
Satu bulan kemudian
Satu bulan telah berlalu, namun Nisa belum juga hamil. Nisa semakin takut jika suaminya harus menikah dengan wanita lain.
Nisa yang akan ke dapur mendengar Bu Hilya sedang bertelfonan.
Iya Nita, Tante sayang sekali sama kamu. dan Tante berjanji akan menjadikan kamu satu-satunya menantu yang Tante sayangi."
Sekiranya seperti itu ucapan Bu Hilya yang di dengar oleh Nisa.
Nisa merasa sangat sedih mendengar semua itu. bukan karena dia iri kepada Anita. namun karena dia selama ini merasa tidak di anggap oleh Bu Hilya sebagai menantunya.
Nisa tidak jadi ke dapur, dia memilih untuk kembali ke kamarnya. kebetulan dia berpapasan dengan Alvin yang baru keluar dari kamar.
"Sayang, kok kamu kembali lagi?" Alvin bertanya kepada Nisa.
"Iya Mas," jawab Nisa singkat.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa kok," ucap Nisa
"Ayo kita ke dapur! bukannya tadi kamu mau bikin air hangat di dapur," Alvin mengajak Istrinya untuk kembali pergi.
"Iya Mas," Nisa mengikuti suaminya yang sudah melangkah terlebih dahulu.
Kebetulan saat mereka sampai di sana, Bu Hilya sudah selesai bertelfonan.
"Sayang, mau Mas temani ke dapur?"
"Tidak usah Mas, aku bisa sendiri kok," jawab Nisa lalu melangkah pergi ke dapur. sedangkan Alvin duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan.
Nisa mulai mengambil panci kecil dan mengisinya dengan air. dia berdiri di sana sambil menunggu airnya mendidih. setelah airnya mendidih, dia mengambil sedikit lalu di campur dengan air dingin. Nisa menghampiri suaminya yang sedang duduk di ruang makan sambil membawa gelas berisi air hangat itu.
"Ayo sayang kita sarapan!" ajak Alvin
"Iya Mas," ucap Nisa lalu segera duduk di sebelah suaminya.
Nisa mulai mengambil nasi dan memasukannya ke dalam piring.
"Bagaimana Nis, kamu sudah hamil?" Bu Hilya bertanya kepada Nisa yang duduk di depannya.
Seketika Nisa menghentikan sejenak tangannya yang sedang memegang sendok.
__ADS_1
"Mah, itu bisa di tanyakan nanti saja, sekarang kita sarapan dulu," ucap Alvin sambil menatap Ibunya.
"Apa bedanya nanti dan sekarang, sama saja bukan?"
"Iya Mah, Nisa mau jawab sekarang," ucap Nisa lalu menghela nafasnya. "Nisa belum hamil," ucapnya lagi
"Sudah Mamah duga," kata Bu Hilya
"Mah, sudah dong jangan bahas itu lagi! lagian Alvin juga tidak masalah jika Nisa hamil sekarang atau nanti," ucap Alvin yang merasa kasihan saat melihat raut wajah Istrinya.
"Satu minggu lagi persiapkan pernikahanmu dengan Anita," kata Bu Hilya sambil menatap anaknya. "Mamah juga sudah bicarakan ini dengan Anita."
"Tapi Mah, Alvin tidak mau menikah lagi! kita bisa mengangkat anak dari panti asuhan kalau memang Mamah sudah ingin sekali punya cucu," ucap Alvin yang tak mau menikah lagi.
"Mamah tidak mau cucu angkat!" ucap Bu Hilya
"Mas, lebih baik turuti saja keinginan Mamah, lagian aku ini belum juga hamil," dengan sedikit menahan nyeri di dadanya, Nisa mengatakan hal yang sama sekali tidak pernah dia fikirkan.
"Sayang, kamu jangan seperti ini," Alvin memegang tangan Istrinya dan mencoba memberinya ketenangan.
"Aku mau ke kamar dulu!" Nisa tak jadi makan dan malah pergi dari sana.
"Mah, lihat tuh Nisa pasti sakit hati mendengar ucapan Mamah," ucap Alvin lalu dia menyusul Istrinya ke kamar.
"Mah, yang lain kemana?" tanya Pak Alex lalu duduk di sebelah Istrinya.
"Di kamar Pah, nanti juga makan sendiri kalau lapar," jawab Bu Hilya
Alvin melihat Istrinya yang sedang memoleskan skincare ke wajahnya.
"Kamu mau kemana sayang?" Alvin berdiri persis di belakang Istrinya sambil menatap wajah Istrinya dari cermin.
"Aku mau pergi sama Melda. kebetulan hari ini dia libur kerja."
"Mau Mas antar?"
"Tidak usah Mas," jawab Nisa
"Baiklah," kata Alvin yang akan membiarkan Istrinya pergi. karena mungkin Nisa perlu menghibur diri bersama sahabatnya.
Setelah mengirim pesan kepada Melda, Nisa akan segera pergi. dia berpamitan kepada suaminya.
Setelah kepergian Nisa, Alvin memilih kembali ke ruang makan untuk sarapan.
__ADS_1
"Kemana Nisa?" tanya Bu Hilya
"Pergi sama Melda," jawab Alvin
Bu Hilya tidak mengatakan apapun lagi. dia kembali fokus melahap makanannya.
°°
Saat ini Nisa sudah berada di depan rumah Melda. dia mengetuk pintu itu dan tak lama Melda keluar.
Nisa langsung memeluk Melda tanpa mengatakaan sepatah katapun.
"Nis, kamu kenapa?" Melda bertanya kepada Nisa. dia tahu jika saat ini Nisa sedang menangis di dalam pelukannya. Nisa masih diam tidak mau menjawab.
"Ya sudah kalau kamu belum mau bicara,lebih baik sekarang kita masuk ke dalam," Melda melepaskan pelukannya. dia menghapus air mata Nisa. lalu dia mengajak Nisa masuk ke dalam rumahnya.
Saat ini Nisa dan Melda duduk di sofa yang sama.
"Aku buatkan teh hangat dulu yah untuk kamu," ucap Melda
"Makasih Mel," ucap Nisa sambil mengusap sudut matanya yang basah.
"Sama-sama," jawab Melda lalu beranjak pergi dari sana.
Melda kembali dengan membawa teh hangat buatannya. namun dia melihat Nisa sedang mual-mual.
Hoek hoek
"Mel, pinjam toilet," setelah mengatakn itu Nisa buru-buru pergi ke toilet.
Melda melihat Nisa yang sudah kembali menghampirinya.
"Kamu mual kenapa Nis?"
"Mungkin aku mual karena belum sarapan," jawab Nisa
"Kamu belum sarapan? astaga Nisa, jangan telat makan loh tidak baik untuk kesehatan kamu," kata Melda menasehati Nisa.
"Iya Mel," jawab Nisa
"Ayo sekarang kita makan dulu!" Melda mengajak Nisa untuk sarapan. dia menuntun tangan Nisa menuju ke ruang makan.
••••
__ADS_1