia menaruh buku yang dia pegang. Alvin mengikuti Ibunya keluar dari kamarnya.


Ada rasa yang berbeda saat Alvin duduk disana. dia terus menatap kursi yang biasa di duduki oleh Nisa.


"Al, jangan bengong!" ucap Bu Hilya menegur anaknya.

__ADS_1


"Eh iya Mah" Alvin segera memasukan nasi dan lauk ke dalam piring.


Saat dia mulai memasukan makanan ke mulut, dia merasa tak berselera. bukan karena makanan yang dia makan tidak enak, tapi entah dia merasa ada yang kurang.


"Al, kok makannya dikit sih?" tanya Bu Hilya sambil menatap piring milik Alvin.


"Iya Mah, Alvin lagi tidak berselera." jawab Alvin


"Payah banget sih kamu, baru juga di tinggal beberapa menit sama Istri sudah loyo gitu." ucap Bu Hilya


"Nah bener kata Mamah, kamu harus bikin Nisa yang merindukanmu dong. bukan malah kamu yang payah gitu."


"Caranya gimana Pah?"


"Kamu kan lelaki, masa tidak tahu sih cara untuk membuat Istrimu tidak mau jauh darimu."


Alvin tampak termenung memikirkan perkataan ayahnya. ada benarnya juga apa yang di katakan oleh Ayahnya. jika Nisa juga mempunyai keinginan yang sama dengannya, walaupun Nisa tinggal di pesantren tapi bisa sering-sering ketemuan dengannya.


Setelah selesai makan malam, Alvin memilih untuk kembali ke kamar. Alvin mengambil ponsel miliknya. dia mengirim beberapa pesan kepada Nisa. namun Nisa tidak membalasnya. Alvin segera menelfon nomor Nisa. namun Nisa masih juga tidak mengangkatnya. Alvin bolak-balik mengecek pesan masuk. namun Nisa tak juga membalas pesannya.


Alvin memilih untuk menyibukan diri dengan sesuatu yang lain. dia menonton televisi sambil menunggu balasan pesan dari Nisa. setiap lima menit Alvin mengecek ponselnya. namun tidak ada pesan masuk. Alvin kembali menonton televisi hingga dia ketiduran.


Pukul 9 malam Nisa baru selesai mengaji. dia dan Melda masuk ke dalam kamarnya. Nisa mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur. dia melihat ada panggilan masuk dari suaminya. dia juga melihat ada banyak pesan masuk. Nisa segera membuka pesan itu lalu membalasnya. Nisa menunggu balasan pesan itu, namun cukup lama menunggu teryata tidak ada balasan.


Tengah malam Alvin terbangun karena posisi tidurnya saat ini kurang nyaman. dia hendak pindah untuk tidur di ranjang. namun sebelum itu, dia mengambil ponselnya yang tergeletak di ats meja. Alvin mengecek pesan yang dia kirim ke Nisa. ternyata ada balasan dan dia langsung membacanya.


Nisa balas pesanku pukul 9 malam? apa dia baru selesai mengaji jam segitu? ah coba aku balas lagi." gumam Alvin dan segera membalas pesan itu. namun ternyata ceklis, nomor Nisa sudah tidak aktif.


Alvin berjalan lesu menuju ke arah ranjang. dia merebahkan diri disana. badannya sedikit pegal karena tadi dia tidur di sofa.


°°°

__ADS_1


__ADS_2