Noda Di Balik Jilbabku

Noda Di Balik Jilbabku
Part.59


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. saat ini usia kandungan Nisa sudah memasuki usia tujuh bulan. bahkan Bu Siti dan Bu Hilya sibuk mengatur acara tujuh bulanan untuk Nisa.


Saat ini Bu Siti sedang berdiri di depan cermin. dia melihat penampilan dirinya sebelum dia pergi.


"Mah, mau kemana?" Pak Ahmad yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi melihat Istrinya sudah berpenampilan rapih.


"Mau ke tempat pengajian Pah, sekalian mau undang mereka untuk hadir di acara tujuh bulanan Nisa," jawab Bu Siti


"Baiklah, Papah juga mau bersiap pergi," ucap Pak Ahmad


"Papah pulangnya jangan malam-malam yah," pinta Bu Siti


"Tergantung Nak Iqbal sih, kalau Nak Iqbak masih ada urusan ya mungkin Papah sedikit terlambat lagi pulang ke rumahnya," kata Pak Ahmad


"Urusan apa memangnya Pah?"


"Lamaran," jawab Pak Ahmad


"Lamaran? Mamah tidak salah dengar nih, siapa yang dia lamar?"


"Melda Mah, kalau dari cerita yang Papah dengar sih Melda terang-terangan mengungkapkan perasaannya kepada Nak Iqbal. karena kebetulan Nak Iqbal juga sudah ingin menikah, jadi langsung saja tuh Melda di lamar." jelas Pak Ahmad


"Memangnya Iqbal mencintai Melda?"


"Untuk lelaki sholeh seperti Iqbal, masalah cinta itu tidak di permasalahkan. mereka bisa saling membuka diri untuk lebih mengenal satu sama lain."


"Tapi kan, kalau Melda memang sudah suka sama Iqbal," ucap Bu Hilya


"Ya justru itu lebih baik, pasti Melda bisa bikin Nak Iqbal juga membalas cintanya," ucap Pak Ahmad


"Semoga saja Pah," ucap Bu Siti


Setelah selesai mengobrol, Bu Siti memilih untuk segera pergi. setelah kepergian Istrinya, Pak Ahmad juga langsung pergi ke pesantren.

__ADS_1


°°°


Sejak tadi Nisa mencari Ibunya namun ternyata Bu Siti belum pulang.


"Mamah kemana sih, aku kan pengen beli bakso pengkolan. kalau pergi sendiri biasanya di larang." gumam Nisa sambil mencari Bu Siti ke beberapa ruangan yang ada di rumahnya. namun ternyata Bu Siti tidak ada di sana.


Nisa mencoba untuk menelfon suaminya yang sedang bekerja.


Alvin yang sedang meeting mendengar ponselnya berdering. dia menatap ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. ternyata itu panggilan masuk dari Istrinya. dia ijin mengangkat panggilan telfon itu sebentar kepada para karyawannya.


📞"Hallo sayang, Assalamu'alaikum," ucap Alvin


📞"Waalaikum'salam, Mas cepat pulang! Nisa pengen beli bakso nih," kata Nisa dari balik telfon.


📞"Mas sedang meeting nih sayang, memangnya Mamah tidak ada di rumah?"


📞"Tidak ada Mas, cepat Mas pulang atau Nisa pergi sendiri."


📞"Iya sayang, sebentar yah ini Mas akan langsung pergi," ucap Alvin


Kini keduanya sudah selesai bertelfonan. Alvin menunda meeting yang sedang berlangsung. dia mementingkan Istrinya lebih dari apapun.


Akhirnya Alvin sudah sampai di rumah. dia langsung menghampiri Istrinya yang sedang duduk di teras.


"Sayang, kok di luar sih?"


"Nungguin kamu Mas, aku ingin cepat-cepat pergi," jawab Nisa


"Mas saja yah yang beliin, kamu di sini saja," pinta Alvin kepadanya.


"Tidak mau, Nisa mau ikut karena mau makan baksonya di sana."


"Itu tempatnya pinggir jalan loh, nanti banyak debu kena makanannya."

__ADS_1


"Tapi kan asyik di situ rame banyak orang, lagian tidak ada kendaraan lewat sana."


"Baiklah, Mas nurut saja sama kamu," akhirnya Alvin hanya menurut dengan Istrinya.


Alvin dan Nisa langsung pergi untuk membeli bakso pengkolan.


Setelah sampai di tempat yang penuh keramaian itu, kini keduanya langsung turun dari mobil. Alvin sedikit kurang nyaman berada di tempat seperti itu. karena ini baru pertama kalinya dia pergi ke tempat penjual makanan di pinggir jalan.


Kini keduanya sudah duduk di kursi. Nisa langsung memesan dua mangkuk bakso pengkolan. setelah pesanan mereka datang, Nisa langsung memakan bakso pesanannya. namun Alvin masih diam menatap mangkuk berisi bakso yang ada di depannya.


"Kenapa tidak di makan?" Nisa bertanya kepada suaminya.


"Memangnya ini layak makan," Alvin bicara pelan agar suaranya tidak terdengar oleh pengunjung lain.


"Kalau tidak layak makan, ngapain coba aku pesan," kata Nisa


Alvin mencoba untuk merasakan bakso yang ada di hadapannya. ternyata rasanya enak dan tak kalah enak dengan yang di jual di restoran. bahkan bisa di nilai jika rasanya lebih enak.


"Ini enak," gumam Alvin lalu langsung melahapnya habis.


Nisa hanya tersenyum menatap suaminya yang sedang menikmati semangkuk bakso itu.


"Tadi ragu-ragu, sekarang doyan," gumam Nisa namun terdengar oleh suaminya.


"Namanya juga enak," jawab Alvin


Setelah selesai menikmati bakso itu, keduanya langsung pulang.


"Sayang, kamu mau beli apa lagi, biar kita beli dulu mumpung masih di luar," ucap Alvin


"Tidak mau, aku tidak mau apa-apa lagi," kata Nisa


"Baiklah," Alvin kembali fokus mengemudikan mobilnya menuju ke rumah.

__ADS_1


°°°°


__ADS_2